
Note:
Terjemahan tidak 100% benar dan akurat
Setelahnya kelas Abnormal di landa keheningan yang tiba-tiba. Tidak ada suasana berisik dan juga celotehan tak masuk ajar yang biasa Jojo ataupun Rion dan Abel lontarkan.
Kini mereka tengah sibuk memutar otak untuk segera menemukan kode nama. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat dan sudah lima belas menit berlalu.
Suara langkah kaki terdengar begitu samar dan seakan tidak ada seorang pun yang berdiri di depan kelas. Semua anak kelas Abnormal terlihat begitu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Bahkan Ian dan Tomoya juga tidak menyadari kedatangan Professor Gray. Suara gebrakan meja yang kuat membuat perhatian seluruh murid kelas Abnormal tertuju pada sosok seorang pria tinggi tegap yang tengah berdiri di balik meja guru.
“P-professor Gray,” cicit Stella dengan pandangan terkejut.
“Desde cuando Professor ser en esto?” tanya Jojo dengan ekspresi gugup. (Sejak kapan Professor berada di situ?)
Professor Gray menyeringai lebar. Matanya menatap satu-persatu murid kelas Abnormal dengan intens.
“Ustedes ...como puede les actuar no cortés gustar estas?” gertak Professor Gray. Matanya berkilat di penuhi kekesalan. (Kalian ...bagaimana bisa kalian bertindak tidak sopan seperti ini?)
“Aquello ...perdón Prof,” Stella berseru kecil dengan kepala tertunduk. (Itu ...maaf Prof).
“No debería hacer está deja de ser, de otra manera yo quería darse por ustedes minus point, vosotras hacer salida?” tegas Professor Gray. (Jangan melakukan hal ini lagi, jika tidak aku akan memberikan kalian minus point, kalian mengerti?)
“Sí, nosotros sobreentender!” sahut murid kelas Abnormal serentak. (Ya, kami mengerti! ).
“Hah, dejar mos ' examinar materia que ya nosotros aprender domingos domingos, abierto libro ustedes,” ujar Professor Gray. (Hah, mari kita bahas materi yang sudah kita pelajari minggu lalu, buka buku kalian,)
Ia memilih untuk membiarkan hal yang terjadi hari ini begitu saja. Hal ini jelas mengundang tanda tanya para murid di kelas itu. Professor Gray terlalu lunak hari ini. Hal ini jelas tidak bisa di biarkan.
Mereka tidak terbiasa!
Ini terlihat persis seperti kejadian sebelum badai, hujan petir, serta angin topan.
“Disculpe Prof,” celutuk Rion tiba-tiba. (Permisi Prof).
Professor Gray mengernyit. “Estar cuál, Rion?”
(Ada apa, Rion?)
“Aquello .... qué estar algo disruptivo reflexiones vuestro?” tanya Rion dengan takut-takut. (Itu ...apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda?)
Professor Gray tertawa. Bukan tawa yang menyenangkan untuk di dengar, setidaknya itulah yang ada di pikiran pada murid yang berada di kelas Abnormal.
“Pronto habrá una prueba mensual, prepárate bien. Por supuesto, hay remedios para aquellos con malas calificaciones. No querrás pasar tu día libre para volver a examinarte, ¿verdad?” (Sebentar lagi akan ada ujian bulanan, persiapkan diri kalian baik-baik. Tentu saja, ada remedial untuk yang nilainya jelek. Kalian tidak ingin menghabiskan hari libur kalian untuk ujian ulangkan?)
Bibir Professor Gray tertarik ke atas, sebuah senyum miring tercetak jelas di wajahnya. Seketika itu, bulu kuduk murid di kelas itu meremang. Seakan-akan ada angin dingin yang baru saja berhembus.
‘Mampus!’ batin Meta.
‘Ah, remedial? Nggak boleh, pokoknya nggak boleh,’ racau Binar dalam pikirannya.
‘Professor ketawa woy!’ teriak Stella dalam pikirannya.
‘Huaaa! Jangan sampai remedial,’ batin Haruna.
Audrey menyeringai, ‘untung gue pinter,’ batinnya.
