That Jacket Girl

That Jacket Girl
Part 8


__ADS_3

Seperti biasa, setelah keadaan sudah sepi Eris baru keluar kelas untuk pulang. Gina sudah ia suruh pulang duluan sejak dua puluh menit yang lalu. Sahabatnya itu tahu kalau suasana hatinya sedang tidak beres, jadi bukannya memaksa untuk tetap menemani Eris seperti biasa, Gina memilih untuk mengikuti apa yang diperintahkan olehnya untuk pulang duluan. Berusaha untuk memberi Eris waktu sendiri.



Gina sendiri sebenarnya tahu ada yang tidak beres setelah Eris kembali dari kantin. Wajah sahabatnya itu terlihat masam. Tapi karena Eris tidak mau menceritakannya, maka Gina tidak bertanya lebih. Mereka memang bersahabat sejak lama, tetapi bukan berarti apa-apa harus diceritakan karena semua orang juga pasti punya privasi sendiri-sendiri. Kalau Eris belum mau cerita, Gina tidak akan memaksa, begitupun sebaliknya. Toh kalau nanti Eris mau bercerita, ia akan langsung bercerita dengan sendirinya. Gina juga akan selalu siap mendengarkan. Dan sekarang mungkin belum waktunya.



Kembali lagi ke Eris, ia melangkahkan kakinya sepanjang koridor sambil melihati jauh ke depan gerbang sana, di mana ada sepasang cowok dan cewek sedang tertawa lepas bersama. Eris tanpa sadar berhenti dan menghela nafas lelah, sungguh ia jadi merasa iri melihat kebersamaan kedua anak itu. Andai saja dirinya normal seperti anak lain.



Baru saja Eris berbelok ketika seorang cewek dengan rambut pendek sebahu memberhentikannya. Cewek itu mungkin lebih tinggi dari Eris sekitar delapan centimeter. Namanya Frieska, itulah yang tertera di name tag seragam cewek itu. Wajahnya kelihatan jutek, dan walaupun Eris terlihat kecil di depan Frieska, cewek di depannya ini sama sekali tidak tampak mengintimidasi.



Eris mencoba mencari tanda-tanda cewek ini akan marah, mencelanya, atau mungkin mengajaknya bertengkar. Tapi nihil. Yang ada malah ia mendapati cewek itu perlahan mengangkat kedua sudut bibirnya.



"Lo yang namanya Eris?" tanya cewek yang bernama Frieska itu.



Eris mengangguk ragu. "Iya, ada apa?" balasnya.



"Lo ditunggu Ethan di kelasnya."



***



Begitu Eris sampai di depan pintu kelasnya Ethan, ia menarik nafas dalam-dalam dahulu lalu menghembuskannya perlahan sebelum memutuskan untuk masuk. Suasana sekolah yang sudah sepi membuat langkah kakinya terdengar nyaring.



Eris masuk dan mendapati Ethan sedang duduk bersandar ke dinding sambil memejamkan matanya di kursi pojok dekat jendela. Di kedua telinga cowok itu terpasang earphone. Sesekali Eris melihat kepala Ethan bergerak dan mulutnya bergumam sesuatu yang mungkin lirik dari lagu yang sedang didengarkannya.



Eris bingung apakah harus menginterupsi Ethan atau ia keluar dan pulang saja. Sebenarnya opsi kedua sangat menarik, tapi Eris rupanya tidak punya cukup waktu lebih bahkan untuk sekadar berbalik karena Ethan sudah membuka matanya duluan.



"Lo di sini." Kata Ethan pertama kali sambil tersenyum kepadanya. "Gue pikir lo gak bakalan datang." tambahnya lalu melepas earphone yang dipakai.



Yah, kalau mau sih Eris tidak akan datang ke sini. Karena kalau boleh jujur, Eris takut. Ia takut mendengar apa yang akan Ethan katakan. Ia takut kalau perkataan cowok itu hanya akan menyakiti hatinya. Karena sekarang Eris sudah menemukan alasan kenapa Ethan memintanya kemari. Pasti karena masalah di kantin tadi siang.



Sejak balik ke meja sesaat setelah memesan makanan, Ethan berubha jadi sangat pendiam. Percakapan hanya didominasi oleh Gio dan Juna. Ethan hanya sesekali menimpali. Itupun kalau ditanya. Ines yang sepertinya tidak tahu apa-apa mengenai perasaan Ethan, terus mencoba mengajak Ethan bicara lebih banyak, tapi selalu berakhir gagal. Sedangkan Eris sesekali menanggapi kalau ada topik yang ia ketahui. Ia masih merasa asing dengan mereka semua apalagi dengan Ines.



