The Detective Love Story

The Detective Love Story
RIP Javas Schaefer


__ADS_3

Keesokan harinya, di kantor polisi Queen bersama Aiden dan juga Arthur kewalahan menghadapi amukan masyarakat yang meminta mereka segera menyelesaikan kasus pembunuhan berantai di pabrik minuman tersebut. Sebagian besar masyarakat tersebut adalah keluarga dari para korban yang meminta keadilan untuk kematian keluarga mereka.


"Bagaimana ini?" tanya Arthur dengan panik.


Aiden sejak tadi hanya diam. Bukan berarti dia tidak bisa menghadapi amukan masyarakat itu. Kalau mau dengan sekali bicara dia bisa menghentikan masyarakat yang mengamuk itu. Tapi, dia ingin mengetes kemampuan juniornya untuk menghadapi amukan masyarakat seperti ini di lain hari ketika dirinya sudah tidak ada di samping mereka.


"Saya mohon kalian tenang." ucap Queen yang langsung membuat para warga tersebut diam sesaat.


"Bagaimana kami bisa tenang?! Kalian hanya bersantai di kantor polisi tanpa mencari tahu kebenarannya?!" teriak salah satu warga.


"Apa kalian melihat kegiatan kami selama 24 jam? Bagaimana kalian bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Queen balik dengan wajah datarnya.


Seketika para warga tersebut diam, tidak ada yang berani berbicara. Bahkan para polisi yang ada disana pun ikut diam karena aura Queen yang sangat dingin dan mengintimidasi.


"Kami selalu mencari dan mengumpulkan bukti, kami berusaha mencari para tersangka untuk segera menyelesaikan kasus ini." jelas Queen. "Apa kalian pikir kami suka terlarut-larut dalam menangani sebuah kasus?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih dingin dari sebelumnya. Queen berdecih sinis. "Tidak, itu merepotkan. Kami ingin menyelesaikan kasus-kasus yang kami tangani dengan cepat agar kami bisa beristirahat." ucap Queen sambil menatap satu-persatu orang yang berani berbicara lancang tadi.


"Queen..." Arthur berusaha menenangkan Queen agar gadis itu tidak lepas kendali. Tapi, Queen mengangkat sebelah tangannya pertanda dia masih bisa mengendalikan emosinya.


"Kalau begitu, bisakah anda memberitahu kami bagaimana perkembangan penyelidikan kalian?" tanya seorang wanita paruh baya dengan berlinang air mata. "Setidaknya beritahu kami sampai mana kalian menyelidiki kematian keluarga kami." imbuhnya kemudian.


"Kami sudah menemukan saksi yang mungkin tahu banyak tentang hal ini. Dia masih di rawat karena terluka parah. Di sisi lain, kami masih terus mencari dimana pelaku sebenarnya dari pembunuhan berantai di pabrik minuman itu." jawab Queen. "Saya harap kalian bisa sedikit bersabar. Kami akan segera mendapatkan keadilan untuk keluarga kalian yang menjadi korban." ucap Queen lagi.


Dan setelah itu satu persatu warga meninggalkan kantor polisi karena percaya dengan yang dikatakan Queen.


"Hebat! Tadi kau sangat keren!" puji Arthur sambil mengacungkan dua ibu jarinya untuk Queen.


"Ya, dan kau sanga payah." sahut Queen dengan mata yang tertuju pada komputer.


"Yash! Aku begitu karena tidak berani menghadapi mereka semua!" ucap Arthur.


"Berarti kau memang payah bukan?" tanya Queen lagi.

__ADS_1


"Terserah!"


Queen tersenyum kecil melihat sahabatnya kesal. Gadis itu kembali menatap foto-foto yang dia ambil di TKP pembunuhan berantai itu. Berharap dengan mengamati foto-foto itu dia bisa menemukan hal yang sebelumnya tidak dia sadari. Tapi tidak ada apa-apa disana.


"Menyebalkan." desis Queen...


