The Last Umbra

The Last Umbra
10. Uno enemigo uno (Satu lawan satu)


__ADS_3

Note:


terjemahan tidak 100% akurat dan benar.


“K-kita mau kemana?” tanya Audrey dengan suara bergetar.


“Kalian akan tahu nanti,” ujar Professor Haffi.


Mereka terus berjalan di lorong sempit nan pengap itu dengan hanya bermodalkan cahaya dari ponsel.


“Jangan dorong-dorong, Jojo!” ketus Abel.


“S-sorry, terlalu gelap dan sempit, rasanya sesak,” cicit Jojo sembari menarik ujung baju Abel.


Abel mendengus. “Jangan tarik-tarik juga,” Abel berusaha melepaskan tangan Jojo yang menarik ujung bajunya. Bukannya menurut, Jojo makin mengeratkan cengkramannya.


“Gue nggak suka gelap,” gumam Jojo yang masih bisa di dengar oleh Abel.


“Ck, lemah,” ejek Abel.


Jojo meringis, baru kali ini ada orang yang berani mengejek dirinya tanpa rasa takut. Walaupun begitu, Jojo tak membalas ejekkan Abel dan memilih untuk mengeratkan cengkramannya.


“Ja-jalan sampe depan, kalo udah nggak gelap, baru gue lepasin.” Pinta Jojo dengan suara memelas.


Abel berdecak kesal, “Ck, beban banget sih jadi cowok,”


Haruna yang berjalan paling depan hanya bisa menggelengkan kepala. Ia juga tidak bisa percaya jika Jojo takut dengan gelap. Sepertinya ia membuat kesalahan lagi dalam menilai orang lain.


Setelah lima menit berjalan mereka tiba di sebuah ruangan besar dan terang. Sekeliling tempat itu di penuhi oleh rak buku tinggi dan juga berbagai senjata.


“Buset, besar banget tempat ini!” Heboh Galen sembari menatap sekeping tempat itu dengan ekspresi kagum.


“Dan lagi, senjatanya banyak banget!” pekik Abel tak kalah heboh.


“Liat! Bahkan kunai aja ada di sini,” pekik Anggi sembari mengangkat sebuah kunai yang tergeletak di atas meja ke udara dan mengamatinya. Entah sudah sejak kapan ia berada di sana.


Abel berdecak kagum, “gila, gue aja nggak tau di bawah akademi ada tempat seluas ini,”


“Ri, coba lo ke sini,” panggil Jojo yang tengah berdiri di depan sebuah lemari kaca yang besar.


Di dalam lemari itu bahkan terdapat senapan dengan selaras ganda dan juga berbagai jenis pisau.


“Oke, cukup. Simpan kekaguman kalian untuk nanti, tolong berkumpul di tengah ruangan dan berbaris!”

__ADS_1


Seru Professor Haffi dengan lantang.


“Prof, senjata ini boleh di bawa pulang nggak?” tanya Jojo yang tengah memperlihatkan sebuah pistol berkaliber 10.9 x33mmR pada Professor Haffi dengan mata berbinar-binar.


“Cukup, taruh kembali pistol itu,” tegas Professor Haffi.


“Professsor! Kalo yang ini boleh di bawa pulang nggak?” teriak Abel dari sudut ruangan sembari mengoyangkan sebuah pisau lipat ke udara.


Professor Haffi menampar keningnya. “Sudah cukup! Taruh kembali benda-benda itu dan berkumpul di sini!” titah Professor Haffi sembari mencoba mengontrol emosinya.


“Yeeh, Professor nggak asik,” cibir Rion.


Pipi Professor Haffi berkedut. Ia benar-benar sudah berada di ambang batasnya. Keputusannya untuk membimbing anak-anak yang berasal dari kelas Abnormal benar-benar sebuah kesalahan fatal.


“Tolong tenang dan biarkan saya berbicara sebentar. Setelah itu kalian boleh melakukan apapun yang kalian mau,”


Murid kelas Abnormal menurut dan mulai berkumpul dan membentuk barisan. Professor Haffi berjalan mendekat dan mengamati mereka satu persatu seolah sedang menilai.


“Baiklah, Abella maju dan serang saya,” ujar Professor Haffi.


Abel mengernyit, “professor yakin?” tanya Abel memastikan.


“Of course, kalau kamu bisa mengenai saya sekali saja, kamu boleh mengambil apapun yang kamu inginkan dari tempat ini,” terang Professor Haffi.


