THE KING ALPHA : The Last Wolf.

THE KING ALPHA : The Last Wolf.
Malam Bulan Purnama Merah.


__ADS_3

“Apakah kau tidak bisa berjalan lebih cepat lagi, Nath?”


Suara itu terdengar gemetar, seolah merobek sunyinya malam yang begitu dingin. Tidak ada kendaraan, tidak ada kehidupan, yang sedikit saja sekadar memudarkan rasa takut yang mecengkam. Di distrik pancolini semuanya tampak begitu sepi, malam semakin memekat, dan angin terus berembus menembus tulang-tulang rusuk yang mulai lemah. Di sepanjang jalan tampak begitu lengang, seolah semua kehidupan di sana sudah punah. Hanya ada satu hewan yang terus mengeluarkan suaranya, menunjukkan betapa hebat dirinya, yaitu … serigala.


Malam ini, adalah malam paling istimewa bagi makhluk-makhluk yang tak kasat mata, tentu saja bagi sebagian sekte-sekte atau dongeng pengantar tidur bagi balita-balita di seluruh dunia. Malam bulan purnama merah, yang seolah menjadi saksi bisu atas bangkitnya satu kehidupan yang tidak pernah bisa terlekkan. Langit tampak begitu senyap, bintang-bintang seolah enggan menampakkan diri, awan-awan tidak muncul sama sekali, yang ada hanyalah rembulan yang terasa begitu besar dengan bentuk bundar sempurnanya, berwarna …semerah darah.


Dulu, kabarnya ketika bulan purnama merah muncul. Tidak boleh ada satu manusia pun yang menampakkan diri, terlebih melihat si rembulan yang semerah darah. Siapa pun yang keluar rumah, siapa pun yang memandang bulan purnama merah, pasti akan mendapatkan kutukan. Hidup hanya di separuh bulan berikutnya, atau … mati mengenaskan diterkam manusia serigala. Satu mitos yang terus diyakini, oleh para penduduk kota itu, dan entah kenapa bahkan sampai detik ini, keyakinan atas mitos-mitos tersebut masih berjalan begitu saja.


Tidak ada bukti, memang. Tapi tidak ada juga satu orang pun yang ada di kota itu yang membantahnya. Bahkan sampai detik ini, setiap kali bulan purnama merah itu muncul, seluruh kehidupan seketika langsung lenyap begitu saja. Bahkan, bolam-bolam lampu yang biasanya menyala di sepanjang jalan sampai pagi, pun enggan untuk menyalakan diri.


Dan kini, dua remaja itu masih berjalan memunggungi bulan purnama merah yang seolah membuntuti mereka di mana saja. Bulan purnama merah yang begitu keduanya takuti sampai detik ini. Berjalan dengan cepat, sambil menundukkan wajah mereka dalam-dalam, adalah hal yang wajib mereka lakukan. Atau jika tidak, mereka akan mati dengan cara yang sangat mengenaskan. Ya, setidaknya itulah keyakinan mereka sekarang.


Dan bodohnya, keduanya bisa pulang larut malam, lupa akan pantangan di malam ini. Ketika mereka sadar, yang bisa mereka lakukan hanyalah, berjalan seperti dua orang bodoh, yang sedang menjemput kematian. Mengerikan, dan mecengkam. Kematian yang tidak akan pernah dihindari, kematian yang begitu mereka takuti, dan kematian itu … seolah mengikuti mereka ke mana pun mereka pergi.


“Nath, bisakah kau untuk berjalan lebih cepat lagi?” sentak pemuda berambut keriting itu, dia hanya berani melirik sahabatnya itu sekilas, dengan jalan cepatnya agar dia bisa segera sampai rumah. Ya, itu adalah tujuan dari pemuda itu.


Namun sialnya, sahabat yang terus dipanggil Nath, tampak terus berjalan tertatih. Kedua kakinya yang sedari tadi berjalan terlalu jauh, bahkan dia sendiri tidak tahu di mana gerangan sahabatnya itu berada.


Sementara itu, Nathan—sahabat dari pemuda gemuk berambut keriting berlari sekuat tenaga, bukan hanya satu atau lima meter jaraknya dari sahabatnya, melainkan puluhan meter. Dia berusaha mengejar sahabatnya tersebut, tapi kakinya sudah benar-benar terasa begitu lelah, hingga akhirnya kedua kakinya saling menginjak satu sama lain, dan ….


Brak!!!


Nathan terjatuh dengan sempurna, kedua telapak tangannya terasa panas dan juga perih terkena jalanan beraspal,, ya … Nathan yakin kalau lecet dan berdarah adalah hal yang sudah pasti dia dapatkan sekarang.

__ADS_1


“Bob, tunggu aku!” teriak Nathan.


Wajahnya sudah pucat pasi, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya dengan sempurna. Sebentar lagi dia akan menangis sekarang, dan Bobby—sahabat Nathan bahkan sudah berlari di ujung pandangannya.


