
Setelah kejadian malam itu. Mereka tiga bersahabat bersama dengan Arthur pergi ke rumah Regan untuk membicarakan semua masalah yang saling berkaitan dengan kasus-kasus ini. Terutama mereka fokus dengan nama mereka yang ada di dalam daftar korban selanjutnya.
"Apa maksud dari pelaku melakukan semua ini?!" geram Arthur.
"Membalas dendam." sahut Zerga dengan tatapan serius menatap ke arah daftar nama yang di dapatkan Aiden tadi.
Semua berkumpul mendekat ke arah Zerga. Sekalipun lengan dan juga telapak tangannya terluka cukup parah, tapi Zerga masih terlihat santai menggerakkan tangannya. Seolah-olah tidak merasakan sakit.
"Menurut yang kau bilang, semua orang di daftar ini adalah orang-orang yang dekat dengan Queen." kata Zerga. "Tapi tidak, mereka juga orang yang ada di dekat orang yang dekat dengan detektif Queen." sambungnya lagi.
Arthur mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan kalimat Zerga. Sedangkan Aiden yang memang kesabarannya setipis tisu dibagi dua lalu dicelupkan air langsung menoyor kepala sahabatnya itu.
"Ngomong jangan belibet!" semprot Aiden yang langsung disambut tawa oleh Regan.
Zerga tertawa kecil sambil mengelus kepalanya yang ditoyor oleh Aiden.
"Aku mengerti maksud dari perkataan Zerga. Mudahnya begini, aku dekat dengan detektif Queen. Maka aku jadi targetnya juga. Lalu kenapa Zerga yang tidak terlalu dekat dengan detektif Queen juga ikut kena imbasnya? Karena Zerga dekat denganku." ujar Regan menjelaskan lebih rinci perkataan Zerga yang ribet tadi.
"Tapi kenapa namamu malah ada di urutan akhir? Bukannya kau yang paling dekat dengan Detektif Queen?" tanya Zerga.
Dan lagi-lagi hal itu membuat Aiden emosi, dan kembali menoyor kepala sahabatnya itu sambil mendengus kesal. "Tidak peduli nama kita di awal atau akhir, yang jelas kita semua dalam bahaya!" semprot Aiden.
Regan menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya yang sedang bertengkar. Dokter tampan itu mengalihkan pandangannya kepada Arthur yang mengamati daftar nama di atas meja. Melihat ekspresi detektif muda itu, Regan mendekat dan kembali ikut melihat daftar nama.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Regan.
Arthur diam sebentar lalu menjawab. "Ini belum pasti, tapi entah kenapa aku merasa dua nama terakhir adalah kunci dari semua kasus ini." ucap Arthur sambil menunjuk nama dokter yang ada di depannya dan juga rekan kerjanya yang sekarang terbaring lemah di rumah sakit. "Seolah nama-nama sebelum anda dan Detektif Queen itu hanya pengalihan." sambungnya lagi.
__ADS_1
Regan terpaku mendengar penuturan itu. Benar juga yang dikatakan oleh Arthur. Jika dilihat dari yang paling dekat dengan Queen harusnya Arthur yang ada di dekat Queen. Tapi namanya malah ada di dekat Queen.
"Pelaku mungkin menilai kau lebih dekat dengan Queen daripada Arthur." sahut Aiden.
"Hm, aku setuju. Pola pembunuhan berantai yang aku lihat di film biasanya begini. Yang paling akhir adalah tokoh utama." timpal Zerga.
"Baiklah, lalu sekarang bagaimana?" tanya Arthur yang seketika membuat suasana menjadi sangat hening. Bahkan hembusan napas pun bisa terdengar saking sepinya.
"Sepertinya kita perlu menunggu detektif Queen bangun." jawab Regan, tapi langsung dibantah oleh Aiden.
"Tidak!" sahut Aiden dengan cepat. Aiden mengalihkan tatapannya kepada Zerga yang duduk di sofa. "Kau bilang tadi membalas dendam? Jelaskan lebih rinci lagi!" perintah Aiden dengan wajah yang sangat serius.
