THE KING ALPHA : The Last Wolf.

THE KING ALPHA : The Last Wolf.
Mengunjungi Bobby


__ADS_3

Nathan berjalan dengan sempurna, dia mengabaikan semua hal yang mengerikan di sana. Dia sudah berjanji untuk tidak memikirkan apa pun, baik itu tentang masalah pribadinya atau pun tentang yang lainnya juga, ini adalah masalahnya, ini adalah hal yang tidak terpikirkan bahkan sampai kapan pun juga. Nathan mencoba menggelengkan kepalanya dengan sempurna, dia menundukkan wajahnya dengan sempurna, menarik tasnya dengan sangat nyata, tidak terpikirkan bahkan sampai kapan pun itu. Dia terus berjalan hingga menuju rumah Bobby. Di depan halaman rumah Bobby, Nathan menghela napas panjangnya dengan sempurna. Ini adalah hal yang tidak terpikirkan bahkan sampai kapan pun juga. Ini adalah hal yang tidak terbayangkan, ini adalah hal terburuk bahkan sampai kapan pun juga.


Lagi, Nathan menghela napas panjangnya lagi. Kemudian dia memandang pintu putih bernomorkan 37 tersebut. Apakah dia akan datang sambil bertanya dengan apa yang dilihat oleh Bobby? Ataukah dia hanya melakukan percakapan yang sederhana saja. Ini adalah hal yang tak terbayangkan bahkan sampai kapan pun juga, ini adalah hal terbaik yang pernah ada bahkan sampai kapan pun itu. Nathan menahan napasnya, kemudian menghembuskannya dengan sempurna. Dia harus masuk, dari pada dia harus berada di sini dengan pikiran yang paling mengerikan yang pernah ada. Sebuah hal yang tidak terpikirkan bahkan sampai kapan pun itu.


Tok! Tok! Tok!


Nathan pun mengetuk pintu, cukup lama pintu tak dibuka. Nathan tahu jika orang tua Bobby tidak ada di rumah di jam seperti ini, atau bisa dikatakan jika orang tua Bobby akan selalu berada di luar rumah dengan sempurna, dan akan datang ketika hampir tengah malam. Kedua orang tua Bobby adalah sosok pekerja keras, pegawa swasta di perusahaan yang cukup terkenal tentu saja. Itulah kenapa Bobby harus melakukan hal ini, sendirian dan selalu mengundang teman-temannya datang, menghabiskan sepanjang hari hingga malam untuk menonton atau melakukan apa pun. dan sekarang ketika Bobby setelah mengetahui kejadian itu, Bobby sendirian di rumah, bagaimana mana bisa Bobby menghabiskan hidupnya dengan baik dan benar.


“Bobby, apakah kau ada di rumah? Aku ingin mengunjungimu! Aku tahu jika kau kesepian di dalam rumah, Bobby!” teriak Nathan pada akhirnya. Ini adalah masalahnya, jika Bobby tidak mau keluar maka, sampai kapan pun juga Nathan tidak bisa membantu Bobby sama sekali.

__ADS_1


“Kau siapa? Apakah kau manusia? Ataukah kau ini adalah hantu?” teriak Bobby dari dalam.


Lega, mungkin itulah yang dirasakan oleh Nathan. Bagaimana tidak, setidaknya ini adalah kenyataannya, setidaknya ini membuktikan jika Boby dalam keadaan baik-baik saja.


“Aku Nathan, apakah kau pikir jika aku ini hantu? Ayolah, kau jangan gila, Bobby? Kau ini adalah manusia dan lelaki sudah besar sekali. bagaimana bisa di siang bolong seperti ini ada hantu? Kau gila!” kata Nathan.


Kemudian dia terdiam, mulutnya terkatup rapat dengan sempurna. Ini adalah masalahnya, ini adalah hal yang tidak terbayangkan bahkan sampai kapan pun itu. bagaimana tidak, sebab Nathan pun sudah bertemu dengan sosok yang bukan manusia, bahkan di pagi sampai siang bolong. Ini adalah hal yang tidak terpikirkan, ini adalah hal yang di atas normal bahkan sampai kapan pun juga, ini adalah masalahnya, ini adalah hal yang tidak terpikirkan bahkan sampai kapan pun juga. Ini adalah hal yang paling mengerikan yang ada di sini.


