The Last Umbra

The Last Umbra
06. Mission Failed


__ADS_3

Ian terlihat tidak terima akan keputusan sepihak itu.


“Gue juga pengen ikut andil dalam aksi ini,” ujar Ian dengan suara serak.


Haruna mendengus, “Oke, Ian bakal gue tempatin di bagian siaga, tolong kabarin kalo ada hal yang mencurigakan,” putus Haruna.


“Oke, serahin aja ke gue,” jawab Ian yang terdengar meyakinkan.


“Dan untuk rute pelarian yang lain ....”


Rapat strategi itu berlangsung lebih lama dari yang di perkirakan. Setelah menemukan solusi di antara celah, mereka akhirnya setuju untuk melakukan pengintaian terlebih dahulu.


“Titik pertemuan kita ada di sini, apapun yang terjadi kalian harus tetap waspada dan saling melindungi,” terang Haruna sembari mengedarkan pandangannya pada teman sekelasnya.


“Dengan senang hati,” jawab Abel dengan nada suara yang terkesan bersemangat.


***


Di malam bulan separuh yang terang, dengan pakaian serba hitam dan lengkap dengan berbagai riasan penyamaran, mereka beraksi dengan cara elegan.


Sesuai yang Haruna katakan, mereka masuk melalui pintu depan yang di jaga oleh dua orang dengan tubuh kekar dengan pakaian serba hitam.


Setelah menunjukkan kartu ke anggotaan, mereka di perbolehkan untuk masuk. Alunan musik yang dimainkan terdengar bergemuruh di ruangan dengan lampu kerlap-kerlip itu.


Para kupu-kupu malam menarik dan terlihat sibuk mencari mangsa. Haruna mendudukkan diri di salah satu sofa panjang yang ada di ruangan itu dan di ikuti oleh keempat temannya.


“CCTV?” tanya Haruna dengan suara berbisik. Sebuah airpod terpasang di telinganya.


“Udah di urus,” ujar Rion dengan nada bangga.


“Anggi?”


“Sesuai yang lo minta, gue cuma bisa matiin CCTV selama sepuluh menit. Lo harus jalanin rencana awal dalam waktu lima belas menit nggak lebih,” terang Anggi.


“Oke, itu udah cukup buat gue,”


Haruna beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju konter dan menghampiri seorang bartender.


“Minuman apa yang Anda inginkan nona?” tanya bartender itu dengan ramah.


“Hm, segelas cocktail Wyn, ” pesan Haruna.


Begitu Anggi memberitahukan bahwa CCTV sudah di urus, Haruna langsung memberikan kode dengan mengangkat gelas cocktail itu ke udara dan menaruh bibirnya pada tepian gelas cocktail dan bertindak seakan sedang menyesapnya.


Binar yang mengerti akan instruksi itu bangkit berdiri dan berjalan menuju toilet dan ia berniat mencari tahu di ruangan mana transaksi itu di lakukan.


Mata Binar menangkap beberapa orang berjas hitam memasuki sebuah ruangan yang sudah di pesan dan di depan pintu ruangan itu ada dua orang berbadan besar sedang berjaga.


Binar mengetuk airpodsnya. “Target di temukan,” ujar Binar. Ia kemudian berjalan mendekat ke ruangan itu dan bersikap seolah-olah dirinya tengah mabuk.


“Nona, Anda tidak boleh berada di sekitar tempat ini,” tangan Vian bergerak ke depan dan menahan tubuh Binar yang hampir terjatuh.


“Ah, maaf sepertinya aku tersesat,” ucap Binar dengan suara lembut dan terkesan menggoda.


Binar kemudian berusaha untuk berdiri dan penjaga yang di panggil Vian itu membantunya.


“Sebaiknya Anda berjalan ke arah lain nona, tempat ini bukanlah tempat yang bisa Anda masuki seenaknya,” imbuh Putra dengan nada kasar dan wajah datar.


“Eh ...benarkah? Aku tidak tahu, maaf sudah mengganggu,” Binar kemudian berjalan menjauh dengan langkah sempoyongan agar tidak membuat para kedua orang itu curiga.

__ADS_1


Binar baru membetulkan pakaiannya begitu jarak pandang Vian dan Putra itu terhalangi. “Lo bisa masuk setelah tiga puluh detik berlalu,” ujar Abel memberitahu Binar lewat Airpods yang terpasang.


“Yes, i coming baby,” Rama menjawab dengan suara serak. Setelah merapikan pakaiannya Rama beranjak dan meninggalkan Albian dan Hairus yang dengan sabar menunggu instruksi.


