That Jacket Girl

That Jacket Girl
Part 11


__ADS_3

Malam harinya Eris sudah memohon-mohon kepada Kak Keenan agar mengizikannya pergi ke pesta ulang tahun Ethan, namun kakak laki-lakinya itu tetap tidak memberinya izin. Katanya walau Keenan tahu ia dekat dengan Ethan, bukan berarti kakaknya itu mau mengizinkannya. Alasannya karena pasti suasananya ramai dan itu tidak baik bagi Eris.



Eris sudah mencoba meyakinkan kakaknya kalau ia akan berhati-hati dan menjauh dari keramaian, ia akan tetap berada di pojok, tempat di mana orang lain tidak akan melirik ke arahnya, yang penting ia bisa datang, tapi tetap saja Keenan tidak mau menghiraukannya. Keenan malah mengunci pintu depan agar Eris tidak bisa keluar rumah. Memberi tahu kakanya kalau ia pergi bersama Gina pun menjadi hal yang percuma. Keenan tetap pada pendiriannya untuk tidak memberikannya izin pergi. Keenan bahkan sempat mengancam Eris kalau berani kabur akan dilaporkan ke papa dan Keenan tidak akan memperbolehkan Eris dekat dengan Ethan lagi. Ya sudahlah kalau Keenan tidak memberinya izin.



Jadi di sinilah Eris sekarang, di kamarnya. Tiduran menghadap ke langit-langit sambil membayangkan apa yang sedang terjadi di luar sana. Pesta seharusnya sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Ia bertanya-tanya apakah Ethan mencarinya? Apakah Ethan tahu kalau Eris tidak bisa datang? Apakah cowok itu akan kecewa dan marah padanya? Arghh... Rasanya frustasi sekali. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa.



Eris bangun dari tidurnya lalu berjalan membuka pintu lemari dan melihat gaun berwarna putih yang sudah ia siapkan sebelumnya. Niatnya ia akan menggunakan gaun tersebut. Gaun itu panjangnya mencapai lutut dan yang paling penting adalah menutupi keseluruhan lengannya. Dulu waktu pertama kali melihat gaun itu di etalase toko, Eris langsung jatuh cinta. Jadi ia langsung membelinya.



Seakan kebetulan, kemarin Ethan memintanya datang ke pesta cowok itu memakai gaun berwarna putih. Dan gaun ini menurut Eris akan cocok sekali kalau ia pakai untuk datang ke sana. Namun sepertinya kali ini ia harus membuang jauh-jauh harapannya agar Ethan bisa melihatnya memakai gaun itu karena jelas sudah ia tidak akan datang ke pesta ulang tahun cowok yang ia sukai tersebut.



Tangan Eris menarik gaun itu keluar dari dalam lemari bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Masih sambil memegang gaunnya, Eris pun menjawab panggilan yang berasal dari Gina. Kemudian ia men-speaker panggilannya dan mengapit ponselnya di telinga.



"Halo, Gin." sapanya dahulu.



"Eris, kita beneran gak jadi datang ke ulang tahunnya Ethan?"



Eris terdiam sebentar. Lalu mulai bicara. "Maaf ya, kayaknya buat saat ini gak bisa deh. Lo pasti udah siap-siap ya?"



"Gak perlu minta maaf. Lagian gak masalah sih kalau gak jadi. Gak ada ruginya juga kan buat gue. Tapi buat lo, apa lo gak apa-apa?"



Eris membenarkan letak ponselnya agar lebih pas.  "Maksudnya?" tanyanya minta penjelasan lebih.



"Ya gue tahu sendiri kalau ini tuh pesta ulang tahun cowok yang udah lo sukai sejak dulu. Apalagi lo lagi dekat sama Ethan sekarang. Lo bahkan udah beli kado buat dia. Gue memang sih awalnya gak ingin lo pergi karena gue sebagai sahabat lo ngerasa khawatir. Tapi, gue juga sebagai sahabat lo juga ingin lihat lo bahagia."



