That Jacket Girl

That Jacket Girl
Part 9


__ADS_3

"Satu.. dua.. tiga.. empat---"



"Eris... Sttt... Eris..."



"---Lima.. enam.. tujuh.. delapan."



"Ada apa?"



"Jadi tadi pagi lo berangkat bareng lagi sama Ethan?"



"Iya. Gue gak maksa dia, dia sendiri yang datang ke rumah gue."



"Gimana? Udah beli kado?"



"Buat?"



"Ulang tahun Ethan."



Gerakan Eris terhenti. Matanya menyipit. "Lo kok tahu dia mau ulang tahun?" tanyanya curiga.



Gina dengan nafas terengah ikutan berhenti. Wajahnya seketika menampakkan raut ngeri. "Astaga, apa lo lupa, sebulan yang lalu sebelum lo dekat sama dia, lo udah uring-uringan tiap hari bicarain ulang tahunnya tuh cowok. Mana mungkin gue bisa lupa kalau tiap hari aja lo ingetin ke gue."



Eris menahan diri agar pipinya tidak bersemu. Begitukah dirinya dulu? Rasanya kalau diingat kembali ia ternyata sungguh memalukan. "Gue udah beli kado." akunya.



"Sekalian beli kado buat gue, ya." goda Gina seraya menubrukan bahunya dengan bahu Eris.



"Apaan, ulang tahun lo masih lama. Masih tujuh bulan lagi. Kalau gue kasih kado lo sekarang, dan tujuh bulan kemudian minta lagi, yang ada gue rugi."



"Ish, tapi kan duit lo banyak."



Eris hanya mengibaskan tangannya sebagai jawaban. "Udahlah, gue mau lanjut pemanasan lagi."



Keduanya baru akan mengikuti gerakan pemanasan selanjutnya ketika Ivan, sang ketua kelas sudah menginterupsi duluan.



"Oke teman-teman semuanya, pemanasannya udah cukup sampai di sini aja. Sekarang gue mau ngasih tahu kalian, kalau guru olahraga kita lagi ada acara jadi gak bisa ngajar hari ini. Bukan cuman Pak Ruslan aja kok yang gak berangkat, guru olahraga kelas lain juga, termasuk kelas sebelah juga. Jadi buat ngisi pelajaran kali ini, kita bakalan tanding. Yang cewek main kasti lawan kelas sebelah, sedangkan yang cowok tanding sepakbola. Semuanya paham?"



"Pahaaam...." jawab anak-anak serentak.



"Oke, sekarang bubar."



"Yang sabar ya." Gina cekikikan sambil menepuk-nepuk punggung Eris yang sudah lemas karena pengumuman tadi.



Pasalnya keduanya tahu kalau Eris itu paling tidak bisa sama yang namanya kasti. Selama sekolah ini memukul bola kasti sekali saja belum pernah ada yang berhasil. Beruntung sekali teman sekelas atau satu timnya tidak ada yang memarahinya karena hal itu. Mereka semua maklum dan dapat menerima karena setiap orang juga punya kelemahannya masing-masing.



"Kalau udah begini, mau gimana lagi." Eris mengangkat bahunya ke atas. Ia dan Gina baru akan beranjak dari tempat mereka sekarang ketika seseorang berteriak dari belakang mereka.



"Eris! Semangat!"



Eris berbalik untuk melihat ke orang itu. Dia, Ivan.



***



Lawan kelasnya bermain kasti adalah kelasnya Ethan. Dulu, Eris sangat senang dan selalu antusias kalau ada pelajaran olahraga karena kalau beruntung, ia bisa mencuri curi pandang ke Ethan kalau kebetulan tempat olahraganya berdekatan. Namun sekarang berbeda.



Ia akan bermain kasti! Mungkin bagi sebagian orang permianan kasti menjadi permainan favorit karena mengasyikan. Tapi demi apapun bagi Eris kasti sama saja dengan bencana. Entah apa yang salah dengannya, sejak dulu tidak bisa memukul bola dengan benar. Selalu saja meleset atau tidak pas dengan tongkat pemukulnya. Ia bahkan sudah pernah diajari sampai puluhan kali oleh Keenan, tapi sayangnya tetap tidak bisa. Dan setelahnya Eris selalu menganggap kasti sebagai sebuah bencana.



Setelah ditentukan, kelas Erislah yang mendapat giliran menang alias memukul terlebih dahulu. Eris yang hanya sebagai pemukul segera antri untuk memukul. Ia sengaja antri di bagian belakang namun bukan terakhir. Di depannya ada Gina.



