That Jacket Girl

That Jacket Girl
Part 2


__ADS_3

"Eris, lo masih di dalam?" seru Gina dari luar sambil menggedor pintu.



Eris yang masih di dalam pun segera membuka pintu bilik toiletnya dan membiarkan Gina ikutan masuk. Tadi Eris sudah sempat sms Gina letak toiletnya dan bilik mana yang ia tempati, jadi Gina tidak perlu kesulitan untuk menemukannya.



"Gue tadi dari sekitaran kelasnya Ethan dan gak berhasil nemuin obat lo di sana. Jadi gue ke kelas dan ngambil ini di tas lo." papar Gina sambil menyodorkan kotak kecil berisi obat milik Eris yang dibuat mirip dengan wadah permen. Nafasnya masih terengah-engah karena habis berlarian demi cepat-cepat memberikan obat ke Eris.



"Gue ingat lo biasanya naruh persediaan obat di sana, jadi tadi gue langsung cek dan syukurlah beneran ada." sambungnya.



Eris menerima obat itu dari tangan Gina. Ia sempat bimbang antara meminum obatnya atau tidak, sebagai jawaban Eris memilih untuk memasukkan kotak kecil itu ke dalam saku bajunya. Hal itu tentu tak luput dari perhatian Gina dan membuat kening sahabat Eris itu mengerut dalam.



Melihat pandangan kebingungan di mata Gina, Eris pun menjelaskan. "Begini, gue emang tadi sempet sentuhan sama Ethan. Tapi anehnya itu setelah gue tunggu-tunggu, gue gak ngerasa gatal sama sekali." kata Eris sambil memperlihatkan kedua tangannya ke depan Gina.



"Bahkan pipi gue juga masih biasa aja kan, gak ada tanda-tanda bakalan memerah." lanjutnya sambil menunjuk ke arah pipi.



Seakan belum cukup, Eris menambahkan. "Padahal udah lebih dari lima menit berakhir sejak gue sentuhan sama dia. Tapi gue tetap baik-baik saja."



Dengan pandangan tak percaya, Gina mulai memegangi tangan Eris dan melihatinya takjub. "Kok bisa?" bisiknya terperangah.



Eris tersenyum dengan respon Gina. "Gue juga belum tahu kenapa. Biasanya kalau gue sentuhan sama cowok, paling tidak lima detik aja gue udah mulai gatal-gatal. Tapi ini enggak, dan baru pertama kali gue ngalamin hal ini. Tapi nanti gue akan kasih tahu ke Kak Keenan sama papa. Mungkin mereka tahu masalahnya."



Gina mengangguk setuju. "Kepikiran gak, kalau mungkin Ethan ada hubungan darah sama lo. Secara dengan penyakit lo ini, kan lo itu hanya bisa sentuhan sama cowok yang punya hubungan darah."



Walau perkataan Gina ada benarnya, tapi entah kenapa perkataan sahabatnya itu malah membuat suasana hati Eris mendadak berubah menjadi muram. Kalau Ethan benar ada hubungan darah dengannya, berarti Ethan adalah saudaranya. Dan itu berarti juga kalau kesempatannya dengan Ethan sudah mencapai titik nol.



Walau Eris ragu Ethan akan meliriknya karena ia penyakitan, tetapi setelah tahu kalau dirinya yang baik-baik saja setelah bersentuhan dengan Ethan, membuat Eris mulai menanamkan harapan lebih.



Pokoknya Ethan bukan saudaranya, titik.



"Atau mungkin dia bisa saja bukan saudara gue. Bisa jadi gue yang udah mulai sembuh. Pokoknya nanti gue bakalan cari tahu jawabannya ke kakak sama papa." kata Eris mantap.



"Kalau begitu, sekarang apa yang bakalan lo lakuin? Mau dimakan obatnya atau enggak?" tanya Gina ingin tahu.



Eris meringis. "Enggak. Tapi kalau misal nanti tiba-tiba gue gatal, gue bakalan makan. Gak menutup kemungkinan juga kan kalau mungkin gatalnya ini datangnya lama alias gak langsung seperti biasanya."



Gina bergumam mengiyakan. Ada jeda sesaat sebelum Gina bersuara kembali. "Oh iya, ngomong-ngomong gue boleh kasih saran buat lo?"



"Boleh."



Gina berdehem sebelum berkata. "Gue mau lo coba sentuhan sama Ethan sekali lagi dan coba liat reaksi tubuh lo. Apakah akan kambuh atau baik-baik saja seperti sekarang."



Eris menatap ke Gina sambil mengernyit. "Kayaknya itu bukan ide bagus, deh. Gimana gue bisa sentuhan sama Ethan lagi coba?" katanya bingung.



Kepala Gina lalu mendekat ke telinga Eris, kemudian berbisik penuh arti. "Besok gue kasih tau caranya."



