That Jacket Girl

That Jacket Girl
Part 3


__ADS_3

Taksi langganan keluarga Eris rupanya sudah menunggu di depan SMA Crystal. Tanpa pikir panjang Eris segera masuk dan duduk di kursi penumpang. Walau dengan keringat yang mulai menetes dari dahinya karena habis berlarian saat keluar sekolah tadi, Eris masih bisa tersenyum lebar.



Gue baik-baik aja. Eris merapalkan kalimat tersebut dalam hati berkali-kali. Masih tidak menyangka kalau ia mampu bersentuhan dengan seorang Ethan. Cowok yang tidak pernah sekalipun dalam bayangannya akan mampu mematahkan reaksi tubuhnya yang seharusnya sudah kambuh.



"Nak Eris kelihatan bahagia sekali." perkataan sopir taksi langganannya yang bernama Pak Darmo itu membuyarkan pikiran Eris. Pak Darmo ini sudah bekerja sama dengan ayahnya Eris dalam hal antar jemput sekolahnya. Beliau ini juga sudah paham mengenai penyakit Eris sejak awal.



"Kelihatan banget ya, Pak?" tanya Eris dengan malu. Apakah setransparan itu perasaannya sampai mudah dibaca oleh orang lain.



"Pasti." jawab Pak Darmo dengan mantap. "Muka Nak Eris kelihatan lebih berseri-seri dari hari biasanya. Dan bapak tebak paling masalah cowok."



Eris membenarkan perkataan Pak Darmo dalam hati. Namun ia tidak berniar membalasnya karena Eris sudah sibuk dengan pikirannya kembali.



Tidak terasa ia sudah sampai di rumah. Eris masuk dan mendapati rumahnya kosong, atau mungkin ada Bi Surti, pembantunya.



Ayah Eris, Jefri Malore, jelas sedang bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit ternama di daerahnya. Dulu ayahnya sering pulang ke rumah, tapi sekarang Jefri lebih sering menginap di rumah sakit karena terlalu sibuk mengurusi kerja sama dengan dokter dari Singapura dalam hal penyembuhan Touchibia.



Di Singapura sendiri penyakit ini sudah diteliti sejak bertahun-tahun yang lalu dan salah satu kabar gembira yang diperoleh Eris dari ayahnya adalah bahwa tahun ini di negara itu sudah ditemukan pengobatan untuk penyembuhan penyakit Touchibia. Walaupun belum dibuka untuk umum prakteknya, namun Eris sudah lebih dahulu didaftarkan sebagai salah satu calon pasien di sana oleh Jefri. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuknya berangkat ke Singapura dan menjalani pengobatan agar ia bisa sembuh.



Sedangkan Keenan Alvaro, kakak laki-lakinya yang sekarang duduk di bangku kuliah demi mengejar cita-citanya sebagai dokter anak entah sedang pergi kemana. Pikir Eris sih mungkin sedang pergi sama pacarnya kalau tidak sedang kuliah.



Nelia Farandina, ibu Eris, sudah meninggal saat Eris masih mengenyam bangku taman kanak-kanak. Saat ia sedih dulu karena kehilangan ibunya dalam suatu kecelakaan mobil, datanglah Regina Lugianti. Gina terus memberi Eris semangat. Keduanya tidak butuh lama untuk berteman dan akhirnya bersahabat sampai sekarang. Walau ibunya sudah meninggal, ayah Eris tidak pernah berniat untuk menikah kembali. Kata Jefri ia terlalu mencintai Nelia sehingga sulit untuk mencari pengganti istrinya itu.



Jefri sendirilah sebagai orang tua tunggal yang merawat dan membesarkan kedua anaknya. Walau begitu, Eris dan Keenan merasa tidak pernah kekurangan kasih sayang. Jefri berperan sebagai ibu sekaligus ayah dengan sangat baik. Eris teringat sewaktu ia masih kecil, ia pernah ingin sekali bisa menaiki sepeda. Jefri akhirnya mengajarinya sampai bisa. Karena keinginannya yang dulu begitu kuat, Eris seringkali tetap minta bermain sepeda walau sedang hujan. Dan Jefri dengan semangatnya tetap mengajari Eris dengan basah kuyup. Jefri mengajari Eris dengan sabar dan tak pernah memarahinya.



