
Note:
Terjemahan tidak 100% akurat dan benar
“Har, bangun Har,” Haruna mengerang saat merasakan seseorang tengah berusaha membangunkannya.
“Mmm...” lenguh Haruna. Dengan malas Haruna membuka matanya perlahan.
“Gue di mana?” tanya Haruna sembari menggosok matanya.
“Lo di rumah gue, kebetulan nyokap sama bokap gue lagi ke luar negeri jadi cuma gue doang yang di rumah,” jelas Stella.
Haruna mengangguk. Sedetik kemudian ia merasa Heran, bukankah seharusnya ia tengah tertidur di mobil? Bagaimana bisa ia tiba-tiba sudah berbaring di atas ranjang?
Belum sempat Haruna bertanya, Hairus langsung menyela. “Gue yang bawa lo masuk biar nggak masuk angin,” ujarnya.
Alis Haruna terangkat, “well, berapa lama gue tidur dan sekarang udah jam berapa?” tanya Haruna yang melemparkan pandangannya ke sekeliling kamar itu.
“Lo tidur nyenyak banget, jadi gue nggak tega buat ngebangunin lo. Sekarang udah hampir jam tujuh pagi,” terang Stella dengan wajah tenang.
Rahang Haruna jatuh. Bagaimana bisa ia tertidur dengan pulas sedangkan nyawa teman-temannya sedang berada dalam bahaya.
“Haruna bodoh,” runtuknya. “Yang lain di mana?” tanya Haruna begitu menyadari bahwa hanya ada Stella dan Hairus di sisinya.
“Mereka lagi sarapan. Mending lo mandi dulu deh, seragam lo juga udah gue siapin. Gue sama Hairus keluar dulu, lo siap-siap aja, kita tunggu di bawah,” ujar Stella.
“Mereka baik-baik aja, ‘kan?” tanya Haruna sembari menarik tangan Stella.
Stella tersenyum menenangkan. “Mereka baik-baik aja kok, lo nggak usah khawatir, kita bakal bahas hal ini nanti. Sekarang ada yang lebih penting dari hal itu, lo harus mandi dan sarapan biar ada energi,” ucap Stella.
Belum sempat Haruna menyahut, Stella sudah melepaskan cekalannya dan berjalan keluar dari kamar itu dengan Hairus yang berjalan di belakangnya.
Di ambang pintu Hairus menoleh dari balik bahu dan melemparkan tatapan yang sulit di artikan.
“Ah, apa yang sebenarnya tengah terjadi?” tanya Haruna dengan dahi berkerut.
Haruna kemudian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelahnya ia keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang Stella berikan, entah bagaimana gadis itu bisa tahu ukuran seragamnya.
“Haruna!“ Pekik Abel girang begitu melihat Haruna tengah berjalan menuruni tangga.
“Hm, pagi,” sapa Haruna canggung. Ia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa di situasi seperti ini.
Abel yang tengah duduk di sofa bangkit dan segera berlari dan memeluk Haruna. “Huwaaaa! Gue pikir lo sekarat karena nggak bangun-bangun, gue bersyukur kalo lo baik-baik aja,” Abel menangis sembari memeluk tubuh Haruna.
Haruna dapat merasakan tubuh Abel bergetar. Ia kemudian membalas pelukan Abel. “Gue baik-baik aja, sorry kalo gue udah buat lo pada khawatir,” ujar Haruna dengan ekspresi tak nyaman.
“Lo nggak perlu minta maaf Har, lagian ini juga permintaan Stella yang nyuruh kita buat nggak ngebangunin lo yang lagi tidur,” tutur Jono dengan suara lembut.
“Thanks,” sahut Haruna dengan bibir tersenyum.
“Sekarang mending kita berangkat ke sekolah dulu pas balik baru kita bahas tentang kejadian semalam, gimana?” cetus Meta.
Haruna mengangguk, “gue setuju, kalo kalian?” tanya Haruna.
Jojo, Abel, Binar, Stella, Ian, Tomoya, Galen, Anggi, Rion, Albian, Hairus, dan juga Rama mengangguk setuju.
__ADS_1
“Kuy berangkat, ntar telat lagi,” ajak Rion yang sudah beranjak dari duduknya di ikuti Tomoya dan Galen.
“Hah, gue nggak berharap bakal ada kejadian kek gini,” keluh Jojo.
Anggi tertawa pelan, “udah, jangan bahas itu sekarang, mending kita berangkat, kalo telat kita bisa di hukum terus masuk ke Ruang Senyap, gue nggak mau masuk ke tempat itu,” ujar Anggi.
“Yaudah, kita bakal kumpul lagi pas jam istirahat di rooftop,” cetus Haruna.
Mereka mengangguk mengerti. Dan begitulah kesepakatan di setujui oleh pada remaja itu.
***
“Bonjour enfants, notre portera apprendre matière
embase, notre passera commencer depuis conversation de tous les jours,” terang Miss Cavada.