"Sekarang aja gue udah bahagia kok. Gue punya lo yang masih mau menjadi sahabat terbaik gue, gue punya Kak Keenan yang sayang banget sama gue. Gue tahu Kak Keenan gak ngizinin gue buat pergi juga buat kebaikan gue sendiri. Jadi kalau itu yang terbaik buat gue, kenapa enggak?"



"Kalau lo udah bilang begitu, ya udah. Tapi besok jangan nangis ya kalau nyesal gak datang." ledek Gina di seberang sana.



Eris terkekeh. Ia meletakkan gaunnya di sandaran kursi lalu kembali ke ranjangnya untuk tiduran kembali. "Biarin besok gue nangis, biar ingusnya gue lap ke seragam lo." tawanya sambil melesakkan diri ke bantal.



Ia bisa mendengar Gina memekik di sana. "Iiih Eris, jorok tahu. Awas aja kalau besok lo berani macam-macam."



Eris jadi tertawa lagi sampai perutnya terasa sakit. Ia baru akan membuka mulutnya ketika terinterupsi oleh suara ketukan pintu kamarnya.



"Sebentar ya." katanya ke Gina. Ia lalu menjauhkan ponselnya dari telinga. "Masuk aja, Kak! Gak dikunci." serunya kepada yang di luar.



Kemudian pintu pun menjeblak terbuka, menampilkan sosok Kak Keenan. "Lagi ngapain?" tanya Keenan yang berjalan menghampiri Eris sebelum akhirnya duduk di pinggiran ranjang.



Eris yang tadinya tiduran pun segera duduk menyilangkan kaki. Ia mengambil bantal lalu meletakannya ke pangkuan. "Lagi telfonan sama Gina." jawabnya seraya  menunjukkan layar ponselnya yang layarnya menampilkan dalam panggilan dengan Gina.



Kak Keenan hanya manggut-manggut. Kemudian pandangannya jatuh kepada guan milik Eris yang tersampir di kursi.



"Itu punya kamu?" tanyanya lagi dan dijawab Eris dengan anggukan. "Terus sekarang kok masih telfonan? Gak siap-siap?" sambungnya kemudian.



Dahi Eris mengernyit dalam. Maksud dari perkataan Kak Keenan apa coba? Kenapa senang sekali buat Eris bingung. "Siap-siap untuk apa?" tanyanya heran.



Kak Keenan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia mendekat lalu mengusap lembut puncak kepala Eris.



"Katanya mau pergi ke ulang tahunnya Dian." ucapnya.



Eris mengerang protes. "Namanya bukan Dian, tapi Eth--- Eh?! Kakak tadi ngomong apa!!"



"Ngomong apa? Kakak gak ngomong apa-apa." kata Keenan sok polos.



Tapi Eris tidak percaya. Jelas-jelas tadi ia dengar kalau Keenan menanyakan yang intinya kenapa ia tidak bersiap-siap untuk ke ulang tahunnya Ethan.



Apakah... Apakah ini berarti Kak Keenan ngizinin aku pergi?!



"Akhhh kakak! Makasih... Makasih..." Eris memeluk kakaknya dari belakang. Kedua tangannya merangkul leher Keenan. Kepalanya yang berada di bahu Keenan pun diusap oleh kakaknya lagi.



"Sama-sama." sahut Keenan lembut.



"Aku kira kakak gak ngizinin aku pergi." gumam Eris di bahu Keenan.



"Kalau jujur sih kakak lebih milih buat kamu tetap di rumah. Tapi setelah kakak pikir-pikir lagi, kayaknya kakak terlalu jahat kalau ngurung kamu di rumah terus---"



"Kakak gak ngurung aku kok." sela Eris.



"--- dan kakak juga pikir sudah saatnya buat kakak ngizinin kamu buat bergaul sama dunia luar sana."



"Kakak baik banget. Makin sayang deh..."



"Kalau ada maunya begini baru ngomong sayang hah."



"Aw, jangan pake dicubit hidungnya, sakit tahu."