Saat para murid sibuk bertarung dengan pikiran mereka masing-masing, Professor Gray berjalan mendekat ke meja Anggi dan menyerahkan setumpuk kertas kepadanya.
“Compartir este papel uno por uno,” titah Professor Gray. (Bagikan kertas ini satu persatu.)
Anggi mengangguk, “bien, profe.” Sahut Anggi.(Baik, prof.)
Anggi beranjak dari duduknya dan mulai membagikan secarik kertas kepada teman sekelasnya. Usai membagikan kertas itu, Anggi kembali duduk di kursinya.
“Era el horario de las materias que saldrían en los exámenes mensuales. Asegúrese de no obtener un valor rojo.” Terang Professor Gray. (Itu adalah jadwal untuk mata pelajaran yang akan keluar saat ujian bulanan. Pastikan agar kalian tidak mendapatkan nilai merah.)
“¡Espera un minuto! ¡Nunca hemos oído hablar de eso!” protes Binar. (Tunggu dulu! Kami belum pernah mendengar tentang hal itu!)
“Y de nuevo, ¿sujetos? ¿No debería haber sólo exámenes de práctica?” imbuh Meta dengan ekspresi keheranan. (Dan lagi, mata pelajaran? Bukankah seharusnya hanya akan ada ujian praktik?)
“Tienes razón, es solo que este año es un poco especial en comparación con el año pasado. Ahora, detén esta charla y abre tus libros. Ah, y una cosa más, seré el supervisor de los examinados que reprobaron.” Jelas Professor Gray. (Kalian benar, hanya saja tahun ini sedikit istimewa jika di bandingkan dengan tahun lalu. Sudah, hentikan obrolan ini dan buka buku kalian. Ah, dan satu lagi, saya yang akan menjadi pengawas bagi peserta ujian yang gagal.)
Professor Gray mengakhiri kelas bahasa Spanyol sepuluh menit lebih awal, dan membiarkan para murid di kelas Abnormal sibuk menghapal materi yang mungkin saja akan keluar saat ujian.
“Gue nggak tau lagi, gue nggak kuat,” keluh Stella sembari merebahkan kepalanya di atas meja.
“Aaaa! Gue nggak mau tau lagi!” teriak Binar sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.
__ADS_1
“Haruna lo baik-baik aja?!” pekik Abel sembari mengguncang tubuh Haruna yang tiba-tiba saja terlihat seperti kehilangan roh.
“G-gue sekarat Bel,” racau Haruna.
“Mau gue ajarin Har?” tawar Albian tiba-tiba.
Haruna menoleh sebentar lalu memalingkan wajahnya. “Nggak perlu, gue nggak butuh,” ketus Haruna.
Albian tersenyum miring, “heh, yakin lo? Padahal gue udah baik nawarin,” goda Albian.
Haruna bergidik. Ia lupa jika Albian selalu banyak berbicara jika dirinya tengah terlibat dalam masalah. Entah apa yang sebenarnya Albian pikirkan, Haruna pun kurang memahaminya.
“Wah, pemandangan langka nih,” celutuk Galen tiba-tiba.
“Ya kan, Albian bicara baik-baik, weh!” imbuh Jojo.
“Lo berdua berisik,” Anggi menegur dengan emosi yang tertahan.
Haruna mengebrak mejanya dengan wajah kesal.
“Seharusnya gue nggak pernah daftar di sekolah ini!” teriak Haruna dengan suara keras.
“Santai Har, sabar.” Ujar Jojo dari tempat duduknya.
“Yoo, lama tidak bertemu anak-anak,” sapa Professor Haffi yang berdiri sembari bersandar di kusen pintu.
Para murid kelas Abnormal tersentak kaget.
Pertanyaan yang sama terus berputar di kepala para murid kelas Abnormal.
Sejak kapan Professor Haffi berada di situ?
Saking terkejutnya Ian bahkan tanpa sadar menjatuhkan kotak pensilnya hingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras.
“Professor muncul dari mana?” tanya Abel dengan perasaan campur aduk. Bahkan ia sampai berkeringat dingin karena tidak bisa menyadari keberadaan Professor Haffi.
“Hm, saya sudah di sini sejak tadi,” ujar Professor Haffi tak yakin.
