
Tak terasa sudah sebulan berlalu sejak aksi penyusupan mereka tidak lagi di lanjutkan. Dan selama itu juga mereka sudah berlatih agar lebih pantas dalam menghadapi situasi yang tak terduga seperti yang terjadi tempo hari.
Kini anak-anak dari kelas Abnormal tengah berada di depan sebuah monumen patung yang terletak di tengah-tengah taman Akademi. Entah apa yang Professor Haffi pikirkan dengan menyuruh lima belas anak remaja itu untuk menunggu di depan sebuah patung batu di tengah malam.
“Kenapa sih gue juga harus ikut pertemuan ini?” Audrey menggerutu.
Pasalnya ia sudah berada di tempat itu sejak sejam yang lalu bersama anak-anak yang lain. Namun Professor Haffi sekaligus pelatih di Dojo dan juga orang yang sudah membuatnya menunggu selama itu tak kunjung menampakkan dirinya.
“Dahlah, gue mau balik,” putus Audrey. Ia benar-benar sudah lelah. Terlebih lagi udara malam yang semakin dingin membuatnya tak nyaman.
“Sabar, bentar lagi juga Prof Haffi pasti datang,” papar Abel sembari mencegah Audrey.
“Berisik! Gue itu capek mau balik, ya kali gue harus kejebak bareng kalian di tempat ini? Minggir,” dengan sengaja Audrey menyenggol bahu Binar sehingga membuatnya terhuyung dan hampir terjatuh
“Nggak usah main senggol bisa nggak sih?” cesar Rama yang dengan cepat menahan tubuh Binar agar tidak terjerembab ke tanah.
Audrey memutar bola matanya dengan malas.
“Ck, salah sendiri ngalangin jalan, emang nggak ada tempat lain apa,” sindir Audrey dengan ekspresi menghina.
“Jangan ribut,” titah Haruna. Matanya terlihat begitu waspada. Walaupun keadaan itu terlihat biasa saja, namun entah mengapa insting Haruna berkata lain.
“Emang apa hak lo nyuruh gue diem?” cerocos Audrey.
Haruna mendelik, “bacot, tinggal pergi aja banyak tingkah,” sindir Haruna.
“Lo—”
Belum sempat Audrey berjalan ke arah Haruna, sebuah peluru melesat di udara dan bergerak ke arahnya. Sebelum peluru itu mengenai lengan Audrey, dengan secepat kilat Albian menarik Audrey ke arahnya sehingga membuat peluru itu mengenai tiang pilar.
“Brengsek! Apa-apaan nih?” maki Rama. Pasalnya hal ini terjadi bergitu tiba-tiba dan sepertinya hal itu di sengaja.
“Hati-hati, orang itu masih ada di sekitar sini,”
Haruna lalu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Audrey. Audrey terlihat begitu syok akan kejadian yang baru saja terjadi. Tubuhnya di penuhi oleh keringat dingin.
“Lo baik-baik aja?” tanya Haruna seraya memeriksa keadaan Audrey. Dengan tubuh gemetar Audrey mengangguk.
“G-gue mau balik,”cicit Audrey sembari menyembunyikan wajahnya di dada Albian.
“Lo tenang aja, kita bakal pulang dengan selamat,” ucap Haruna menenangkan.
“Bian, lo bawa Audrey buat sembunyi, biar gue sama yang lain urus sisanya,”
Albian mengangguk, “lo harus hati-hati,” ujar Albian.
“Of course,” Haruna tersenyum menanggapi. Setelah Albian dan Audrey berada di tempat yang aman, Haruna melangkahkan kakinya ke tempat peluru yang di tembakkan tadi.
Haruna lalu mengambil peluru yang tertancap di pilar dan mengamatinya dengan seksama.
__ADS_1
“Kaliber 7,62 x 67 mm, Arctic Warfare Magnum? Yang nyerang kita benar-benar niat ya,” Haruna tertawa geli.
Ia lalu membungkus peluru itu dengan sapu tangan lalu meletakkan peluru itu di dalam saku hoodienya.
“Gila! Siapa sih yang ngelakuin semua ini? Apa itu mereka?” tuding Abel.
Haruna menggeleng. “Bukan, itu bukan mereka. Kalian nggak sadar emang? Sekalipun kena, peluru ini cuma bakal mengores lengan Audrey. Dan lagi peluru ini bukan buat ngebunuh orang,” jelas Haruna.
“Kalo bukan mereka siapa lagi?” tanya Anggi.
“Professor Haffi,” jawab Haruna tanpa ragu.
“Professor? Jangan bercanda Har, nggak mungkin Professor yang ngelakuin semua ini dan lagi, apa tujuannya cobak?” sanggah Galen yang terlihat tidak terima.
“Gue setuju sama Haruna, cuma Professor Haffi yang bisa ngelakuin hal ini,” timpal Ian.
“Nggak masuk akal, kenapa cobak Professor ngelakuin semua ini?” imbuh Stella.
“Oh, gue nggak pernah bilang ke kalian emang?” tanya Haruna.
“Bilang apa?” Abel balas bertanya dengan tatapan penuh selidik.
“Kalian tau Umbra?” tanya Haruna memulai percakapan.
“Umbra?” ulang Jojo tak mengerti.
Haruna mengangguk. “Yes, Umbra. Sekelompok murid yang bekerja di balik bayangan, kalian tau nggak kenapa cuma di sekolah kita doang yang muridnya dikit?”
“Yang bener itu dua puluh orang,” seketika mereka menoleh dan mendapati Professor Haffi berjalan ke arah mereka dengan sebuah kotak senapan di tangannya.
