That Jacket Girl

That Jacket Girl
Part 4


__ADS_3

Eris bergerak gelisah. Beruntung sepertinya dari tiga orang yang sedang bersamanya ini belum ada yang menyadari kegelisahannya. Tangannya meraih ke dalam saku rok tempat ia menyimpan kotak obatnya. Eris baru akan menariknya keluar ketika suara Ethan menginterupsi.



"Kenapa gak makan?" tanya Ethan membuat tangan Eris menegang dan wadah obatnya yang sudah dipegang terlepas kembali.



"Hhm... nanti gue makan." balas Eris gugup tanpa menatap langsung ke mata Ethan.



"Cepat dimakan, nanti keburu dingin lagi."



"Iya." gumam Eris lirih. Jantungnya beradu cepat memikirkan skenario seperti apa yang akan terjadi kalau ia tidak segera makan obatnya sekarang juga. Bisa-bisa mereka tahu rahasianya dan menganggap dirinya... monster.



Seperti hari itu. Eris menelan gumpalan pahit yang mengganjal di tenggorokannya, ketika teringat waktu pertama kalinya Eris bersentuhan kulit dengan lawan jenis dan berakhir dengan dirinya menggaruki badannya sampai lecet berdarah. Pipinya yang semerah tomat menambah kesan menakutkan pada dirinya. Sampai-sampai anak di sekolahnya kala itu yang melihat Eris memanggilnya monster.



Karena Gina waktu itu tidak masuk sekolah, Eris tidak punya teman yang bisa ia jadikan pegangan ketika anak lain mengejeknya. Kemudian Eris kabur dari sekolah dan pulang, bertemu Kak Keenan yang sama terkejutnya seperti anak lain. Bedanya mereka memandanginya dengan jijik, sedangkan Keenan memandanginya khawatir, cemas namun tetap penuh sayang. Tidak peduli bagaimana penampilan Eris waktu itu.



Eris yang masih memikirkan kejadian dulu tidak sadar ketika Arjuna yang sedang makan berhenti dan memandanginya dengan penuh tanda tanya.



Dahi cowok itu mengernyit ketika dengan telunjuknya, Juna menunjuk ke arah pipi Eris. "Gue rasa kantin ini gak kena langsung cahaya matahari, tapi kalau gue gak salah lihat, pipi lo kelihatan tambah merah."



Eris tersentak. Dilihatnya ketiga cowok itu sudah berhenti makan dan sekarang memandanginya penasaran. Terutama ke arah pipi dan... tangan.



Eris melihat ke bawah dan baru sadar sekarang kalau tangannya sangat gatal dan tanpa sepengetahuannya ia sudah mulai menggaruk. Dan soal pipi, tanpa bercerminpun Eris tahu pasti pipinya sudah bertambah merah karena ia dapat merasakan panasnya. Eris dengan segenap tenaga menjauhkan jemarinya untuk tidak menggaruk lebih banyak lagi.



"Lo gak apa-apa?" tanya Ethan khawatir.



Tenggorokkan Eris tercekat ketika ia berusaha untuk bicara. "Gu---gue pergi dulu."



Eris segera beranjak, berlari pergi dari situ secepat mungkin. Tidak peduli ada seruan Ethan di belakang sana. Yang terpenting saat ini adalah Eris cepat pergi dan menghilang sebelum orang lain tahu masalah penyakitnya ini.



Selagi berlari di sepanjang koridor, ia merasa rasa gatalnya sudah tidak bisa ditahan lagi, jadilah Eris merogoh saku dan mengambil wadah obat dan dibukanya. Karena tidak sempat memperhatikan jalan, Eris menabrak seseorang sampai kotak obatnya jatuh dan isinya berhamburan ke lantai.



Astaga, kenapa harus begini. Batinnya



Eris buru-buru memunguti butiran obatnya sebelum terinjak orang lain. Tangannya meraih ke sana-kemari membawa obat itu masuk kembali ke wadahnya. Orang yang ia tabrak tadi kebetulan cewek dan sudah pergi tidak menghiraukannya. Syukurlah. Ketika akan mengambil butiran obatnya yang terakhir, sudah ada tangan lain yang terulur.



