That Jacket Girl

That Jacket Girl
Part 12


__ADS_3

"Nes, bisa lepasin tangan gue?" kata Ethan kepada Ines yang sejak tadi memegangi lengannya.



"Ooh iya, maaf." Ines tampak salah tingkah lalu melepaskan lengan Ethan.



Selepas tangan Ines, tanpa menunggu sedetik berlalu, Ethan segera berlari menyusul Eris. Ia mengutuk dirinya sendiri yang terlalu bodoh karena tadi ketika Eris terjatuh ia hanya membisu di tempat hanya karena alasan kaget. Ia tadinya sedang menunggu Eris mendatanginya, ia sudah melihat cewek itu dengan temannya datang menghampirinya sambil membawa kado, dan ia tahu Eris ketika cewek itu sudah di belakangnya.



Namun Ethan memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Ia ingin selesai dengan semua kado dari temannya yang lain, baru ia bisa memfokuskan dirinya ke Eris. Tapi rupanya tindakan yang semula ia kira akan benar rupanya salah. Kalau saja ia berpaling dan menyapa Eris duluan ketika cewek itu berada di dekatnya, kejadiannya pasti tidak akan seperti ini.



Ia tidak masalah dengan pestanya yang rusak, yang ia pikirkan adalah Eris. Bagaimana keadaannya sekarang, Ethan sangat ingin tahu. Eris pasti saat ini sedang merasa sangat malu dan menyalahkan dirinya sendiri karena merusak pesta ulang tahunnya. Ethan ingin berada di samping Eris, ia ingin menenangkan cewek itu dan berkata kalau semua ini bukan salahnya.



Hatinya terasa sakit ketika mengingat kembali saat melihat setetes air mata jatuh dari mata Eris. Ethan jadi merasa dirinya brengsek, belum apa-apa ia sudah membuat cewek itu menangis.



Dengan nafas terengah-engah ia berhasil keluar dari rumahnya. Sesampainya di depan, ia bingung akan belok ke kanan atau kiri karena ia tidak tahu kemana Eris dan Gina pergi.



"Sialan!" umpatnya kesal sambil mengacak rambutnya sendiri. Saat akan berjalan ke kiri, sekelebat gerakan tertangkap dari sudut matanya dan gerakan itu berasal dari arah kanannya.



Ethan pun segera berputar. Betapa senangnya ia melihat Eris di sana bersama Gina. Baru saja ia akan mendekat, langkah kakinya langsung terhenti begitu melihat Eris yang tiba-tiba digendong oleh cowok lain yang tidak ia ketahui namanya. Kalau dilihat lebih teliti, Ethan rasa belum pernah melihat cowok itu sebelumya. Bahkan sepertinya bukan dari sekolah yang sama dengannya. Dari wajahnya yang jauh kelihatan dewasa dan postur tubuhnya yang lebih besar dari Ethan, ia pikir kalau cowok itu mungkin seorang kakak kelas.



Seribu pertanyaan seketika berputar dalam benak Ethan. Apakah dia pacarnya Eris? Tapi rasanya bukan, kalaupun memang pacarnya, mengapa dari awal Eris tidak bilang saja langsung ke Ethan kalau ia punya pacar, mengapa cewek itu mau-mau saja didekati Ethan. Atau jangan-jangan Eris adalah cewek tipe tukang selingkuh?



Tidak-tidak. Ethan tidak akan pernah berpikiran jelek seperti itu lagi. Ia yakin kalau cowok itu bukan pacarnya Eris. Karena dari gelagat cewek itu selama kenal dengannya, Eris sangat tampak sebagai cewek yang masih polos. Bahkan kalau ia goda sedikit saja pipinya langsung memerah.



Namun, kembali lagi, kalau bukan siapa-siapa, kenapa cowok itu sampai harus menggendong Eris ala bridal style dan sekarang sedang memasukkannya ke dalam mobil. Hubungan mereka jelas tidak bisa dikatakan biasa. Bahkan Gina saja yang selama ini ia pikir mendukungnya dengan Eris, tampak nyaman-nyaman saja dengan cowok itu dan masuk ke dalam mobil tersebut juga.



Sialan! Sebenarnya dia siapa?! batin Ethan kesal. Tangannya tanpa terasa sudah mengepal erat.



Ethan hanya diam berdiri di tempatnya sekarang tanpa ada niatan lagi untuk mengajar. Dengan posisi mereka yang membelakanginya, ketiga orang itu tidak akan melihat Ethan. Jadi, Ethan hanya melihat mereka sampai ketika mobil yang ditumpangi mereka pergi dan hilang dari hadapannya. Meninggalkan Ethan dalam kesendirian.



