
Raka yang berada di ruang penyiaran dan tengah sibuk memantau Haruna dari monitor bergegas keluar begitu melihat Haruna beranjak dari kursinya.
Raka menunggu hingga pintu Ruang Senyap terbuka dan menampakkan wajah Haruna yang datar dan berjalan keluar.
Dengan cepat Raka menghadang Haruna yang akan keluar dari ruangan ini. “Apa yang sudah kamu lakukan? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tetap tinggal hingga hukumanmu di tentukan?” Raka berbicara dengan gusar.
Ia benar-benar merasa di remehkan terlebih lagi orang itu adalah murid baru yang bahkan belum sekalipun menyentuh satu pun mata pelajaran di sekolah ini.
Haruna berdecak,“Ck, Haruna capek, udah ya, Haruna mau ke kelas bentar lagi gurunya bakal masuk,” ujar Haruna lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Baru selangkah Haruna melangkah Raka dengan cepat menghentikannya. “Kamu pikir kamu siapa? di sekolah ini semua peraturan wajib di patuhi, kamu benar-benar murid yang bermasalah, point kamu akan di kurangkan sebanyak dua ratus tujuh puluh lima, di tambah dengan hukuman membersihkan ruang kelas selama satu bulan,”
Haruna mengendik. “Oh, oke.” Haruna menjawab singkat lalu melepaskan cekalan tangan Raka yang menahannya lalu berlalu dari tempat itu dengan ekspresi dingin.
Raka menatap punggung Haruna yang menjauh dengan ekspresi geram. Selama ia bertugas di sekolah ini tidak pernah ada murid yang begitu semena-mena seperti Haruna.
“Gadis itu ...” Raka mengepalkan tangannya sehingga membuat pulpen yang ia pegang patah menjadi dua bagian.
Haruna berjalan santai sembari menuju kelasnya yang terletak di gedung tua yang berjarak dua ratus meter dari bangunan utama. Haruna berdiri tepat di depan pintu ruang kelasnya yang menurut Haruna begitu memperihatinkan.
Dengan ensel pintu yang hampir terlepas di salah satunya. Begitu Haruna berjalan memasuki tempat itu angin dingin serta merta langsung menyambutnya membuat Haruna mengusap lengannya.
“Welcome to Abnormal kelas, Haruna Anika Pitaloka,” suara seruan teman sekelasnya membuat Haruna tidak tahu harus menjawab apa.
Haruna berdiri sembari mengamati satu-persatu teman sekelasnya. “Hm, gue harus jawab apa?” tanya Haruna yang membuat teman sekelasnya tertawa.
“Ternyata lo orang yang asik juga ya, kenalin, gue Abella Kartika, salam kenal,” Abel mengulurkan tangannya pada Haruna yang di sambut dengan senang hati oleh Haruna.
“Haruna, salam kenal juga,” Haruna tersenyum tipis lalu melepaskan jabat tangannya. Seorang pria dengan baju acak-acakan yang tengah duduk di atas meja menatap Haruna dengan pandangan yang sulit di artikan.
Haruna yang merasa dirinya di perhatikan lantas mencari keberadaan orang yang memperhatikannya. Haruna beradu pandang sebentar dengan pria itu lalu pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, enggan untuk melakukan kontak mata dengan Haruna.
__ADS_1
“Dia siapa?” tanya Haruna sembari menunjuk cowok yang tengah duduk di salah satu meja sembari menatap ke luar jendela.
“Oh, dia Albian Mahendra,” celutuk Stella. “Btw, nama gue Stella Noviani, salam kenal,” lanjutnya dengan bibir yang tersenyum ramah.
Haruna mengangguk, “salam kenal Stella,”
“Kenalin, gue Rion Andika, cowok paling ganteng di kelas ini,”, ujar Rion dengan angkuh.
Hairus mendelik ke arah Rion. “Bacot, nggak usah di ladenin Har, Rion emang gitu orangnya,” tutur Hairus. Haruna hanya mengangguk dengan canggung.
“Gue Fatur Hairus Erlangga, salken Har,” ujar Hairus memperkenalkan diri.
“Gue Binar Jovanca,” ucap seorang cewek berambut pendek yang tengah duduk di salah satu kursi sembari mengangkat tangan.