Eris mendongak melihat pemilik tangan itu. "Gina." katanya dengan suara serak. Eris menahan diri sekuat mungkin dari rasa gatal yang terasa menusuknya sampai ke tulang-tulang.



"Cepat, kita pergi dari sini." ajak Gina lalu meraih lengan Eris, menarik dan membawanya kabur, masuk bersama ke dalam toilet terdekat.



"Cepat dimakan obatnya." perintah Gina dengan buru-buru.



Tangan Eris bergetar hebat ketika membawa obat itu ke mulut dan berakhir obatnya jatuh ke lantai.



Gina yang melihat itu pun mengambil alih. "Biarin aja yang udah jatuh. Sekarang makan yang ini." Ia membawa satu butir obat ke depan mulut Eris supaya temannya itu bisa menelannya. Akhirnya obat itu masuk juga.



"Du-- dua." kata Eris dengan nafas tersengal.



Sekali lagi, Gina memberikan obat itu dan ditelan Eris cepat-cepat.



Pada saat bersamaan, tubuh Eris merosot ke lantai. Untung saja lantainya masih kering. Cewek itu membenamkan wajahnya ke lekukan kaki sambil menunggu obatnya bekerja. Lalu terdengar rintihan rendah dari Eris. Rasanya sampai sakit karena menahan diri untuk tidak mencabik-cabik badannya sendiri. Tangannya masih bergetar hebat. Semua reaksi ini sebagai akibat karena terlalu lama tidak segera makan obatnya.



Touchibia ini memang tergolong sangat aneh dan langka. Dirinya bahkan pernah diberitahu dokter misalnya sampai setengah jam tidak segera dimakan setelah bersentuhan, maka ia bisa pingsan. Beruntung Eris tidak pernah telat sampai selama itu.



Hening cukup lama di antara mereka. Hanya terdengar deru nafas yang saling beradu. Gina memberikan waktu sendiri untuk Eris karena begitulah yang selalu Eris minta. Perlahan, tangan Eris berhenti bergetar. Rasa gatal serta panas di pipinya berangsur menghilang. Ia normal kembali.



"Maaf." Gina lah yang membuka suara pertama kali.


__ADS_1


Eris yang mendengarnya memutuskan untuk mendongak. Lalu berdiri kembali setelah tenaganya kumpul kembali. "Untuk apa?" tanyanya bingung.



Suara Gina bergetar seakan menahan tangis. "Untuk... segalanya. Karena tadi gue udah ninggalin lo sendirian, karena udah lalai jadi sahabat lo." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.



Eris yang mendapati pandangan bersalah dan tertekan di mata Gina jadi merasa jahat. Eris mencoba tersenyum lalu menepuk bahu Gina. "Ini sepenuhnya bukan salah lo, lo gak perlu minta maaf ke gue. Please, jangan salahin diri lo sendiri atas apa yang menimpa gue. Gue aja yang gak hati-hati."



Gina tetap menggeleng. "Tapi tetap aja gue ngerasa kalau semua ini salah gue. Kalau bukan karena gue ninggalin lo biar sama Ethan, gak bakalan kayak gini kejadiannya."



"Gin, ini bukan pertama kalinya gue kambuh begini, tapi selalu saja lo nyalahin diri lo sendiri. Mulai hari ini lo gak boleh mikir macem-macem dan gak boleh nyalahin diri lo. Pokoknya, anggap aja ini musibah yang buat gue harus selalu berhati-hati ke depannya." jelas Eris menengangkan.



Gina menghela nafas. "Kalau aja gue tahu kejadiannya bakalan kayak gini, gue gak bakalan ninggalin lo tadi."



"Tapi kan lo gak tahu apa-apa. Yang udah terjadi sudah biarin. Sekarang gue udah baik-baik aja. Dan ini semua juga berkat bantuan lo." tangannya yang tadi ada di bahu Gina berubah menjadi merangkul.