Perlahan ketika sadar tangannya terkepal erat, Ethan mulai melonggarkannya. Kemudian ia mulai berpikir kalau memang cowok itulah yang Eris suka, Ethan bisa mundur. Pendekatannya ke cewek itu pun akan ia anggap angin lalu saja. Lagipula ia baru dekat beberapa hari dengan Eris, masih terlalu awal sehingga kalau memutuskan untuk pergi ia rasa tidak akan ada pihak yang tersakiti.



Dirasa sudah tidak ada lagi alasan ia di luar, Ethan berbalik dan berniat kembali ke rumahnya. Namun langkahnya berhenti lagi tatkala mendapati Juna yang berlari keluar dan menuju ke arahnya.



"Dimana Eris?" tanya Juna begitu sampai di sebelah Ethan sambil melihat sekeliling mencoba mencari sosok Eris.



Ethan diam berpikir sesaat. "Pulang. Dijemput sama pacarnya." balas Ethan dengan suara datar.



"Ooh.. Berarti tuh cowok baik, mau ngizinin ceweknya datang ke pesta cowok la.....in." begitu mendapat tatapan tajam dari Ethan, sepertinya Juna salah bicara. Makanya ketika di kalimat terakhir ia melambatkan suaranya. "Oh iya, ini kado dari Eris buat lo." tambahnya kemudian, sengaja mencari topik pengalihan yang lain.



Dilihat dari raut wajah masam temannya itu, ia pikir lebih baik untuk tidak mengungkit masalah Eris dan pacarnya lagi. Ia tahu Ethan mulai mendekati Eris, namun kalau Eris sudah punya pacar, Juna akan melarang Ethan mendekati cewek itu lagi. Mau seberapa besar Ethan menyukai Eris, Juna tetap tidak akan pernah mendukung temannya itu mencoba merebut milik orang lain.



"Kok bisa sama lo?" tanya Ethan curiga begitu kado dari Eris sudah di tangannya.



Juna menghela nafas. "Itu tadi jatuh." Belum apa-apa sudah cemburu, lanjutnya dalam hati.



***



"Gin, kasih obatnya ke Eris dua sekalian."



"Siap, Kak. Nih, Eris, cepetan diminum biar gatalnya cepat hilang." kata Gina seraya menyodorkan dua tablet obat ke Eris.



Setelah meminum obat itu, Eris merasa badannya berangsur mulai enakan dan rasa gatal yang tajam di tangannya perlahan menghilang. Ia bersandar ke sandaran kursi, sambil memejamkan matanya. Ada beberapa bagian tangannya yang perih karena sempat ia cakar tanpa sadar. Beruntung tidak sampai berdarah.

__ADS_1



Ia teringat kembali akan kejadian beberapa menit yang lalu saat ia di pesta ulang tahun Ethan. Ia membayangkan berbagai konsekuensi terburuk dari kejadian tadi seperti contohnya Ethan berubah membencinya, dan ia akan selamanya dicap sebagai cewek yang tidak bertanggung jawab oleh orang lain karena meninggalkan kekacauan begitu saja atau bahkan malah lebih buruk lagi.



Kalau nanti Ethan sudah tidak mau dengannya lagi, itu bukanlah salah cowok itu. Itu wajar menurutnya. Eris sudah menghancurkan pesta Ethan jadi ia rasa pantas-pantas saja kalau Ethan berubah tidak menyukainya. Bukannya membereskan kekacauan dan meminta maaf dahulu, Eris malah melarikan diri.



Selain itu, ia juga memang sentuhan tangan dengan orang lain yaitu Juna. Juna padahal berniat baik akan membantunya berdiri, tapi ia malah histeris saat itu. Pikirannya jadi berkecamuk, pasti semua anak sangat bingung dengan reaksinya yang tidak normal itu.



Ia juga akan sangat berterima kasih kepada Gina, tadi ia ingat kalau pikirannya sempat kosong karena terlalu shock dengan apa yang menimpanya. Ia terlalu terkejut dan takut juga. Tapi beruntunglah ia punya teman seperti Gina, yang lalu membawanya lari.



Kalau bukan karena noda di gaunnya, Eris pasti akan menganggap kejadian tadi hanya mimpi. Untuk Kak Keenan, dia sama sekali tidak tahu menahu soal Eris yang jatuh dan merusak pesta Ethan. Kakak laki-lakinya itu hanya tahu kalau ia bersentuhan dengan cowok, itu saja. Beruntung sudah malam dan cahayanya samar-samar, jadi noda tumpahan minuman di gaunnya pun tidak terlalu terlalu terlihat, sehingga Kak Keenan tidak menanyakan hal tersebut kemudian mulai membuatnya untuk jujur menceritakan kejadian tadi.



