
Haruna menjejalkan berapa buku ke dalam tas ranselnya. Setelah selesai, Haruna merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mengingat besok adalah hari pertamanya bersekolah, Haruna memilih untuk tidur lebih awal.
Selain benci belajar, Haruna juga termasuk gadis yang sulit untuk bangun pagi. Karena hal itu juga yang membuat Revan memaksanya untuk mendaftar ke Akademi Cakrawala .
“Kalo Mama tahu gue masuk ke Akademi Cakrawala, pasti dia bakal adain perayaan atau apalah itu, pokoknya jangan sampai Mama sama Papa tahu soal ini,” dengus Haruna.
Haruna sudah memutuskan ia tidak akan mengatakan hal ini kepada orangtuanya. Beruntung keduanya kini tengah berada di luar negeri selain untuk mengurus bisnis keluarga, mereka juga bisa di pastikan sedang menikmati liburan.
Haruna memejamkan matanya dan perlahan mulai terlelap. Alarm di ponselnya berbunyi nyaring membuat Haruna mau tidak mau harus bangun untuk mematikan alarmnya.
Jam di ponselnya menunjukkan pukul lima setengah. Masih tersisa cukup waktu untuk mandi dan sarapan. Haruna berniat untuk kembali berbaring sebentar namun suara ketukan di pintu membuatnya mengurungkan niat.
“Haruna, lo udah bangun?” suara Revan terdengar samar-samar dari balik pintu.
Haruna menyibak selimut dan berjalan menuju pintu kamar. Dengan malas Haruna membuka pintu dan menatap Revan yang tengah berdiri sembari mengangkat tinggi-tinggi sebuah bag paper yang ada di tangannya.
“Ada urusan apa?” Haruna bertanya dengan nada ketus. Nyawanya belum terkumpul dan ia sedang tidak ingin berdebat dengan kakaknya, Revan.
“Cih, dingin amat, nih barang yang lo mau udah sampai. Gue lupa kasi tau lo semalam,” ujar Revan seraya menyodorkan bag paper hingga berjarak cukup dekat dengan wajah Haruna.
“Oh, udah datang, ya? Thanks, yaudah kakak pergi aja sana,” usir Haruna setelah mengambil alih bag paper yang di pegang oleh Revan.
Belum sempat pintu di tutup Revan dengan cepat menahan agar pintu tetap terbuka. Sedangkan Haruna berusaha sekuat tenaga untuk menutup pintu.
“Urusan kakak kan, udah kelar, terus kenapa masih di sini?!” Haruna berteriak sembari terus mendorong agar pintu tertutup.
“Gue juga mau liat isi barang lo apaan, biarin gue masuk!” ujar Revan bersikeras.
“Ogah, udah ya kak, ini itu masih pagi, jadi nggak usah drama deh,” setelah beberapa saat Haruna berhasil menutup pintu dan menguncinya.
“Har, buka dong pintunya, biarin gue masuk,” pinta Revan dengan nada memelas sembari terus mengedor pintu kamar Haruna.
“Nggak mau, kakak itu terlalu kepo, udah ya kak jangan berisik, ini itu masih pagi,” papar Haruna dari balik pintu.
“Pelit banget jadi orang,” sinis Revan.
Haruna berdecih, “dih, suka-suka Haruna dong,” sarkasnya.
Haruna mengabaikan Revan dan berjalan menuju ranjang. Ia menaruh bag paper di atas ranjang lalu mengambil kotak yang ada di dalamnya.
Haruna menyeringai lebar saat melihat sesuatu yang ada di dalam kotak itu. Tangan Haruna bergerak mengambil benda itu dan mengangkatnya ke udara.
Persis seperti yang ia inginkan. Sebuah gelang hitam dengan inisial R tertulis berdampingan dengan sebuah gelang yang sama dengan inisial H.
__ADS_1
“Target di temukan,”
Haruna mengenakan gelang berinisial R dan menaruh yang berinisial H di dalam laci yang berada di samping ranjang bersamaan dengan kotaknya.
Haruna beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.
Haruna menghabiskan lima belas menit untuk mandi dan bersiap-siap. Pantulan bayangan dirinya membuat Haruna muak.
Wajah yang sama persis dengan kembarannya yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit. Haruna yakin semua itu hanyalah sebuah kebohongan belaka.
Tidak mungkin Shuna sakit. Ia yakin ada seseorang yang sengaja menyingkirkan Shuna karena orang itu merasa bahwa Shuna adalah halangan terbesarnya.
Tidak sedikit orang yang ingin berada di posisinya, terlebih sedari kecil yang sudah sering menghadapi bebagai macam bahaya karena latar belakangnya.
“Well, pembunuh itu harus di hukum,” gumam Haruna sembari melemparkan peluru papan dart pada sebuah potret di dinding. Peluru itu menancap tepat di antara alis potret seorang gadis sebayanya yang tengah tersenyum lebar.
Haruna mengambil tas dan berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Dari anak tangga Haruna dapat melihat Revan yang sudah duduk sembari menyantap sarapannya dengan lahap.
Haruna menarik kursi tepat di sebelah Revan dan mendudukkan diri dan mulai menyantap sarapannya.
“Mau gue antar Har?” tawar Revan di sela-sela makannya.