"Makasih banget ya." kata Eris tulus.



"Sama-sama."



***



Jam pelajaran selesai pukul tiga sore, anak-anak di kelas IPA 2 sudah keluar semua kecuali Eris dan Gina. Kebiasaan mereka berdua yaitu menunggu anak lain keluar dulu, barulah mereka yang terakhir. Jelas alasannya adalah Eris ingin meminimalisir terjadinya sentuhan dengan lawan jenis ketika dirinya keluar pada saat keadaan masih sesak.



Semenjak kejadian siang tadi, Gina juga tidak pernah meninggalkan Eris lagi. Bahkan ketika Eris ingin buang air kecil saat pelajaran berlangsung pun Gina ikutan mengantar ke toilet. Eris jadi terharu dengan sikap Gina yang sangat baik dengannya.



"Lo jadi ke rumah saudara lo lagi?" tanya Eris sambil memakai jaketnya dan menyesuaikannya di tubuh agar lebih nyaman dipakai. Kalau pelajaran, ia tidak pakai jaket sesuai prosedur sekolah yang berlaku melarang siswanya memakai atribut selain seragam selama pelajaran kecuali karena alasan sakit. Barulah ketika jam istirahat dan pulang Eris akan memakainya kembali.



"Iya, dari kemarin di sana lagi ada hajatan. Ortu gue di rumah saudara semua, makanya gue disuruh ke sana lagi." kata Gina yang baru selesai menata poninya agar lebih rapih.



"Ya udah yuk pulang, nanti lo kesorean." ajak Eris.




Gina akhirnya memilih keluar duluan. Sedangkan Eris masih berdiri di tempatnya tadi dan mengangkat telfon dari Keenan.



"Halo, Kak." sapanya duluan.



"Halo Eris, kamu masih di sekolah?"



"Iya masih. Ada apa kak, tumben telfon jam segini."



"Gini, anak Pak Darmo katanya sakit dan harus dirawat di rumah sakit jadi beliau gak bisa jemput kamu pulang sekolah."



"Ohh.."



"Kamu minta diantar Gina aja ya biar aman. Kalau enggak, kamu bisa naik taksi tapi harus hati-hati. Dilihat dulu supirnya udah tua atau masih muda. Kalau masih muda jangan mau naik, kalau udah berumur, rambutnya putih, baru boleh naik. Paham?"



"Iya kak iya. Nanti aku ikut Gina aja." bohongnya. Ia sengaja berbohong agar Kak Keenan tidak terlalu khawatir.



"Syukurlah, kakak jadi tenang, hati-hati ya."



"Iya, Kak."



Sambungan telfonnya ditutup. Pada saat yang bersamaan, Eris mendengar suara seruan beberapa orang cowok yang mengatakan, "Awaaas...!" dari arah lapangan.



Penasaran, Eris akan mencari sumbernya, tapi baru saja ia menoleh, tiba-tiba saja sebuah bola basket menghantam mukanya.



***

__ADS_1



"Ini pakai es batu biar enakan."



"Makasih." Eris menerima es batu yang dibungkus kain itu dan menempelkannya ke pipi sebelah kirinya yang tadi paling keras kena hantaman bola bakset. Rasanya nyeri dan berdenyut-denyut. Pasti besok akan jadi lebam dan membiru.



Cowok yang tadi memberikan es batu itu duduk di sebelah Eris. Keduanya duduk di pinggir lapangan.



"Lo gak latihan lagi?"



"Nanti. Masih istirahat." kata cowok itu.



"Persiapan buat final nanti?" tanya Eris lagi. Pasalnya tiba-tiba ia teringat dengan lomba-lomba basket yang sekolahnya hadapi belakangan ini. Eris jadi menyayangkan selama ini ia tidak mengikuti kabar terbaru dari lomba itu. Setahunya dari tak sengaja mendengar obrolan anak-anak lain, sekolahnya masuk final. Sudah hanya itu saja yang ia tahu.



