The Last Umbra

The Last Umbra
05. Rencana Penyusupan


__ADS_3

Audrey menatap pantulan wajahnya di cermin toilet dengan ekspresi marah. Wajahnya di penuhi oleh bekas cakaran yang di tinggalkan Abel.


“Cewek brengsek!” maki Audrey dengan tatapan nyalang. “Berani-beraninya dia buat muka gue jadi jelek kayak gini, liat aja gue bakal balas perbuatan lo ini dua kali lipat,” tekad Audrey.


Audrey membasuh wajahnya lalu berjalan keluar dari toilet. Tanpa Audrey sadari, seseorang tanpa sengaja mendengar keluh kesah nya dan tersenyum seolah merencanakan sesuatu.


Haruna membolak-balikkan halaman buku dengan malas, padahal Pak Hildan sedari tadi sibuk menjelaskan tentang tanaman beracun dan tidak beracun di depan kelas.


Haruna melirik jam di tangannya dan mengembuskan napas kesal. Kelas baru saja di mulai sepuluh menit yang lalu dan ia sudah bosan mendengarkan Pak Hildan menjelaskan.


‘Cepat kelar napa?’ dengus Haruna.


Abel dengan antusias mendengarkan penjelasan yang di berikan oleh Pak Hildan. Sedangkan Jojo sedari tadi sibuk mencatat materi. Begitu juga dengan Galen yang terlihat begitu menikmati materi yang di jelaskan.


“Oke, cukup sampai di sini saja materi kali ini, jangan lupa untuk mempelajarinya lagi, saya pamit undur diri,” ujar Pak Hildan dan berjalan meninggalkan kelas.


“Ah! Akhirnya kelar juga,” ujar Haruna sembari menyandarkan tubuhnya ke belakang.


“Yaelah Har, padahal nggak lama loh,” celutuk Abel.


Haruna berbalik dan menatap Abel yang duduk di belakangnya. “Asal lo tau aja Bel, gue itu paling benci yang namanya belajar, mau sesingkat apapun jam pelajaran itu,” jelas Haruna.


Abel mengangguk pelan. “Pantesan, btw lo jadi ikut, kan?” tanya Abel memastikan.


“Well, kayaknya seru, btw Albian lo ikut?” sontak pertanyaan Haruna yang di lontarkan pada Albian kembali membuat penasaran teman sekelasnya.


Albian memiringkan kepalanya sebelum mengangguk. “Oke,” jawabnya singkat.


“Lo seriusan ngajak Albian? Lo udah gila?” Abel berseru kecil.


“Hm, tenang aja, kalo dia buat masalah biar gue yang beresin, ya nggak Al?” lontar Haruna.


“Apanya?” tanya Albian tak mengerti.


Haruna hanya tersenyum menanggapi dan kembali menatap Abel yang masih terlihat ragu-ragu. “Jadi siapa aja yang ikut?” tanya Haruna.


Abel diam sembari menimbang-nimbang. Abel kemudian berjalan dari tempat duduknya dan berjalan ke depan kelas.


“Jo, ada orang di luar?” tanya Abel pada Jojo yang duduk di dekat pintu. Jojo memiringkan kepalanya sedikit lalu menggeleng.


“Aman kok,” ujar Jojo.


Abel mengangguk lalu menatap wajah teman sekelasnya satu persatu. “Oke guys, gue mau minta waktu kalian bentar, jadi gue, Haruna, Stella, Anggi sama Meta bakal pergi ke bar SKYE. Ada yang mau ikut gabung?” tanya Abel sembari melemparkan pandangannya ke sekeliling kelas.


Sontak Hairus mengebrak mejanya dengan kuat.


“Lo udah gila? Lo itu masih di bawah umur, jangan aneh-aneh, ” tegur Hairus dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Abel mengibaskan rambutnya dan menatap Hairus dengan datar. “Lo pikir gue ke situ buat main-main apa? Gue gabut, gue mau ngebongkar sebuah transaksi narkoba di Bar itu,” jelas Abel.