Haruna menggeleng dengan cepat. “Pokoknya jangan, gue nggak mau sekolah heboh karena kedatangan kakak yang tiba-tiba. Udah cukup Haruna masuk ke sekolah itu, jangan kakak buat Haruna pusing dengan tingkah kakak lagi,”
Bukannya luruh karena kata-kata yang Revan ucapkan, Haruna malah bergidik ngeri melihatnya.
“Stop! Cara bicara kakak itu disgusting tau nggak? Udah ya kak, kan Haruna udah bilang jangan banyak drama, nanti kalo Haruna punya teman, pasti bakal Haruna ajak buat main ke rumah,” tutur Haruna dengan enggan.
“Oke, ingat lo udah janji, jangan sampai lo lupa sama janji lo,” ujar Revan mengingatkan.
Haruna hanya mengangguk, “ udah, 'kan? Haruna duluan, btw motor kakak Haruna pinjam,” Haruna beranjak dari duduknya dan menyambar kunci motor Revan dengan secepat kilat lalu berlari keluar.
“Woy! Motor gue!” Revan berniat mengejar Haruna namun ia malah jatuh terjembab ke lantai saat akan menangkap tangan Haruna.
“Ugh, ****! Apa-apaan nih?” protes Revan saat ia menyadari bahwa tali sepatunya sudah terikat pada kaki kursi. “Sejak kapan? Woy! Haruna balikin kunci motor gue!” teriak Revan.
Saat sudah berada di depan pintu Haruna berbalik dan memberikan Revan senyum mengejek sebelum berjalan menuju motor Revan yang terparkir di halaman.
Haruna mengendarai motor dengan kecepatan sedang menuju sekolahnya. Haruna memarkirkan motornya di parkiran sekolah dan turun perlahan sembari melepaskan helmnya.
Gelang hitam miliknya berayun saat ia bergerak melepaskan helmnya. Banyak pasang mata menatapnya dengan kagum namun tidak sedikit yang menatap dengan penuh kebencian.
Seragam Haruna terkesan berantakan, dengan dasi yang miring serta lengan seragamnya yang di gulung hingga ke siku. Di tambah dengan rambut ikalnya yang segaja digerai membuat Haruna terlihat persis seperti anak-anak bermasalah pada umumnya.
“Kamu yang di situ,” Haruna menoleh saat mendengar suara seseorang menegurnya.
__ADS_1
Seorang dengan seragam senior berjalan dengan cepat menghampirinya.
Sedikit info, seragam senior dan junior di sekolah ini juga di bagi menjadi beberapa kategori. Mereka yang menjadi bagian dari osis biasanya mengenakan seragam berwarna biru dengan perpaduan warna hitam dan putih.
Sedangkan para senior dari kelas II hingga III akan mengenakan seragam berwarna ungu dengan warna putih sebagai perpaduannya.
Sedangkan murid junior, mereka akan mengenakan seragam dengan warna hitam dengan perpaduan warna merah. Dan setiap murid juga mendapatkan satu blazer yang di sisi kirinya terdapat nama para siswa.
“Kakak bicara dengan saya?” tanya Haruna datar.
Raka mendesah pelan, bagaimana bisa ada seorang murid yang berani membuat masalah di hari pertama? Jika ada, maka Haruna adalah contoh terburuknya.
Terlebih lagi Haruna mengendarai motor WR155 dengan menggunakan rok yang tingginya berada di atas lutut.
“Siapa nama kamu ?” tanya Raka sembari membuka buku catatan kecil yang ada di tangannya.
“Haruna,” jawab Haruna pendek.
“Nama panjang?”
Haruna mendesah, seharusnya ia tidak menuruti keinginan kakaknya. “Haruna Anika Pitaloka,” jawab Haruna lagi.
Raka mengangguk sembari menuliskannya di dalam catatan yang ia pegang.
“Kelas?”
“Abnormal,”
Tangan Raka terhenti saat Haruna mengatakan bahwa ia berasal dari kelas Abnormal. Raka menatap Haruna dari atas hingga ke kaki lalu menggeleng.
“Kamu ikut saya,” ujar Raka sembari memasukkan catatannya ke dalam saku yang ada di balik bajunya.
“Hm, oke,” jawab Haruna dengan ekspresi enggan.
Raka membawanya menuju ruang hukuman atau juga di sebut sebagai Ruang Senyap.
Haruna di dudukkan di sebuah kursi yang ada di tengah-tengah ruangan dengan pencahayaan yang minim. Hanya ada kursi tanpa meja. Dan Haruna duduk tanpa di perbolehkan untuk berbicara sedikitpun.
Jika ia berbicara maka point-nya akan di kurangi.
Kini ia tidak bisa berbuat banyak, terlebih setiap bermasalah poin murid akan di kurangi sesuai seberapa besar kesalahan yang mereka lakukan.
Sudah satu jam Haruna duduk tanpa berbicara dan matanya terus menjelajah ke seluruh sudut ruang kosong itu. Hanya ada sebuah kamera CCTV yang terpasang di sudut sebelah kiri. Walaupun ruangan itu terkesan gelap, namun Haruna bisa menatap kamera itu dengan akurat.
Haruna menyeringai ke arah kamera dan beranjak dari kursi. Ia lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang sudah mati rasa dan berjalan menuju satu-satunya pintu keluar yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1