Zerga bangkit dari duduknya lalu melihat ke arah daftar nama. "Sebelum gadis itu menyerangku, dia sempat bilang ingin membalas dendam kepada Queen melalui orang-orang terdekatnya." tutur Zerga. "Berarti Queen punya salah kepada gadis itu." imbuhnya lagi.
"Sekarang yang menjadi pertanyaan, siapa saja musuh Queen? Atau orang-orang yang tidak menyukai Queen?" tanya Regan kepada Arthur.
"Kau yakin? Tidak ada yang paling menonjol diantara banyaknya orang yang membenci Detektif Queen?" tanya Aiden.
Arthur terdiam. Dia baru sadar melewatkan sesuatu. "Sepertinya ada satu lagi, tapi siswi itu sudah meninggal." jawab Arthur.
"Ceritakan lebih detail!" perintah Regan, Zerga, dan Aiden bersamaan.
"Waktu itu Queen tidak sengaja melihat sepasang kekasih melakukan hal yang tidak senonoh di gudang sekolah. Memang watak Queen yang jujur dan keras, dia melaporkan itu ke pihak sekolah dan mereka berdua di keluarkan dari sekolah. Entah bagaimana kronologinya, sehari setelah dikeluarkan dari sekolah siswi itu ditemukan tewas dengan gantung diri di gudang tempat mereka melakukan hal tidak senonoh. Sedangkan yang laki-laki ditemukan tewas tidak jauh dari gudang dengan kondisi mengenaskan." jawab Arthur dengan jujur.
Aiden manggut-manggut mengerti setelah mendengar cerita detektif juniornya itu. Karena kasus yang diceritakan Arthur itu, dia sendiri yang menangani dan menutup kasus tersebut dengan kesimpulan bahwa siswi membunuh siswa yang merebut paksa mahkotanya lalu bunuh diri.
"Siapa nama siswa dan siswi itu?" tanya Zerga.
__ADS_1
"Diaz dan Valley." jawab Aiden yang masih ingat betul nama dua murid tersebut.
"Sepertinya kita bisa mendapatkan petunjuk setelah mendatangi keluarga mereka berdua. Besok aku akan mengambil cuti, kau bisa ikut kalau mau." ajak Regan sambil menatap Zerga.
"Tentu saja aku ikut, lagipula tidak mungkin aku bekerja dengan kondisi tangan seperti ini." sahut Zerga sambil menunjukkan tangannya yang diperban.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa pengunjung rumah sakit tidak heboh melihat anda luka-luka seperti itu?" tanya Arthur yang merasa agak heran.
"Mereka tidak melihatku terluka. Karena aku dari rooftop langsung ke ruang pribadi Regan. Dan ruangan pribadi Regan jauh dari pengunjung." jawab Zerga yang diangguki oleh Regan.
Aiden mengambil daftar nama itu lalu menatap semua sahabatnya. "Selanjutnya adalah kau. Untuk berjaga-jaga lebih baik kau tinggal di rumah Regan untuk sementara waktu." ucap Aiden.
Zerga tadinya hendak menolak, tapi dirinya tidak bisa menolak setelah mendapatkan tatapan tajam seorang Regan yang amat sangat jarang dikeluarkan.
"Tinggal disini untuk sementara waktu!" perintah Regan.
Setelah itu Aiden dan Arthur pamit pergi dari rumah Regan. Aiden pergi ke kantor polisi membawa bukti berupa daftar nama korban itu, sedangkan Arthur kembali ke rumah sakit untuk menjaga Queen.
Sekarang Regan dan Zerga berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing.
"Ga.." panggil Regan.
"Apaan?"
"Menurutmu mungkin nggak sih urutannya berubah?" tanya Regan yang langsung membuat jantung keduanya berdetak dengan cepat memilikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
...***...
__ADS_1
...Bersambung......