Nathan hendak bangkit, lutut dan kedua telapak tangannya benar-benar tidak bisa digerakkan sekarang. Hingga sekelebat-kelebat kelelawar dan lolongan serigala membuat bulu kudu Nathan merinding dengan sempurna.


“Auuuuum! Arghh!”


Srek! Srek! Srek!


Brak! Brak!


Blum!


Apakah makhluk itu yang disebut dengan … manusia serigala?


Srak!!!


“Aaaah!”


Nathan langsung menoleh dengan sempurna, tatkala ia mendengar suara teriakan seorang perempuan. Ketika Nathan menoleh, dia baru sadar jika sebentar lagi rumahnya ada di ujung pandangan. Sebab sekarang dia berdiri tepat di samping hutan terlarang … Belisima. Sebuah hutan yang diyakini penduduk di kotanya, bukan, bahkan Negaranya sebagai hutan larangan yang paling angker di sana. Hutan Belisima memiliki sisi mistis yang sangat tinggi, sebab setiap ada pemburu atau orang yang dengan berani datang ke dalam area terdalam hutan sana, mereka langsung menghilang secara misterius. Tidak ditemukan lagi, atau bahkan kembali di tepi jalanan tinggal tulang belulang beserta pakaian mereka yang bahkan masih terlihat, baru. Tulang-tulang itu, bukanlah seperti tulang lama. Melainkan tulang yang seolah dari daging segar yang digigit oleh binatang buas. Tulang tersebut masih menyisakan darah dan beberapa daging segar, dan membuat siapa pun pasti akan memuntahkan isi perut mereka dengan sempurna. Itulah bagaimana mengerikannya hutan terlarang Belisima yang sampai detik ini tidak ada satu orang pun yang berani menjamahnya.


Konon banyak sekali keyakinan jika di pusat hutan itu ada kumpulan sekte sesat yang suka memakan manusia lainnya dan menjadikan manusia itu sebagai tumbal, dan kabar lain yang tak kalah mengerikan adalah, ada yang meyakini jika di inti hutan tersebut ada sebuah hutan yang tak kasat mata, di mana hanya orang tertentu yang bisa melihatnya, dan di dalam hutan tak kasat mata tersebut hiduplah para … manusia serigala.

__ADS_1


“Aaaah!” teriakan kedua kali, dan Nathan yakin jika teriakan dari arah hutan terlarang Belisima. Semak-semak di sana tampak bergoyang dengan kuat, dan beberapa bentuk bayangan-bayangan mengerikan mulai muncul di depan mata Nathan. Antara penasaran dan takut kini mulai menyelimuti hati Nathan.


“Aaaaah!”


Kedua tangan Nathan mencengkeram jalanan beraspal, dengan modal nekat dia pun langsung berdiri dan berlari masuk ke dalam hutan larangan Belisima. Dia memejamkan matanya menerjang semak-semak di depannya hingga hening mulai menyelimuti indera pendengarannya dengan sempurna.


Apakah ini sebuah jebakan?


Nathan menebarkan pandangannya, dia terus menyapu seluruh sudut dari hutan larangan Belisima. Semua bayangan-bayangan yang sedari tadi membuatnya ketakutan tidak ada sama sekali, yang hanya adalah kesunyian dan rasa ketakutan yang kembali menyelimuti Nathan. Suasana hening, mecengkam, angin mulai berembus begitu dingin memeluk leher belakang Nathan dengan begitu erat, tidak ada pencahayaan apa pun, tapi rembulan purnama semerah darah seolah menjadi bolam raksasa yang menggantung dengan begitu nyata. Nathan kembali menelan ludahnya dengan susah, kakinya perlahan mundur dengan sempurna.


Cklek.


Sial! Batin Nathan, dia tak sengaja menginjak sebuah ranting, sehingga suaranya seolah memenuhi seluruh penjuru hutan. Nathan hendak membalikkan badannya, hingga matanya menangkap sosok yang meringkuk di salah satu pohon terbesar di sana.


Nathan mencoba untuk mewaraskan pikirannya, hingga pada akhirnya sosok itu memandangnya begitu nyata. Sosok manusia, berambut panjang, dan Nathan menebak jika manusia itu adalah wanita dari suara teriakannya.


Apakah wanita itu manusia yang akan menjadi korban?


Nathan mencoba melangkah mendekat, sosok itu semakin ketakutan, memeluk kedua lututnya dengan tubuh bergetar hebat, hingga akhirnya Nathan tertegun.


Cantik, mata sebiru safirnya membuat Nathan terpana. Untuk sesaat Nathan terdiam, kemudian Nathan berjongkok dengan sempurna.


“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya, tapi sosok yang ketakutan itu tak menjawab. Sosok itu hanya memandang Nathan tanpa bersuara. Nathan kembali diam lagi kemudian, hingga matanya menangkap luka yang cukup parah para lengan wanita itu. Dengan berani, Nathan hampir menyentuh sosok itu lalu tiba-tiba ….

__ADS_1


Brak!!!


__ADS_2