Lalu kabar buruk itu datang ketika dirinya kelas delapan SMP. Waktu itu Eris pulang dari sekolah sambil menangis. Kak Keenan lah yang pertama kali melihat Eris dan langsung histeris. Wajah Eris merah padam dan tangannya penuh bekas luka cakar sampai mengeluarkan darah. Eris terlihat seperti korban penganiayaan. Bedanya Eris sendirilah yang melakukan itu bukan orang lain. Lalu ia dibawa ke rumah sakit oleh Keenan dan Jefri. Dari situ diketahui mengidap penyakit Touchibia.



Kembali ke masa sekarang, Eris masuk ke kamarnya yang berada di lantai atas. Ia menghela nafas lelah ketika kenangan masa lalunya muncul kembali. Eris menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghalau semua kenangan itu kembali.



Setelah membersihkan diri dengan mandi, Eris merasa lebih segar, ia memutuskan untuk membuka laptop dan menonton salah satu film favoritnya selain Titanic, yaitu Romeo And Juliet. Film yang sudah puluhan kali ia putar ulang, yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio dan Claire Danes. Mungkin Eris lupa kalau baru kemarin malam dirinya memutar film itu sampai pagi dan menjadi alasannya mengantuk di sekolah.



Tapi Eris itu begitu jatuh cinta dengan kisah cinta Romeo dan Juliet, jadi jangan tanya apakah ia tidak bosan menonton film itu itu saja. Dan juga, Eris selalu berharap kisah cintanya akan seindah mereka, dengan catatan ending yang tidak sama.




Malam harinya Gina menelpon, Eris yang masih ingin menonton film lain terpaksa menunda keinginannya. Ada hal lain yang jauh lebih penting daripada menonton film saat ini. Lalu Eris menceritakan kejadian tadi sore kepada Gina soal sentuhannya dengan Ethan. Tidak lupa ia memberitahu detail tentangnya yang mengorek-orek tempat sampah yang membuat Gina tertawa lepas di seberang sana.



"Harusnya itu lo cari plastik dulu kek, terus pake plastik itu di tangan lo, baru mulai ngorek tempat sampah. Bukannya pake tangan lo doang. Gue gak bisa bayangin gimana terkejutnya Ethan pas nemuin lo lagi megang plastik bekas bungkus batagor." kata Gina sambil cekikikan di seberang sana.



Sedangkan Eris di kamarnya sudah membenamkan wajahnya ke bantal karena malu. "Lo sebagai sahabat gue harusnya ngehibur, bukannya malah ngeledekin terus." kata Eris merajuk. Suaranya sedikit tidak jelas karena teredam bantal namun masih bisa didengar Gina.



"Justru karena gue sahabat lo makanya gue ledekin, beda sama teman. Kalau teman itu biasanya lebih suka ngehibur."



"Alesan lo mah."



"Oke kita ganti topik aja. Kayaknya kalau bahas beginian gak bakalan ada habisnya."



Eris bergumam mengiyakan. Lalu terdengar suara Gina kembali.



"Ngomong-ngomong soal sentuhan itu, itu kan untuk kedua kalinya tubuh lo gak berefek apa apa. Lo udah cerita masalah ini sama kakak atau papa lo?"



Eris menggeleng belum. Tapi ia lalu ingat kalau Gina tidak bisa melihatnya. "Belum, gue belum cerita."



"Lah kenapa?"



"Karena kakak gue gak di rumah, sedangkan gue niatnya mau cerita sama Kak Keenan dulu sebelum sama papa."



"Oke, gue dukung apapun hasilnya nanti. Gue selalu doain yang terbaik buat lo."



Tidak lama setelahnya telfon sudah terputus. Menyisakan Eris yang memandangi langit-langit dengan penuh harap.



Semoga saja...