“Tau dari mana lo kalo di situ bakal ada bisnis transaksi narkoba?” tanya Ian dengan ekspresi dingin.


Abel tersenyum,“ rahasia ...ya intinya gitu, jadi siapa aja yang mau gabung?” tanya Abel lagi.

__ADS_1


Kelas dilanda keheningan seakan-akan sedang sibuk bergulat dengan pikiran masing-masing.


Rion mengangkat tangannya ke udara.


“Gue ikut,” ucap Rion.


Jojo menatap Rion dengan penuh selidik. “Sejak kapan lo tertarik sama yang begituan?” Rion mengendikan bahu acuh lalu menepuk-nepuk bahu Jojo.


“Lo kayak nggak tau gue aja,” ujar Rion dengan seringai di wajahnya. Jojo bergidik, bagaimana bisa ia berteman dengan mahluk seperti Rion?


“Otak lo kotor, tapi karena lo ikut, yaudah gue juga gabung,” putus Jojo.


“Gue juga ikut,” celutuk Tomoya. Padahal sedari tadi pria itu seakan-akan tidak begitu peduli akan hal berbahaya yang akan di lakukan oleh teman-temannya.


“Gue juga, siapa tahu ketemu cogan ya, kan?” Binar terkikik geli sembari memikirkan tentang pria tampan yang mungkin saja akan ia temui jika pergi ke tempar itu.


Galen dan Rama juga ikut mengangkat tangan. “Kalian pergi, gue juga pergi, ya kali, kalian seru-seruan nggak ngajak kita berdua. Ya nggak Ram?”


Rama mengangguk menyetujui. “Iyalah, kan nggak seru cuma kalian doang yang bakal di puji nantinya,” Rama berkata dengan nada menyindir.


Abel berdecak, “ketenaran doang yang ada di otak lo. Asal lo tau aja, bar ini nggak di buka buat umum, jadi kita perlu suatu cara untuk menyusup ke tempat itu. Dan satu lagi, kelengahan lo bisa buat diri lo celaka, maka dari itu tolong hati-hati dan berpikir sebelum bertindak.” Terang Abel panjang lebar.


Haruna hanya mendengarkan dengan seksama. Sepertinya ia mulai sedikit menyukai kelas ini.


“Jadi gue mau bagi peran. Di sini siapa aja yang bisa main komputer atau laptop?” tanya Abel.


“Bukannya semuanya pakai laptop atau komputer, ya?” tanya Jojo dengan wajah kebingungan.


Abel mendengus. “Ganteng doang, pinter kagak. Bukan itu yang gue maksud, maksud gue itu yang bisa ngehack situs ataupun sistem gitu loh,”


“Lo nggak usah ikutan, biar gue aja,” ujar Rion angkuh.


Anggi mendelik sinis. “Dih, emang seahli apa sih lo sampai-sampai yakin banget bisa sendirian?” sindir Anggi.


“Karena gue emang bisa,” sewot Rion tak mau kalah.


“Bacot, kalo lo bisa gue juga bisa,” ketus Anggi.


“Dih, kepedean banget sih jadi cewek, sok-sok an lagi,” desis Rion.


“Lo—”


“Oke, udah stop jangan ribut,” lerai Abel. Ia tidak bisa membiarkan keributan ini terus berlanjut.


“Gue serahin urusan retas cctv ke elo berdua, jadi imbang ya, nggak boleh protes,”


“Tapi Bel,”


“Nggak ada tapi-tapi, kalian harus bekerja sama. Gue nggak mau rencana ini gagal total dan hancur di tangan lo berdua,” sarkas Abel.


Anggi bungkam. Abel benar, jika ia dan Rion melakukan sedikit saja kesalahan dalam meretas sistem, teman-temannya akan berada dalam bahaya.


“Oke, fine. Untuk kali ini aja gue bakal ikutin semua arahan lo,” ujar Anggi mengalah.

__ADS_1


“Lo gimana?” tanya Abel pada Rion.


“Ya, gue ngikut aja,” sahut Rion ala kadarnya.


“Sekarang yang bagian menyusup. Gue, Har—”


“Biar gue aja yang milih anggota di bagian ini,” potong Haruna.