Permainan berjalan lancar dan belum ada satupun pemain yang terkena bola. Banyak pemain kelasnya yang sudah pulang ke home dengan selamat.



"Gin, gue kok deg-degan yah?" ujar Eris ke Gina ketika cewek yang tadi antri di depan Gina sudah siap-siap untuk memukul.



"Apa lo mau tukeran sama anak lain?"



"Tapi gue gak enak sama mereka."



"Gak ap---"

__ADS_1



Ucapan Gina terhenti ketika namaya dipanggil untuk segera lanjut. Eris melihat bagaimana Gina bermain sambil menggigit jarinya. Jantungnya berpacu cepat ketika melihat ayunan Gina sangat tepat dan bola melambung jauh dan tinggi sampai masuk ke halaman kelas lain dan menggelinding ke dalam sela-sela pot-pot berisi bunga yang ada di depan kelas. Anak-anak yang berada di pos terakhir menggunakan kesempatan ini untuk pulang dan akhirnya semua anak bisa pulang tanpa terkena lemparan bola.



Sekarang giliran Eris. Tapi kakinya masih tertahan di tempat. Astaga, Eris tidak bisa. Ia baru akan mundur, ketika merasakan sentuhan di bahunya dari cewek yang berada di belakangnya.



"Gak apa-apa kalau bolanya gak kena pukul. Yang penting, lo udah nyoba."



Eris berterima kasih kepada Yuyun, nama cewek yang di belakangnya ini. Ia pun maju dan mengambil tempat. Ketika memegang tongkat, tangannya sampai bergetar. Hal itu tidak luput dari sang pelambung bola.



"Lo lagi sakit?" tanya cewek pelampung bola yang Eris tidak ketahui namanya.



Eris menggeleng. "Enggak." Celaka. Suaranya terdengar bergetar.



Sepertinya si cewek pemberi bola itu paham situasi Eris karena tidak bertanya lebih. "Siap-siap ya." katanya lalu tak lama kemudian melemparkan bola dengan pas ke Eris.



Iya pas. Tapi dasarnya Eris yang tidak bisa, pemukul kayunya hanya mengenai angin dan bolanya sedetik kemudian jatuh ke tanah delat sekali dari temparnya berdiri. Kemudian Eris mencoba berlari menuju ke pos pertama namun...



Bugh.



Eris terhenti. Belum juga sampai, punggungnya sudah terkena lemparan bola. Tuh kan. Kasti adalah bencana. Dilihatnya Gina keluar dari wilayah pos pertama lalu mendekatinya.



"Tenang, jangan ngerasa gak enakan. Lagian kita udah lama menang. Hitung-hitung kasih tim lawan kesempatan buat main." ucap Gina sambil cekikikan walau Eris tahu ucapan Gina itu hanya untuk menenangkannya.



Sekarang saatnya kelas Eris yang berjaga. Karena bagian belakang pemukul kosong, jadi Eris berinisiatif mengisinya. Padahal ia tidak pernah mencoba menjaga di bagian ini sebelumnya. Jadi sekarang istilahnya Eris jadi kucing. Permainan berlangsung lancar, atau mungkin bisa dikatakan terlalu lancar, kelas lawan ini rupanya sangat pintar bermain kasti. Hampir semua pukulan pemain pas dan melambung tinggi dan jauh.



Hingga tibalah saatnya Monic, sang ratu kecantikan sekolah. Cewek yang kerap disebut sebagai cewek paling cantik di sekolahnya. Selain cantik, dia juga berbakat sampai menjadi ketua tim cheerleader. Banyak anak cowok yang menyukai dia, tapi tidak sedikit pula anak cewek yang sangat membenci Monic karena sifatnya yang katanya malah cenderung jelek. Entah jelek yang dimaksud itu seperti apa Eris tidak tahu karena ia belum pernah melihatnya secara langsung.



Monic sudah bersiap dengan tongkatnya. Eris juga bersiap di belakang cewek itu. Kemudian bola dilemparkan.



Eris berpikir pukulan Monic ini akan sangat bagus, tapi sangat disayangkan, rupanya pukulannya jelek seperti pukulan Eris, bolanya tidak kena. Untuk pertama kalinya ada anak cewek kelas lawan yang tidak pas memukul bolanya dan bola kasti itu sendiri menggelinding tepat ke kaki Eris.



Tahu apa yang harus ia lakukan, cepat-cepat ia memungut bola kasti itu dan sekuat tenaga mengejar Monic dan langsung melemparkan bola itu ketika dirasa jaraknya cukup dan lemparannya bisa dipastikan mengenai lawan. Niat hatinya ke punggung, tapi apa daya bola itu menghantam kepala sang ratu kecantikan. Dan sialnya lagi, Eris tidak tahu kalau lemparannya tadi bisa dikatakan cukup keras karena bola itu memantul kembali bersamaan dengan pekikan marah dari Monic.