“Professor!” seru mereka bersamaan, kecuali Haruna yang tetap berdiri diam sembari bersendekap dada.
“Selamat malam anak-anak,” sapa Professor Haffi sembari melangkahkan kakinya mendekat ke monumen patung.
“Kenapa baru datang sekarang, Prof? Professor tau nggak udah berapa banyak darah kita-kita yang di isap sama nyamuk? Dan lagi, kenapa coba Professor kumpulin kita di sekolah tengah malam lagi,” keluh Abel.
Professor Haffi tertawa. ”Saya sudah di sini sejak awal, kaliannya aja yang nggak sadar,” tutur Professor Haffi.
Jojo mengernyit. “Sejak awal?” ulang Jojo.
Professor Haffi mengangguk. “Yeah, sejak awal, jauh sebelum kalian datang saya sudah ada di sini, mempersiapkan dan mengamati,”
Anggi mengeleng tak mengerti. “Tunggu, kalo emang Professor udah datang dari tadi, kenapa Professor nggak datang buat temuin kita? Secara kan semua ini nggak akan terjadi kalo Professor jelasin ke kita,” Anggi mengerang dan menatap Professor Haffi dengan matanya yang sayu.
“Maaf, saya tidak bermaksud buat ngelakuin semua ini, ini semu—”
“Nggak bermaksud? Kalo emang sejak awal Professor nggak bermaksud nyuruh kita ke sini, kita nggak akan berada dalam keadaan ambigu kek gini,” sarkas Tomoya.
“Karena itu say—”
__ADS_1
“Udah, kita nggak harusnya berada di sini, ini bukan tempat kita, kita harus pulang,”
Lagi-lagi perkataan Professor Haffi dengan cepat di potong oleh Tomoya yang terbawa emosi. Entah mengapa Haruna seakan merasa janggal akan sikap Tomoya.
Tomoya seakan orang lain. Walaupun Tomoya jarang berbicara dan terkesan dingin, cowok itu benar-benar jarang menunjukkan emosinya, setidaknya itu yang Haruna ketahui setelah sebulan mengamati teman sekelasnya.
“Ini cuma tebakan gue aja sih, Moya apa jangan-jangan lo itu trauma ya sama kejadian tadi?” tebak Haruna.
Tubuh Tomoya menegang. Hal itu membuat Haruna yakin akan spekulasinya. Haruna dapat melihat di bawah cahaya lampu tubuh Tomoya tanpa sadar bergetar, bahkan ekspresi wajahnya sangat mudah di baca.
“Itu ...” bibir Tomoya terkatup rapat. Ia benar-benar tidak ingin mengatakan hal yang sudah ia kubur dalam-dalam dan merupakan pemicu dari semua mimpi buruknya.
“Moya lo beneran trauma?” tanya Abel dengan ekspresi khawatir.
Tomoya semakin menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin kembali membuka luka lama itu. Tidak lagi, sudah cukup sekali saja kejadian itu terjadi. Ia sudah berusaha untuk menyembunyikan kejadian itu.
“G-gue it—”
“Oke guys, berhubung Professor udah di sini, gue mau nanya sesuatu, ” dengan cepat Haruna menyela perkataan Tomoya.
“Kenapa Professor kumpulin kita di tempat ini? Tolong jelaskan semuanya sampe ke akar-akarnya, gue nggak mau tau,”
Hal itu sukses membuat perhatian teman sekelasnya tertuju pada Haruna dan Professor Haffi. Tanpa sadar Tomoya mengembuskan napas lega karena ia tidak akan membuka luka lama itu.
“Yah, saya mengumpulkan kalian semua di sini karena apa yang Haruna jelaskan tadi. Umbra, kalian akan di masukkan ke dalam Umbra,”
“Apa!” pekik mereka bersamaan.
“W-wait bukannya ini terlalu tiba-tiba? Dan lagi, kita nggak tau satu pun tentang Umbra, Professor bercanda, ya?” ujar Meta dengan ekspresi tak mengerti.
Professor Haffi menggeleng, “bagaimana bisa saya bercanda, saya serius, karena itu saya memberikan tes kenapa kalian untuk melihat seberapa layak dan semenjanjikan apa kalian,” jelas Professor Haffi panjang lebar.
“Tes? Maksud Professor peluru yang tadi itu cuma sekedar bagian dari tes?”
Mata Anggi membulat sempurna begitu Professor Haffi mengangguk akan pertanyaan yang di tanyakan oleh Jojo.
“Saya akan memberikan kalian tes yang lain, jadi tolong bertahan dan semoga berhasil melewati tes sekaligus seleksi ini. Ikuti saya,”
Professor Haffi kemudian mengulurkan tangannya ke arah monumen patung itu dan menyentuh ceruk lebar yang ada di tengahnya. Tangan Professor Haffi meraba-raba beberapa saat sebelum tangannya menyentuh sebuah gundukan kecil.
Ia lalu menekan gundukan itu dan menyebabkan tanah di bawah kaki mereka bergetar. Setelah getaran itu terhenti, di bawah monumen patung itu terdapat anak tangga yang banyak dan mengarah ke bawah tanah.
“Ikuti saya, Albian dan Audrey juga ikut,”
Albian menatap Audrey sekilas seolah bertanya.
“G-gue ikut,” walaupun terkesan penakut, Audrey tetap mencoba untuk menahannya.
Dengan bantuan Albian, Audrey juga masuk ke ruang bawah tanah itu dengan semua murid yang berasal dari kelas Abnormal.
__ADS_1
Setelah sampai di ujung tangga, jalan yang baru saja mereka lewati menutup secara otomatis.
Hanya tersisa kegelapan dan keheningan di sekitar mereka.