The Last Umbra

The Last Umbra
07. Run!


__ADS_3

Haruna menjauhkan diri dari Albian dengan paksa membuat Albian meringis saat Haruna dengan sengaja memukul dada bidangnya dengan kuat.


“Aw! Jangan main pukul dong Har,” ringis Albian sembari melepaskan pelukannya pada Haruna dengan ekspresi enggan.


Haruna berdecih, “salah sendiri, anggap aja itu karma,” pungkas Haruna.


“Sadis, gak berperasaan banget jadi cewek,” cibir Albian.


Haruna mendelik, “dih, gue juga nggak pernah bilang kalo gue itu cewek. Udah diem, jangan banyak bacot,” sarkas Haruna.


“Itu lo, kan? Cewek yang tadi,” ujar Alen dengan bibir tersenyum.


Haruna menoleh dan menyipitkan matanya ke arah Alen. Raut wajah Haruna langsung berubah begitu menyadari bahwa pria yang melayaninya tadi ternyata merupakan bagian dari kelompok organisasi yang namanya masih belum Haruna ketahui.


Namun Haruna sangat yakin akan intuisinya itu.


Bahkan hal itu di perkuat saat sebuah tato berbentuk seperti api hitam terlihat di lengan Alen yang menjadi ciri khas dari organisasi itu.


“Sebelum itu, gue mau nanya sesuatu, lo berasal dari organisasi itu, kan?” tanya Haruna dengan tatapan penuh selidik.


Alen tersentak. Ia tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti itu dari seorang gadis remaja yang tengah menyamar. Alen menyerigai, kini ia benar-benar tidak boleh membiarkan anak-anak ini lolos.


“Semakin banyak hal yang ingin lo kuak, semakin banyak hal juga yang akan hilang dari hidup lo, gue saranin supaya lo berhenti mencari informasi tentang hal yang tabu. Atau lo mau mati sebagai gantinya,”


Haruna menegakkan tubuhnya dan menatap Alen dengan tajam. “Lo nggak pantas ngomong tentang hal itu, bukan lo yang nentuin gue bakal kehilangan atau nggak, dan satu hal lagi, gue nggak takut mati jika hal itu di perlukan untuk menguak semua misteri tentang kasus hilangnya senior kami,” tegas Haruna.


Alen tertawa, “gue harap lo bisa melindungi semua hal yang berharga buat lo, tapi sebelum itu gue juga nggak bisa ngebiarin lo keluar hidup-hidup dari tempat ini setelah lo mengetahui tentang hal itu,”


Alen memberikan kode pada bawahannya dan menyuruh mereka untuk menyerang Haruna dan keempat temannya. Haruna buru-buru menarik gagang pintu setelah menggunakan kartunya sebagai kartu akses dan membuat pintu terbuka.


“Lewat sini!” seru Haruna. Setelah membuka jalan, mereka berlima berlari di sepanjang gang itu dengan tergesa-gesa. Haruna bahkan sampai melepaskan hels yang ia kenakan dan membuangnya ke sembarang arah. Binar juga melakukan hal yang sama.


Saat sudah berada di titik kumpul yang di sepakati, dua mobil hitam yang melaju dari arah berlawanan segera berhenti tepat di depan kelimanya.


“Berhenti! Jangan kabur kalian!”


“Ayo cepetan masuk!” desak Stella dengan wajah panik.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Haruna masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Binar dan juga Rama. Sedangkan Albian dan Hairus berada di mobil yang satunya.


“Ian, Jojo, Meta, Tomoya, Rion sama Anggi, ada di mana?” tanya Haruna begitu ia memasuki mobil.


“Mereka ada di tempat aman, sebelum mereka ngelacak keberadaan dan identitas kita, Anggi sama Rion udah ngeretas sistem mereka supaya kita punya waktu buat kabur,” terang Stella dari tempat duduk yang berada di sebelah kemudi.


“Syukur deh,” Haruna mengembuskan napas lega. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil dan memejamkan matanya.


Kedua mobil itu bergerak ke arah berlawanan agar tidak mudah di lacak. Mobil yang di kendarain oleh Haruna berjalan dengan kecepatan sedang dan di jaga agar tetap stabil.


“Sopir lo, mantan pembalap ya, Stel?” tanya Haruna dengan mata terpejam.


Stella tersenyum penuh arti, “nah itu lo tau, papa gue yang rekrut dia,” ujar Stella dengan nada suara yang terdengar bangga.


Haruna tersenyum tipis tanpa berniat menjawab perkataan Stella yang terkesan angkuh. Binar juga ikut bernapas lega sembari melepaskan wig yang ia kenakan.


“Gue pikir gue bakalan tamat,” keluh Binar.


Rama mengernyit, “ Har, lo ngerasa nggak kalo semua ini seakan-akan udah di rencanain sejak awal?” tanyanya.


Haruna membuka matanya perlahan. “Yeah, gue juga ngerasa gitu. Gue harus minta detail informasi dari Abel, gue nggak suka kalo rencana kita yang udah di siapkan dengan matang harus hancur berantakan kayak sekarang,” Haruna menggeram dengan tangan terkepal.


“Apa yang mereka bilang?” tanya Haruna.


“la leur doit morte,” (Mereka harus mati.)