***



Keesokan harinya suasana kantin tidak sepenuh kemarin, bahkan cenderung sepi dari hari biasanya. Dan hal itu tentu saja memberikan keuntungan besar bagi Eris. Ia tidak harus selalu waswas dengan keadaan sekitar dan bisa bergerak lebih leluasa. Ia dan Gina sudah memutuskan untuk membeli bakso, yang mana dengan pertimbangan karena stand baksonya diisi pembeli cewek semua. Jadi tidak perlu cemas akan bersentuhan dengan lawan jenis.



Eris sedang menuang sambal ke dalam kuah bakso yang ia beli ketika dengan sengaja Gina menyenggol lengannya. Membuat sambalnya menciprat sedikit keluar mangkuk. Kontan hal itu membuat Eris menoleh ke Gina dengan pandangan bertanya.



Gina melirik ke kanan kiri lalu mengarahkan kepalanya mendekat telinga Eris. "Ada Ethan. Dia baru masuk kantin." bisik Gina kemudian sampai Eris bergidik.



Bukan, bukan karena bisikan Gina yang membuat Eris sampai bergidik seperti itu. Melainkan karena mendengar nama Ethan disebut-sebut tak ayal membuat kepakan sayap kupu-kupu dalam perutnya muncul kembali. Eris belum tahu bagaimana cara menghilangkan reaksinya yang seperti ini atau kalau bisa ia memilih untuk memusnahkannya saja sekalian. Karena sungguh... ini menyiksa!

__ADS_1



"Lo--- yakin?"



Gina mengangguk. "Liat deh ke belakang."



Eris hening sejenak. Kalau ia ketahuan bisa malu, tapi dorongan untuk melihat wajah Ethan sungguh besar. Terlebih hari ini ia belum melihat cowok itu jadi rasa ingin melihatnya sekarang jadi dua kali lipat. "Tapi nanti dia tahu." balas Eris dengan berbisik juga.



Tepisan tangan Gina seakan menegaskan kalau ucapan Eris bukan apa-apa. "Gak bakalan. Dia lagi sibuk sama temannya, jadi kalau lo liat dia sekarang, dia gak akan tahu."



Lihat.... Jangan.



Lihat... Jangan.



Lihat aja deh.



Eris menyerah, ia menoleh ke belakang mengikuti saran Gina. Benar juga, Ethan sedang terlibat pembicaraan dengan dua temannya yang Eris ketahui bernama Arjuna dan Sergio. Tiga cowok ganteng itulah yang paling jadi incaran para cewek-cewek di sekolahnya dan bermimpi menjadi pacar salah satu di antara mereka. Termasuk gue.



Eris terheran, walau dengan jarak yang tidak bisa dikatakan dekat, tapi entah kenapa pengaruh Ethan terhadapnya bisa sekuat ini. Jantungnya berdegup cepat dan tangannya mulai berkeringat karena gugup. Astaga... Eris berbalik cepat-cepat ketika melihat Ethan mulai melangkah pergi.



Saat Eris menoleh ke belakang lagi, Ethan sudah tidak ada. Hanya tersisa Arjuna dan Sergio yang sudah duduk di bangku kantin.



Ethan kemana?



"Nyariin gue?"



"Arghh...!!!" saking terkejutnya Eris ia sampai mundur ke belakang tiba-tiba. Ia terpeleset dan hampir saja tubuhnya menghantam lantai kantin kalau Ethan tidak segera menangkap tubuhnya dan menegakkannya kembali.



Deg. Deja vu.



Eris yang sadar akan posisinya langsung melepaskan diri cepat-cepat. Ia melirik ke sekitar dan mendapati beberapa pasang mata menatapnya ingin tahu. "Lo--- lo kenapa di sini?" tanya Eris tergagap.



Ethan tersenyum geli, lalu ia mengarahkan dagunya ke stand bakso di depannya. "Gue mau beli bakso. Lo juga?"



"I--iya." jawab Eris kikuk.



"Sendirian?"




Ethan menaikkan satu alisnya. "Mana?"



Eris menunjuk ke samping tempat Gina berada tadi. "Ini sama Gi.... Lah kok gak ada?"



Eris yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari Gina tidak sempat melihat kedua sudut mulut Ethan berkedut menahan tawa.



"Teman lo udah kabur duluan tadi waktu gue datang. Jadi, otomatis sekarang lo sendirian." kata Ethan.



