
Suasana siang hari di Rumah Sakit Edelstein sangatlah ramai. Banyak pasien yang duduk mengantri untuk memeriksakan kesehatannya. Termasuk Queen yang sejak tadi duduk di depan Poli Spesialis Penyakit Dalam.
Bibir gadis itu terlihat pucat. Tangannya memijat kepalanya yang terasa pusing berharap itu bisa meringankan pusing yang dia rasakan. Tapi tetap saja kepalanya masih terasa pusing. Terkadang dadanya juga tiba-tiba terasa sesak, lalu berubah menjadi sakit. Beruntung gadis itu satu-satunya yang duduk di depan Poli penyakit dalam, jadi suasana disekitarnya tidak terlalu ramai. Bisa dibayangkan bukan? Ketika kepalamu sakit lalu disekitarmu berisik, duh makin pusing.
"Menyebalkan.. kenapa aku harus punya penyakit sialan ini?" desis Queen sambil memegangnya kepalanya.
Tangan satunya meraih handphonenya yang ada di dalam tas. Terlihat sudah lewat pukul dua siang. Perutnya terasa sangat lapar. Tapi dia tidak berselera makan dengan rasa pusing dan sesak di dadanya yang ia rasakan.
"Apa masih lama?" gumamnya melihat speaker yang ada di sudut dinding.
Ding Ding Ding... Panggilan kepada Ayesha Queen Stephanie. Silahkan masuk ke dalam ruangan...
Mendengar namanya dipanggil. Queen segera menjinjing tasnya dan berjalan masuk ke poli penyakit dalam. Terlihat Regan yang sedang menulis ditemani seorang suster di sampingnya.
Regan mendongakkan kepalanya melihat pasiennya. "Oh? Detektif Queen?"
Queen tersenyum kaku. Gadis itu segera duduk di kursi yang disediakan untuk pasien di depan meja Regan. Tanpa Regan bertanya gadis itu langsung menyebutkan keluhannya.
Regan mengambil termometer digital infrared dan mengarahkan ke kening Queen. Setelah beberapa detik dia melihat hasilnya. "Anda sedikit demam." ucap Regan sambil memperlihatkan kepada Queen hasil termometer yang menunjukkan angka 37,9°C.
"Apa anda bekerja terlalu keras hari ini?" tanya Regan.
Queen menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Regan. Karena menurutnya dia bekerja cukup keras dibanding hari-hari biasanya hari ini. Dari pukul tujuh pagi dia sibuk melakukan penyelidikan di gedung perusahaan minuman xx dan baru istirahat sekitar pukul satu siang. Lalu dia langsung ke rumah sakit karena merasakan kepalanya pusing dan dadanya yang sesak.
"Saya tidak tahu seberat apa kasus yang sedang anda tangani. Tapi saya hanya minta anda lebih banyak istirahat agar penyakit yang anda derita tidak semakin parah." ucap Regan dengan ekspresi serius.
"Separah apa nanti penyakit saya? Apa kematian yang paling parah?" tanya Queen.
Regan diam sebentar. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. "Yakin saja, anda akan sembuh..." jawab Regan sambil tersenyum manis.
Queen menatap ke arah lain dan tersenyum kecut. Tapi tanpa sengaja manik matanya melihat nama Regan yang tertera di atas meja lengkap dengan gelarnya sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Gadis itu terdiam lama sekali menatap nama tersebut. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Detektif?" panggil Regan ketika menyadari bahwa Queen tidak mendengarkan perkataannya.
"Ah, maaf. Saya kurang fokus. Boleh di ulangi?" tanya Queen dengan wajah tanpa rasa bersalah.
"Saya menambahkan obat pereda nyeri. Anda bisa meminumnya ketika merasakan sakit di dada atau pusing. Jika tidak merasakan keduanya tidak perlu diminum." ucap Regan mengulangi kalimatnya.
__ADS_1
"Baiklah."
Ketika keadaan sedang hening tanpa suara. Tiba-tiba perut Queen berbunyi nyaring. Kruyuuukkk... Pipi gadis itu seketika bersemu memerah menahan malu. "Perut sialan." batinnya mengumpati perutnya yang berbunyi tidak tahu tempat.
Regan tertawa mendengar hal itu. Dia menoleh kepada suster yang ada di sampingnya. "Apa ada pasien lagi setelah dia?" tanya Regan kepada suster.
"Tidak dok. Anda mau istirahat?" jawab Stella sekaligus bertanya kepada Regan. Niatnya sih, dia mau mengajak dokter pujaan hatinya itu untuk makan siang bersama. Tapi realita tidak seindah ekspetasi kawan.