Drrtt... drrtt... merasakan handphonenya bergetar, Queen segera merogoh saku jasnya dan melihat siapa yang menelepon dirinya. Nomor asing, tapi Queen langsung mengenali nomor tersebut karena itu adalah nomor telepon rumah sakit Edelstein.


"Dengan detektif Queen?"


"Ya? Saya sendiri."


"Saya dari pihak rumah sakit melaporkan bahwa pasien yang merupakan saksi dari kasus yang anda tangani Javas Schaefer telah meninggal dunia." ucap seseorang dibalik telepon.


BRAK!! Queen refleks memukul meja kerjanya dan berdiri dari kursinya karena terkejut bukan main. "APA KAU BILANG?!" teriak Queen.


"Maaf, saya hanya di utus untuk menyampaikan hal itu."


"Sialan!"


"Ada apa?" tanya Arthur yang bingung melihat tingkah Queen.


"Javas meninggal dengan leher digorok." sahut Aiden yang baru saja keluar dari ruangannya. "Dokter Regan yang memberitahuku. Kita harus segera ke rumah sakit sekarang." ucap Aiden.


*


Sesampainya di rumah sakit. Suasana di rumah sakit sangat ramai karena hampir sebagian besar pengunjung rumah sakit mengetahui tentang kematian Javas dengan leher yang sengaja digorok.


"Bagaimana kejadiannya?" tanya Aiden kepada Regan.


Regan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu jelas. Aku hanya menemukannya dalam keadaan seperti itu tadi pagi ketika akan memeriksanya." jawab Regan dengan wajah yang masih pucat.

__ADS_1


Queen melihat kondisi jenazah Javas yang lehernya menganga karena di gorok. Tentu dia tidak menyentuhnya karena takutnya akan menghilangkan bukti sidik jari yang tertinggal di jenazah.


"Dia baru saja di bunuh. Mungkin sekitar 1 atau 2 jam yang lalu." ucap Queen tiba-tiba.


"Darimana kau tahu itu?" tanya Arthur.


"Dari mengamati luka gorok di lehernya yang masih terlihat baru. Jika dia dibunuh semalam luka di lehernya pasti sudah terlihat merah kehitaman." jawab Aiden yang sudah tahu darimana Queen menyimpulkan hal itu.


"Kalian sudah memeriksa CCTV?" tanya Arthur yang dijawab gelengan kepala oleh Regan.


"Sekarang kita lihat rekaman CCTV terlebih dahulu." ucap Queen.


*


Di ruangan CCTV terlihat jelas detik-detik seseorang menggorok leher Javas yang tidak sadarkan diri. Dan benar dugaan Queen, Javas dibunuh satu jam yang lalu. Tepatnya pukul tujuh lebih lima belas menit. Tapi sialnya mereka tidak bisa melihat wajah sang pelaku karena pelaku mematikan lampu dan mengenakan masker.


"Dia mengenakan jas dokter." kata Queen sambil menunjuk pelaku di layar komputer.


Mereka mengamati lagi kemana perginya pelaku setelah membunuh Javas. Terlihat sang pelaku melepaskan jas dokter tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong plastik berwarna biru, lalu membuangnya di tempat sampah yang ada di belakang rumah sakit.


"Itu tempat sampah di belakang rumah sakit." cetus Regan.


Mereka berempat langsung menuju tempat sampah yang terletak di belakang rumah sakit. Dicarinya kantong plastik berwarna biru.


"Ketemu!" teriak Arthur sambil mengangkat sebuah kantong plastik berwarna biru. Lalu diberikannya itu kepada Queen.


Queen segera memakai sarung tangan. Dibukanya kantong plastik tersebut. Terlihat jas dokter berwarna putih yang sudah terkena noda darah. Di saku jas tersebut Queen juga menemukan pisau yang digunakan untuk menggorok Javas.


Disaat para detektif fokus mengamati jas. Regan mematung melihat sebuah logo poli THT yang ada di jas dokter tersebut. Wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya, keringat dingin mulai bercucuran. "Aku tahu siapa pemilik jas itu." ucap Regan yang membuat ketiga detektif langsung menatapnya.


...***...

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2