"Sudah-sudah. Sana kamu siap-siap."

__ADS_1



"Aye aye captain." Eris membuat gerakan hormat kepada Keenan sebelum kakak laki-lakinya itu keluar dari kamarnya.



Eris dengan hati yang membuncah bahagia turun dari ranjangnya lalu berjingkrak-jingkraklah dirinya saking senangnya. Kemudian teringatnya kembali kalau tadi ia masih telfonan dengan Gina. Diraihnya kembali ponselnya.



"Halo Gin, kita jadi pergi!"



***



"Kita udah telat setengah jam." kata Eris begitu mereka masuk ke rumah Ethan. Di luar sudah sepi. Tandanya semua orang pasti sudah masuk ke dalam.



Tadi Eris berangkat dijemput oleh Gina. Mereka diantar oleh sopir keluarganya Gina. Beruntung dulu waktu Eris suka stalk Ethan ia jadi tahu alamat rumahnya cowok itu. Kalau tidak, mungkin sekarang ia akan kebingungan karena tidak sempat bertanya ke Ethan di mana rumah ke cowok itu.



"Gak apa, yang penting kita udah datang. Acara intinya juga kayaknya belum di mulai. Ehh lihat itu Ethan di sana?"



"Mana-mana?" Eris mengedarkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Gina. Ia memang menemukan Ethan di sana. "Ooh... Dia sama Ines." katanya lesu.



Eris tahu seharusnya dirinya tidak boleh untuk merasa sakit hati melihat Ethan bersama Ines. Tapi melihat kedua orang itu saling bicara dan tertawa di seberang sana tak ayal membuat hatinya sakit. Ia ingin dirinya yang berada di sana dan membuat Ethan tertawa dan tersenyum lebar seperti itu, bukan cewek lain. Ia tahu seharusnya ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak punya hak. Ia jelas-jelas masih berstatus bukan siapa-siapa cowok itu. Tiba-tiba Eris merasakan tangan Gina di pundaknya.



"Jangan sedih gitu dong. Ines juga sama pacarnya tuh, si Juna." ucap Gina seraya mengarahkan dagunya yang kali ini ke arah lain.



Benar juga. Setelah dilihat kembali, tak jauh dari mereka berdua ada Juna yang sedang mengambilkan minuman. Tak lama kemudian Juna kembali dan memberikan satu minumannya kepada Ines. Bolehkan kalau Eris sekarang merasa senang?



Eris merasa baru sebentar saja ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, tapi ketika ia balik melihat lagi ke tempat Ethan, cowok itu sudah tidak berada di tempatnya.



Dia kemana? Batinnya bertanya-tanya



Ia mencoba melirik ke sekeliling tapi tetap tidak melihat ada Ethan. Cowok itu menghilang dengan sangat cepat. Mau bertanya ke Gina pun sepertinya sahabatnya itu tidak akan tahu karena Gina sedang fokus ke ponselnya yang berdering beberapa detik yang lalu.



"Nyariin gue?"



"Astaga! Ethan!" Eris berbalik dan hampir saja terjungkal karena kaget kalau saja Ethan tidak segera menahan badannya.



"Jadi benar kan nyariin gue." bisik Ethan ke telinga Eris membuat tengkuk Eris langsung meremang. Dengan satu tangan cowok itu di lengannya dan satunya lagi di pinggangnya, membuat Eris jadi panas dingin. Menurutnya posisi ini terlalu romantis.



"Ka--- kata siapa." elak Eris tergagap. Ia mencoba menggeliat mundur agar Ethan melepaskan pegangannya, tapi cowok itu malah mengeratkannya.



"Gue udah bilang belum kalau lo cantik banget hari ini." goda Ethan dan cowok itu mengedipkan matanya begitu tatapan keduanya bertemu.



Semburan rasa panas langsung menyebar ke pipi Eris sampai ke telinganya. Ia berani bertaruh kalau kedua bagian tubuhnya itu sekarang sudah semerah tomat.