"Detektif Queen, anda ingin makan siang bersama?" tanya Regan.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Stella langsung membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Regan barusan. Khayalan yang terbentuk di benaknya seketika buyar mendengar pujaan hatinya mengajak wanita lain makan siang di depan matanya langsung.
"Saya?" tanya Queen sambil menunjuk dirinya sendiri.
Regan menangguk sambil tersenyum. "Sekalian ada yang mau saya tanyakan." ucapnya kemudian.
Queen diam sejenak. Sebenarnya dia ingin menolak, tapi dipikir-pikir ada untungnya makan bersama. Seorang dokter terkenal tidak mungkin kan membiarkan wanita membayar makanannya sendiri ketika makan bersama? Itu yang ada dipikirannya.
"Baiklah. Kalau anda tidak sibuk." jawab Queen.
"Sialan, apa aku tidak terlihat?" gumam Stella kesal.
*
Di kantin
Regan yang memesankan makanan untuk dirinya sendiri dan juga untuk Queen. Benar saja dugaan Queen, Regan yang membayar makanan mereka.
"Jadi, apa yang ingin anda tanyakan?" tanya Queen.
"Malam pesta itu, kau kemana?" tanya Regan terus terang.
"Ke makam mama, ada masalah disana." jawab Queen apa adanya. "Ngomong-ngomong, kau menggunakan bahasa informal?" tanya Queen balik.
"Ya, disini kita bukan sebagai dokter dan pasien." jawab Regan disusul senyumya.
Queen manggut-manggut mengerti. Mereka melanjutkan makannya dengan saling diam tanpa bersuara. Hingga akhirnya Regan membuka suaranya. "Tadi pagi ada pasien yang datang ke rumah sakit." ucap Regan tiba-tiba.
__ADS_1
Queen mengerutkan keningnya. "Ya terus? Wajar kan pasien datang ke rumah sakit? Mana mungkin orang sakit datang ke taman hiburan?" tanya Queen heran.
Regan tertawa kecil. "Bukan itu maksudku. Pasien itu di dampingi polisi. Dia luka parah. Tulang lengan atasnya patah dan tulang di kakinya retak. Tubuhnya benar-benar remuk. Dia cukup hebat masih bisa bertahan dengan keadaannya yang seperti itu." ucap Regan.
"Dia Javas Schaefer?" tanya Queen.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Regan sedikit terkejut.
"Itu kasus yang aku tangani bersama Detektif Aiden." jawab Queen santai sambil meminum es tehnya. "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Queen.
"Kritis." jawab Regan singkat.
Setelah pembicaraan tentang itu berakhir. Keduanya kembali saling diam. Ketika keheningan mulai menghampiri mereka, Queen segera membuka suaranya lagi. "Apa kau tahu tentang kematian mamaku yang menderita Kardiomiopati lima tahun lalu di rumah sakit ini?" tanya Queen tiba-tiba.
Regan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku baru pindah ke rumah sakit ini tiga tahun yang lalu." jawab Regan apa adanya. "Kenapa memangnya?" tanya Regan penasaran.
Queen menghela napasnya. "Hari itu mama sudah baik-baik saja. Bahkan dokter sudah mengizinkannya pulang. Tapi tiba-tiba ibu dinyatakan meninggal karena gagal jantung." ucap Queen menceritakan kisah kematian ibunya.
"Itu bisa saja terjadi." jawab Regan karena memang nyatanya seperti itu.
"Iya aku tahu. Tapi itu janggal. Cairan infus mama awalnya bening, setelah mama dibawa pergi untuk dimandikan aku menyadari bahwa cairan infus berubah menjadi kekuningan. Ditambah selang infus yang terdapat bekas suntikan." ujar Queen panjang lebar. Padahal dia tidak pernah berkata sepanjang ini sebelumnya. Tapi entah kenapa dia merasa nyaman menceritakan ini kepada Regan yang bahkan baru dia kenal.
"Jadi kau berpikir ibumu dibunuh?" tanya Regan.
Queen mengangguk.
"Aku akan membantumu menyelidiki ini." ucap Regan tanpa ragu.
Queen langsung mendongak menatap mata Regan. "Tidak perlu. Aku tidak ingin kau terseret masalah ini." tolak Queen.
Regan tersenyum. "Salahmu menceritakan ini kepadaku. Aku jadi penasaran dan ingin menyelidiki hal ini." jawab Regan dengan senyuman manisnya.
Tanpa disadari di ujung kantin. Seseorang yang mengenakan jas dokter dengan masker yang menutupi wajahnya menatap tajam ke arah Regan dan Queen. Sekalipun dalam jarak yang cukup jauh tapi dia masih mampu mendengar setiap kalimat yang diucapkan Queen dan Regan.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1