
Haruna meregangkan otot-ototnya sembari beranjak dari duduknya. Bel tanda istirahat sudah berbunyi sejak tadi, namun Haruna memilih untuk tetap tinggal di dalam kelas.
“Har, ikut ke kantin bareng kita nggak?” tawar Abel.
Haruna menggeleng, “duluan aja, tugas gue belum kelar,” ujar Haruna.
Abel mengangguk mengerti, “kalo gitu kita duluan,” ucap Abel yang berjalan keluar dari kelas sembari menyeret Binar dan Meta.
“Eh, tu-tunggu dulu,” protes Binar.
Abel mengabaikan hal itu dan tetap menarik Binar, sedangkan Meta hanya bisa pasrah saat Abel menarik tangannya.
Haruna mengeleng lalu kembali mendudukkan dirinya dan fokus mengerjakan tugas yang di berikan oleh Bu Dewi. Sekaligus mempelajari tentang Akademi Cakrawala dari sebuah buku dengan sampul tua yang ia dapatkan dari kakaknya yang merupakan alumni sekolah ini.
Akademi Cakrawala, pelajaran tertulis bukan satu-satunya pelajaran yang di pelajari di sekolah ini. Ada berbagai pekerjaan lapangan yang harus di ikuti oleh para murid untuk mendapatkan point tambahan agar bisa lulus.
Banyak hal yang harus di lakukan oleh para murid agar bisa lulus. Salah satunya adalah naik pangkat.
Para murid harus bisa naik ke pangkat Fora. Tidak peduli sebaik apapun nilai mereka jika pangkat mereka rendah, mereka tak lebih dari orang buangan.
Oleh karena itu di adakan berbagai acara tahunan untuk menaikkan pangkat. Tidak peduli cara apa yang di gunakan para murid, selain melukai ataupun membuat cedera, semua cara boleh di lakukan.
Nilai point yang di peroleh pun harus lebih dari lima ribu point atau sekitar sembilan ratus point. Jika kurang dari dua hal itu, mereka terpaksa harus membeli point dari tim lain agar bisa lulus.
Bahkan Umbra yang sudah lulus terkadang juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tahunan ini untuk mencari para murid berbakat untuk bisa melanjutkan tugas mereka.
Menjadi bagian dari Umbra artinya, para murid tidak di perbolehkan untuk membocorkan identitasnya. Sekalipun mereka di tanya oleh keluarga ataupun polisi.
Tidak sedikit para Umbra yang lalai akan tugas mereka di kirim ke kantor polisi. Atau terkadang mereka juga di kirim ke kamp militer sebagai sukarelawan.
Haruna memanggut-mangut sembari membaca buku itu. Ternyata ini juga merupakan salah satu alasan Revan menyuruhnya untuk mendaftar di sekolah ini.
‘Well, sepertinya ini akan menyenangkan, ’ Haruna menyeringai tanpa sadar membuat Albian yang baru saja berjalan masuk ke dalam kelas menatapnya dengan heran.
Albian mengabaikan tentang Haruna dan berjalan menuju tempat duduknya. Bel berbunyi menandakan waktu istirahat sudah berakhir. Haruna menaruh kembali buku usang itu ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan beberapa buku yang mencangkup tentang tumbuhan dan obat dan menaruhnya di atas meja.
Abel berjalan memasuki kelas dan langsung menghampiri meja Haruna. “Har, mau ikut kita-kita nggak habis kelas ini?” tanya Abel antusias.
Haruna menaikkan sebelah alisnya, “kemana?” tanyanya. Abel tersenyum lebar lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas dan kembali menatap Haruna lekat-lekat.
Abel mencondongkan tubuhnya ke depan membuat Haruna reflek menahan bahunya. “Lo mau ngapain?” tanya Haruna dengan nada sinis.
Abel berdecak, “gue nggak bakal buat yang aneh-aneh,gue cuma mau bisikin lo sesuatu, sini deketan,”
Dengan ragu Haruna mendekatkan dirinya pada Abel. Abel kemudian mulai membisikkan sesuatu pada Haruna yang membuat mata Haruna membulat sempurna.
__ADS_1
“Gila! Lo seriusan mau ngelakuin hal itu?” pekik Haruna dengan suara keras yang tanpa sadar mengundang tanda tanya teman sekelasnya.
“Wah, ada apaan nih? Kalian mau ngapain?” celutuk Rion.
Abel mendelik ke arah Rion. “Ssst! Jangan banyak tanya,mending lo diam aja,” sarkas Abel.
“Tinggal kasi tau aja susah bener,” sindir Audrey dari tempat duduknya.
“Dih, emang situ siapa minta di kasi tau? Emang lo sepenting apa sih sampai-sampai gue harus ngasi tau lo segalanya? Ups!” Abel menutup mulutnya dengan bibir yang tersenyum mengejek.
Audrey mengepalkan tangannya hingga membuat kuku-kukunya memutih. “Sialan lo, emang lo nggak tau siapa orang tua gue? Berani banget lo ngehina gue,” marah Audrey.
Abel mengabaikan tatapan penuh kebencian yang Audrey lemparkan padanya. Abel menyilangkan tangannya dan balas menatap Audrey seolah menantang.
“Oh, jadi lo orang penting? Terus kenapa lo bisa berada di kelas ini? Orang tua lo nggak cukup kaya ya, buat masukkin lo ke kelas Arsenik atau Arunika?” ejek Abel.
Haruna mendesah pelan. Ia tidak tahu jika Abel bisa bersikap demikian. Sepertinya Haruna harus mengubah cara dirinya menilai orang lain. Tidak semua orang itu menyebalkan, Abel bisa menjadi contoh yang baik untuk hal itu, setidaknya itu yang Haruna yakini.
