
Beberapa hari kemudian, Queen sudah pulih dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Setelah keluar dari rumah sakit, Queen langsung pergi ke kantor polisi melanjutkan kasus yang tertunda karena dirinya masuk rumah sakit. Arthur dan Aiden turut membantu Queen dengan memberikan bukti-bukti yang mereka dapatkan selama Queen ada di rumah sakit.
"Ini yang kami dapatkan dari rumah kerabatmu waktu itu." ucap Arthur sambil memberikan sebuah anting berbentuk bunga wolfsbane dan juga sebuah sobekan kain berwarna hitam.
"Ini adalah data dari dua murid yang bunuh diri itu dan yang ini data gadis yang kecelakaan waktu itu." kata Aiden sambil memberikan tiga buah dokumen.
Queen membaca satu persatu dokumen yang diberikan oleh Aiden. "Jadi, sekarang kita ke tempat tiga orang ini?" tanya Queen.
Arthur membelalakkan matanya. "Kau baru saja keluar dari rumah sakit!" jawab Arthur.
"Tidak peduli. Lagipula aku merasa tubuhnya sudah baik. Hubungi para dokter itu jika mereka ingin ikut." sahut Queen lalu segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kantor polisi.
"Keras kepala!" desis Arthur kesal.
"Biarkan saja, dia yang paling tahu dengan kondisi tubuhnya. Temani dia, aku akan menghubungi Regan dan Zerga." ucap Aiden yang langsung dipatuhi oleh Arthur.
*
Pertama mereka berlima pergi ke rumah dua murid yang bunuh diri. Tapi mereka tidak bisa menemukan apapun disana. Dua murid itu tidak punya saudara. Sedangkan pelaku bilang bahwa akan membalas Queen atas perbuatannya kepada saudaranya. Berarti sudah jelas bahwa dua murid ini tidak ada hubungannya dengan sang pelaku.
"Tidak ada apa-apa disini." ucap Zerga.
"Kita coba ke rumah gadis yang terlibat kecelakaan denganmu." kata Regan sambil menoleh kearah Queen.
"Hm. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu disana." sahut Queen.
Mereka berlima kembali naik mobil dan menuju rumah gadis yang terlibat kecelakaan dengan Queen beberapa tahun yang lalu. Tapi nihil, rumah itu kosong seperti tidak terurus. Rumput yang sudah mengering dan ilalang tumbuh tinggi di halaman rumah itu. Bunga-bunga di dalam pot sudah layu dan kering. Hanya ada tiga hal yang terawat disana. Sebuah pohon rindang, kolam ikan di bawah pohon itu, dan kebun bunga Wolfsbane.
Tubuh mereka berlima langsung kaku ketika melihat sekumpulan bunga Wolfsbane yang ada di dekat rumah itu. Tepat disaat yang sama, tiba-tiba handphone Regan berdering membuat mereka kaget karena suasana sedang sunyi.
"Sialan!" umpat Zerga sambil memukul pelan lengan Regan.
"Ini paman." gumam Regan yang masih bisa didengar oleh semuanya.
"Speaker!" perintah Queen.
Regan mengangkat panggilan telepon dari pamannya itu dan mengaktifkan speaker sesuai permintaan Queen.
"Berhati-hatilah, saat ini kau ada di sarangnya." ucap Louis yang membuat jantung mereka semua langsung berdetak dengan cepat. Setelah mengatakan itu Louis langsung menutup teleponnya.
"Dia bilang aoa barusan?" tanya Zerga memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Dia bilang kita ada di sarangnya." jawab Aiden dengan serius.
"Hati-hati! Pasti banyak jebakan disini!" ucap Queen sambil memperhatikan sekelilingnya.
Krasak.. Tiba-tiba terdengar suara dari semak-semak. Mereka berlima saling mendekat dan melindungi Queen. Bagaikan seorang putri, Queen ada ditengah-tengah dilindungi oleh Regan, Aiden, Arthur, dan juga Zerga.
Aiden, Arthur dan Queen sudah mengeluarkan pistolnya. Sedangkan Regan dan Zerga bersiap dengan tangan kosong karena mereka tidak membawa senjata apapun.
Prok! Prok! Prok! Seorang gadis berpakaian serba hitam, dengan anting bunga Wolfsbane dan juga masker yang terpasang di wajahnya keluar dari semak-semak sambil bertepuk tangan.
"Hebat... bagaimana secepat ini kalian menemukan tempat persembunyianku hm?" tanya sang pelaku.