(Selamat pagi anak-anak, kita akan belajar materi dasar, kita akan mulai dari percakapan sehari-hari,)
Miss Cavada kemudian mulai menuliskan satu persatu percakapan sehari-hari dalam bahasa Perancis di papan tulis.
Di mulai dari kosa kata untuk pemula:
Halo: bonjour
Aku: je
Kamu: tu
Berasal dari: arrivant dès
Selamat malam: Bonsoir
Sampai nanti: jusqu'à ce que plus tard
Sampai jumpa: au revoir
Ya: oui
Tidak: non
Terima kasih: je vous remercie
Maaf: apologie
Siapa ? : avec qui ?
Namamu: nom tu
“être qui vouloir d'où posée à peu près matière, Jonathan?” tanya Miss Cavada. Matanya menelisik satu persatu murid yang tengah sibuk menulis dengan tenang.
(Ada yang ingin di tanyakan tentang materi,Jonathan?)
Jojo menggeleng, “Non, madame."
Miss Cavada mengangguk pelan. “Ne doit pas oublie dans de écrire et où leam à nouveau matière ce,” papar Miss Cavada sembari membereskan buku-bukunya. (Jangan lupa di tulis dan di pelajari lagi materi itu)
__ADS_1
“Oui madame enseignants!” Sahut murid kelas Abnormal serentak. (Iya, ibu guru! ).
“Au revoir à nouveau.” setelah mengatakan kalimat itu Miss Cavada berjalan keluar dari kelas begitu bel istirahat berbunyi nyaring. (Sampai jumpa lagi.)
“Ah, kenapa sih kita harus belajar bahasa Perancis sedangkan kita tinggal di Indonesia?” keluh Abel.
Meta yang duduk di sebelahnya mengendik.
“Nggak tau, padahal waktu kecil gue udah sering ngomong make bahasa asing karena sering di ajak bokap jalan-jalan ke luar negeri,” tutur Meta.
“Sama, gue juga,” timpal Abel. “Sekolah kita juga aneh, masa iya masih ada kelas bahasa asing, sedangkan kebanyakan murid sekolah kita sering tur keluar negeri karena terlalu kaya,” Abel mendengus kesal.
“Tapi kan, itu cuma sebagian, masih banyak juga yang belum bisa ikut tur keluar negeri kayak kita,” imbuh Haruna.
Abel diam sejenak, “hm, gimana kalo lain kali kita sekelas tur dunia? Biayanya kita tanggung bareng-bareng, gimana?” usul Abel.
“Hm, kayaknya seru tuh,” pikir Stella dengan mata berbinar.
“Gue nggak ikut,” sela Meta yang terlihat sibuk dengan bukunya.
“Loh, kenapa?” tanya Jojo.
“Gue bukan anak orang kaya, dan gue nggak bisa buang-buang waktu gue hanya untuk tur dunia, gue masih harus kerja dan juga belajar. Udah cukup masalah yang semalam, dan gue nggak mau ikutan dalam rencana kalian lagi, sekalipun gue emang tertarik dengan hal itu, tapi bukan berarti gue nggak sayang sama nyawa gue sendiri,” jelas Meta tanpa memalingkan wajahnya dari buku.
Temannya bungkam. Memang benar, ini bukan saatnya untuk membahas tentang tur dan hiburan, nyawa mereka sekarang sedang berada dalam bahaya dan tengah di incar.
Rion tertawa dengan suara yang cukup keras sehingga membuat semua perhatian tertuju padanya.
“Lo kenapa dah?” bingung Abel.
“Nah, itu lo tau kalo nyawa kita lagi dalam bahaya, karena itu juga kira harus hiburan,” celutuk Rion tanpa beban.
Hairus menganga, bagaimana bisa Rion memikirkan tentang tur dan hiburan di tengah krisis seperti ini?
“Are you kidding?” ketus Hairus. (Apa kau sedang bercanda?)
“Do I look like being joking?” balas Rion sembari menatap Hairus dengan sengit. (Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?)
“Udah, jangan ribut napa, kalian itu cuma memperkeruh suasana,” sindir Anggi sembari melipat tangannya di dada dan terus mengamati interaksi antar Hairus dan Rion.
Haruna mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja sembari menatap malas Hairus dan Rion yang tengah berdebat.
Haruna mendesah, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke depan kelas.
“Oke, fine. Karena rencana kita semalam berantakan, untuk sementara kita nggak bakal terlibat dengan hal-hal yang berbahaya.” Putus Haruna.
“Tapi Har, lo yakin, nggak mau terlibat sama mereka lagi?” tanya Jojo.
”Alasannya cuma satu, organisasi itu terlalu berbahaya, dan lagi gue nggak mau lo pada berada dalam bahaya,” jelas Haruna.
“Ta-”
“Udahlah, bentar lagi kelas bela diri, gue mau siap-siap,” Haruna lalu berjalan keluar kelas tanpa berniat mendengarkan Abel yang sudah siap-siap protes akan keputusannya.
“Haruna!” Pekik Abel dengan wajah kesal. Dengan wajah kesal, Abel buru-buru mengejar Haruna yang sudah terlebih dahulu keluar dari kelas.
__ADS_1