***



Setelah bel pulang berbunyi lebih dari setengah jam yang lalu, suasana sekolah sudah mulai sepi. Persis seperti yang diharapkan Eris. Gina sudah pulang duluan karena mamanya menelfon agar Gina pulang lebih cepat. Katanya sih ada kepentingan keluarga. Jadilah Eris sendirian.


__ADS_1


Eris berjalan mengendap-endap ke depan kelas 11 IPS 3 yang tak lain adalah kelasnya Ethan, kemudian ia melongok ke dalam, memastikan sudah tidak ada siswa yang tinggal di kelas. Lalu Eris melongok ke dua kelas di sebelah kelas itu untuk tujuan yang sama pula. Setelah yakin tidak ada orang lain di sekitar, Eris mulai melancarkam aksinya : mencari kotak obat miliknya yang kemungkinan jatuh saat ia menabrak Ethan.



Eris mulai mencari di sepanjang koridor depan kelas Ethan dan kelas di sebelah kanan kirinya, tapi tidak ketemu. Ia juga sudah membalik keset, tapi tidak juga ketemu. Lalu Eris tidak lupa untuk melihat ke dalam pot-pot tanaman hias yang terjajar rapih di taman kecil depan kelas, masih juga tidak ada. Selokan depan kelas juga bersih, tidak ada apa-apa. Dengan terpaksa, Eris mencoba peruntungan dengan mencari ke tempat sampah. Siapa tahu ada anak yang menemukan kotak obatnya lalu membuangnya ke tempat sampah.



Eris mulai dari tempat sampah kelasnya Ethan, lalu ia mulai mengambil sampah plastik yang paling atas dan memindahkannya ke tanah. Terus menerus sampai Eris hampir memindahkan semua sampah yang ada di tempat sampah itu. Lalu Eris mulai mengorek ke dalam tempah sampah yang isinya sudah sedikit karena sudah dipindah.



Bau menyengat yang tidak sedap menusuk masuk ke hidungnya, tapi tidak ia pedulikan. Bagi Eris, obatnya jauh lebih berharga daripada bau-bau tak enak dari sampah saat ini serta rasa malu mengorek tempat sampah. Ibaratnya, sekarang hidup dan mati Eris itu bergantung pada obat itu.



"Argghh... Gak ketemu juga sih!" Eris dengan kesal memasukkan kembali sampah yang ia keluarkan tadi ke dalam tempat semula. Kemudian ia tidak lupa mencuci tangan terlebih dahulu mencoba membuang kotoran yang menempel ke telapak tangan.



Jangan kira ia akan menyerah begitu saja, masih ada dua tempat sampah di kelas sebelah. Dan Eris berniat memeriksa semuanya. Eris berjalan ke kelas sebelah, dan mengambil tempat sampahnya. Beruntung sekali isinya tidak sepenuh seperti kelasnya Ethan. Namun, baru saja Eris akan mencari, sebuah suara serak cowok masuk ke telinganya.



"Lo lagi ngapain?" kata cowok itu.



Tubuh Eris menegang begitu mengenali siapa si pemilik suara.



Ethan.



Sial, Eris mengerang dalam hati.



Lagi-lagi Ethan harus melihatnya dalam posisi yang memalukan. Belum cukup apa tadi siang ia jatuh menghantam lantai di depan Ethan, dan sekarang bahkan posisinya lebih buruk. Dengan satu tangan memegangi tempat sampah dan satunya lagi sedang memegang plastik berisi sisa... sambal batagor! Ewh. Sepertinya Eris tidak sadar tadi kalau tangannya sudah mulai beraksi.



Eris hanya diam mematung di tempatnya. Tidak tahu harus berbuat apa. Kalau diam saja sudah buruk, tapi berbalik dan menghadap Ethan jelas pilihan yang jauh lebih buruk.



Jantungnya terpompa lebib cepat  tatkala ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dari lirikan matanya, Eris melihat kaki Ethan berjalan dari sebelah kanan sebelum akhirnya berdiri menjulang tinggi di depannya.




Eris mau tak mau mendongak. Matanya harus menyipit untuk melihat Ethan dengan jelas. Ingin sekali Eris menjawab, tapi lidahnya terasa kelu. Jadilah Eris hanya bergumam. "Hhmm... Itu... Gue..."



Selesai, hanya itu yang mampu Eris ucapkan detik ini.



Eris bisa melihat Ethan sempat tertawa kecil sebelum akhirnya wajahnya normal kembali. Lalu cowok itu mengeluarkan satu tangannya dari dalam saku dan mengeluarkan sesuatu dari genggamannya.



Kotak obat gue! Batik Eris menjerit.



"Lo nyari ini?" tanya Ethan sambil memutar-mutar kotak obatnya Eris di tangan cowok itu. Melihat Eris yang masih belum buka suara membuat ia terpaksa berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan Eris.