Jojo, Meta, Anggi, Rama, Galen, Stella, Rion, Hairus dan juga Binar menatap penuh antusias aksi debat yang di lakukan oleh dua orang yang memang tidak pernah akur itu. Sedangkan Tomoya sudah merekam aksi debat itu sejak tadi.
Ian memilih untuk mengabaikan hal itu dan menyumbat telinganya dengan airpod dan kembali melanjutkan film yang ia putar di YouTube itu.
Albian juga memilih untuk mengabaikan perdebatan tidak penting itu dan menaikkan kedua kakinya ke atas meja dan terus menatap ke arah Haruna tanpa berkedip.
Haruna menoleh ke belakang saat merasa ada seseorang yang menatap ke arahnya dengan terang-terangan.
Mata hazelnya beradu pandang dengan mata Albian yang menatapnya dengan ekspresi datar. Untuk beberapa waktu, mereka saling beradu pandang sebelum Albian mengerjap dan mengalihkan pandangannya.
Haruna tersenyum penuh kemenangan. “Gue menang lagi,” gumam Haruna.
Audrey kemudian bangkit dari duduknya dan langsung menyerang Abel dengan sekuat tenaga.
Entah itu mencoba menjambak atau memukul dan menendang.
Abel jelas tidak ingin terlihat lemah. Ia membalas semua serangan yang Audrey layangkan padanya.
Rion dan Jojo sudah bersorak sedari tadi dan Tomoya makin gencar mengambil foto dan video.
“Cewek miskin kayak lo itu mending diam aja!” teriak Audrey yang semakin kuat menarik rambut Abel.
“Seharusnya gue yang bilang gitu, kaya atau enggaknya kehidupan gue itu nggak ada hubungannya sama anak kalangan atas kayak lo,” Abel balas menjambak rambut Audrey sehingga membuat rambut Audrey kusut.
“Jo, pisahin,” titah Haruna.
“Bentar lagi Har, masih seru ini,” sahut Jojo spontan.
__ADS_1
Haruna mendelik, “pisahin sebelum gue yang turun tangan, kalo gue turun tangan lo mau siapa yang masuk rumah sakit?”
Jojo menelan salivanya dengan kasar. “I-iya ini juga mau gue pisain, Len bantuin gue,” ujar Jojo sembari menyikut lengan Galen.
Galen mengangguk, “lo sama Rion tahan Abel biar gue sama Hairus yang nahan Audrey,” jelas Galen.
“Kok gue juga di bawa-bawa?” tanya Rion dengan ekspresi tak terima. Jojo mendekatkan dirinya dan membisikkan sesuatu pada Rion.
“Lo mau Abel sama Audrey masuk rumah sakit?” bisik Jojo sembari sesekali melirik ke arah Haruna yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
“Well, emang mereka gelut gitu bisa sampai masuk rumah sakit?” tanya Rion bingung.
Jojo menggeram. ”Bukan, bukan itu. Haruna bilang jangan sampai dia yang turun tangan buat misahin mereka berdua, yang ada bukannya kelar masalahnya, mungkin kita juga bakal kena imbas,” terang Jojo.
Rion menggangguk mengerti. “Yaudah, tinggal pisahin mereka aja, kan?” Jojo mengangguk,
keduanya lalu menghampiri Abel dan Audrey yang masih terlibat aksi jambak-jambakkan.
Rion dan Jojo kemudian menarik tubuh Abel dan menjauhkannya dari Audrey. Abel memberontak dan terus berusaha untuk melepaskan diri dari tangan yang menahan tubuhnya.
“Lepasin Rion, Jojo! Gue masih belum puas kasi nenek Lampir ini pelajaran! Mulut dia itu bikin orang emosi tau nggak?” ujar Abel sembari terus meronta-ronta dan minta untuk di lepaskan.
“Cewek miskin kayak lo itu memang harus di kasi pelajaran biar nggak ngelunjak,” balas Audrey tak kalah sengit.
Rahang Abel mengeras. Tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. Matanya menatap Audrey dengan tajam dan menyiratkan kebencian.
“Gue itu nggak pernah mau berurusan sama lo, asal lo tau aja. Lo itu yang dengan seenak jidatnya ikut campur dengan urusan gue,” hina Abel.
“Pede banget sih. Emang lo itu siapa sampai-sampai gue harus menyibukkan diri untuk menaruh minat dengan urusan lo? nggak usah mimpi dan berkhayal deh,” sarkas Audrey.
“Oh, bukan ya? Terus kenapa tadi pas gue lagi ngomong sama Rion, lo nya malah tiba-tiba ikut nyelutuk? Pas gue balas lo nya malah marah dan nyerang gue, itu yang lo bilang nggak ikut campur?” tukas Abel.
Audrey bungkam tidak tau harus menjawab apa.
Audrey kemudian menyentak tangan Galen dan Hairus yang menahannya hingga terlepas.
“Udah, nggak usah pegang-pegang, gue bukan anak kecil,” sindir Audrey.
“Oke, sebelum itu lo harus janji nggak bakal ngelanjutin aksi lo lagi, emang lo mau masuk Ruang Senyap?” tutur Hairus dengan ekspresi tenang.
Audrey berdecih, “ sok banget sih lo,” Audrey kemudian merapikan rambut dan bajunya yang kusut karena Abel dan berjalan meninggalkan kelas setelah menatap Abel sekilas.
“Wah, kalian lepasin woy! Itu nenek lampir udah pergi dia,” ujar Abel. Rion melirik ke arah Jojo yang hanya mengangguk. Dengan ragu, Rion melepaskan tangannya yang menahan Abel.
“Dari tadi kek,” sinis Abel. Abel kemudian merapikan rambutnya dan berjalan menuju tempat duduknya dan bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi.
__ADS_1