Deheman seseorang di samping keduanya membuat Ethan melonggarkan pegangannya. Namun masih tetap menahan Eris agar tetap dekat dengan cowok itu.



Rupanya yang berdehem tadi adalah Gina. Sial, Eris bahkan lupa akan keberadaan Gina. Semua karena Ethan. Cowok yang satu ini terlalu menyita dunianya sampai Eris melupakan sahabatnya sendiri. Eris yang juga merasa malu hanya bisa menatap ke bawah ketika Gina bicara dengan Ethan.



"Ethan, tadi gue dengar orang itu yang nyariin lo. Kayaknya ada sesuatu yang penting." jelas Gina sambil menunjuk ke arah laki-laki paruh baya yang jaraknya cukup jauh dari mereka.



Ethan tampak paham. "Makasih ya. Eris, gue pergi dulu. Lo mau ikut sama gue?" ajaknya.



Namun Eris menggeleng. "Eh enggak-enggak. Gue sama Gina aja." jawabnya.



"Baiklah, gue pergi dulu. Nanti kita ketemu lagi." bisik Ethan yang lagi-lagi ke telinga Eris sampai ia merasa merinding.



Sepeninggalan Ethan, Gina yang tadinya diam langsung heboh sendiri.



"Gila! Gila! Gila! Ethan romantis banget! Belum taken aja udah begitu, gimana kalau udah taken coba. Please... Sisain satu yang kayak dia." oceh Gina dengan mata berbinar-binar.



Dan Eris hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.



***



Acara terus berjalan sampai pada saat Ethan memotong kue dan meniup lilin. Awalnya Ethan tidak tahu akan ada kue itu, karena memang dari awal ia sengaja tidak ingin ada kue di pesta ulang tahunnya. Namun siapa sangka, tiba-tiba seorang wanita paruh baya, yang Eris tebak sebagai ibunya, datang sambil membawa kue dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Di samping wanita itu, ada seorang anak perempuan kecil dengan gaun seperti cinderella.



Kali ini Eris menebak kalau anak perempuan itu adalah adik Ethan. Di samping mereka ada juga lelaki paruh baya yang sudah jelas pasangan dari sang wanita. Bisa dipastikan kalau dia adalah ayah Ethan. Laki-laki itu juga yang tadi mencari Ethan, kata Gina begitu.



Ethan tidak terlihat malu ketika harus meniup lilin, memotong kue lalu memberikannya kepada kedua orangtuanya. Hal yang sekarang jarang terjadi di remaja kini karena dirasa mereka hal seperti itu terlalu kekanak-kanakkan. Namun ketika Ethan melakukannya, ia terlihat sangat tulus dan terlihat senang. Anak perempuan tadi bahkan sampai digendong oleh Ethan dan dicium berkali-kali oleh Ethan sampai anak itu memekik kegelian.



Ahh andai gue jadi anak itu. Pikir Eris. Aduh, kok otak gue jadi ngeres sih. Rutuknya kemudian.



"Eris, lo nyadar gak sih mereka memang satu keluarga. Tapi gak ada satupun yang mirip sama Ethan." bisik Gina tiba-tiba.



Eris langsung menoleh dan melotot. "Jangan ngomong begitu. Nanti ada yang dengar." katanya sambil melijat ke sekeliling. Ia harus bersyukur karena sepertinya tidak ada yang mendengar ucapan Gina karena semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.



"Tapi apa yang gue katakan benar kan. Bahkan rambut Ethan sama bokapnya aja beda."



Eris tahu. Ia juga sadar hal tersebut. Ketika ia mengamati anggota keluarga Ethan yang lain, memang tidak ada yang mirip dengan Ethan secara fisik. Ayahnya memang dari fisik tidak mirip, tapi menurut Eris, cara lelaki itu bersikap dan tersenyum mirip sekali dengan Ethan.

__ADS_1



"Jangan hidupin jiwa gosip lo sekarang. Lagian kalau gak mirip sama mereka, kenapa? Kan bisa mirip sama nenek atau kakeknya." balas Eris kepada Gina.