"Apa tujuanmu melakukan semua itu?! Kalau kau membenciku kau bisa langsung membunuhku tanpa menyakiti mereka yang tidak bersalah!" teriak Queen dengan amarah menggebu-gebu.
"Oh tidak bisa. Aku melakukan semua ini demi saudaraku yang kehilangan ingatan karena kecerobohanmu!" jawab sang pelaku sambil melemparkan pisau ke arah mereka. Jleb! Dan pisau itu tepat mengenai perut Arthur.
"Ukh!"
__ADS_1
"ARTHUR!!!"
Arthur langsung ambruk, tubuhnya disangga oleh Queen dan juga Zerga. Arthur hendak mencabut pisau yang ada di perutnya tapi Queen segera menghentikannya. "Jangan! Itu malah akan memperparah lukamu!" cegah Queen.
"Percuma, mau kau mencabut pisau itu atau tidak kau akan tetap mati." sahut sang pelaku sambil memainkan jari-jarinya.
"Apa maksudmu?!" tanya Aiden dengan nada tinggi karena emosi.
"Ujung pisau itu sudah aku olesi dengan racun bunga cantik itu. Jadi percuma saja. Dia pasti mati." jawab sang pelaku dengan santainya.
Disaat-saat menegangkan seperti ini Regan yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka suaranya. "Stella..." ucap Regan tiba-tiba yang membuat semua terkejut.
Prok! Prok! Prok! Lagi-lagi gadis itu bertepuk tangan. "Sepertinya gadis itu sangat dekat denganmu dokter Regan." kata sang pelaku sambil membuka maskernya.
"Ba-bagaimana bisa?!!" Zerga langsung berdiri setelah melihat wajah sang pelaku.
"Stella ada di rumah sakit sedang membantu tim dokter bedah. Lalu kau..." Regan tidak melanjutkan kalimatnya
Gadis itu berdecak sebal. "Aku Stella. Gadis bodoh yang menyukaimu itu Starla. Saudara kembarku yang kehilangan ingatannya gara-gara detektif sialan itu." ucap sang pelaku.
"ARTHUUURRR!!!" tiba-tiba Queen berteriak histeris membuat semua menoleh ke arahnya. Gadis itu menangis sambil memeluk Arthur yang sudah tidak bernyawa.
Aiden menundukkan kepalanya sebentar untuk menundukkan tanda duka. Setelah itu dia berbalik melihat ke arah Stella dan mengarahkan pistolnya kepada gadis itu.
DORR!!
"Tidak semudah itu." ucap Stella yang berhasil menghindar dari tembakan Aiden.
"Fuckk!!" Regan yang jarang sekali mengumpat akhirnya mengeluarkan kata kasar itu dari bibirnya. Dokter muda itu merebut pistol di tangan Aiden dan menembakkannya berulang kali ke arah Stella. Tapi sialnya gadis itu masih bisa menghindar.
"Sudah selesai? Sekarang giliranku." ucap Stella sambil mengeluarkan senyum miringnya. Tangannya merogoh saku. Ketika mengeluarkan tangannya sudah terpasang cincin dilengkapi mata pisau di jari-jarinya.
"Apa ini?! Kenapa lenganku tidak bisa bergerak?!" desis Zerga sambil berusaha menggerakkan tangannya.
"Diamlah, racun yang ada di mata pisau itu membuat lengan kita lumpuh. Jika semakin bergerak, racun akan menyebar dengan cepat menuju jantung. Kau ingin jantungmu lumpuh?!" tanya Regan dengan ekspresi serius.
"Wahh, rupanya dokter ini tidak hanya terkenal karena wajah yang rupawan. Tidak heran gadis bodoh itu menyukaimu." ucap Stella.
"Diam!"
Sekarang hanya tersisa Queen dan Regan. Aiden dan Zerga sudah ambruk ke tanah karena racun sudah mulai menyebar.
"Baiklah, sekarang tersisa dua orang."
"Kau bisa membunuhku jika kau memang membenciku. Tapi jangan sakiti mereka." ujar Queen dengan suara yang bergetar.
"Tapi melihat raut wajah putus asa orang yang akan mati itu sangat menyenangkan." jawab Stella dengan santainya. "Kau tahu? Owner perusahaan minuman itu adalah aku. Aku yang membunuh mereka semua. Termasuk Javas Schaefer yang ku habisi dirumah sakit Edelstein." ucap Stella membeberkan semuanya.
"Gila.." desis Queen.