Abel mengangguk lalu mempersilahkan Haruna untuk memilih. “Gue, Albian, Hairus, Binar, sama Rama bakal nyusup dan mencari informasi tentang transaksi itu. Abel, Jojo, Stella sama Meta bakalan jagain area sekitar,”


“Bel, denahnya.” Titah Haruna. Abel mendekat ke meja Haruna dan menyerahkan sebuah gulungan. Haruna membentangkan gulungan itu di atas meja dan mulai mengamati sketsa kasar denah bar SKYE.


“Kita bakal nyusup dari pintu depan,” Haruna menyeringai.


“Ha? Yang benar aja?” seru Hairus dan Binar bersamaan.


Haruna mengangguk. “Dan untuk Moya, Lo harus jaga-jaga di sekitar sini dan siapin dua mobil buat kita,” ujar Haruna yang menunjuk pada sketsa tangga yang berada di bangunan yang terletak di samping bar SKYE.


“Kalau untuk Jojo sama Galen, lo berdua usahain buat keributan dan alihkan perhatian para penjaga,”


Jojo, Abel, Binar dan juga Galen mengangguk mengerti.


Ini adalah rencana paling masuk akal yang bisa mereka pilih.


“Rute pelariannya gimana?” ceplos Binar tanpa sadar.


Lagi-lagi Haruna tersenyum. “Lo pikir gue lupa? Ada tiga rute pelarian yang bisa gue pikirkan. Pertama dari pintu belakang, gue udah minta orang selidiki tempat ini dari informasi yang gue dapat, tempat ini cuma bisa di akses dengan kartu keanggotaan. ” Jelas Haruna.


“Kartu ke anggotaan?” ulang Jojo yang terkesan tidak mengerti.


Haruna mengangguk, “ yah, kartu ke anggotaan. Tapi, lo tenang aja, gue berhasil dapatin kartu itu,” Haruna kemudian merogoh saku ranselnya dan mengeluarkan beberapa kartu ke anggotaan dan meletakkannya di atas sketsa denah bar SKYE.


“Karena kartunya cuma ada lima, jadi rute ini cuma bisa di pakai sama kita berlima yang nyusup ke bar ini,” terang Haruna.


“Tapi Har, lo yakin mau ngelakuin hal ini? Terlebih lagi ini hari pertama kita loh, masa iya kita bakal buat masalah,” tutur Galen dengan ekspresi cemas.


Haruna tersenyum menenangkan. “Mau mundur silahkan, soalnya gue nggak mau ngebuat teman sekelas gue celaka karena kenekatan yang gue lakuin,” papar Haruna.


Galen mendesah,“ hah, yaudah gue ikut. Ya kali, cuma gue doang yang nggak ikutan,”


“Ralat, Ian sama Audrey juga nggak ikut kok,” ujar Binar.


“Siapa bilang gue nggak ikutan?”


Semua pasang mata langsung tertuju pada Ian yang sudah berdiri dan berjalan mendekat ke meja Haruna. Haruna tetap menjaga ekspresinya saat Ian menunjuk ke salah satu tempat di dalam denah.


“Gue bakal ada di sini untuk jaga-jaga,” ujar Ian sembari mengetuk-ngetuk tempat bartender.


“Lo gila?!” sarkas Binar dengan rahang mengeras.


“Gue nggak bakal setuju dengan ide lo, ” tolak Binar sembari mengangkat kedua tangannya ke udara.


“Gue juga,” ujar Haruna. Ia menatap Haruna dengan ekspresi tidak percaya. Ia pikir Haruna akan menyetujui rencananya dengan mudah.

__ADS_1


“Why?” tanya Ian sembari memicingkan matanya ke arah Haruna.


“Yang Binar bilang itu masuk akal, kita datang ke sini dengan resiko, nggak mungkin kita bakal korbanin orang lain sebagai pengalih di saat kita terdesak. Dan lagi, gue bukan tipe orang yang bakal mengabaikan teman-teman gue,” jelas Haruna.


__ADS_2