"Iya juga sih. Ehh udah mulai ada yang ngasih kado tuh." tunjuk Gina ke depan.



Eris pun mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Di depan sana Ethan sedang menerima beberapa kado yang berasal dari teman-teman terdekatnya yang datang. Eris seketika jadi deg-degan. Bagaimana ini. Bagaimana kalau Ethan tidak suka dengan kado darinya? Eris tidak terlalu tahu apa yang Ethan sukai. Bisa saja ia salah memberi kado. Tanpa sadar, Eris jadi meremas bungkus kado di tangannya.



Biarlah kalau Ethan gak suka bisa dibuang.



Bohong. Bohong besar. Seberapun Eris mencoba berkata seperti itu kepada dirinya, ia ingin Ethan menyukai kado darinya. Ia tetap ingin kalau kadonya ini, yang walaupun sedikit sekali, akan berharga bagi Ethan.



"Eris, kenapa ngelamun! Ayo sekarang giliran lo yang ngasih."



"Ehh tapi--" belum selesai ia bicara, Gina sudah menyeretnya ke depan. Beruntung Gina dapat dengan pandai melewati jalur yang tidak banyak orangnya.



Eris dan Gina sudah berada di sebelah Ethan namun cowok itu belum menyadari kedatangannya karena Ethan condong membelakanginya. Cowok itu sedang menerima kado dari orang lain. Jadi Eris bisa sabar menunggu. Eris merasa kaki dan tangannya mulai gemetar ketika ia memutuskan bahwa sekarang saat yang tepat untuk memberi kado kado karena sepertinya sudah tidak ada orang lain lagi yang mengantri untuk memberi kado ke Ethan.



Namun sepertinya tebakan Eris melenceng jauh. Karena baru saja ia membuka mulutnya untuk memanggil nama Ethan, ia sudah kedahuluan oleh orang lain. Dan yang membuat sudut hatinya tercubit adalah bahwa orang  yang memanggil Ethan adalah Ines. Eris bisa mendengar suara Ethan berubah menjadi lebih semangat dari tadi. Bahkan terdengar lebih ceria dari sebelumnya.



"Langsung gue buka ya."



Nah. Bahkan oleh Ethan langsung dibuka. Apakah itu tandanya Ethan sudah tidak sabar untuk tahu apa isi kado dari cewek itu. Bahkan kado-kado sebelumnya belum ada yang dibuka satupun, tapi kado dari cewek itu langsung Ethan buka.



Seketika Eris diserang rasa cemburu. Apalagi ia jadi teringat fakta kalau Ethan suka Ines. Bagaimana bisa ia lupa akan hal itu. Ethan memang pernah bilang akan melupakan Ines, tapi bukan berarti rasa suka cowok itu langsung hilang begitu saja, bukan? Seperti sekarang ini, melihat saja Eris sudah tahu kalau hati Ethan masih milik Ines.



Eris bisa melihat ketika Ethan membuka bungkus kadonya dengan hati-hati lalu mengambil isi di dalamnya. Isinya adalah jam tangan. Begitu jam tangan itu dikeluarkan, bisik-bisik di samping Eris langsung menjadi-jadi.



"Wow, gila! Ethan dikasih jam tangan."



"Berapa harganya tuh. Mahal banget pasti."



"Gue pernah lihat berita tentang jam tangan itu. Katanya baru akan keluar bulan depan. Kalau Ines udah punya sekarang, bayangin dia bayarnya jelas lebih mahal."



"Lo tahu harganya berapa?"



"Gue lupa. Tapi seingat gue angkanya sudah main milyaran."



"Wow! Orang kaya memang."



"Sama teman sendiri aja gak main-main hadiahnya, gimana sama pacarnya coba. Jadi iri gue sana Juna."