Nathan pun terjingkat kaget, dia sama sekali tak menyangka jika dia akan melihat sosok Bobby yang tiba-tiba membuka pintu seperti ini, wajah Bobby pucat seperti mayat, Bobby hanya membuka sedikit pintu sambil menyodorkan wajahnya saja. Ini adalah hal yang tidak terbayangkan, ini adalah hal yang tidak terpikirkan bahkan sampai kapan pun itu. sebuah hal yang membuat Nathan mengira jika Bobby adalah hantu berkulit pucat sama halnya seperti sosok yang dia temui, yaitu … Maria.

__ADS_1


“Ayo masuk, aku tidak mau berada di luar terlalu lama. Aku takut berada di luar, luar membuatku menggigil, aku tidak mau melihat langit, dan aku juga tidak mau melihat apa pun, aku takut melihat semua hal yang mengerikan sekali, Nathan.”


Nathan pun langsung menganggukkan kepalanya dengan sempurna, kemudian dia masuk ek rumah Bobby. Suasana di rumah Bobby sangat berantakan. Dia melihat di sofa depan TV tampak sangat mengerikan berbagai macam makanan siap saji yang dimakan dengan cara yang mengerikan, kemudian di bagian lainnya juga adalah hal yang tidak terpikirkan sampai kapan pun itu. Ini adalah hal yang tak terpikirkan bahkan sampai kapan pun.


“Kau … yang melakukan semua ini?”


“Tentu saja! Kau tidak tahu kalau beberapa hari ini Ayah dan Ibu tidak pulang? Aku di rumah sendirian, aku ketakutan dan hampir gila karena rasa takutku ini, aku berusaha untuk tidak memikirkan hal yang lainnya, tapi apa yang terjadi? semuanya tidak ada yang peduli denganku. Bahkan kau saja tidak datang mendekatiku sama sekali.”


“Apanya yang beberapa malam?” kesal Nathan pada akhirnya. Dia pun langsung meletakkan tas ranselnya di atas sofa, kemudian dia merapikan semua barang yang berserakan di sana, menyapu beberapa makanan dan semua tisu, serta melakukan hal lainnya agar ruangan tersebut bersih. Nathan melirik Bobby lagi yang kini melompat di atas sofa sambil menyelimuti dirinya sendiri, Nathan menghela napas panjangnya lagi dengan sempurna. “Bahkan kejadian itu baru saja terjadi dua hari lalu, kau sudah terlalu hiperbola dan mengatakan jika kejadian itu berlangsung lama dan kamu sangat menderita. Kenapa kamu tidak meneleponku agar aku bisa menemanimu? Kenapa kamu diam saja seperti orang bodoh dan bahkan dibandingkan dengan aku yang tetangga rumahmu, Roberto lah yang jauh lebih tahu keadaanmu dibandingkan aku. Apakah kau sudah gila? Apakah kau sudah kehilangan akal? Apakah kau sudah tidak waras sampai melakukan hal yang seperti ini?” kesal Nathan. Dia kemudian menghela napas panjangnya lagi, memasukkan sampah ke dalam kantong plastic, pergi ke luar dan menyenderkan sampah tersebut pada luar pagar rumah Bobby yang memang di sanalah tempat pembuangan sampai keluarga Bobby sebelum truk sampah mengangkutnya.

__ADS_1


“Maafkan aku, Nathan. Aku sama sekali tidak bisa berpikir dengan baik dan benar. aku sama sekali tidak pernah melakukan semua hal dengan baik. ini adalah masalahnya, ini adalah hal yang mecengkam. Kau tahu, kita sama-sama bersama lari menuju rumah dan kamu malah bagian terakhir dibandingkan aku kan? jadi, bagaimana bisa kamu tidak mengetahui itu semua? Aku sama sekali tidak mengerti, aku sama sekali tidak paham apa yang sebenarnya terjadi sekarang, apakah malam itu …” kata Bobby terhenti, wajahnya memandang Nathan dengan lekat-lekat. “Apakah malam itu kamu mengetahui sesuatu, Nathan?”


__ADS_2