Eris yang terkejut Ethan berjongkok persis di depannya hanya bisa mengangguk dalam diam. Jantungnya semakin menggila. Eris rasanya mulai bisa mendengar detak jantungnya sendiri, dan semoga saja Ethan tidak mendengar. Ini gila, pikirnya.



Di saat pikiran Eris masih lumpuh, Ethan sudah meracau kembali.



"Ini kayaknya jatuh tadi siang waktu lo nabrak gue. Gue baru lihat ini waktu lo udah pergi. Dan waktu mau ngejar, lo udah mengilang." Ethan menjeda beberapa detik. "Jadi ini kan yang lo cari?" lanjutnya memastikan.



Tenggorokkan Eris tercekat ketika ia berusaha menjawab. "I--iya. Boleh kasih ke gue?"



"Belum."



Eris sudah akan memprotes sebelum didahului dengan Ethan yang terkekeh dan berkata  "Lo harus cuci tangan dahulu supaya bersih. Baru gue kasih."

__ADS_1



Eris bergumam oke walaupun ia sudah cuci tangan sebelumnya dan yakin kalau sekarang tangannya masih dalam keadaan bersih. Walau begitu, ia tetap bangkit dan berjalan menuju kran air terdekat. Membersihkan tangannya sebersih mungkin dan dengan sengaja berlama-lama dalam acara cuci tangannya.



Eris masih belum menyangka mendapati dirinya saat ini berduaan dengan Ethan. Ia membayangkan kalau sejak awal Ethan mungkin sudah berpikir mencarinya untuk mengembalikan obat itu. Membayangkan dirinya dicari Ethan tak ayal membuat pipinya menghangat.



Dengan pipi bersemu merah, Eris mekasa berbalik. Kalau terlalu lama Ethan akan bisa curiga padanya.



"Sekarang boleh gue ambil?" tanya Eris tanpa memandang ke arah lawan bicaranya.



Ethan tersenyum simpul. "Tentu, lagian ini punya lo. Ngomong-ngomong gue juga gak ngambil satupun permennya. Masih utuh seperti sedia kala."



Permen...



Begitulah yang orang lain kira termasuk Ethan. Mereka semua terkecoh dengan bentuk kotaknya yang memang didesain semirip mungkin dengan salah satu wadah permen produksi salah satu perusahaan permen dalam negeri. Hanya sesama orang yang punya penyakit saja yang paham kalau isinya yang sebenarnya adalah obat.



Setelah menerima kembali obatnya dan mengucapkan terima kasih, Ethan berbalik dan pergi meninggalkannya. Namun baru beberapa langkah, entah setam apa yang merasuki Eris sampai ia menyebut nama Ethan. Kontan saja Ethan berhenti di tempat, berbalik menghadapnya lagi dengan raut wajah bertanya.



"Ada masalah?" kata cowok itu sambil menaikkan salah satu alisnya.



Eris yang tadinya kurang sadar kalau ia sudah memanggil nama Ethan ingin sekali menggeleng. Tapi rupanya hati dan pikirannya tidak sejalan. Karena yang ia ucapkan selanjutnya membuat Ethan terkejut, bahkan dirinya sendiri pun demikian.



"Gue boleh pegang tangan lo sebentar? Lima detik aja." ucap Eris.



Dalam hatinya ia berharap semoga saja Ethan tidak menolak sehingga ia tidak jatuh memalukan lagi. Kalau Eris bisa memutar waktu, ia akan mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak menyebut nama Ethan tadi dan meminta permintaan yang aneh itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apa boleh buat.



Bersyukurlah sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak padanya karena dilihatnya Ethan mengangguk. Walau Ethan sepertinya cukup heran dengan permintaannya, beruntung sekali dia tidak banyak tanya ke Eris dan memilih langsung mengulurkan tangan kanannya ke depan.



Dengan langkah mantap Eris berjalan mendekat. Dengan jarak mereka yang terpaut setengah meter saja, Eris pun mengulurkan tangan kanannya, menempelkannya di atas telapak tangan Ethan. Bagaikan teraliri listrik, Eris menegang dan merasakan ribuan kepakan sayap kupu-kupu dalam perutnya.



Satu detik.



Dua detik.



Tiga detik.



Empat detik.



Lima detik.



Eris menarik tangannya secepat mungkin setelah lima detik yang ia minta kepada Ethan sudah habis. Dengan mengigit bibir bawahnya karena menahan malu dan tanpa menatap ke mata Ethan, Eris bergumam, "Makasih."



Tanpa memberi sedetikpun kesempatan untuk Ethan membalas, Eris langsung berbalik dan berlari menjauh dengan detak jantung berlomba-lomba ingin keluar dari tempatnya. Di tengah jalan Eris menangkup pipinya yang merona dengan tangan. Jauh di dalam hatinya ia sangat senang.



Ya ampun, gue baik-baik aja.



[Lots Of Love. Chocolovas]



__ADS_1


__ADS_2