
Di dalam sebuah kamar. Regan sudah santai berbaring di ranjang king size miliknya. Sedangkan Queen, gadis itu mematung di tempat melihat seluruh isi ruangan. Nuansa kamar yang gelap, hampir semua didominasi warna hitam dan abu-abu.
Regan melirik Queen yang masih diam di depan pintu. "Kau tidak ingin tidur?" tanya Regan.
Queen tersadar lalu menatap Regan. Gadis itu berjalan dan duduk di ranjang, tepatnya di sebelah Regan. Lalu merebahkan dirinya di samping laki-laki itu.
"Yak! Apa yang kau lakukan?!" tanya Regan terkejut.
"Tidur." jawab Queen dengan wajah datarnya.
"Kau sudah gila? Kau akan tidur seranjang denganku?" tanya Regan terheran-heran. Dulu dia pernah membaca novel romantis, rata-rata seorang gadis dan laki-laki biasanya akan berdebat masalah tidur di ranjang yang sama. Dan akhirnya salah satunya mengalah tidur di sofa atau lantai. Ini? Malah dengan santainya merebahkan diri disampingnya.
Queen menatap Regan. Membuat jantung laki-laki itu berdetak dengan kencang. "Ranjangnya hanya ada satu, tidak ada sofa. Kau ingin aku tidur di lantai?" tanya Queen dengan wajahnya yang masih datar seperti biasa.
Regan terdiam. Laki-laki itu melihat sofa kecil yang ada di dekat ranjang. Sofa tersebut jelas tidak muat jika untuk tidur. Akhirnya terpaksa dia membiarkan Queen tidur disampingnya, walaupun pada akhirnya dia yang tidak bisa tidur karena belum terbiasa tidur satu ranjang bersama seorang gadis.
Sesekali Regan melirik Queen yang ada di sampingnya. Wajah gadis itu terlihat tenang ketika sedang tidur. Tidak sedatar seperti hari-hari biasanya.
"Kau yang punya penyakit jantung, tapi kenapa jantungku yang berdebar-debar?" tanya Regan kepada Queen yang sedang tidur. Regan tertawa kecil. "Sejujurnya kau cantik kalau wajahmu tidak datar." ucapnya lagi. Regan menghela napasnya melihat Queen. "Bagaimana bisa kau tertidur semudah ini disamping laki-laki yang baru saja kau kenal? Kau tidak takut terjadi sesuatu?" tanya Regan sambil membentulkan selimut Queen, lalu beranjak dari tempat tidur menuju balkon.
Sesaat setelah Regan pergi, Queen langsung membuka matanya. Pipinya terasa sangat panas. Jantungnya berdetak dengan cepat, tapi dia tahu itu bukan karena penyakitnya. "Apa yang dia katakan barusan...?" desis Queen dengan pipi yang merah merona. Ya, ternyata gadis itu mendengar semua yang dikatakan oleh Regan.
Sebetulnya dia juga tidak bisa tidur sama sekali karena terlalu gugup berada di sebelah laki-laki. Otaknya melayang entah kemana, terbayang-bayang adegan di novel atau film yang pernah dia lihat. Dia hanya menutup matanya berharap bisa segera tidur.
__ADS_1
"Tidur dasar bodoh!" gerutu Queen kepada dirinya sendiri. Gadis itu memejamkan matanya dengan pipi yang masih memerah akibat mendengar perkataan manis dari Regan beberapa saat yang lalu.
Sedangkan Regan di balkon. Laki-laki itu melihat ke arah kota yang jauh dari mereka. Drrtt... drrtt... Handphonenya bergetar, Regan segera mengangkatnya melihat itu adalah telepon dari Aiden.
"Kemana kau?" tanya Aiden di balik telepon.
"Di rumah paman." jawab Regan apa adanya.
"Kau mengajak Queen?"
"Iya, dia sudah tidur. Ada apa? Katakan saja padaku akan aku sampaikan padanya besok pagi." jawab Regan sambil sesekali melirik Queen yang ada di ranjang tidur membelakangi dirinya.
"Tidak ada. Arthur mencarinya. Dia khawatir karena Queen tidak ada di rumah." jawab Aiden.
"Handphone Queen mati."
"Ah, bilang saja Queen baik-baik saja bersamaku. Sekarang kami ada di rumah Detektif Louis. Dia tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya." ucap Regan.
"Hm."
Setelah itu Aiden langsung memutuskan telepon mereka begitu saja. Ketika Regan hendak kembali masuk ke dalam, handphonenya bergetar kembali, bukan Aiden. Sekarang ganti Zerga yang menelepon dirinya. "Apa mereka janjian meneleponku bergiliran tengah malam begini?" gumam Regan kesal. Walau begitu Regan tetap mengangkat telepon dari sahabatnya itu.
"Ada apa?"
"Kau dimana? Aku baru saja ke rumahmu tidak ada siapapun disana." tanya Zerga.
__ADS_1
"Aku dirumah paman." jawab Regan. "Kenapa kau pergi ke rumahku?" tanyanya kemudian.
"Stella menyuruhku membawakanmu kue buatannya tadi." jawab Zerga.
"Tengah malam begini?"
"Tentu saja tidak. Dia menyuruhku sejak tadi, hanya saja aku baru mengantarkannya sekarang." jawabnya. "Ngomong-ngomong kau bersama detektif Queen disana?" tanya Zerga.
"Hm, darimana kau tahu?"
"Detektif Arthur datang ke rumah sakit mencarinya tadi sesaat setelah kalian pergi."
"Bilang saja dia bersamaku." ucap Regan.
"Baiklah, selamat bersenang-senang." setelah itu Zerga menutup teleponnya.
Regan mengernyitkan dahinya. "Apa hubungan mereka?" gumam Regan. Dia sedikit penasaran dengan hubungan Arthur dan Queen. Kalau hanya sebatas teman, tidak mungkin kan Arthur sampai sekhawatir itu hingga mencarinya kesana kemari? Entah bagaimana otaknya menyimpulkan bahwa hubungan Arthur dengan Queen lebih dari sekedar teman.
"Tidak.. hanya Arthur. Sepertinya dia menganggap Queen lebih dari teman." ucap Regan membenahi kesimpulannya. Dia menyimpulkan seperti itu, karena tahu bahwa dalam tatapan Queen kepada Arthur adalah tatapan sebagai teman biasa. Karena tatapan seseorang kepada orang yang dicintai itu sangat berbeda dengan tatapan seseorang kepada temannya.
Setelah itu Regan kembali ke ranjang dan berbaring di samping Queen. Dia meletakkan guling di tengah sebagai pembatas, lalu berusaha memejamkan matanya agar bisa tertidur. Awalnya sulit, tapi karena semakin lama matanya semakin mengantuk akhirnya dia tertidur dengan sendirinya.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1