The Detective Love Story

The Detective Love Story
Otot Senyum


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusan mereka di rumah detektif Louis, mereka kembali ke kota dengan membawa sketsa seseorang gadis. Sayangnya sketsa itu hanya sketsa belakang tubuh gadis itu. Mereka sulit menerka siapa gadis yang dimaksud hanya dengan sketsa itu.


"Bisakah kau mengantarku ke makam mama?" tanya Queen tiba-tiba.


"Tentu, dimana makam mamamu?"


"Di pemakaman pohon xx" jawab Queen.


Regan melajukan mobilnya ke makam yang dimaksud oleh Queen. Queen sudah menyuruhnya kembali ke rumah sakit terlebih dahulu, tapi Regan tetap ikut Queen ke makam mamanya. Mereka mendoakan mamanya Queen bersama disana.


"Kau tidak terlambat datang ke rumah sakit jika tetap bersamaku seperti ini?" tanya Queen.


Regan tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku mengambil 1 hari liburku. Dalam setahun aku mendapatkan cuti selama 7 hari. Dan aku memakai 1 hari untuk menemanimu hari ini." jawab Regan.


Queen manggut-manggut mengerti. Gadis itu terdiam. Seolah-olah ragu untuk mengatakan hal yang menggangu pikirannya. Queen menatap Regan dengan tatapan tanda tanya.


Melihat hal itu, Regan inisiatif bertanya kepada Queen. "Ada apa? Sepertinya ada yang ingin kau katakan?" tanya Regan.


Queen mengangguk dengan cepat. "Hm, banyak. Kalau hari ini kau punya waktu aku ingin menghabiskan pertanyaan itu hari ini." jawab Queen.


"Baiklah, ayo cari tempat untuk berbicara." ajak Regan.


Mereka kembali ke mobil dan pergi ke sebuah cafe, dimana cafe itu menyediakan ruang VIP untuk tamu-tamu yang ingin mendapatkan pelayanan lebih dan privasi yang lebih terjaga. Mereka memesan ruangan tersebut.


"Cukup nyaman bukan bicara disini?" tanya Regan.

__ADS_1


"Apa ini tidak berlebihan?"


"Tidak, karena aku juga ingin mengatakan sesuatu." jawab Regan. "Jadi? Apa yang ingin kau tanyakan?" tanyanya kemudian.


Queen diam sebentar. Gadis itu menatap Regan. "Tidak, aku hanya merasa aneh. Kita baru saja saling mengenal ketika aku memeriksakan penyakitku tempo hari. Tapi kau bahkan mau meluangkan waktumu untuk menemaniku seperti ini. Kenapa kau mau melakukan itu?" tanya Queen.


Gadis itu diam lagi, tapi Regan tidak mengatakan apa-apa karena tahu Queen masih akan berbicara lagi.


"Detektif Senior Louis juga mengatakan kau ada hubungannya dengan semua kasus-kasus ini. Bahkan mungkin kau juga bisa menjadi korban. Aku ingin tanya bagaimana bisa kau berhubungan dengan semua ini sedangkan kita saja baru kenal?" tanya Queen lagi.


Regan tersenyum tipis. Lalu menjawab pertanyaan Queen. "Aku bersedia menemanimu karena kau temanku. Atau mungkin bisa dibilang sahabatku. Lalu, jika kau tanya apa hubunganku dengan semua ini padahal kita baru saja saling kenal. Aku juga tidak tahu akan hal itu." jawab Regan.


"Mungkin... kita pernah saling kenal sebelumnya?" tanya Regan.


"Aku tidak yakin. Sebenarnya dulu aku punya teman masa kecil namanya juga Queen. Dan aku berharap banyak dia adalah kau." ucap Regan penuh harapan.


Queen diam, gadis itu mengamati baik-baik wajah Regan. Dia berusaha mengingat-ingat apakah ada teman masa kecilnya yang seperti laki-laki di depannya ini. Tapi percuma, dia merasa tidak mengenal Regan saat masih kecil.


"Sepertinya bukan aku."


"Tidak peduli, sekalipun kau bukan dia. Kau tetap sahabatku bukan?" tanya Regan sambil mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Queen.


"Terserah kau saja." jawab Queen sambil memalingkan wajahnya yang memerah.


Regan tertawa kecil melihat reaksi Queen yang seperti itu. Dalam pandangannya gadis itu benar-benar imut, sekalipun wajahnya tetap datar.

__ADS_1


"Kau sudah selesai dengan pertanyaanmu?" tanya Regan.


"Tidak, satu lagi." jawab Queen dengan cepat. "Usiamu sudah 30 tahun bukan?" tanya Queen yang diangguki oleh Regan karena itu memang benar. "Jika usiamu 30 tahun, kenapa sikapmu masih seperti usia 20 an?" tanya Queen.


"Wajib. Bersikap seperti itu untuk membuatku selalu merasa senang, agar wajahku tetap tampan seperti anak SMA." jawab Regan sambil mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Queen langsung berdecak sebal menanggapi hal itu.


Mereka diam beberapa saat sambil meminum minumannya. Keheningan berakhir setelah Regan kembali membuka suaranya menanyakan perihal wajah Queen yang selalu terlihat datar. "Ngomong-ngomong, apa wajahmu memang selalu datar? Kau tidak pernah tersenyum?" tanya Regan.


Queen terdiam. Dahulu dirinya juga tidak seperti ini. Memang dia introvert. Tapi, dia yang dulu sangat ramah dan murah senyum. Sejak kematian ibunya yang menurutnya ada kejanggalan, tapi pihak polisi malah menganggapnya omong kosong dia mulai jarang terlihat tersenyum. Bahkan kepada Arthur saja, sejak kematian ibunya dia belum pernah menunjukkan senyumnya.


"Kau tidak ingin menjawab ku?" tanya Regan lagi.


"Aku sudah seperti ini sejak mama meninggal. Mungkin otot di wajahku ikut mati jadi tidak bisa senyum." jawab Queen sambil menyedot minumannya.


"Ah masa? Sini coba aku perbaiki." Regan beranjak dan pindah di sebelah Queen. Lalu di tangkupnya pipi gadis itu. Mata mereka bertatapan. Regan mulai menarik sedikit kedua sudut bibir Queen sehingga membentuk senyuman. "Bisa kan?" tanya Regan sambil menahan ibu jarinya tetap menarik pelan sudut bibir Queen.


Queen segera melepaskan wajahnya dari tangan Regan. Tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman tipis secara alami. Dan berhasil bukan? Regan berhasil membuat gadis itu tersenyum.


"Oke, ototnya sudah aku perbaiki. Sekarang tinggal di latih saja agar tidak rusak lagi." ucap Regan sambil mencolek pipi Queen.


"Sialan... kenapa wajahku jadi panas seperti ini?" batin Queen.


...***...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2