"Bitch! Siapa yang berani lempar bola sialan itu ke gue?!!!" Monic dengan muka merah padam berbalik dan mulai melihati anak kelasnya Eris. Namun semua anak sedang sibuk berlarian menuju home.




Permainan pun dilanjut lagi. Eris memilih bagian belakang kembali tentunya. Dan kali ini yang di belakangnya ada Gina dan depannya ada Yuyun. Tiba-tiba saja Yuyun berbalik dan mengacungi jempol ke Eris. Eris memberi pandangan bertanya namun Yuyun tidak repot-repot mau menjawab karena cewek itu sudah menghadap ke depan lagi.



Di lain tempat, Monic sedang dibisiki oleh salah satu temannya. Dalam waktu dua detik, seringai jahat langsung muncul di wajahnya. "Jadi itu ceweknya."



***



Permainan terus berlanjut. Kelas Eris menang, kalah, menang, kalah, menang, kalah, dan sekarang menang lagi. Walau semua anak sepertinya sudah capek, tapi permainan belum boleh berhenti sebelum jam pelajaran habis. Begitulah kata Ivan ketika tadi ada salah satu anak yang meminta agar permainan dibubarkan. Tapi rupanya tidak diizinkan.



Saat ini, semangat anak-anak jelas sudah mulai memudar seiring dengan keringat yang mulai bercucuran karena hari mulai semakin panas.



Eris sedang duduk-dudukkan bersama Gina. Ia senang tadi mendapat giliran dua kali memukul, yang walaupun tidak kena bolanya, ia tetap selamat sampai pulang kembali. Berterima kasihlah kepada kucing di belakangnya yang kurang sigap mengambil bola sampai melewatkan banyak kesempatan untuk mengenai bolanya ke lawan.



Seorang cewek sekelasnya mendatanginya dan Gina. "Gin, lo udah mukul berapa kali?" tanya cewek itu.



"Empat."



"Kalau lo, Ris?"



"Gue tiga."



"Kalau gitu, biar adil, habis ini giliran lo yang mukul, ya."



"Tap---"



Belum sempat ia menolak, cewek yang tadi memberitahunya itu sudah pergi duluan untuk mengumpul lagi ke temannya yang lain. Mau tak mau setelah ini giliran Eris. Entah kenapa Eris merasakan firasat buruk kali ini. Hatinya merasa tak tenang. Gina kayaknya juga merasakan hal yang sama karena sahabatnya itu terus menawarkan diri untuk menggantikan Eris tapi selalu ia tolak dengan halus.



"Biar sama, lo empat kali, gue juga harus empat kali." kata Eris begitu. Tidak tahu saja ia merasa tidak enak kali ini.



Semua berjalan sebagaimana semestinya ketika ia dipanggil sampai mengambil posisi untuk memukul bola. Namun tiba-tiba Monic datang menginterupsi. Cewek itu berjalan sambil bersiul-siul seakan sangat senang dengan apa yang akan ia lakukan.



Celaka, batin Eris. Pasti dia udah tahu kalau gue orangnya.

__ADS_1



Monic mendekati si pelambung bola sambil tersenyum manis. Eris tahu itu bukan senyuman biasa, tapi senyum sarat akan ancaman. "Sof, kelihatannya lo capek deh bolak-balik lemparin bola terus. Lo istirahat dulu gih sana. Biar gue gantiin, oke?"



"O--oke." cewek yang awalnya jadi pelempar bola itu memberikan bolanya ke Monic sebelum akhirnya pergi cepat-cepat.



Eris menunggu ketika Monic dengan angkuhnya melemparkan bola beberapa kali ke atas lalu menangkapnya kembali sambil sesekali bersiul. "Sebentar ya, adek. Kakak masih butuh pengenalan sama bola ini dulu." kata Monic dengan nada dibuat-buat.



Eris hanya diam ketika Monic mengulur-ulur waktu. Suasana sekitar juga sudah berbeda dari sebelumnya. Anak-anak cewek yang tadinya sudah tidak bersemangat dan banyak yang sambil tiduran di lapangan terpacu kembali adrenalinnya. Mereka semua berdiri lagi untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan dari sudut matanya, Eris bisa melihat Gina sedang khawatir sampai menggigiti kuku cewek itu. Kebiasaannya Gina.