Tak ada jawaban. Para murid masih berusaha untuk mencerna dan memahami apa yang baru saja terjadi. Kejadian begitu cepat memang selalu membingungkan.
“Ada urusan apa Professor ke sini?” tanya Haruna dengan ekspresi tenang.
Tanpa berbicara Professor Haffi berjalan masuk ke dalam kelas dan mendekat ke tempat di mana Haruna duduk dan meletakkan sebuah amplop berwarna cokelat di atas meja Haruna lalu berbalik dan berjalan pergi.
Dengan ragu-ragu Haruna meraih surat itu dan membolak-balikkannya.
“Apa ini Prof?” tanya Haruna sembari mengangkat amplop itu ke udara.
“Kau akan tahu jika sudah membuka dan membacanya. Sampai jumpa,”
Setelah mengatakan hal itu, Professor Haffi menghilang di begitu saja saat berada di koridor, entah bagaimana caranya ia melakukan hal itu, Haruna masih belum mengetahuinya.
“Coba buka Har,” pinta Abel.
Haruna menurut, ia kemudian membuka amplop itu perlahan dan mengeluarkan sepucuk surat di dalamnya.
(Los Angeles, California.)
1652 N Cherokee Ave, Los Angeles, CA 90028, Amerika serikat.
09.23 AM
Haruna membolak-balikkan halaman surat itu untuk mencari kalimat lain. Namun, nihil, ia tidak menemukan apa-apa selain dari tiga kalimat pendek pada barisan pertama isi surat itu.
Haruna mengernyit tak mengerti. “Cuma ini doang?” ujarnya seraya menghempaskan surat itu ke atas meja dengan kasar.
“Coba liat Har,” Jojo kemudian mengambil alih surat itu dan berjalan kembali ke mejanya. Jojo merogoh saku ranselnya dan mengeluarkan sebuah korek api dan sebatang lilin lalu meletakkannya di atas meja.
Setelah membakar lilin, Jojo meletakkan surat yang tadi di atas api lilin. Perlahan tapi pasti, ada kalimat panjang yang tertulis pada surat itu.
“Har, ke sini Har, liat deh apa yang di tulis di sini,”
“Ha? Bukannya cuma tiga kalimat doang?” tanya Haruna muram.
Jojo menggeleng, lalu memperlihatkan pada Haruna apa yang baru saja ia temukan. Haruna buru-buru mendekat ke tempat Jojo dengan yang lainnya.
“Sini,” Haruna lalu mengambil surat itu dari Jojo dan kembali membacanya. Kalimat berikutnya yang berada di dalam surat itu di tulis dalam bahasa Italia.
A favore voàddri il ombra principante, ne vado chiedere voi a accendere mission che quasi impossibile a favore voi risolvere. E perché quello anche io inviare il più vecchio che sarà aiutare vuà. Voi piacimento incontrare essi dove indirizzo già scritto alla frase presto. Fondare informazione qualunque a proposito “lei sapere chi?" e prudentecon pericolo. Adunanza loro dove fare alla datteri 25 luglio xxx in barra Boardner's. Quando vuàrdri
__ADS_1
finché a San Francisco, vattene incontrare qualcuno chiamarsi John Antonio, persona quello che volontà aiutare loro quando essere in ivi.
(Untuk kalian para bayangan pemula, aku akan meminta kalian untuk memulai misi yang hampir mustahil untuk kalian selesaikan. Dan karena itu juga aku mengirim para senior yang akan membantu kalian. Kalian akan bertemu mereka di alamat yang sudah tertulis pada kalimat awal.Temukan informasi apapun tentang “kau tau siapa?” dan berhati-hati dengan bahaya. Pertemuan kalian di lakukan pada tanggal 25 juli xxx di bar Boardner's. Saat kalian sampai di San Francisco, pergilah menemui seseorang bernama Jhon Antonio, orang itu yang akan membantu kalian saat kalian berada di sana.)
“Jadi... misi pertama kita itu di San Francisco, California?” ucap Abel.
“Bisa nggak sih kita nggak lakuin misi itu?” tanya Meta tak bersemangat.
