
Pagi ini Nathan hanya diam membisu sambil memandangi jendela kaca bus yang ditumpanginya. Sebuah airpods sudah menempel manis di kedua telinganya. Lantunan lagu hip-hop memenuhi indera pendengarannya, sehingga suara bising dari beberapa penumpang tidak mengganggu ketenangannya. Ya, Nathan hanya ingin sebuah ketenangan. Entah kenapa suara bising membuatnya tidak terlalu suka sekarang. Pohon-pohon, pantai, bahkan hingga gedung-gedung pencakar langit yang ia lewati tidaklah cukup baik sama sekali. Nathan benar-benar merasa bosan, semua pikirannya melayang begitu saja, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang untuk sekadar menenangkan hatinya. Ini adalah hari ini mana Nathan menjadi manusia, manusia normal karena kembali berkuliah, beberapa hari lalu yang dilakukan hanyalah menghabiskan uang akhir tahun yang diberikan ibunya untuk menjadi seorang pemuda keren. Pergi ke bar-bar setiap malam, mencoba minum-minuman keras bahkan hingga dia dicekoki sampai mabuk, atau bahkan menjadi bahan pelecehan seksual oleh beberapa teman-temannya. Nathan tersenyum kecut, faktanya panggilan ‘cupu’ masih saja melekat pada dirinya. Padahal sudah berbagai hal Nathan lakukan agar dia dianggap dan bisa menonjol seperti teman-teman lainnya.
“Apakah melamun adalah pekerjaanmu sekarang, Bung?” sebuah sapaan berhasil membuat Nathan menoleh. Alexa—teman satu kampus Nathan, yang merupakan wanita yang didambakan Nathan. Bisa dibilang wanita cantik yang selalu tampil modis dengan rok mininya itu adalah teman wanita Nathan, keduanya sudah sering menghabiskan waktu bersama-sama ketika mereka ingin. Ya, keduanya memang sudah seintim itu.
Alexa kini duduk di samping Nathan, kemudian mencium pipi Nathan sekilas. Banyak yang mengatakan jika, si cupu terlalu beruntung mendapatkan Alexa, tapi bagi Nathan untuk menjadi ‘pacar’ Alexa sepertinya sangat jauh. Meski mereka sering menghabiskan malam bersama, meski keduanya seling berciuman dan selalu mengumbarkan kesemesraan. Namun tetap saja, Nathan merasa jika Alexa terlalu tinggi untuk digapai dan mungkin Alexa mau dengannya hanya karena Alexa merasa bosan dengan pemuda-pemuda kaya. Meski Nathan sendiri tidak menampik jika dirinya benar-benar berharap jika Alexa mau memandangnya meski itu hanyalah sebuah pandangan yang mungkin semu dan tidak akan menjadi kenyataan.
Alexa mengambil salah satu airpods milik Nathan, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nathan dia pun memejamkan mata. Nathan yang masih bersikap kaku memandangi Alexa dengan diam. Semua pasang mata yang berdiri di bus itu tampak memandang Alexa dan Nathan dengan tatapan aneh mereka. Tapi mereka sama sekali tidak mengatakan apa pun, dalam hati mereka seolah bertanya, lelucon macam apa yang terjadi ini.
“Apakah kau tak merasa jika semua orang sedang memandang ke arah kita, Alex? Sepertinya kita telah menjadi bahan tontonan sekarang,” gumam Nathan. Alexa hanya menarik sebelah alisnya, matanya masih terpejam dan dia masih tak peduli.
“Mungkin mereka iri, karena melihat kita begitu serasi,” jawab Alexa. Nathan mengulum senyum mendengar hal itu, hingga akhirnya bus yang dikendarai tiba-tiba berhenti begitu saja. Semua orang menjerit dengan sempurna, baik Nathan dan Alexa langsung mengambil posisi tegap, keduanya melihat ada seekor serigala yang menyeberang dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menabrak bus yang ditumpangi oleh Nathan.
“Sial! Kenapa ada serigala di sini, dan di siang bolong pula!” umpat supir bus tersebut. Dia agaknya kesal melihat serigala itu berlari dan nyaris dia tabrak.
“Apa kau lupa jika semalam adalah malam purnama merah? Kabarnya jika keesokan harinya kita melihat serigala liar seperti ini, maka salah satu di antara kita akan menemui … ajal.”
Semua orang yang ada di dalam bus itu pun langsung panik, bahkan tak berapa lama dari ucapan seorang wanita misterius dengan mengenakan hodie warna hitam itu, beberapa wanita tua yang ada di dalam bus itu sama-sama berteriak histeris. Mereka langsung mencakar kaca bus sehingga menimpulkan bunyi yang sangat nyaring, bahkan ada yang kebetulan kukunya pancang tampak patah dan berarah. Melihat jika semua keadaan sudah tidak kondusif seperti itu, semua orang yang ada di sana pun ketakutan setengah mati, merekalangsung menjerit ketakutan, keluar dari dalam bus dan berhamburan keluar.