Setelahnya, ketika mengantar Eris ke kelas saat mendekati menit-menit terakhir di waktu istirahat, Ethan juga diam saja. Cowok itu hanya mengucapkan terima kasih di depan kelasnya sebelum mereka berpisah dan tak lupa Ethan memberikan satu bungkus nasi goreng untuk Gina. Eris harus berusaha sekuat tenaga mengabaikan denyut sakit di hatinya kala melihat Ethan yang berjalan menjauh. Pupus sudah. Eris berpikir mungkin itu menjadi kali terakhirnya bersama Ethan.



Jadi karena itu selama jam pelajaran sampai pulang sekolah, Eris tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Ethan. Eris pikir dengan tahunya ia akan perasaan Ethan kepada Ines, akan membuat cowok itu tidak mau dekat dengannya lagi. Namun rupanya dugaannya salah, karena di sinilah dirinya sekarang. Berhadapan langsung dengan Ethan, hanya mereka berdua di kelas ini, karena Ethan yang meminta.



"Jangan melamun." tegur Ethan membuat Eris tersentak dan kembali memfokuskan pikirannya ke sekarang. "Gak baik. Sini duduk dulu." perintah cowok itu seraya menepuk kursi di sebelahnya.



Eris pun duduk. "Ada apa lo minta gue ke sini?" tanyanya kemudian langsung ke topik.



Namun Ethan lagi-lagi tersenyum. Dan Eris ingin sekali menghilangkan senyum menawan itu dari wajah Ethan, karena kalau cowok itu terus-terusan menampilkan senyuman seperti itu, Eris tahu dirinya akan jatuh kembali dan kali ini semakin dalam dari sebelumnya. Padahal jelas-jelas ia tahu kalau Ethan itu sukanya sama Ines. Jadi, nanti selain jatuh dalam-dalam, Eris bisa tidak memiliki jalan untuk keluar lagi.



"Jawab dulu pertanyaan gue. Lo kenapa?" tanya Ethan balik.



"Kenapa apanya?" kening Eris mengernyit.



"Lo grogi."



Setetes keringat meluncur turun di punggung Eris. "Enggak." elaknya.



"Iya. Cara duduk lo kaku, dan tangan lo---" Ethan mengarahkan pandangannya ke arah tangan Eris yang terjalin di pangkuan. "---gemetaran."



Ah. Sial.



"Jadi, lo mau ngasih tahu gue, kenapa?" Ethan bertanya lagi. Kali ini dengan nada mendesak disertai kilat jahil tampak di mata cowok itu.



Eris tetap bungkam. Namun rupanya Ethan punya cara lain agar Eris mau menjawab pertanyaannya, karena Ethan malah mencondongkan badannya mendekat ke Eris seraya berbisik. "Lo gak mau jawab gue?"



Spontan Eris mundur. Bisikan itu tadi berhasil membuat bulu kuduk Eris meremang. Apalagi Ethan sekarang semakin memperpendek jarak di antara mereka dan Eris sudah tidak bisa mundur lagi karena kalau ia mundur, ia akan terjungkal ke belakangan. Jadi jalan satu-satunya saat ini agar ia bebas adalah menjawab pertanyaan Ethan saja.



Namun bukannya sebuah jawaban, mulut Eris malah melontarkan pertanyaan. Dan itu tanpa kehendaknya. "Ngapain lo nanya begitu?"



"Karena sekarang ini lo kelihatan beda di dekat gue."



Eris bergerak gelisah. Ia akan jujur saja, tapi kalau Ethan masih terlalu dekat dengannya seperti sekarang ini mana mungkin Eris bisa berpikir jernih.



"I--itu karena---"



"Karena?"



"--- sekarang gue tahu---"


__ADS_1


"Tahu apa?"



"--- lo suka sama Ines."



Secepat kalimat itu meluncur dari mulut Eris, secepat itu pula Ethan memundurkan badannya ke trmpat semula. Otot kecil di sudut mulut cowok itu berkedut. "Jadi lo tahu?" katanya sambil memiringkan kepala. Masih dengan senyuman menyebalkan itu.



Tidak. Ini sungguh bukan reaksi yang Eris harapkan. Eris ingin Ethan marah saja, ia ingin Ethan mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan saja kepadanya daripada seperti ini. Karena sungguh, semua ini membuat Eris bingung. Karena kalau Ethan marah, ia tahu apa yang akan dilakukan, ia akan meninggalkan Ethan dan berusaha melupakan cowok itu selamanya, tapi kalau kayak gini, Eris tidak tahu langkah apa yang harus ia ambil.



