The Last Umbra

The Last Umbra
11. Kode Nama


__ADS_3

Note:


Terjemahan tidak 100% benar dan akurat


“Baiklah saya akui kalian memang memiliki potensi, namun jangan kira jika kemampuan kalian itu sudah cukup. Seperti yang saya katakan, kalian akan mendapatkan pelatihan yang keras dan untuk itu tolong persiapkan diri kalian,”


“Yang bener aja!” protes Rion tak terima.


“Malaikat bersayap iblis,” cibir Jojo.


“Gue mau balik!” teriak Audrey.


Professor Haffi tertawa. “Sudah, sudah, berhenti mengeluh. Ayo berdiri dan berbaris, ada sesuatu yang ingin saya katakan kepada kalian,” ujar Professor Haffi.


“Kini dengan bangga saya nyatakan bahwa kalian telah berhasil melewati seleksi dan menjadi bagian dari Umbra. Congratulation!”


“Wow demi apa?!” heboh Jojo.


“I-ini bukan mimpikan?” ujar Ian tak kalah terkejut.


“Huh, dari awal gue juga udah yakin kalo gue bakal lulus,” ujar Audrey dengan angkuh.


“Oke, tenang. Pertama-tama kita harus nentuin nama apa yang bakal kalian pakai,”


“Nama?” ulang Galen.


“Ya, nama. Kalian tidak bisa menggunakan nama asli kalian, oleh karena itu kalian harus menentukan nama dan kode untuk diri kalian sendiri.” Terang Professor Haffi.


Tomoya mengangkat tangannya. “Sebelum itu, saya ingin tahu segala hal tentang Umbra. Dan tentang semua misi-misi yang mereka emban,” ucap Tomoya.


Professor Haffi tersenyum. “Saya akan menjelaskannya setelah kalian menentukan nama kode kalian, sekali lagi selamat atas keberhasilan kalian.”


***


“Ah! Gue masih nggak paham,” gerutu Jojo.


“Tentang apa?” tanya Hairus.


“Oh, itu pasti tentang kode nama, 'kan?” tebak Anggi.


Rion mengacak-acak rambutnya dan mencoret-coret bukunya dengan ekspresi kesal. “Ah, gue nyerah. Gue nggak tau kalo nentuin kode nama aja sesulit ini,” racaunya.


“Eh, kira-kira nama kelompok kita apa yah?” tanya Abel.

__ADS_1


Haruna mengerutkan kening tanda tak mengerti.


“Nama kelompok? Bukannya kita cuma di suruh buat nentuin kode nama, ya?” tanya Haruna dengan ekspresi bingung.


Abel mencebik, “Itu kan kode nama, maksud gue kelompok kita, masa iya kita mau make nama Umbra tanpa ada sebutan lain buat kelompok kita,” jelas Abel.


Haruna mengangguk pelan. “Lo ada benernya juga, selain kode nama, kita juga harus nentuin nama kelompok,” cetus Haruna.


“Di sini yang udah dapat kode nama tolong angkat tangan,” pinta Abel yang sudah berdiri di depan kelas. Beruntung kelas matematika baru saja berakhir dan kelas bahasa Spanyol baru akan di mulai lima belas menit lagi.


Haruna, Audrey, Albian, Rama,Hairus, dan juga Stella langsung mengangkat tangannya.


“Wah, bisa-bisanya kalian dapat kode nama hanya dalam dua hari,” sindir Rion.


Audrey mendelik, “Makanya, otak itu di pake buat mikir,” ketus Audrey.


Rama tersenyum miring, “Buat kode nama itu hal yang mudah, ya kali gue nggak bisa,” ujarnya dengan ekspresi percaya diri.


Hairus mengangguk menyetujui. “Rama bener, hal itu nggak terlalu sulit,” imbuh Hairus.


Albian mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja sembari menatap sekeliling kelas dengan malas.


“Gue nggak perlu mikir, dari kecil gue udah punya kode nama,” terang Albian.