“Dan cowok yang itu, namanya Tomoya Atmaja, dia keturunan Jepang- Indonesia ketimbang mahir bahasa Jepang dia lebih lancar bahasa Indonesia,” ujar Abel memberitahu. Tangannya bergerak menunjuk ke arah cowok yang tengah duduk sembari menatap keluar jendela.
Lagi-lagi Haruna mengangguk mendengar satu persatu teman sekelasnya mulai memperkenalkan diri tanpa di minta.
“Oh, jangan lupain nerd di kelas kita, Meta Andriani,” celutuk Abel dengan tangan yang menunjuk pada seorang gadis yang duduk sembari berkutat dengan sebuah buku di atas mejanya.
“Dan cewek yang lagi sibuk sama gadget-nya itu namanya Audrey Cantika, dan jangan sampai lo berurusan sama dia juga, dia orang yang pendendam,” papar Abel.
“Oke cukup sampai di sini aja perkenalannya, guys kembali ke bangku kalian masing-masing, bentar lagi guru bakal masuk,” sela Jojo.
Semua perhatian tertuju pada Jojo yang tiba-tiba berdiri dari kursinya.
“Dih, emang lu siapa dah?” ceplos Anggi dengan nada sinis.
“Oh iya, gue lupa mempekenalkan diri ya, kenalin Jonathan Athentino panggil aja Jojo. Semoga kita bisa selalu akur,” ujar Jojo.
Anggi mendengus, ia yakin tidak ada satupun orang abnormal di kelas ini, terkecuali dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang Anggi yakini sebelum dari arah pintu seorang cowok berkacamata namun tampan berjalan masuk sembari membawa setumpuk kertas di tangannya dan meletakkannya di atas meja guru.
__ADS_1
“Hah, oke sebelum kita memulai pelajaran di kelas ini, gue selaku perwakilan kelas akan memperkenalkan diri biar kita bisa lebih akrab. Gue Galendra Valentinus, salam kenal,” ujar Galen dengan santai.
“Udah cepat kalian duduk, bentar lagi gurunya masuk,” lanjut Galen dengan nada memerintah.
Semua menurut lalu berjalan menuju tempat duduk mereka dengan teratur.
Haruna memilih duduk di kursi yang berada di depan Albian yang terletak berdekatan dengan jendela. Haruna berbalik untuk melihat wajah acuh Albian yang di balas dengan tatapan datar dari pria itu.
“Apa?” tanya Albian dengan nada sinis.
“Bukan apa-apa,” Haruna menjawab dengan canggung ia kemudian berbalik dan memilih untuk memperhatikan Galen yang tengah berdiri di depan papan tulis.
“Len, lo nggak duduk?” celutuk Binar dengan matanya yang tertuju pada Galen.
Galen menggeleng, “Ssst! Ini itu etika, sebagai perwakilan kelas, sebelum guru masuk gue nggak boleh balik ke tempat duduk kalo nggak point gue bisa minus,” terang Galen.
“Terus kita nggak apa-apa nih tetep duduk?” tanya Abel.
Galen mengangguk, “iya, ini cuma sekedar formalitas sebagai perwakilan kelas aja soalnya,” ujar Galen.
Abel mengangguk mengerti. “Oh,oke,”
Tak lama setelahnya seorang guru wanita berjalan masuk dengan sebuah buku di tangannya.
“Kamu bisa kembali ke tempat duduk,” ujar guru itu yang di tunjukkan pada Galen yang masih berdiri di samping meja guru.
Galen mengangguk lalu berjalan kembali ke tempat duduknya yang berada di barisan kedua dari belakang.
“Baik sebelum kelas di mulai biarkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya guru sekaligus wali kelas kalian, nama saya Dewi Khairunisa, saya mengajarkan pelajaran sejarah di kelas ini. Kalian bisa memilih mata pelajaran yang kalian inginkan dengan kertas yang akan saya bagikan,”
terang Bu Dewi panjang lebar.
__ADS_1
Bu Dewi kemudian membagikan secarik kertas yang Galen bawa kepada satu persatu murid di kelas itu. Setelah itu Bu Dewi kembali berjalan menuju meja guru.
“Balik ke pelajaran, buka buku kalian halaman tiga belas,” ucap Bu Dewi.