
Keesokan harinya, Queen sudah siuman, gadis itu juga sudah keluar dari ruang ICU. Padahal keadaannya belum benar-benar pulih. Tapi gadis itu sudah meminta laptopnya agar tetap bisa melakukan penyelidikan sekalipun dari rumah sakit. Queen fokus dengan layar laptopnya tanpa berbicara sedikitpun. Bahkan Arthur yang sejak tadi berusaha menyuruhnya makan tidak dipedulikannya sama sekali. Karena saat ini Queen benar-benar dibuat penasaran dengan gadis yang ditemuinya.
"Tidak bisakah kau makan sedikit?" tanya Arthur.
Queen menggelengkan kepalanya. "Sebentar, nanti aku akan memakannya."
Arthur menghembuskan napasnya kasar. Detektif muda itu duduk menemani sahabatnya. Dia tidak berani memaksa Queen makan karena dia tahu sendiri bagaimana sifat Queen yang benci pemaksaan.
Beberapa saat kemudian, Aiden datang bersama Regan dan juga Stella untuk memeriksa keadaan Queen. Melihat Queen yang tidak mau makan awalnya Regan diam saja. Laki-laki itu memeriksa keadaan Queen seperti pasien pada umumnya. Hingga setelah selesai memeriksa, Regan tidak langsung pergi.
"Stella, kau bisa kembali lebih dulu. Dia pasien terakhir yang harus aku periksa." kata Regan menyuruh Stella pergi.
Stella diam sebentar, lalu perawatan itu beralih menatap Queen yang kembali fokus dengan laptopnya setelah Regan selesai memeriksanya dengan tatapan yang tidak suka. Sejak awal dia sudah menduga bahwa Queen akan menjadi saingannya.
"Baik.." jawab Stella kemudian segera keluar dari ruangan itu.
Setelah Stella keluar, Queen menutup laptopnya lalu menatap serius kearah Regan. "Ada apa?" tanya Queen.
Regan mengambil makanan di meja dan duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Queen. "Makan dulu, biar cepat sembuh." ucap Regan dengan senyuman manis di bibirnya. Laki-laki itu menyuapkan menyuapi Queen dengan telaten. Dan anehnya Queen tidak bisa menolak perlakuan itu.
Aiden tersenyum tipis melihat sahabatnya memberikan perhatian lebih kepada seorang gadis, menurutnya itu lebih baik daripada melihat Regan yang tersenyum hanya untuk menutupi kesedihan karena rindu dengan teman masa kecilnya.
Berbeda dengan Arthur, laki-laki itu memalingkan wajahnya seolah enggan melihat adegan romantis tersebut.
__ADS_1
Setelah makanan habis, dengan tepat waktu Zerga datang ke ruangan Queen.
"Dokter Zerga?" gumam Queen kebingungan.
Gadis itu melihat satu persatu orang yang ada di ruangan itu. Mulai dari Aiden, Arthur, Regan, bahkan hingga Zerga juga ada di sana. Dari situasi ini, Queen bisa menyimpulkan bahwa kedatangan mereka semua pasti ada maksud tertentu. Bukan hanya sekedar datang.
"Ada apa?" tanya Queen.
Aiden tidak banyak berbicara, laki-laki itu mengeluarkan daftar nama yang dia dapatkan dari sang pelaku dan memberikannya kepada Queen.
Mata gadis itu langsung terbelalak ketika menyadari bahwa daftar nama itu, adalah nama-nama orang yang menjadi korban pembunuhan berantai beberapa minggu yang lalu.
"Hasil autopsi sudah keluar, dan benar nama-nama di dalam daftar itu sesuai dengan hasil yang keluar. Bahkan perkiraan kematian pun sesuai dengan urutan yang ada di daftar itu." jelas Arthur melihat wajah Queen yang terlihat terkejut.
"Bisakah anda menceritakan kejadiannya dengan detail sebelum anda ditembak?" tanya Zerga.
"Informal saja. Dia bilang apa yang dia lakukan untuk membalas perbuatan kami atas saudaranya. Tapi aku tidak ingat apapun jika aku pernah menyakiti seseorang." jawab Queen dengan ekspresi perpaduan serius dan bingung.
"Kau lupa pernah mengalami kecelakaan parah sebelum menjadi detektif?" hanya Arthur yang membuat Queen terdiam.
Memang ketika masih kuliah, Queen pernah mengalami kecelakaan parah yang bahkan hampir merenggut nyawanya. Akibat dari kecelakaan itu sebagian ingatannya menghilang, dia hanya mengingat kenangan-kenangan penting di dalam hidupnya. Selain itu, akibat lain dari kecelakaan yang menimpanya seorang gadis juga mengalami luka yang cukup parah, wajahnya yang rusak hingga harus di operasi plastik dan juga kehilangan ingatan sama seperti Queen.
"Kau pernah kecelakaan?" tanya Aiden.
__ADS_1
Queen mengangguk. "Pernah, saat saya masih kuliah. Karena itu saya hilang ingatan." jawab Queen.
Regan mengalihkan tatapannya kepada Arthur. "Dia sendiri yang kecelakaan? Atau ada orang lain yang menjadi korban?" tanya Regan.
Arthur diam sebentar, lalu menjawab. "Tidak, bukan hanya Queen yang menjadi korban. Ada satu lagi, seorang gadis. Dia seusia dengan Queen. Aku sudah mencarinya untuk bertanggungjawab jawab atas biaya pengobatannya, tapi pihak rumah sakit memberitahu bahwa gadis itu sudah dibawa ke luar negeri oleh keluarganya. Dari informasi yang aku dapat, gadis itu mengalami kerusakan parah pada wajah dan juga hilang ingatan." jawab Arthur tanpa menyembunyikan suatu apapun.
"Gila, banyak amat teka-tekinya." celetuk Zerga yang sudah cukup kesal karena diajak pusing memikirkan semua ini. Tapi kalau dia tidak ikut memikirkan ini, masalahnya nyawanya sendiri juga terancam.
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita perlu mendatangi 3 tempat." ucap Regan.
Queen menoleh ke arah Regan dengan tatapan tanda tanya.
Melihat hal itu Regan tersenyum lalu menjawab. "Rumah dua orang temanmu yang bunuh diri, dan juga gadis yang menjadi korban kecelakaan itu." jawab Regan dengan senyuman yang masih ada di bibirnya.
Tatapan Queen masih penuh tanda tanya.
"Aku yang menceritakan semuanya." ucap Arthur tiba-tiba karena menyadari pertanyaan apa yang ada di kepala Queen.
Queen menunduk menatap nama-nama yang belum dicoret. Lalu mendongak melihat orang-orang yang ada di ruangan itu satu-persatu. "Hati-hatilah. Mungkin saja urutan ini hanya jebakan. Besar kemungkinan urutannya berubah." kata Queen dengan sorot mata khawatir.
Setelah semuanya pergi, Queen kembali menatap daftar nama tersebut. Tanpa dia sadari, setetes air mata jatuh dari matanya. Segera di usapnya agar tidak menangis. Gadis itu mendongak menatap langit-langit ruangan. "Kalau kau benci kepadaku, kenapa tidak langsung membunuhku saja? Kenapa harus membunuh mereka orang-orang yang tidak bersalah dan bahkan tidak tahu apa-apa?" gumam Queen dengan air mata yang kembali menetes.
...***...
__ADS_1
...Bersambung......