"Iya, doain semoga sekolah kita menang juara satu.



"Tentu."



Lalu hening. Melirik ke Ethan, dia sedang fokus menghadap ke depan. Jadi Eris ada waktu untuk mencuri-curi pandangan. Ethan lah tadi yang menyelamatkan Eris. Atau bukan menyelamatkan, tepatnya menolong. Membantu Eris berdiri setelah terjungkal karena hantaman bola bakset di mukanya. Lalu Ethan membawa Eris untuk duduk di pinggir lapangan tidak jauh dari tim basket sekolahnya sedang berlatih.



Awalnya banyak cowok yang mengerubungi karena ingin tahu siapa cewek malang yang terkena bola basket yang dilempar keras-keras oleh Maru, cowok yang melempar bola. Maru sendiri sudah meminta maaf karena melempar tanpa melihat keadaan sekitar dahulu. Tadi tim basketnya sedang istirahat dan ada segerombolan anak yang iseng-iseng main lempar-lemparan. Sayangnya Maru sengaja melempar dengan keras dan tinggi membuat kawan yang dilemparinya tidak bisa meraih bola dan berakhir dengan bola basketnya terus melayang hingga sampailah menghantam muka Eris. Kurang lebih begitulah ceritanya.



"Mau sampai kapan lo liatin gue terus?"



Eris tersentak. "Maaf." ucapnya malu karena ketahuan melihati Ethan diam-diam. Bodoh sekali, pikirnya.



Didengarnya Ethan tertawa geli. "Lo tadi udah dipanggil buat minggir tapi lo gak ngeh. Sibuk telfon sama pacar?"



Pipi Eris bersemu. "Gue gak ada pacar. Gak pernah pacaran dan gak pernah ada calon. Tadi yang nelfon itu kakak gue. Dia bilang nanti gak ada yang bisa jemput. Jadi palingan gue harus naik taksi." jelas Eris yang entah kenapa ia ingin menjelaskan ke Ethan seperti itu. Ia tidak ingin Ethan menganggapnya punya pacar.



Ethan bergumam. "Jadi lo nanti pulang sendirian?"



"Iya."



"Gue juga sendirian. Daripada sama-sama sendirian, mending barengan aja mau?" tawar Ethan.



"Eh? Maksudnya?" Ia segera menoleh ke Ethan dengan pandangan bingung. Apa gue gak salah dengar tadi?



"Gue mau lo pulang sama gue. Gue antar lo pulang sampai rumah. Itung-itung, anggap aja sebagai permintaan maaf karena tadi gak perhatiin kelakuan tim basket gue."



Walau hanya sebagai permintaan maaf, tak ayal membuat hati Eris melambung tinggi. Ia juga hampir lupa kalau Ethan kapten tim basketnya. Seorang kapten yang sangat bertanggung jawab.



Dalam hatinya Eris ingin sekali tertawa, Kalau dengan muka gue kena bola bisa buat Ethan nganterin pulang, gue mau tiap hari wajahnya dihantam bola lagi. Sampai babak belurpun kayaknya gue mau.



"Oke." putusnya. Eris hampir yakin melihat binar cerah sesaat berlabuh di mata Ethan.



"Karena lo setuju, lo tunggu di sini aja dulu, sementara gue mau latihan sekali lagi baru kita pulang." kata Ethan sebelum cowok itu berdiri lalu mulai berlari kecil ke tengah lapangan.



Di tengah lapangan sana Ethan menyerukan untuk berlatih sekali lagi kepada anggota timnya. Sebelum Ethan memulai, ia sempat mengalihkan pandangannya ke Eris dan berkata tanpa suara. "Jangan kemana-mana. Tetap disitu."



Eris mengangguk sambil ******** senyum. Berusaha tidak terlihat sangat antusias dengan ajakan Ethan untuk pulang bersama.



Ahh bahagianya...



[Lots Of Love. Chocolovas]



__ADS_1


__ADS_2