Eris berdehem membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Iya, gue tahu."



"Lo beneran tahu?"



"Iya."



"Lo ngambil kesimpulan begitu?"



"Iya."



"Dan lo cemburu?"



"Iya. Ehh?! Maksud gue enggak!"



Tanpa mengalihkan pandangannya dari Eris, Ethan bertanya kembali. Kali ini ia menyandarkan tubuhnya ke dinding di sampingnya tapi tetap menghadap ke Eris. "Apa yang membuat lo beranggapan kalau gue suka sama Ines?" tanyanya kemudian.



Sekuat tenaga Eris mencoba mengabaikan pandangan Ethan yang sekarang tertuju terus padanya. Lalu dicobanya untuk mengingat kembali kejadian tadi siang. "Lo berubah jadi aneh sejak Ines datang. Dan lo berubah jadi pendiam. Di mata gue lo itu kelihatan cemburu, lo marah ketika Ines sama Juna lagi bermes..."



Suaranya mengilang ketika dari sudut matanya ia melihat Ethan mengangkat tangan untuk menghentikan ucapan Eris.



"Cukup. Kesimpulan lo itu benar. Gue suka sama Ines." kalimat itu diucapkan Ethan dengan santai dan gamblangnya. Walau sudah tahu, tetap saja Eris merada hatinya mencelus.



"Ooh." suara Eris melemah.



"Tapi udah gak seperti dulu."



"Ooh."



"Intinya gue mau lupain dia, tapi gue belum bisa sepenuhnya. Jadi gue minta bantuan lo, bisa?"




"Sialan. Gak gitu!" seru Ethan.



Mendapati Ethan yang berteriak kepadanya, kayaknya Eris kali ini salah. Ia mengutuki mulutnya sendiri yang meluncurkan kata-kata kasar tadi. Kalau mampu ia akan minta maaf. Tapi kata maaf yang hendak terucap itu tertelan kembali ketika ia merasakan tangan Ethan tiba-tiba saja mendarat di kedua sisi bahunya dan cowok itu membuatn Eris harus menghadapnya yang sedang memberikan pandangan serius.



"Eris, dengerin gue." suara Ethan berubah tegas. "Lo dengerin gue sekarang karena lo hanya akan dengar ini sekali dan cuma lo yang bakalan tahu."



Seakan tersihir, Eris mengangguk patuh.



"Pintar." Ethan meremas pelan bahu Eris. "Gue memang suka sama Ines. Tapi untuk sekarang perasaan gue udah gak sekuat dulu dan gue yakin suatu hari nanti bakalan hilang."



"Tapi tadi siang lo kelihatan marah banget ketika melihat mereka berdua."



Gumaman Eris membuat Ethan tersenyum simpul.



"Oke, gue akui kalau gue memang marah. Tapi gue gak marah sama mereka, lebih tepatnya gue marah sama diri gue sendiri. Gue marah karena gue belum bisa lupain Ines sepenuhnya. Gue marah karena di sela-sela waktu, gue masih suka keingat sama dia. Gue keingat sama masa di mana gue masih sering bareng sama dia."



Jadi Ethan bukan cemburu kepada pasangan itu. Tak pelak hal itu membuat hati Eris menghangat dan membuncah bahagia. Ternyata kenyataannya tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.



Eris menanyakan satu-satunya pertanyaan yang ingin ia tanyakan sekarang. "Apa Ines tahu perasaan lo?"



Ethan tersenyum kecut.  "Enggak. Gue sengaja gak pernah cerita apapun sama dia karena gue takut gue bakalan kehilangan dia. Tapi, nyatanya gue salah besar, bukan? Dengan gue gak cerita, gue malah lebih kehilangan dia. Karena sekarang dia udah jadi milik orang lain."



"Maaf, gue tadi salah paham sama lo. Dan sekarang gue beneran gak tahu mau ngomong apa lagi."



"Gak masalah. Yang penting sekarang lo udah dengerin dan lo tahu masalah gue. Tapi lo gak boleh ngasih tahu orang lain. Anggap aja rahasia antara kita berdua."



"Oke gue janji gak akan bilang ke siapa-siapa."



Ethan menarik tangannya dari bahu Eris. Lalu ia berdiri dan mengulurkan tangannya. "Pulang?"



"Bareng lagi?"

__ADS_1



"Iya." kata Ethan yang lalu tanpa pemberitahuan menarik Eris untuk berdiri. Tangannya yang hangat menyelimuti tangan Eris.



"Tapi gue udah dijemput."



"Kenapa dijemput? Kan lo berangkat sama gue, pulangnya ya sama gue." ucap Ethan berpura-pura marah.