Professor Haffi mengangguk. “Namun, jika kamu gagal, saya akan memastikan kamu mendapatkan latihan berat, hal ini juga berlaku untuk kalian semua. Aturannya sederhana, serang saya dan dapatkan apa yang kalian inginkan. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, jika kalian tidak berhasil melukai atau pukulan kalian tidak mengenai saya, kalian akan mendapatkan pelatihan yang keras tanpa syarat, kalian mengerti?!”


“Ya, mengerti Prof!” jawab mereka serentak.


“Ayo maju, tunggu apa lagi?”


Professor Haffi berjalan ke tempat yang lebih luas dan menunggu Abel menyerang. Abel melepaskan jaket yang ia kenakan dan menyerahkannya pada Jojo dan berjalan dengan langkah santai ke arah Professor Haffi.


Mata Abel terlihat bagaikan binatang buas. Bersinar dan juga berbahaya. Langkah kakinya bahkan tidak memiliki nada, dengan wajah tenang Abel bergerak dengan cepat lalu melancarkan serangan dadakan.


Abel melayangkan sebuah pukulan keras namun berhasil di hindari oleh Professor Haffi. Abel melompat dan menendang dengan sekuat tenaga.


Namun, lagi-lagi gerakannya berhasil di hindari.


Abel makin gencar melayangkan serangan begitu menyadari tak satupun dari serangannya mengenai Professor Haffi. Abel mulai kehilangan ketenangannya dan menyerang dengan membabi buta.


“Gila! Gue nggak tau kalo Abel jago berantem,” Rion berkomentar. Matanya terus mengamati gerakkan Abel tanpa berkedip.


Haruna menyilangkan tangannya di dada dan menyeringai miring. ‘Gerakan yang tangkas dan gesit, sangat mengagumkan.’

__ADS_1


Napas Abel kian memburuk, matanya berkilat penuh kekesalan. Abel terbelalak saat sebuah serangan mengenai perutnya dan membuat dirinya jatuh berlutut.


“Akh! Sakit,” erang Abel sembari meremas perutnya.


“Oke, cukup. Saya akui kamu memang memiliki potensi, kerja bagus Abella,” puji Professor Haffi.


“Nggak usah muji, bikin kesel tau nggak? ” gerutu Abel. Keringat bercucuran di dahinya dan napasnya terengah-engah, benar-benar sebuah duel yang tidak seimbang.


‘Gue pikir gue udah cukup kuat, taunya cuma sekedar kuat aja.’


Abel tertawa dengan wajah muram. Ia terlalu tinggi hati dan bersikap tidak dewasa dan begitu percaya diri dengan kemampuannya. Namun siapa sangka kemampuannya itu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan kemampuan Professor Haffi.


“Oke, fine. Kali ini Professor menang, tapi saya nggak bakal nyerah gitu aja, saya akan balas penghinaan ini,” tekad Abel.


Professor mengangguk. “Saya tunggu. Oke, siapa lagi yang maju?”


Satu persatu murid dari kelas Abnormal mulai maju dan memperlihatkan kemampuan dan keahlian yang mereka miliki. Bahkan Ian dan Tomoya menyerang dengan segala kemampuan yang mereka miliki.


“Hah, gue nyerah, capek,” ujar Rion dengan napas ngos-ngosan.


“Gue juga,” imbuh Jojo yang sudah berbaring telentang di lantai.


“Gila! Nggak ada satu pun serangan yang kena,” seru Hairus sembari menyeka keringat di wajahnya.


“Hah, professor punya dendam apa sih?” keluh Anggi.


Haruna mengamati teman-temannya satu persatu dengan perasaan campur aduk. Kini hanya tersisa dirinya sendiri yang masih berusaha untuk menyerang Professor Haffi.


Professor Haffi terus menaikkan sikap waspadanya. Tubuhnya juga sudah di basahi keringat dan napasnya juga sudah terengah-engah.


Haruna melihat adanya peluang menggunakan kesempatan itu untuk menyerang, tanpa di duga serangannya mengenai bahu Professor Haffi membuatnya terhuyung ke belakang.


“Bagaimana bisa?” Professor Haffi berbicara dengan suara mendesis.


Professor Haffi seakan tak percaya dengan semua yang baru saja terjadi.


Ia tidak menyangka seorang murid berhasil melayangkan serangan dan tepat mengenainya.


Haruna tersenyum miring, “gimana prof? Kita udah layakkan?”


“Gila, Haruna berhasil woy!” heboh Jojo.


“Jangan teriak-teriak, lo pikir kita nggak ada mata buat ngeliat apa?” sarkas Meta dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Tanpa di duga Professor Haffi tertawa dengan suara yang cukup keras. Bahkan sampai membuat murid kelas Abnormal menatapnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.


__ADS_2