Bisik-bisik itu tentunya tidak luput dari telinga Eris. Hal seperti inilah yang membuat nyalinya seketika langsung menciut. Eris melirik ke arah kadonya, isinya hanya miniatur seharga ratusan ribu. Berbeda jauh sekali dengan jam tangan kado Ines yang harganya sampai miliyaran. Ia jadi terpikir apa ia pantas memberi kado ini untuk Ethan.



Eris sedang melamunkan tentang kadonya sampai tidak tahu ketika ada orang lewat terburu-buru dan tanpa sengaja menabraknya. Ia kehilangan keseimbangan dan akan jatuh. Namun sebelum benar-benar jatuh, Eris ingat tangannya sempat meraih sesuatu. Tapi Eris tidak ingat kalau yang ia tarik adalah taplak meja tempat kue, minuman, dan kado Ethan berada.



Prangg !!!



Eris tersungkur ke lantai bersamaan dengan suara gelas-gelas pecah dan tumpahannya membasahi gaunnya karena ia kebetulan tadi berada di samping bagian minuman.



Detak jantung Eris berdetak sangat cepat. Bahkan lebih cepat daripada saat ketika Ethan memegang tangannya. Astaga, apa yang ia lakukan! Sekarang semua pasang mata menatap ke arahnya bahkan Ethan menatapnya terkejut. Dari tempatnya sekarang Eris bisa melihat lengan Ethan sedang digandeng oleh Ines. Eris merasa matanya jadi sangat panas dan ingin sekali menangis.



"A--- aa ---" ia ingin membuka suara ingin meminta maaf tapi tidak ada satupun yang keluar. Yang ada tenggorokannya tercekat, seakan ada gumpalan besar yang menyumbatnya di dalam sana.



Eris merasakan sebulir air matanya turun menetes mengalir melewati pipinya. Bagaimana ia bisa seceroboh ini. Bagaimana ia bisa---



"Ayo bangun, biar gue bantu."



Eris merasakan tangan seseorang menyentuh tangannya. Dan ketika melihat orang itu, dia adalah Juna. Eris langsung memekik histeris.



"Tidak! Jangan! Lepasin gue!"



Gue gak bisa pegangan sama cowok selain Ethan! Batinnya menjerit.



Ia langsung menepis tangan Juna dan merangkak keluar dari kain dan gelas-gelas yang terpecah belah. Ia berdiri walau limbung dan pikirannya jadi kosong. Dan yang paling penting adalah ia sudah mulai gatal!



Eris merasakan tatapan orang lain yang heran dan menuduh ke arahnya. Mereka pasti menganggapnya aneh bahkan gila kareka sekarang ia sudah meraba-raba gaunnya sendiri untuk mencari obatnya.



Apa... Apa ia lupa membawa obatnya? Astaga, Eris lupa gaun ini tidak memiliki saku. Diingatnya kembali ia terlalu terburu-buru tadi ketika berangkat dan tidak sempat membawa tas selempang yang sudah ia siapkan sebelumnya. Di dalam tas itulah obatnya berada.



"Arghh....! Gatal...!" gumamnya tidak jelas.



Eris sudah tidak bisa berpikir lagi. Ia tidak menuruti kakaknya. Jelas-jelas ia sudah dilarang untuk pergi tapi ia tetap pergi. Pasti kakaknya merasa tidak enak padanya makanya jadinya membiarkan Eris untuk pergi. Sekarang lihatlah yang terjadi, ia sudah menghancurkan pesta ulang tahun Ethan, ia bersentuhan dengan lawan jenis, dan sekarang ia menerima akibatnya. Ia kegatalan. Sebentar lagi mungkin orang akan tahu penyakitnya dan menganggapnya... monster.



Eris baru akan menggaruk-garuk tangannya ketika ia merasa dirinya ditarik oleh orang lain. Kali ini tanpa melihat pun Eris tahu kalau orang itu adalah Gina. Eris yang pikirannya sudah tidak pada tempatnya dibawa lari oleh Gina untuk keluar dari rumah Ethan. Gina membawa Eris berlari secepat yang ia bisa.



Lots Of Love.


Chocolovas.

__ADS_1




__ADS_2