
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam. Mereka sampai di sebuah tempat terpencil yang ada di kota tersebut. Tempat tersebut merupakan bukit yang seluruh permukaan tanahnya tertutup rumput dan ilalang.
"Sudah sampai?" tanya Queen ketika Regan menghentikan mobilnya.
"Belum, mobil hanya bisa sampai disini. Untuk ke rumahnya kita harus jalan kaki." jawab Regan sambil melepaskan sabuk pengamannya lalu segera turun dari mobil.
Melihat Regan yang turun dari mobil, Queen juga segera ikut turun lalu menghampiri Regan yang ada di depan mobil. Gadis itu ikut melihat apa yang diperhatikan oleh Regan. Yap, jalan setapak yang panjang dan di kanan kirinya ditumbuhi ilalang.
"Kau yakin rumahnya disini?" tanya Queen agak ragu melihat kondisi sekelilingnya yang menurutnya lebih cocok menjadi tempat tinggal binatang buas daripada dihuni manusia.
"Tentu saja, aku sering kesini." jawab Regan. "Ayo, nanti kita terlalu malam sampai disana." ajak Regan. Tanpa menunggu jawaban Queen, laki-laki itu langsung menggandeng tangan gadis disampingnya itu dan mengajaknya berjalan menyusuri jalan setapak di depan mereka.
"Aku bisa jalan sendiri." ucap Queen.
"Kau mau tersesat?" tanya Regan yang langsung membuat Queen diam.
Gadis itu menoleh melihat ke sisi kanan dan kirinya. Memang benar apa yang dikatakan Regan. Dengan rumput ilalang yang tingginya hampir mencapai pundaknya pemandangan setiap sisi yang dia lihat terlihat sama persis. Kalau tidak ada Regan mungkin dia sudah tersesat. Dan pada akhirnya gadis itu menurut, tidak menolak ketika digandeng oleh Regan.
Mereka sudah berjalan selama 10 menit. Jalan yang dilalui mereka itu berkerikil dan menanjak. Queen tidak mengatakan apa-apa, tapi Regan menyadari bahwa gadis yang saat ini ada di sebelahnya itu kelelahan karena napasnya terengah-engah.
"Sebentar lagi kita sampai." ujar Regan tiba-tiba.
Dan benar saja beberapa langkah kemudian mereka keluar dari kepungan rumput ilalang yang tinggi. Terlihatlah sebuah rumah megah bergaya gothic dengan halaman yang sangat luas, bahkan di salah satu sisi halaman terdapat sebuah helikopter. Dan disisi lain halaman terdapat kandang kuda, lalu di samping kandang kuda mungkin berjarak dua sampai tiga meter terdapat sebuah taman bunga. Jika tadi rumput di bawah kaki mereka terlihat kering, berbeda dengan yang terlihat di depan mereka saat ini. Rumput di halaman rumah megah tersebut hijau subur dan terawat.
__ADS_1
Queen sampai tercengang melihat pemandangan didepannya ini. Gadis itu adalah seorang detektif, tapi bisa-bisanya dia baru tahu ada tempat seperti ini di kota tempatnya bertugas. Bahkan ini adalah rumah seniornya sendiri, tapi dia tidak tahu. Yang dia tahu seniornya, yaitu Detektif Louis tinggal di luar negeri. Dan di sini dia tinggal di apartemen. Tidak menyangka seniornya itu memiliki rumah semewah ini di tempat terpencil.
"Ayo masuk." ajak Regan.
"Ini benar-benar rumah detektif Louis?" tanya Queen.
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong?"
Queen mengedipkan matanya berulang kali, rasanya dia masih tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya saat ini.
Regan tersenyum tipis melihat ekspresi kagum Queen. Laki-laki itu kembali menggandeng tangan Queen dan mengajaknya masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Paman!" teriak Regan.
"Dasar tidak punya sopan santun! Datang disaat waktu orang tidur, masuk tidak permisi, langsung teriak-teriak pula." ucap seorang pria dengan rambut penuh uban yang baru turun dari lantai atas. Yap, itu adalah Louis Sebastian. Detektif senior yang menangani kasus kematian ibunya Queen sekaligus Paman dari Regan. Pria tersebut merentangkan tangannya mengisyaratkan agar keponakannya itu memeluk dirinya.
Regan tertawa cengengesan. Laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan wajah bersalah. "Baiklah, bagaimana kabarmu, Paman?" tanya Regan sambil memeluk Pamannya.
Louis menepuk-nepuk punggung Regan sambil tersenyum. "Baik." jawabnya singkat lalu segera melepaskan pelukannya. Tatapan matanya beralih kepada Queen yang berdiri beberapa langkah di belakang Regan. Tatapan gadis itu terlihat kosong karena sedang melamun entah memikirkan apa.
"Detektif Queen, kau tidak ingin menyapa seniormu?" tanya Louis.
Queen baru tersadar dari lamunannya. Gadis itu langsung membungkuk 90° sebentar untuk memberikan salam hormat kepada seniornya. "Selamat malam, Detektif Senior Louis!" ucap Queen.
__ADS_1
Louis melihat Queen dari bawah sampai atas. Dengan kedatangannya bersama Queen, pria itu sudah bisa menebak apa tujuan keponakannya itu datang ke rumahnya mendadak seperti ini.
"Kalian istirahatlah, aku akan menjawab apa yang ingin kalian tanyakan besok pagi setelah sarapan." kata Louis sebelum kembali naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.
"Apa... dia marah?" tanya Queen.
"Tidak, dia memang seperti itu. Dia tahu apa yang ingin kita tanyakan. Jika di bahas sekarang sudah pasti tidak akan selesai hingga larut malam." jawab Regan. Laki-laki itu tersenyum menoleh ke arah Queen. "Ayo kita ke kamar!" ajak Regan.
"Kita?? Sekamar?" tanya Queen lagi.
Regan mengangguk. "Sebenarnya ada banyak kamar lain di rumah ini. Tapi aku hanya punya satu kunci kamar yaitu kamarku sendiri. Kunci kamar yang lain di pegang paman. Dia tidak memberimu kunci kamar yang lain, artinya dia ingin kita tidur satu kamar." kata Regan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Mesum!" sahut Queen sambil menoyor kepala Regan.
Regan tertawa puas. "Bercanda." ujar Regan. Laki-laki itu berjalan naik ke tangga lalu menoleh ke belakang karena merasa bahwa Queen tidak mengikutinya. Dan benar saja, gadis itu masih diam di tempatnya. "Kau tidak ingin tidur?" tanya Regan. Belum sempat Queen menjawab, Regan menjawab pertanyaannya sendiri. "Yasudah." jawabnya sendiri kemudian lanjut berjalan.
"Dasar laki-laki tua menyebalkan!" gerutu Queen sambil bergegas mengikuti Regan dari belakang.
"Aku bisa mendengarmu nona muda." sahut Regan.
"Baguslah, artinya telingamu masih sehat." jawab Queen dengan wajahnya yang tetap datar seperti biasanya.
...***...
__ADS_1
...Bersambung......