Eris meringis. "Gue pikir tadi lo gak mau ketemu gue lagi. Jadi gue minta dijemput."



"Maaf kalau sikap gue tadi siang buat lo salah paham."



"Oke."



"Gue jadi keinget di awal tadi lo nanya kenapa gue minta lo ke kelas gue, benar kan?"



"Iya."



"Padahal itu aslinya karena gue cuma mau ngajak lo pulang bareng. Tapi setiap kali gue lihat ke kelas lo, lo kelihatan masih sibuk padahal anak-anak lain udah pada pulang. Jadi karena gue gak mau ganggu, gue balik ke kelas dan minta salah satu cewek buat ngasih tahu lo biar nyamperin gue ke sini. Tahunya malah begini ceritanya."



"Lo jadi cowok ternyata bisa cerewet juga ya."



"Ini juga karena lo."



***



Di dalam mobil, Eris mencengkeram ponselnya yang membuka aplikasi kalender. Di sana, dua hari lagi, ada sebuah catatan yang sudah Eris buat sejak lebih dari setahun yang lalu.



Ulang Tahun Ethan.



Eris berencana untuk memberikan kado. Kado yang sebenarnya sudah ia rencanakan jauh-jauh hari sebelum kedekatannya dengan Ethan. Dulu ia hanya bisa berencana akan membeli kado untuk Ethan, lalu memberikannya lewat post ke sekolah dan tanpa nama serta alamat pengirim. Tapi berhubung keajaiban terjadi dan saat ini dirinya bisa dikatakan dekat dengan Ethan, jadi ia akan memberikannya secara langsung.



Setelah memberikan alamat tempat ia akan membeli kado ke Pak Darmo, lima belas menit kemudian Eris mendapati dirinya sudah sampai di tempat tujuan. Eris sudah membuka pintu mobil dan baru saja akan keluar ketika sang supir menyela.



"Tunggu, Non, biar saya temenin."



"Gak usah, Pak. Biar Eris sendiri aja." sahut Eris.



"Tapi...."



"Gak apa, Pak. Eris bisa jaga diri kok." ucapnya kembali berusaha meyakinkan Pak Darmo untuk percaya padanya.



Mau tak mau, Pak Darmo pun mengalah. Setelah diberi izin, Eris pun keluar. Ia melihat ke dalam ponselnya untuk memastikan kembali bahwa gambar bangunan yang ada di layar itu sudah sama dengan bangunan yang ada depannya ini. Setelah yakin bahwa ini tempat yang benar, Eris memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Dalam hati ia berharap semoga yang melayaninya seorang perempuan.



Ketika masuk, lonceng yang ada di atas pintu seketika berbunyi yang menandakan ada pembeli yang masuk ke toko. Tidak berangsur lama, seorang cewek yang seusianya datang menghampiri Eris. Cewek itu memakai seragam sekolah.



"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" sapa cewek itu ramah.



"Hhmm iya." Eris bingung apa benar cewek ini karyawan toko ini, jangan-jangan cewek ini hanya mengerjai dirinya. Mana ia tidak melihat orang lain lagi. "Ngomong-ngomong kamu itu karyawan di sini?"



Cewk di depannya tampak tersipu malu. "Iya, Mbak. Saya anak PKL dari SMK. Makanya pakenya seragam sekolah. Mbaknya gimana, ada yang bisa saya bantu? Barangkali sedang mencari sesuatu?"



"Ooh itu, saya mau pesan miniatur buat besok atau lusa, bisa?" tanya Eris seraya mengigit bibirnya.



"Bisa, kami di sini ada banyak karyawannya dan kami pakai mesin yang terbaik jadi sehari dua hari pesanan sudah bisa jadi dan bisa langsung diambil. Kalau begitu, bisa dijelaskan mau pesan miniatur apa?"



"Jadi begini..." lalu Eris menjelaskan detail dari pesanannya itu. Saat selesai, ia melihat cewek anak PKL ini tersenyum  penuh arti padanya.



"Buat pacarnya yah, mbak?"



Eris cepat-cepat menggeleng. "Bukan."



"Kalau bukan, kenapa pipinya merah gitu."



Eris semakin bertambah malu. "Buat teman aja kok."



"Ya sudah, kalau begitu, Mbaknya lakukan pembayaran yang mukanya terlebih dahulu. Kalau sudah, nanti tinggalkan nomor telefon yang bisa dihubungi jadi kalau pesanan sudah selesai, Mbaknya bisa langsung saya kasih tahu."



"Oke."



[Lots Of Love. Chocolovas]

__ADS_1




__ADS_2