"Adek kecil, hadapnya ke sini dong. Biar kakak lemparnya pas." tambah Monic dengan nada mengejek.



Eris hanya membalas tatapan Monic dengan wajah datarnya.



"Kakak lempar sekarang, ya."



Semoga bolanya kena, batin Eris.



Saat bola dilemparkan, Eris mengambil ancang-ancang. Lalu ketika bolanya lebih dekat lagi, Eris mencoba memukulkan tongkatnya. Namun gerakannya terhenti di tengah ketika ia baru sadar.



Ada yang salah. Eris bisa melihat bola itu tidak melambung ke arah tongkat pemukulnya. Melainkan... ke wajahnya.



Belum sempat ia menghindar, sengatan rasa sakit yang luar biasa langsung menyerang hidung Eris. Ia tersungkur ke tanah, lalu ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari dalam hidungnya sebelum kemudian menetes ke tanah. Eris menunduk dan melihat. Darah.



***



Eris merasa pandangannya mulai berkunang-kunang namun ia rasa ia masih kuat menahannya.



Jangan sampai pingsan sekarang, rapalnya berkali-kali dalam hati.



Anak kelasnya sudah berkerumun mengerubungi Eris dan menanyakan keadannya. Mereka semua membujuk Eris agar ke UKS tapi Eris tolak dulu. Gina yang ada di sampingnya sudah sangat cemas.



"Eris, lo jangan gila. Ayo ke UKS, lo gak liat apa itu darahnya makin banyak." suara Gina sampai serak. Seperti akan menangis.



Eris jadi merasa bersalah karena tidak mengindahkan permintaan Gina, tapi masih ada hal lain yang ingin ia lakukan sebelum ke UKS dan Eris akan menyelesaikannya sekarang juga.



"Nanti, sebentar aja. Ada yang mau gue lakuin dulu." kata Eris. Diam-diam ia sudah mengambil bola kasti yang tadi dilemparkan padanya. Kebetulan letaknya pas di samping Eris jatuh tadi. Karena anak lain terlalu fokus pada keadaannya, jadi tidak ada yang tahu kalau ia sudah memungut bola itu.



Ia berdiri dan meminta jangan ada yang mengikutinya. Ia melihat ke sekeliling dan tak butuh waktu lama sampai matanya mendapat apa yang ia mau. Eris merasa kepalanya semakin pusing dan setiap langkahnya ia merasa bumi ini berputar-putar. Beberapa kali ia limbung dan hampir jatuh lagi, tapi Gina sudah sigap menolongnya.



"Eris, gue minta kita ke UKS sekarang, ya." pinta Gina dengan memelas.



Namun Eris tetap pada pendiriannya. Ia melepaskan tangan Gina yang memegangi lengannya dan meminta Gina untuk menunggu di sini saja dan jangan ikut. Gina hanya menatapnya bingung, namun Eris juga enggan menjelaskan. Jadilah ia berjalan kembali dengan segenap sisa tenaga yang masih ia miliki.



Setelah dirasa jaraknya tidak terlalu jauh dari tujuannya, Eris berhenti.



"Monic!" serunya.



Satu detik Eris memanggil nama Monic.



Satu detik Monic berbalik.



Dan satu detik berikutnya Eris melemparkan bolanya kembali ke wajah arogan cewek itu.



Misi selesai.



***



"Bitch! Beraninya lo!!!" Monic berteriak dengan lantang sambil memegangi sebelah pipinya yang terkena lemparan bola. Nafasnya berubah sangat cepat dan tidak beraturan karena marah.



Di lain pihak, Eris merasa kesadarannya perlahan mulai menghilang. Di saat-saat terakhir ia melihat Monic dengan marah memungut bola kastinya kembali dan bersiap-siap untuk melempar balik ke Eris lagi.



Eris limbung. Ia memejamkan matanya erat-erat. Ia siap. Ia tahu Gina sudah melempar. Ia menunggu rasa sakitnya datang. Tapi tidak terasa apa-apa. Padahal ia sudah mendengar suara debaman bola yang cukup keras di dekatnya dan pekikan anak lain yang memanggil namanya.



Eris sudah tidak tahan. Ia tahu dirinya akan pingsan. Dan di akhir kesadarannya, ia mencoba membuka mata barang sekejap saja dan kaget melihat seseorang sudah berdiri di depannya. Wajah orang itu tidak jelas karena pandangannya blur. Belum sempat Eris menebak siapa dia, kegelapan sudah merenggutnya.



Namun, Eris berjanji, kalau ia bangun nanti, ia akan berterima kasih kepada orang itu.


__ADS_1



__ADS_2