Haruna menyeringai, “wow, kayaknya semester ini kita bakalan terus di kejar sama bahaya,” kekeh Haruna.


Kepala Binar semakin tertunduk. Ia takut hal-hal akan menjadi lebih sulit untuknya. Ia tidak menyukai semua ini. Seharusnya ia tidak pernah ikut andil dalam rencana nekat dan gila ini.


“Gue minta maaf karena udah ngebawa kalian ke dalam situasi serius kayak gini,” tutur Haruna dengan ekspresi muram.


Binar menegadah, ia tidak menyangka bahwa ia akan mendengar kata maaf keluar dari mulut Haruna. Tanpa sadar Binar menutup mulutnya seakan tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar.


Rama tersenyum miring, “santai aja Har, gue mah b aja, gue suka sama hal yang menantang dan berbahaya, lo boleh libatin keberadaan gue semau dan sesuka lo.” Terang Rama.


Stella mengangguk menyetujui. “Rama bener, kita rencanain hal ini bareng-bareng dan kita juga harus ngehadapinnya bareng-bareng,” timpal Stella.

__ADS_1


Haruna tertawa kecil, “thanks ya, sebagai gantinya, gue bakal pastiin kalo kalian nggak bakal berada di dalam bahaya,” ujar Haruna.


“Oke, gue percayakan nyawa gue di tangan lo. Dan sebagai gantinya, gue akan ngebantu lo tanpa syarat,” ujar Stella.


”Yah, sebagai salah satu murid teladan, gue juga bakal ngelakuin hal yang sama. Lo lindungin nyawa gue dan gue bakal kasi lo bantuan apapun,” Rama menimpali.


Lagi-lagi Haruna tertawa. “Lo pada lucu ya, padahal nyawa kalian lagi berada di ujung tanduk loh. Dan kalian dengan mudahnya percayain nyawa kalian di tangan gue, apa kalian nggak takut kalo semisalnya gue ngelakuin hal ini cuma untuk sekedar menarik rasa simpati di dalam diri kalian? Setidaknya tolong curigai gue sedikit aja,” ujar Haruna panjang lebar.


“Kalo gue sampai menghianati kepercayaan kalian gimana?” lanjutnya.


“Lo tau nggak apa yang Patrick Star bilang saat sahabatnya Spongebob nanya apa yang akan Patrick lakukan kalo dirinya menghianati Patrick?


”Apa?” Haruna bertanya tanpa sadar.


Stella tersenyum, “ Patrick menjawab dengan wajah serius, ‘berbohong itu keputusanmu sedangkan mempercayai perkataanmu adalah keputusanku.’ Jadi, gue bakal tetap percaya sekalipun lo berniat untuk menhianati gue, karena pada akhirnya keputusan akhir di tentuin oleh diri gue,” tutur Stella.


Haruna membuanh napas kasar. Ia tidak mengerti akan jalan pikiran teman barunya ini. Mereka bahkan belum mengenal satu sama lain dengan baik, bagaimana bisa mereka memutuskan hal yang gamblang dengan mudahnya?


”Terserah kalian deh, gue capek, gue mau tidur, tolong bangunin gue kalo kita udah sampai,” pinta Haruna sembari memejamkan matanya.


“Oke,” sahut Stella. Di sepanjang sisa perjalanan hanya ada keheningan. Stella terlihat begitu sibuk dengan ponselnya sedangkan Rama hanya melamun seakan-akan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Sedangkan Binar sedari tadi terlihat ingin mengatakan sesuatu namun selalu ia tahan. Ia tidak ingin menyebabkan lebih banyak masalah lagi.


Binar tau, dirinya terlalu pengecut, dan ia tidak berhak atas semua perhatian yang dengan mudahnya Haruna berikan. Ia benci hal itu, ia ingin Haruna dan teman sekelasnya mengabaikan dirinya saja.


Ia tidak ingin perasannya goyah. Ia tidak ingin terluka untuk kesekian kalinya. Dan tiba-tiba saja pertahannya runtuh saat Haruna dengan mudahnya mengatakan hal itu.


Ia tidak ingin berharap lagi. Tidak ingin.


‘Jangan nyerah Binar, kakak yakin suatu hari nanti akan ada orang yang mau menerima keberadaan Binar tanpa memandang status Binar. Kakak yakin waktu itu akan datang, jadi tolong bertahan sedikit lebih lama,’ suara kakaknya, Nathan, terus terngiang-ngiang di ingatan Binar.


Itu adalah kalimat terakhir yang Binar dengar dari kakaknya. Nathan meninggal seminggu kemudian di bangsal rumah sakit karena menderita kanker.


‘Kak Nathan, sekarang Binar punya temen kak, temen yang Binar yakin nggak akan pernah memandang Binar dengan sebelah mata. Binar bersyukur karena Binar masih hidup untuk saat-saat seperti ini,’ batin Binar.


Diam-diam seulas senyum kecil tercetak di bibir Binar. Binar merasakan kupu-kupu di perutnya dan hal itu membuatnya tidak bisa menahan gejolak aneh yang timbul.

__ADS_1


Binar menoleh dan mengamati wajah Haruna yang tertidur lalu tersenyum penuh arti. “Gue juga bakal berusaha biar gue nggak jadi beban,” gumam Binar.


__ADS_2