Dalam hati, Eris berjanji : Ginaaa... Gue bakalan cekik lo kalau ketemu!



"Mungkin dia ada sesuatu jadi ninggalin gue."



"Kalau begitu, lo gabung sama gue aja. Disana, bareng teman gue." dagu Ethan menunjuk ke bangku tempat dua temannya berada.



"Kayaknya gue mau duduk di tempat lain aja."



"Sayangnya gue gak nerima penolakan." tawa Ethan.



Eris baru akan membuka suaranya, tetapi terpotong suara cowok itu lagi.



"Bang, baksonya tiga. Ke meja biasa." seru Ethan sebelum kemudian menghadap Eris kembali. "Ayo, kalau lo mau makan, ambil di meja gue." dan untuk pertama kalinya Ethan menyeringai padanya hari ini.



Eris belum bisa mencerna apa maksudnya. Barulah ketika ia melirik ke tempat mangkuk baksonya berada, matanya melebar. Kosong. Eris dengan cepat mengalihkan pandangannya ke Ethan yang sudah berjalan menjauh, dan batin Eris menjerit tatkala melihat apa yang dipegang Ethan.



Punya gue!



Merasa tidak ada pilihan lain, ia memutuskan untuk mengikuti Ethan. Lagian baksonya tadi sudah dibayar, masa udah bayar tapi gak makan. Rugi. Eris sudah berada di sebelah bangku yang Ethan tempati bersama dua temannya. Hanya saja Eris masih berdiri karena bingung untuk memilih duduk di sebelag mana.



Satu meja dengan dua bangku biasanya digunakan untuk enam anak. Sergio dan Arjuna sudah duduk bersebelahan di satu bangku. Sedangkan Ethan duduk di bangku yang satunya lagi. Ethan hanya sendiri, dan itu yang membuat perasaan Eris tidak karuan. Kalau ia duduk berdua sama Ethan....



Peduli setan, Eris duduk saja di sebelah Arjuna. Baru sedetik ia duduk, suara Ethan sudah terdengar kembali. "Sebelah gue masih kosong, pindah ke sini sekarang." katanya dengan nada perintah.


__ADS_1


Dengan campuran malu dan kesal Eris pindah dan duduk di sebelah Ethan.



"Deketan dikit gak apa-apa, gue gak gigit kok." ujar Ethan dengan nada bercanda. Mambuat Arjuna dan Sergio tergelak, sedangkan Eris menunduk malu.



"Ethan jangan gitu, dia itu cewek. Nanti digituin jadi baper. Mau tanggung jawab lo?" timpal Sergio.



"Nah bener kata Gio. Tapi kalau model ceweknya kayak dia, gue sih mau." sekarang Arjuna yang mengeluarkan suaranya.



"Gue aduin ke Ines baru tahu rasa lo." gelak Sergio atau yang biasa dipanggil Gio oleh teman-temannya.



"Diam lo semua." tukas Ethan. "Gue mau nanya sesuatu sama nih cewek." lanjutnya.



Eris mendongak mendengar perkataan Ethan, mengerjapkan mata dan menunggu pertanyaan apa yang akan Ethan berikan.



"Siapa nama lo?"



Gubrak.



Eris rasanya bisa mendengar suara hatinya yang retak karena jatuh mendengar pertanyaan Ethan barusan. Jadi selama ini Ethan tidak kenal dirinya. Bodoh sekali Eris sempat berpikir kalau Ethan tahu. Lagian sampai kemarin, mereka berdua juga tidak pernah terlibat interaksi apapun, bukankah tidak heran kalau Ethan tidak kenal siapa dirinya. Ethan terkenal dan hampir seluruh siswa SMA ini kenal dengan cowok itu, sedangkan Eris termasuk dalam golongan 'tenggelam'. Kalau dibuat piramid, Ethan menduduki puncak paling atas, lalu Eris ada di bagian tepi dasarnya.



"Aduh..." Eris tersentak kaget. Tangannya reflek memegangi dahinya yang baru saja disentil Ethan tanpa ia sadari. Rupanya tadi ia sedikit melamun.