Seperti yang Binar katakan, Rama berjalan ke arah Haruna dan mengandeng tangannya lalu pergi dari tempat itu setelah melempar pandangan sekilas pada bartender itu.


“Kita bisa mulai,” bisik Rama. Haruna mengangguk, lalu berjalan ke arah ruangan yang berada di sebelah para penjaga itu. Albian dan Hairus masuk ke ruangan yang sama setelah waktu tiga puluh detik berlalu.


Haruna menatap jam di tangannya dengan ekspresi tak sabar. “Har,” panggil Albian dengan suara lembut.


Haruna menoleh, “apa?” tanyanya.


“Biar gue yang masuk duluan,” ujar Albian.


Haruna meringis, “gue udah bilang, lo cukup ikut tanpa perlu campur tangan,” tekan Haruna.


Albian mendesah sembari mengusap wajahnya dengan kasar dengan tatapan tajam yang terus tertuju pada Haruna. “Kalo lo dalam bahaya, gue nggak akan bisa hidup dengan tenang,” Albian berbicara dengan ekspresi dingin.


Tangan Haruna terkepal. Ini merupakan sebuah kesalahan, sejak awal seharusnya ia tidak membawa Albian. Ia lupa jika Albian memang selalu bersikap seperti itu, baik dulu dan sekarang.


“Gue bukan anak kecil,” sentak Haruna yang tanpa sadar membuat suasana di tempat itu berubah.


Hairus yang melihat hal itu dengan cepat menahan Binar yang ingin membantu Haruna.


“Gue tau, karena itu juga satu-satunya alasan kenapa gue berada di sini,” balas Albian dengan rahang yang mengeras.


Haruna berdiri dan menatap Albian dengan tatapan nyalang. “Gue nggak butuh bantuan lo lagi Bian, gue lebih kuat sekarang, gue bukan gadis kecil berumur sepuluh tahun,” erang Haruna. Wajahnya memerah dengan rahang rahang yang menegang.


Binar baru saja akan bergerak kembali mengurungkan niatnya begitu mendengar perdebatan antara Albian dan Haruna yang tiba-tiba saja terjadi.


“Astaga jangan sekarang,” Binar mengerang lalu berjalan ke arah ruangan tempat teman-temannya berada. Tanpa sadar gerak gerik Binar yang terkesan mudah terbaca itu mengundang rasa curiga dari para penjaga yang menyamar di sekitar tempat itu.


“Bos, ada sekelompok pria dan wanita yang bersikap mencurigakan, apa yang harus kita lakukan?"


“Tangkap dan interogasi mereka,” titah orang yang mereka panggil Bos itu.


“Siap, laksanakan!”


Begitu sambungan telepon itu terputus, pada penjaga bergerak diam-diam mendekat ke tempat Haruna dan yang lainnya berada. Gerakan Binar terhenti saat akan membuka pintu ruangan tempat teman-temanya berada begitu menyadari ada beberapa orang yang mengawasinya.


“Anggi, kasi gue rincian orang-orang yang lagi ngawasin gue,” bisik Binar. Binar menarik tangannya dan mengurung niat untuk masuk dan memberikan ceramah pada Haruna dan Albian.


“Ada lima orang, dua orang di arah jam lima, satu orang berada di jam dua belas, dan satu orang lagi berada di depan pintu toilet,” jelas Anggi dengan tangan yang masih menari di atas keyboard.


“Terus senjata apa yang mereka bawa?” tanya Binar saat membuka salah satu bilik di dalam toilet.


“Pistol dan alat kejut,” ujar Anggi. “Mau sekalian gue bilang ke Haruna?” tanya Anggi.


“Oke. Ah, dan satu lagi, coba lo cari tau tentang orang-orang yang terlibat dengan transaksi ini. Udah dapat foto mereka, kan?”


Anggi menyeringai, “of course, gue udah kirim salinan filenya ke Rion, biar dia yang cari tau,” terang Anggi.


“Gimana situasinya?” tanya Binar. Entah mengapa ia merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Binar meraba-raba pisau yang sudah ia selipkan di bawah gaun dan bersiap untuk menyerang.


“Keluar dari tempat itu, Cepat!” Binar tersentak saat mendengar Anggi berteriak dan terdengar suara benda jatuh dari tempat Anggi berada.


“Anggi?Anggi? Lo kenapa?”


“Pokoknya kalian harus keluar dari tempat itu, Cepetan! Kita udah ketahuan!”

