THE KING ALPHA : The Last Wolf.

THE KING ALPHA : The Last Wolf.
Sebuah Tanda Aneh.


__ADS_3

“Jadi, bagaimana malammu? Bukankah Mom sudah memberitahumu jika kau harus pulang sebelum jam delapan malam, Nathan?”


Nathan yang baru bangun tidur dan duduk di meja makan dengan wajah bantal dan rambut pirangnya yang berantakan itu pun menguap, menggaruk rambutnya dan setelah itu mencium jemari yang baru saja ia kenakan untuk menggaruk kulit kepalanya tersebut, ada banyak ketombe, dan minyak yang membuat kulit kepalanya gatal, dan baunya pun menjadi tidak begitu sedap sama sekali kalau tidak rajin keramas, menjadi kepalanya terasa gatal, itulah yang dirasakan oleh Nathan sekarang. Dia hendak mengambil roti bakar, yang baru saja disiapkan oleh ibunya setelah diberikan selai stobery kesukaannya, tentu saja.


“Apakah kau ingin makan dengan tangan kotormu itu?” kesal ibunya, memukul punggung tangan Nathan, dan berhasil membuat Nathan menarik tangannya, mengelus punggung tangannya yang terasa sakit. “Mandi dulu, setelah itu sarapan, Mom akan membuatkan sandwich untuk bekal makan siangmu nanti di kampus,”


“Apakah aku bayi, Mom?” gerutu Nathan, ibunya hanya memutar bola matanya dengan jenggah, kemudian dia kembali memandangi putranya yang sudah berjalan malas menuju kamar mandi tersebut.

__ADS_1


“Katakanlah kepada Mom, semalam kau ke mana saja sampai pagi sekali baru pulang, Nathan? Apa kau tidak tahu semalam itu malam apa? Bulan purnama merah dan hal itu di sini tidak boleh sama sekali ada satu orang pun yang boleh keluar dari rumah. Melihatmu bisa berdiri di sini membuat Mom sangat bersyukur dan menganggap semua itu adalah keajaiban!” kesal ibunya.


Nathan hanya tersenyum tipis, kedua kakinya yang hendak menaiki anak tangga itu pun terhenti, melihat ibunya khawatir tentunya Nathan paham betul apa yang telah dirasakan oleh ibunya semalam.


“Aku akan baik-baik saja, Mom. Kau jangan cemas, oke. Bukankah kau tahu jika aku sudah besar sekarang? Aku seorang mahasiswa dan tidak akan pernah ada satu orang pun yang berani menyakitiku, bahkan makhluk-makhluk yang Mom takuti pun tidak akan pernah bisa menyakitiku. Aku punya kalung ini, Mom, kau tahu,”


“Diamlah, jangan banyak bicara, Nathan! Apakah kau pikir kau bisa angkuh hanya karena kalungmu itu? Jika kalungmu hilang, apakah kau pikir bisa sesumbar itu?” kesal ibunya.

__ADS_1


Nathan hanya bisa menahan napasnya dengan sempurna, bagai mimpi, bagai cerita dari novel-novel fantasi yang sering di abaca, bahkan seperti film yang bahkan semua itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Bagaimana bisa, semua hal yang terjadi kepadanya adalah hal yang paling tidak masuk akal sekarang ini?


“Apakah aku sudah gila? Ataukah aku masih tidur dan bermimpi sekarang?” pekik Nathan, mengucek matanya hingga bola mata abu-abunya itu kembali mengerjab dengan sempurna. Namun, benar luka itu sudah hilang adalah perkara yang tidak bisa diubah oleh siapa pun juga. “Atau mungkin, aku sedang berhalusinasi sekarang ini?” katanya lagi. Nathan kini terkekeh seperti orang gila, dia sama sekali tidak pernah menyangka jika hidupnya akan selucu ini sekarang. “Okey, aku rasa apa yang aku alami semalamlah yang mimpi, lukaku hanya mimpi, aku masuk ke hutan terlarang adalah mimpi, aku bertemu dengan seorang wanita cantik yang telanjang adalah mimpi, dan aku bertemu dengan sosok yang mirip manusia serigala juga adalah mimpi. Ya, itu benar, sepertinya aku harus segera mandi dengan air hangat agar otakku yang beku dan penuh dengan daya imajinasi ini lenyap begitu saja. Aku harus segera mencairkan otakku agar otakku bisa berfungsi lagi dengan baik dan benar,” kata Nathan, masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan shower air hangat dan mengguyur kepalanya dengan air hangat tersebut. Nathan kembali memejamkan matanya dengan sempurna, sebuah lintasan ingatan yang dia alami semalam membuat bulu kudu Nathan meremang. Nathan langsung membuka matanya lagi, pulpil mata abu-abunya menciut dengan sempurna seirama dengan napasnya yang terengah. Apa yang terjadi ini? Kenapa sebuah mimpi mampu membuat Nathan mulai ketakutan? Nathan bergegas keluar dari kamar mandi, lalu dia segera berganti pakaian dengan cepat dan memutuskan untuk segera sarapan dengan ibunya.


Di sisi lain, ada sepasang kekasih yang sedang menikmati hari-hari manis mereka. Berciuman tanpa henti di bawah sebuah pohon dan si wanita tampak terus meremas bokong si lelaki. Si lelaki pun sama, tidak mau kalah, dia terus mencoba menyelipkan jemari nakalnya di balik atasan si perempuan. Keduanya mulai menaburkan banyak gairah-gairah sensual pada adegan pagi hari yang sangat manis, sehingga membuat semua orang melihatnya adalah suguhan yang wajar. Ya, wajar, siapa yang tidak mengenal kedua sejoli yang telah jatuh cinta itu? Sejoli yang selalu melakukan tindakan panas di mana pun, dan kapan pun.


“Apakah kau iri dengan mereka? Jika iya, aku bisa menjadi partnermu dengan senang hati, Maria,”

__ADS_1


Maria, yang sedari tadi memandangi adegan erotis yang ada di ujung matanya berkali-kali begidik, kemudian dia memandang Ares yang sudah duduk manis di sampingnya. Tersenyum ramah kepada adiknya, dan menghapus pandangan adiknya dari pemandangan erotis yang tidak enak dilihat mata.


“Apakah Kakak gila? Bukankah kita adalah saudara? Bagaimana bisa Kakak menawariku adegan menjijikkan seperti itu?” kesal Maria. Berjalan menjauhi arena hutan, Maria kembali masuk ke dalam rumah, mengambil beberapa potong daging dari hewan buruan, kemudian melahapnya dengan cara yang sangat mengerikan. Melihat hal itu, Ares kembali tersenyum. Dia tahu, memang, jika sampai detik ini Ares belum memberitahukan jika takdirnya dan takdir Maria bukan hanya sekadar menjadi saudara, melainkan menjadi sepasang suami-istri.


__ADS_2