Lamunan Eris seketika terpecah oleh suara Kak Keenan.



"Oh iya Gin, makasih ya karena lo udah bantu jagain adek gue." kata Keenan sambil terus melajukan mobilnya.



Gina yang duduk di kursi sebelah Eris di belakang menjawab, "Ahh iya sama-sama, Kak."



Eris pun tidak ingin ketinggalan berterima kasih kepada Gina. "Gue juga, Gin. Gak tahu gimana jadinya kalau gue gak punya sahabat kayak lo. Lo selalu nyelematin gue dan gue selalu ngerepotin lo dengan penyakit gue ini."



Gina mengibaskan tangannya.


"Ngomong apa sih, asal kalian tahu, semua ini gak gratis loh. Gue minta selama satu minggu ke depan gue minta traktir di kantin." candanya. Atmosfer yang tadinya menegangkan pun perlahan mencari.



Eris tertawa kecil mendengar perkataan Gina. "Lo mau buat keluarga gue bangkrut?" balasnya.



Gina terkikik. "Jadi anak jangan pelit. Duit bokap lo kan banyak." ledeknya kemudian sambil tertawa.



"Tenang aja, semua bisa diatur." ujar Keenan menanggapi.




Melihat setelah itu tidak ada yang berusaha membuka pembicaraann lagi, Eris pun mengambil alih dengan menanyakan sesuatu yang sedari tadi menjadi pertanyaan dalam pikirannya.



"Kak Keenan kok bisa pas banget sampai di rumah Ethan?" tanyanya.



Keenam yang sedang menyetir menoleh sesaat ke belakang begitu pertanyaan itu terlontar dari mulut adiknya kemudian menjawab, "Hhmm... Mungkin karena firasat seorang kakak." katanya.



"Emang gimana?" suara Eris masih terdengar sedikit lemah.



Ketika sampai di lampu merah, Keenan menggunakan waktu itu untuk menjelaskan. "Waktu kamu pergi, perasaan kakak mulai jadi gak enak. Terus pas kakak mau balik ke kamar, kakak lihat Kyupi masuk ke kamar kamu yang pintunya kebuka. Niatnya sih cuma mau ngambil Kyupi, tahu-tahunya kakak malah lihat tas selempang kamu gak dibawa. Awalnya sih cuek aja, tapi pas kakak lihat di dalamya, rupanya obat kamu di sana semua. Dari situ kakak tahu kamu gak bawa obat dan kakak langsung nyusul ke rumah Ethan." jelas Kak Keenan.



"Kok Kak Keenan bisa tahu rumahnya Ethan?" kali ini giliran Gina yang bertanya.



"Awalnya gue telfon lo, Gin, tapi gak aktif. Mau sms gak punya pulsa, cuman punya gratisan telfon. Terus gue ke rumah lo dulu, nanya ke supir terus dikasih alamatnya."



Eris dan Gina mengangguk paham.



"Jadi begitu ceritanya. Ngomong-ngomong, makasih banyak ya, Kak, udah bela-belain datang. Terlepas kebetulan kali ini, Kak Keenan tetap mau bawain obat buat aku. Terus tadi malah sampai digendong ke mobil padahal aku juga masih kuat jalan." ucap Eris sambil tersenyum lemah.



"Sama-sama. Tapi lain kali hal begini gak boleh keulang lagi. Lagian kamu kenapa teledor banget sih sampai obatnya lupa dibawa. Terus soal gendong, emang bener kamu masih kuat jalannya? Habis lari aja udah ngos-ngosan sampai sempoyongan." Ethan melajukan mobilnya kembali ketika lampu sudah berubah warna menjadi hijau.



"Obatnya gak kebawa karena buru-buru. Udah telat soalnya."


__ADS_1


Dahi Keenan berkerut. "Seberapapun pentingnya itu, kamu tetap harus prioritasin diri kamu sendiri dulu, baru orang lain."



Eris hanya bergumam mengiyakan. Matanya kemudian beralih ke luar jendela sambil membayangkan betapa beruntungnya ia memiliki kakak seperti Kak Keenan. Eris tidak tahu kebaikan seperti apa yang ia lakukan sebelumnya sampai ia bisa mendapatkan kakak sebaik dan sehebat Keenan. Mungkin ini mukjizat untuknya. Ia memang tidak diberikan kesehatan yang sempurna, namun ia mempunyai kakak yang sempurna. Baginya itu sudah cukup.