“Bagi gue itu bukan hal yang sulit kok,” ujar Stella.


Abel mendengus. Bisa-bisanya mereka dengan santainya mengatakan bahwa itu bukanlah hal yang sulit. Abel benar-benar tidak mengerti, mungkin saja ini juga bagian dari faktor pembagian IQ, dan kebetulan ia hanya mendapatkan sebagian kecil dari kepintaran itu.


“Tau ah, nggak peduli lagi gue,” seru Anggi tiba-tiba sembari mengebrak mejanya.


“Lo kenapa, dah?” tanya Galen.


“Catatan bahasa gue ketinggalan, mana yang masuk ntar Professor Gray lagi. Gimana dong?”


Anggi mengacak-acak rambutnya frustasi. Seharusnya ia tidak terlalu memusingkan tentang kode nama itu dulu dan lihat betapa kacau dirinya sekarang.


“Lo bisa pakai catatan gue,” ujar Tomoya sembari mengeser catatan bahasanya pada Anggi.


Anggi mengambil catatan itu dengan ragu. “Lo seriusan pinjamin gue catatan lo?” tanya Anggi pada Tomoya yang duduk di sampingnya.


Tomoya hanya menggangguk dan kembali sibuk dengan tugas matematikanya.


“Thanks, ” cicit Anggi sembari membuka catatan bahasa Spanyol milik Tomoya. Mata Anggi berkilat melihat catatan Tomoya yang di tulis dengan rapi dan mudah di pahami.

__ADS_1


“Ini seriusan lo yang tulis?” tanya Anggi.


“Hm,” jawab Tomoya cuek.


Anggi berdecak, “Ck, kutub.” Cibir Anggi dengan pipi yang mengembung. Tanpa ia sadari Tomoya masih bisa mendengar ucapannya dan tersenyum kecil.


‘Demoiselle que intéressant,’ batin Tomoya.


(Gadis yang menarik)


“Moya, pinjem catatan bahasa lo dong,” pinta Jojo.


Tomoya membalikkan badannya dan menatap Jojo dengan tajam. Jojo menelan salivanya dengan kasar, sebenarnya kesalahan apa yang sudah ia lakukan?


“Nih, Jo. Una vez más gracias, Moya,” ujar Anggi dengan bibir yang menyunggingkan senyum manis.


(Sekali lagi terima kasih).


Tomoya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dan wajahnya memanas, ia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain dan menghindari tatapan Anggi.


“Ini punya Moya?” tanya Jojo dengan ekspresi heran.


Anggi mengangguk pelan. “Yep. Jo, lo udah Nemu kode nama nggak?” tanya Anggi.


Joko menggeleng, “Belum, lagian masih ada waktu satu minggu sampe waktu pelatihan kita di adain,”


“Iya, juga sih. Yaudah gue mau ke toilet dulu,” Anggi beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kelas. Begitu punggung Anggi tak lagi terlihat, Tomoya dengan cepat mengambil catatannya dari Jojo.


“Eh, kok di ambil sih,” protes Jojo tak terima. Pasalnya Jojo baru teringat jika Professor Gray memberikan mereka PR seminggu yang lalu, dan dirinya belum mengerjakan PR itu sama sekali.


“Suka-suka gue, lagian lo punya catatan sendiri,” ketus Tomoya dengan wajah datar.


Jojo berdecak, lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja Ian. Ian menegadah saat Jojo berdiri di samping mejanya tanpa mengatakan sepatah katapun.


“Apa?” tanya Ian.


“Gue boleh pinjam catatan lo nggak?” tanya Jojo ragu-ragu.


Ian mengangguk. Lalu tanpa bicara ia mengeluarkan catatan bahasanya dan menyerahkannya pada Jojo.


Jojo tersenyum, “Thanks, lo emang cowok paling cakep dan baik yang pernah gue temuin, ntar gue balikin,” Jojo langsung berjalan kembali ke tempat duduknya dengan ekspresi senang.


Ian menggelengkan kepala dan kembali fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2