"Ini yang ketiga." ucap Ethan geli. "Lo senang banget kayaknya buat gue nunggu."



Eris berdehem. "Eris. Itu nama gue." kata Eris akhirnya.



"Namanya cantik. Kayak orangnya." Sayangnya yang ngomong itu bukan Ethan, melainkan di Gio.



"Nah Eris, kenalin mereka berdua cecunguk gue."



"Anjir kita dibilang cecunguk!"



"Yang barusan ngomong itu Sergio, panggil aja Gio. Sebelahnya ada Arjuna, lo bisa panggil dia Juna atau Arjun. Kebanyakan anak sih manggil dia Juna." papar Ethan yang sebenarnya tidak perlu karena Eris jelas sudah tahu. Tapi walau begitu, Eris tetap mengangguk paham.



"Jadi nama lo itu Eris. Gue suka penasaran sama lo karena setiap kali gue lihat, lo selalu pakai jaket. Penyakitan?" kali ini Juna yang membuka suara.



Wajah Eris memucat. Ia belum siap sama sekali ketika ditanyai seperti itu. Ia tidak mengira akan ditanya dengan pertanyaan itu. Selama ini anak-anak lain hanya masa bodoh dan tidak penasaran dengan alasan ia selalu memakai jaket seperti sekarang.



Eris menahan nafas ketika menyadari tiga pasang mata itu sedang menatapnya menunggu jawaban. Ia mulai bicara, lalu berhenti, bingung. "Gue..." kemudian ia teringat sesuatu. "Gue alergi panas. Iya, alergi panas matahari."



Akhirnya setelah dalam waktu sepersekian detik Eris berhasil menemukan alasan yang cukup logis. Ia ingat dulu waktu ia SMP ada cewek bernama Afi yang alergi terhadap panas matahari. Makanya cewek itu lebih sering berdiam diri di kelas sambil membaca novel daripada berkeliaran keluar kelas. Semoga saja alasan ini dapat diterima.



Tidak butuh waktu lama bagi Eris untuk mendapatkan jawabannya. "Gue jadi ingat tetangga gue juga dulu ada yang kayak lo. Cuman bedanya dia gak selalu pake jaket." jelas Ethan.



"Orang kan beda-beda." gumam Eris lirih.



Rupanya Ethan masih bisa mendengar. "Iya iya, maaf kalau kata-kata gue kesannya nyinggung lo." Ethan tertawa kecil lalu tiba-tiba mengacak rambut di puncak kepala Eris membuat cewek itu tersentak.



Deg.



Eris diam mematung. Dunianya seakan berhenti sampai-sampai ia tidak menyadari kalau bapak penjual bakso sudah mengantarkan pesanan dan saat bapak itu menarik tangannya, tanpa sengaja menyentuh sekilas tangan Eris yang ada di atas meja.



"Pacarannya lanjut nanti, sekarang makan dulu." suara Gio memutus lamunan Eris.



Eris mengerjap dan mengutuk diri sendiri karena lagi-lagi ia melamun. Ia baru mengambil sendok ketika Ethan tanpa aba-aba menarik mangkuk bakso miliknya.



"Lo makan punya gue aja yang masih panas, punya lo udah dingin."



Gio menggerutu. "Dasar bucin."



Sebagai akibatnya, lengannya ditonjok langsung oleh Juna. "Makanya lo cari cewek. Gue udah punya pacar, Ethan lagi pdkt, lo dari dulu masih aja sendiri. Gak laku?".



"Kampret lo." sembur Gio.



Eris ******** senyum melihat tingkah teman-teman Ethan yang menurutnya asik. Tapi senyumannya hilang sekejap ketika tiba-tiba tangannya tersengat rasa gatal yang luar biasa. Dengan cepat otak Eris memutar kejadian sebelumnya, pasalnya ia tidak ingat ia sempat bersentuhan dengan cowok. Jantungnya mencelos ketika sekelebat samar-samar ia ingat jemarinya memang sempat tersentuh oleh bapak penjual bakso.



Please, jangan sekarang...



Lots Of Love. Chocolovas


__ADS_1



__ADS_2