__ADS_1
Hanya terisa beberapa wanita tua yang masih menjerit ketakutan, dan dengan wanita mengenakan hodie serta … Nathan dan juga Alexa.
Alexa sudah begitu ketakutan, dia terus menggenggam tangan Nathan dengan begitu erat.
“Apa … kita masih harus di sini, Nath? Demi Tuhan semuanya benar-benar tampak tidak aman,” kata Alexa, tapi Nathan masih diam. Dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi di depan matanya itu.
“Apakah ini mimpi?” gumam Nathan dengan bodoh.
“Kau gila!” kesal Alexa, dia langsung berlari dan berhasil membuat Nathan ikut berlari keluar dari bus tersebut. Tak berapa lama, kabut tebal mulai menguasai bus tersebut, lalu ….
Daarr!!
“Kita harus pergi, Nath,” ajak Alexa, yang enggan terus berada di sana, sementara Nathan seolah masih enggan pergi. Hingga akhirnya Alexa dibuat kesal oleh sikap Nathan yang benar-benar aneh tersebut. “Apakah kamu masih ingin berdiri di sana dengan bodoh? Apakah kamu tidak ingin ikut denganku dan apakah kamu ingin mati bersama dengan semua orang yamg tidak masuk akal itu?” kesal Alexa.
Nathan akhirnya pun mengangguk, dia langsung bergegas untuk segera mengikuti langkah Alexa, masuk ke dalam taxi yang baru saja diberhentikan oleh Alexa kemudian mereka melesat pergi. Tak berapa lama, keduanya pun sama-sama sampai di kampus. Alexa sudah keluar lebih dulu dengan mimik wajah masamnya, Nathan yang merasa jika Alexa kini sedikit berlebihan pun mengejar langkah Alexa yang lebar-lebar.
“Bisakah kita luruskan masalah ini, Alexa? Demi Tuhan, aku sama sekali tidak berniat untuk membuat semuanya sulit dan membuatmu ketakutan sampai seperti itu, kau tahu?”
__ADS_1
Alexa menghentikan langkahnya, matanya memandang Nathan dengan bersungut kesal. Hingga akhirnya, ada sebuah mobil sport berhenti tepat di depannya, kemudian Alexa kembali memandang Nathan dengan sempurna. Sosok lelaki keluar dari mobil itu pun mendekat, membuat Nathan memandang sosok tersebut.
“Jack, kau tumben datang pagi?” tanya Nathan. Jack adalah salah satu sahabat dari Nathan tentu saja, mereka berdua sudah kenal sedari berada di bangku sekolah menengah dulu.
“Aku ingin menjemput kekasihku, Nath. Kenapa kau tampak kaget jika aku berangkat pagi?” ujar Jack percaya diri, Nathan mengerutkan keningnya. Kekasih Jack? Nathan tidak tahu sama sekali siapa kekasih Jack. Sahabatku benar-benar tidak cerita apa pun. Hingga akhirnya Nathan tertegun melihat kejadian yang ada di depamnya, kejadian yang membuat hatinya remuk redam dalam sesaat ya, ketika dia melihat Jack dan Alexa … berciuman.
“A … apa ini?” kaget Nathan. Alexa tidak menjawab apa pun yang ditanya oleh Nathan, sementara Jack tampak terbahak sambil memukul dada Nathan.
“Kenapa kau kaget seperti itu, Nathan? Ayolah, santai sedikit. Bukankah hal yang wajar jika sahabat merebut kekasih sahabatnya? Lagi pula, kau tak memiliki apa pun, kawan. Kamu cupu, kamu tidak terkenal, kamu tidak tampan, dan lebih dari itu kamu tidak kaya. Jadi, akan sangat rugi jika Alexa selalu bersamamu. Aku hanya membantumu membahagiakan dia, kau tahu,”
Setelah mengatakan itu, Jack langsung merangkul Alexa, keduanya langsung berjalan pergi, masuk ke dalam mobil mewah Jack dan hal tersebut berhasil membuat Nathan kesal bukan main. Kedua tangan Nathan mengepal kuat, dia menundukkan wajahnya dengan sempurna, rahangnya mengerasa dengan sempurna. Nathan ingin sekali mengejar Jack dan membuat perhitungan dengan sahabatnya itu. Namun tiba-tiba ….
“Jika kamu butuh kawan untuk balas dendam, aku bisa membantumu,”
Sebuah suara perempuan yang berhasil membuat Nathan mendongak dengan sempurna. Sosok perempuan berdiri di depannya, perempuan berambut pirang dengan mata biru safir yang berkilauan. Sosok itu adalah … perempuan yang ditemui Nathan di tengah hutan larangan malam itu.
“Kau?!”
__ADS_1
“Aku Maria, terimakasih telah menyelamatkanku malam itu, Nathan,” jawab wanita itu dengan mantab.