
Beberapa minggu telah berlalu. Aiden memutuskan untuk menghentikan penyelidikan sementara hingga hasil autopsi keluar. Tapi selang beberapa Minggu itu, ternyata pelaku berulah kembali.
Terjadi pembunuhan di depan pintu rumah seorang wanita paruh baya. Dia salah satu kerabat jauh Queen. Dari hasil pemeriksaan fisik yang terlihat wanita itu ditusuk menggunakan pisau lima kali di bagian perut, tiga kali di bagian dada, dan dua kali di punggung. Total ada sepuluh tusukan di tubuh wanita tersebut.
Queen mengusap wajahnya kasar, menandakan dia sedang frustasi. Bukan karena apa, masalahnya dia kembali menemukan bunga Wolfsbane di dekat tubuh wanita yang merupakan kerabatnya tersebut.
"Sepertinya ini ada hubungannya dengan kasus pembunuhan berantai beberapa minggu yang lalu." ucap Queen tiba-tiba.
"Bagaimana kau menyimpulkan itu?" tanya Arthur penasaran.
Queen menghela napasnya, lalu menunjukkan sebuah bunga yang sudah ada di dalam kantong barang bukti. "Ini bunga yang sama dengan yang aku temukan di ruang rawat mendiang Manager Javas." jawab Queen.
"Bukankah dia kerabatmu?" tanya Aiden.
Queen mengangguk mengiyakan pertanyaan Aiden. "Benar, dia kerabat jauh." jawab Queen. Gadis itu kembali teringat dengan apa yang dikatakan Louis beberapa minggu yang lalu. Seniornya itu mengatakan bahwa korban-korban pembunuhan itu rata-rata adalah orang terdekatnya. Dan terbukti benar sekarang. Kerabatnya yang sekarang menjadi korban.
"Detektif Queen." panggil Arthur.
Queen menoleh. "Ada apa?" tanya Queen.
Arthur tidak menjawab Queen, tatapannya tertuju ke arah rumah yang ada di depan mereka. Queen ikut melihat apa yang dilihat oleh Arthur. Di balik jendela yang ada di lantai dua, terlihat siluet seorang wanita memegang pisau.
Melihat hal itu, Queen langsung sigap mengeluarkan pistolnya dan menembakkannya ke arah siluet wanita tersebut. Tapi sayang meleset, karena wanita itu sangat gesit. Queen tidak mau kalah, tanpa ragu ataupun takut gadis itu langsung berlari masuk ke dalam rumah mencari orang yang menurutnya mencurigakan tersebut.
"Detektif Queen!" Arthur dan Aiden berteriak bersamaan karena khawatir ketika Queen tiba-tiba berlari masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua turun mengeluarkan senjatanya dan mengejar Queen masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah tersebut.
Queen menoleh ke kanan dan ke kiri. Waspada jika pelaku menyerangnya secara tiba-tiba. Di amatinya kondisi rumah kerabatnya yang benar-benar berantakan, hampir di setiap sudut rumah terkena cipratan darah. Sofa, pintu kamar, meja, lantai. Ada juga darah yang memanjang seperti bekas diseret.
__ADS_1
Gadis itu menajamkan penglihatannya menatap tempat-tempat gelap yang mungkin akan menjadi tempat sembunyi sang pelaku. Queen kembali melangkahkan kakinya dan masuk ke ruang tengah. Ctek. Gadis itu mencoba menyalakan lampu, tapi sayang tidak bisa menyala.
"Keluar! Aku tahu kau masih ada disini!" ancam Queen sambil menodongkan senjata ke arah berubah-ubah.
Tap.. tap... tap... Terdengar suara langkah kaki dari lantai dua. Gadis itu langsung sigap naik ke lantai dua, bahkan tanpa rasa takut sedikitpun. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah pelaku pembunuhan-pembunuhan itu harus segera tertangkap.
"Nyalimu besar juga, Detektif Ayesha Queen Stephanie." ucap seseorang dari belakangnya.
Ketika Queen hendak berbalik, gadis itu merasakan sebuah ujung pistol menempel di punggungnya. "Sialan..." desis Queen menyadari hal itu.
"Diam, dan dengarkan saja apa yang aku katakan." kata sang pelaku. "Seharusnya kau tahu siapa aku, dan tujuanku hanya satu. Aku akan membalaskan perbuatan kalian atas saudaraku. Seluruh orang yang dekat denganmu satu persatu akan mati." ujar sang pelaku.
"Siapa kau?!" tanya Queen dengan geram.
"Pikirkan saja sendiri." jawab sang pelaku sambil perlahan mundur.
DORR!!
Tapi naas, dia kalah cepat. Ketika dia berbalik sang pelaku langsung menembakkan pistolnya tepat mengenai perutnya yang sebelah kiri.
"Siapa yang menyuruhmu berbalik?" tanya pelaku sesaat sebelum pergi.
Bruk.. Queen ambruk ke lantai dengan darah yang mengalir dari perutnya yang tertembak. "Persetan.." desis Queen sambil memegangi perutnya. Dan.. akhirnya gadis itu tidak bisa menahannya lagi, Queen tidak sadarkan diri.
"DETEKTIF QUEEN!!"
*
Wiu wiu wiu.. Suara ambulans dan mobil polisi bersahutan masuk ke halaman rumah sakit. Queen diantar oleh Arthur dan Aiden segera dibawa menuju ke ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di perutnya.
__ADS_1
"Anda bisa menunggu di luar tuan." ucap Stella sebagai perawat yang mendampingi Regan.
"Hm, kalian tunggu disini. Dia pasti baik-baik saja!" sahut Regan.
Lalu keduanya langsung masuk ke dalam ruang operasi.
Setelah semua masuk ke ruang operasi kini tinggal Arthur dan Aiden yang ada di depan ruang operasi. Arthur terduduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir. Queen adalah satu-satunya sahabat yang dia punya, dia benar-benar takut gadis itu kenapa-kenapa. Sedangkan Aiden, detektif cuek itu bersandar di dinding sambil menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Tetapi di dalam kepalanya, banyak pikiran yang berputar-putar disana.
"Aiden!" panggil seseorang.
Aiden menoleh melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata orang itu adalah Zerga yang datang sambil membawa sebuah bunga yang sudah kering.
"Darimana kau dapat benda itu?!" tanya Aiden.
"Aku mendapatkan ini di dekat gantungan jasku. Aku tahu ini bunga yang berbahaya, sudah kering artinya sudah lama ada disana." ucap Zerga sambil menunjukkan bunga Wolfsbane yang sudah kering.
Aiden menghela napasnya. "Kenapa semua jadi serumit ini?" batin Aiden frustasi.
"Bagaimana keadaan detektif juniormu?" tanya Zerga sambil melirik ke dalam ruang operasi.
"Sepertinya dia kehilangan darah cukup banyak." jawab Aiden apa adanya.
Zerga memicingkan matanya melihat ekspresi Aiden yang masih sama datarnya seperti biasa. "Bagaimana bisa ekspresimu masih sedatar itu? Kau tidak khawatir dengan keadaannya?" tanya Zerga merasa heran. Padahal dia sudah mengenal Aiden selama bertahun-tahun, dan tahu betul sifat Aiden yang seperti itu.
"Khawatir di hati, bukan di wajah." jawab Aiden cuek dan sukses membuat Zerga menunjukkan senyum tertekan.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1