__ADS_1


Belum sempat Binar menjawab komunikasi itu terputus begitu saja. Tubuh Binar menegang. Ia tidak menyangka jika situasi ini datang lebih cepat dari perkiraannya. Binar berlari keluar dari toilet dan masuk ke ruangan tempat Haruna berada dengan ekspresi panik.


“Binar? Lo kenapa?” tanya Hairus dengan ekspresi terkejut. Rama segera menghampiri Binar dan memegang lengannya dengan ekspresi cemas.


“Kita harus keluar sekarang,” titah Binar dengan ekspresi serius membuat perdebatan Albian dan Haruna terhenti dan membuat perhatian mereka langsung tertuju pada Binar.


“Are you kidding? Kita belum mulai,” sentak Haruna dengan ekspresi masam.


“Gue nggak lagi bercanda, rencana kita udah ketahuan, dan sebentar lagi mereka bakal datang,” Binar menjelaskan dengan terburu-buru. Raut tegang terlihat jelas di wajah Haruna, Hairus, Albian, dan juga Rama.


“Maksud lo kita udah ketahuan? Padahal kita belum mulai,” ucap Rama dengan ekspresi tidak percaya.


Binar mengangguk, “makanya kita harus pergi sekarang,” tutur Binar.


“Tomoya, bukannya gue udah tempatin Moya di bagian siaga, ya? Tapi kok gue nggak dapat pemberitahuan apa-apa?” Haruna berbicara dengan wajah kebingungan.


“Gue juga nggak bisa ngehubungin Stella, kayaknya ada alat yang udah ngebuat komunikasi kita terganggu,” ujar Albian.


“Anggi, Anggi gimana?” tanya Haruna pada Binar.


Binar menggeleng, “nggak bisa juga, sebelum gue ke sini komunikasi kita udah nggak kesambung,” jelas Binar.


“Pertama-tama kita harus keluar dulu,” Haruna berujar sembari menatap wajah keempat satu persatu. Keempat temannya mengangguk setuju lalu bergegas keluar dari ruangan itu.


“Kalian berhenti di situ!” Suara bariton itu membuat langkah Haruna dan keempat temannya terhenti.


Haruna berbalik dan melihat sekitar sepuluh orang pria dengan wajah sangar tengah menatap mereka dengan ekspresi marah.


“Apa yang kalian inginkan?” tanya Haruna dengan suara yang di buat setenang mungkin.


“Apa yang sedang kalian coba lakukan di tempat ini? Ini bukan tempat yang bisa di masuki dengan mudah oleh anak ingusan seperti kalian,” pungkas pria yang terlihat seperti pimpinan orang-orang bertubuh besar itu.


Haruna langsung bersikap waspada, “well, hanya bersenang-senang?”


“Jangan bercanda, tangkap mereka!”


Sembilan pria bertubuh besar itu langsung bergerak mengikuti instruksi yang sudah di berikan. Haruna langsung mengambil pistol yang ia sembunyikan dan menembakkannya ke salah satu pria itu.


“Brengsek!” Maki pria yang kakinya terkena tembakkan Haruna.


“Jangan biarkan mereka kabur!”


“Run!” perintah Haruna sembari berlari menuju pintu yang sudah di masukkan sebagai rute pelarian.


Saat hampir memegang gagang pintu belakang itu tangan Haruna hampir terkena tembakkan jika saat itu Albian tidak menarik tubuhnya kebelakang.


“Thanks,” ucap Haruna dengan napas terengah-engah.


“Lo bisa bilang itu nanti,” ujar Alvian yang membawa tubuh Haruna begitu dekat dengan tubuhnya.


“Jangan dekat-dekat, Woy!” Haruna berusaha untuk menjauhkan diri namun Albian dengan sengaja mengeratkan pelukannya pada Haruna.


“Nanti gue lepasin, untuk sekarang lo diam aja di situ,” ujar Albian.


Suara tepuk tangan mengalihkan perhatian Haruna dari Albian para seorang pemuda yang mengenakan seragam bartender. Mata Haruna terbelalak saat menyadari bahwa pria itu adalah pria yang melayaninya tadi.


“Wow, berani-beraninya sekelompok tikus masuk ke tempat ini,” Alen, pemuda bartender itu tertawa dengan senyum mengejek.


“Keparat!” umpat Haruna. Seharusnya ia sadar sejak awal jika pria ini juga bagian dari orang yang terlibat dengan transaksi narkoba ini.

__ADS_1


__ADS_2