Hairus mendesah pelan, “nggak bisa, jadi kapan kita berangkat?”
“Tanggal 20. Seminggu setelah ujian berakhir. ” Tutur Haruna.
“Jadi... kita beneran harus jalanin misi ini?” celutuk Albian tiba-tiba.
Haruna mengangguk dengan terpaksa. “Yah, gitu deh,” jawabnya setengah hati.
Tomoya berjalan mendekat ke meja Haruna lalu mengambil alih surat yang Haruna pegang dan membacanya. Tomoya meremas surat itu dalam genggamannya.
“Eh, kok di remas sih,” protes Jojo yang dengan segera merampas kertas yang Tomoya pegang.
“Ah, jadi lecek kan, kertasnya,” gerutu Jojo.
“Moya, lo kenapa?” tanya Haruna sembari menatap langsung mata elang Tomoya yang berkilat seolah marah.
Tomoya mengalihkan pandangan dan mengusap wajahnya dengan kasar. “Bukan apa-apa,” jawabnya spontan.
“Lo yakin?” tanya Galen dengan ekspresi khawatir dan penasaran.
Tomoya melirik sekilas ke tempat duduk Anggi yang terlihat tidak terganggu dengan keributan yang tengah terjadi. Anggi memilih untuk fokus dengan catatan bahasanya. Tanpa sadar senyum kecil tercetak di sudut bibir Tomoya saat ia menatap Anggi.
Haruna yang menyadari hal itu pun mengangguk.
Tomoya menyukai Anggi. Dan Haruna yakin Tomoya tidak ingin mengikutsertakan Anggi dalam misi ini, karena ia ingin melindunginya.
‘Oh, jadi itu alasannya.’ Batin Haruna.
“Oke guys, ada sesuatu yang mau gue sampaikan ke kalian semua,” ujar Haruna dengan suara lantang. Ia lalu berjalan ke depan kelas.
“Hm,” Ian mengangkat wajahnya dari buku dan menatap wajah serius Haruna dengan ekspresi datar dan terlihat tidak tertarik sama sekali.
Audrey menopang dagunya dan menatap Haruna dengan ekspresi malas. Ia benar-benar tidak ingin terlibat dengan misi apalah itu. Bagi Audrey, semua itu hanya membuang-buang waktu dan tidak berguna.
“Lo mau ngomong apa Har?” tanya Galen dari tempat duduknya.
Haruna tersenyum misterius. “Gue mau kita bagi beberapa kelompok,” cetus Haruna.
“Kelompok?” ulang Binar.
Haruna mengangguk. “Yeah, kelompok. Kita akan bagi jadi beberapa tim dan akan saling bantu dan juga saling melindungi satu sama lain, gimana?” usul Haruna.
Rama mengangguk. “Kayaknya bagus,” paparnya.
Binar menimbang-nimbang. “Hah, gue ngikut aja deh,” putusnya.
“Gue juga,” imbuh Stella.
“Tapi Har, itu ....nggak jadi,” Rion seakan-akan ingin mengatakan sesuatu namun ia mengurungkan niatnya.
“Itu apa?” tanya Haruna.
Rion menggeleng, “bukan apa-apa,” jawabnya tanpa menatap wajah Haruna.
“Lo yakin?” tanya Haruna lagi.
Rion mengangguk. “Yeah,” sahutnya.
Baru saja Haruna akan menanyakan hal yang lain, bel tanda istirahat membuatnya mengurungkan niat.
“Bin, Bel, kantin kuy,” ajak Haruna yang dengan sengaja mengalihkan topik.
“Tunggu bentar,” ujar Abel yang buru-buru memasukkan buku-bukunya.
“Anggi, Meta, kalian ikut nggak?” tanya Binar.
“Gue ikut,” ujar Anggi lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Kalian duluan aja,” jawab Meta yang sibuk dengan catatan bahasanya.
“Oke, duluan ya,” ujar Abel sembari melambaikan tangannya dan pergi menyusul Haruna yang sudah pergi terlebih dulu.
__ADS_1
Hari itu berlalu seperti hari biasa, saat itu mereka masih belum menyadari bahaya apa yang sudah menunggu mereka.