The Detective Love Story

The Detective Love Story
Daftar Nama


__ADS_3

Empat jam sudah berlalu. Tapi Regan dan juga tim dokter bedah belum juga keluar dari ruang operasi. Arthur sudah tidak menangis lagi, tapi matanya masih sembab serta tatapannya yang kosong. Sedangkan Aiden masih seperti tadi bersandar di dinding dengan tangan dilipat didepan dada.


"Senior..." panggil Arthur dengan suara bergetar.


Aiden melirik ke arah Arthur yang memanggilnya.


"Detektif Queen akan baik-baik saja bukan?" tanya Arthur. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini tanpa suara. Menunjukkan betapa sakitnya dia melihat kondisi sahabatnya seperti itu.


"Dia pasti baik-baik saja." jawab Aiden dengan yakin.


Mereka kembali menunggu, waktu kembali berjalan. Setelah lewat 30 menit akhirnya Regan keluar dari ruang operasi dan menghampiri Aiden dan juga Arthur.


"Bagaimana keadaannya?!" tanya Arthur ketika melihat Regan keluar dari ruangan.


Regang mengangguk sambil tersenyum tipis. "Kami sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di perutnya. Sekarang hanya menunggu dia siuman." jawab Regan apa adanya. Dokter tampan itu melirik Aiden yang berdiri di dekatnya dengan wajah datar. Ditariknya tangan sahabatnya itu menjauh dari ruang operasi, di ajaknya Aiden ke ruangan pribadinya yang tertutup karena ingin membicarakan hal penting.


"Ada apa sebenarnya?!" tanya Regan dengan wajah serius.


"Pelaku pembunuhan-pembunuhan itu yang melakukannya." jawab Aiden.


Regan terdiam. Dia cukup terkejut dengan hal itu, dia kira karena penyelidikan kasus pembunuhan berantai sudah di berhentikan keadaan sedikit membaik. Nyatanya tidak, benar kata pamannya, pelaku akan terus beraksi hingga orang-orang di sekitar Queen mati mengenaskan. Dia tau itu karena pamannya sendiri yang bilang padanya dan bahkan semua itu juga berhubungan dengan dirinya, sekalipun dia tidak tahu kenapa dia berhubungan dengan semua itu.


"Detektif Queen sempat berbicara dengannya, dan berakhir seperti ini." ucap Aiden lagi sambil menundukkan kepalanya.


Regan mengepalkan tangannya. Mata tajam Regan melirik benda yang ada di tangan Aiden. Laki-laki itu langsung menarik tangan sahabatnya dan mengambil benda tersebut.

__ADS_1


"Darimana kau mendapatkan bunga ini?!" tanya Regan.


"Kau tau sesuatu tentang itu?"


Regan menganggukkan kepalanya. "Paman yang memberitahuku. Beberapa minggu yang lalu, ketika aku dan Detektif Queen ke rumah paman. Paman mengatakan sesuatu tentang pelakunya." ucap Regan sambil mengingat-ingat apa yang dikatakan Detektif Loius. "Pelakunya cantik tapi berbahaya, sama seperti bunga itu. Wolfsbane, terlihat cantik tapi aslinya sangat berbahaya. Mungkin petunjuknya ada di bunga itu." imbuhnya lagi.


Aiden manggut-manggut mengerti. Kalau sudah seniornya yang berkata seperti itu, artinya itu memang benar. Detektif Louis adalah seorang yang luas wawasannya, banyakn informasi yang dia ketahui. Informannya ada dimana-mana, sekalipun diam saja tapi para bawahannya selalu membawakan informasi dari segala penjuru kota.


"Apa hasil autopsi jenazah pembunuhan berantai di pabrik minuman itu sudah keluar?" tanya Aiden.


"Sepertinya sudah, aku akan menanyakannya nanti kepada tim forensik." jawab Regan.


Ketika ditengah-tengah pembicaraan tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan Regan. Itu adalah Zerga. Regan dan Aiden terkejut dengan kondisi Zerga yang cukup mengerikan. Lengannya tersayat lebar, darah keluar merembes membasahi jas dokternya yang putih. Bahkan telapak tangannya juga tersayat dalam, seperti habis menggenggam pisau.


"Apa yang terjadi?!" Aiden dan Regan langsung menghampiri Zerga.


Regan sigap mengambil kotak P3K dan mengobati luka Zerga. sedangkan Aiden langsung keluar berlari menuju rooftop mencari orang yang dimaksud oleh Zerga.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Regan sambil mengobati luka Zerga.


"Perempuan. Tapi tenaganya sangat kuat. Dia bukan orang sembarangan." jawab Zerga sambil melihat telapak tangannya yang terluka.


"Bagaimana ciri-cirinya?"


"Dia menyamar menjadi dokter. Dia memakai masker dan anting berbentuk bunga ungu itu." jawab Zerga sambil mengingat-ingat perempuan yang menyerangnya beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Kau dekat dengan Queen?" tanya Regan.


Zerga mengerutkan keningnya. Lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Aku saja baru pertamakali bertemu dengannya ketika party ulang tahun Aiden." jawab Zerga.


Regan terdiam. Benar juga yang dikatakan sahabatnya itu. "Dia hanya menyerang orang-orang yang dekat-dekat dengan Queen, sedangkan kau tidak dekat dengannya. Lantas, kenapa dia menyerangmu?" tanya Regan kepada dirinya sendiri dan juga kepada Zerga.


"Kita harus menyelesaikan ini bersama, jika tidak ingin semua menjadi lebih rumit lagi. Karena kita semua berhubungan dengan semua ini." ucap Zerga memberi saran yang di angguki oleh Regan.


Di sisi lain, Aiden ada di rooftop mencari orang yang menyerang Zerga tadi. Tapi dia tidak menemukan siapapun disana. Dia hanya menemukan darah yang berceceran di lantai rooftop, dia yakin itu adalah darah milik Zerga.


"Kemana dia?" gumam Aiden.


"Kau mencariku?" tanya seseorang dari belakangnya.


Aiden langsung berbalik dan menodongkan senjatanya ke arah wanita yang sekarang ada di depannya itu. Sesuai yang dikatakan Zerga, wanita itu memakai jas dokter, memakai masker, dan memakai anting berbentuk bunga Wolfsbane.


"Sahabatmu berhasil kabur, sebenarnya aku bisa melenyapkanmu sekarang. Tapi aku akan mengikuti daftar yang aku buat." ucap wanita itu sambil menunjukkan sebuah daftar nama yang sebagian besar sudah dicoret.


Sekalipun dari kejauhan Aiden bisa membaca dengan jelas nama-nama yang tertera disana. Total ada 31 nama yang ada di daftar tersebut. 27 tujuh nama sudah di coret. Tepat di urutan ke 28 tertera nama Zerga disana. Lanjut nama Arthur, lalu namanya sendiri, Regan, dan terakhir adalah Queen.


"Aku memberikan itu untukmu." kata sang pelaku sambil melemparkan daftar tersebut kepada Aiden. "Lindungi saja orang yang ada di daftar itu. Kalau gagal, ya tinggal coret nama yang sudah mati." imbuhnya kemudian. Lalu tanpa ragu wanita itu berlari ke arah pinggir rooftop rumah sakit dan melompat begitu saja.


"Hei!!"


Aiden berlari ke arah pinggir rooftop dan melihat ke bawah sana. Tapi tidak ada apapun di bawah sana. "Bagaimana bisa..." gumam Aiden sambil mengamati daftar nama yang ada di tangannya.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2