"Tapi perlu kau tahu, bukan aku yang membunuh ibumu. Aku hanya meniru caranya. Orang yang membunuh ibumu adalah kerabatmu yang aku habisi beberapa hari yang lalu kau harus berterimakasih padaku." kata Stella memberitahu. "Ah iya satu lagi. Starla tahu semua yang aku lakukan. Ingat hari dimana Dokter Regan mengadakan pesta kecil? Starla dan aku ada disana. Tapi gadis bodoh itu malah pergi duluan membuat kekacauan di makam ibumu dan rencanaku untuk membunuh kalian gagal." katanya lagi.
Tangan Queen bergetar hebat mendengar apa yang dikatakan oleh Stella. Sedangkan Regan hampir tidak bisa percaya dengan apa yang dia dengar hari ini.
"Sekarang dia tidak tahu aku disini. Jadi aku bisa menghabisi kalian semua hari ini." ujar Stella sambil menodongkan pistol ke arah Regan. Tapi Queen beranjak dan pindah ke depan Regan untuk melindungi laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Regan.
"Aku tidak ingin kehilangan lagi." jawab Queen dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Baiklah, mungkin urutannya memang harus berubah." guman Stella.
Ketika gadis itu hendak menarik pelatuknya. Tiba-tiba seorang gadis datang dan menghentikan aksinya.
"Kakak!"
Itu adalah Starla yang datang dengan air mata berlinang diikuti beberapa polisi. "Hentikan... aku sudah muak. Kau sudah membunuh banyak hanya gara-gara aku." ucap Starla. "Kak... taruh pistolnya."
Stella diam. Dia masih mengarahkan pistol itu ke arah Regan dan juga Queen. Tapi matanya memperhatikan apa yang dilakukan adiknya.
"Baik kalau itu yang kakak mau." Starla mengambil sebuah pistol yang ada di saku polisi dan mengarahkannya ke kepalanya sendiri. "Bunuh mereka, dan kau akan melihat adikmu mati hari ini juga." ucap Starla mengancam kakaknya.
Tak. Stella langsung menjatuhkan pistolnya. Mau bagaimanapun dia sangat menyayangi adiknya. "Jatuhkan pistol itu." perintah Stella.
Starla menjauhkan pistol itu dari kepalanya tapi tidak menjatuhkannya. "Ikutlah dengan polisi." pinta Starla sambil memalingkan wajahnya. Sedangkan Stella hanya menurut.
Ya, Starla adalah kelemahannya. Dia tidak bisa menolak jika itu Starla yang meminta. Sebelum masuk ke mobil polisi Stella berbalik menatap Regan dan juga Queen. "Dokter Regan. Gadis didepanmu itu adalah orang yang selama ini kau cari." ucap Stella kemudian baru masuk ke mobil polisi.
*
Setelah itu Aiden dan Zerga dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sedangkan Queen dan Regan segera memakamkan Arthur.
Air mata Queen kembali menetes ketika melihat foto Arthur yang ada di dalam kotak kaca berisi abu. "Dia sempat bilang menyukaiku sebelum pergi." ucap Queen.
"Kau juga menyukainya?" tanya Regan.
"Tidak. Dan karena itu aku merasa bersalah." jawab Queen sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu merasa bersalah. Kau tetap menyukai dan menyayanginya sebagai sahabatmu." sahut Regan sambil mengelus kepala Queen.
"Bagaimana dengan Starla?" tanya Queen tiba-tiba.
"Ah, dia keluar dari rumah sakit dan pergi ke luar negeri bersama pamanku." jawab Regan.
Queen menghela napasnya. "Aku sudah mengingat semuanya." ucap Queen tiba-tiba.
"Maksudnya?"
"Aku memang gadis yang kau cari selama ini. Aku ingat semua kenangan kita. Maaf aku sempat melupakan semua itu." ujar Queen sambil memeluk Regan.
Regan tersenyum tipis. Dibalasnya pelukan gadis kecilnya itu. Gadis yang selama belasan tahun dia cari. "Aku merindukanmu." bisik Regan.
"Aku masih sahabatmu?" tanya Queen.
"Em, mau naik pangkat?" Regan malah bertanya balik.
"Naik pangkat?"
"Dari sahabat naik pangkat menjadi kekasih." jawab Regan. Yang langsung membuat Queen tersipu malu.
"Terserah kau saja." sahut Queen malu-malu.
"Baiklah, mulai sekarang Ayesha Queen Stephanie adalah kekasih dari Dokter terkenal Regan Arfralio Calderith!" seru Regan.
"Diamlah!"
Regan tertawa melihat reaksi menggemaskan Queen. Dia berharap bisa seterusnya bahagia seperti ini hingga ajal menjemput mereka.
...__TAMAT__...
__ADS_1