***



Tidak sampai dua puluh menit kemudian, Eris dan kakaknya sudah sampai di rumah. Sebelumnya mereka sudah mengantarkan Gina pulang ke rumah terlebih dahulu. Tubuh Eris juga rasanya sudah normal kembali seperti biasa, jadi ketika tadi akan turun dari mobil kakaknya sempat menawarkan untuk menggendongnya yang langsung Eris tolak mentah-mentah.



Kini ia sedang berjalan tepat di belakang kakaknya, jadi ketika kakak laki-lakinya itu tiba-tiba berhenti, ia ikutan berhenti. Kekagetannya dimulai ketika kakaknya itu berbalik menghadapnya dan menghadiahinya pandangan penuh selidik.



Kenapa kakak lihatin gue begitu ya? Apa dia tahu soal kejadian tadi? Batin Eris.



"Sekarang karena sudah di rumah, kakak mau kamu ceritain apa yang sebenarnya terjadi di rumah Ethan tadi."



Tuhkan. Kak Keenan lasti curiga.



"Tap---" Baru saja Eris bicara, tangan kanan Kak Keenan sudah terangkat tanda ia harus berhenti bicara dahulu.



"Kakak gak mau kamu bohong. Kalau kamu bohong, kakak juga bakalan tahu. Jadi lebih baik kamu jujur saja dari sekarang."



Eris menggigit bibirnya karena bingung. Kemudian tangannya mencengkeram tepian gaunnya. Gerakannya terlihat oleh Kak Keenan, dan sialnya di bagian itulah noda minuman itu tersebar. Dihati-hatikannya untuk melihat reaksi Kak Keenan. Namun wajah itu hanya menampilkan raut wajah biasa saja seperti sudah tahu, jadi Eris bisa langsung mengambil kesimpulan kalau kakaknya sudah tahu sejak awal hanya saja tetap diam sebelum mereka berdua sampai di rumah.



Padahal tadinya Eris sudah senang karena mengira Kak Keenan tidak curiga dan tidak tahu menahu soal noda di gaunnya. Tapi ternyata dugaannya itu salah besar.



"Jadi?" tuntut Kak Keenan.



Baiklah. Mau tidak mau Eris juga harus menceritakan semuanya. Kemudian setelah mengambil nafas dalam-dalam, mengalirlah cerita darinya sejak memasuki rumah Ethan sampai ia keluar dan bertemu Keenan. Eris sudah bersiap-siap kalau ia dimarahi oleh Keenan. Jadi ia hanya menunduk ke bawah tanpa mau melihat ke atas. Ia takut melihat raut wajah marah atau bahkan kecewa kakak laki-lakinya itu.



"Eris, sini sebentar."



Tanpa menjawab, Eris berjalan mendekat selangkah ke depan. Ia masih menunduk ke bawah dan kemudian detik selanjutnya ia tersentak ketika mendapat pelukan hangat dari kakaknya.



"Kak..." panggil Eris yang bingung namun langsung disela kakaknya.



"Kamu tahu gak sih gimana khawatirnya kakak begitu bertemu kamu waktu kamu keluar dari rumah Ethan. Kakak lihat kamu habis nangis, gaun kamu kotor, belum lagi katanya habis sentuhan sama cowok."



"Maaf..." gumam Eris dalam pelukan kakaknya.



Keenan melepaskan pelukannya namun tangannya masih berada di bahu Eris. "Kakak gak akan marah sama kamu. Malah kakak jadi benci diri kakak sendiri yang gak bisa jagain kamu. Kamu tahu gak gimana rasanya kakak ingin hajar siapapun di dalam sana yang udah jahatin kamu." di akhir kalimatnya Kak Keenan menggertakan giginya kuat-kuat.



"Kak, semua ini juga terjadi gak sengaja. Akunya juga yang gak ha---"



"Enggak. Kamu udah hati-hati tapi orang lain tidak. Inilah yang sejak dulu kakak takutin. Kamu boleh saja hati-hati, tapi apa orang lain akan sama sepertimu? Kebanyakan dari mereka tidak."



Eris bingung akan menjawab apa. Jadi ia hanya mengangguk patuh. Kakaknya itu lalu melepaskan dirinya sepenuhnya.



"Sekarang kamu bersihin diri kamu dulu lalu langsung tidur ya."



"Siap, makasih, Kak." balas Eris sambil tersenyum lebar.



[Lots Of Love. Chocolovas.]

__ADS_1




__ADS_2