The Lazy Kultivator

The Lazy Kultivator
Part 10 : Bangsawan Terbuang Lainnya


__ADS_3

Sudah Lin Zhu duga, pertarungan jadi berat sebelah kala satu persatu penjaga dari kereta itu tumbang karena fokus pertarungannya terbagi hingga musuh mampu menjatuhkan mereka dan seperti yang diharapkan dari seorang kultivator terlebih lagi seorang bandit, mereka sangat mudah melenyapkan nyawa seseorang tanpa merasa bersalah sama sekali.


Apakah mereka tidak berpikir kalau orang yang dibunuhnya itu memiliki seseorang yang akan bersedih dengan kepergian orang yang dibunuhnya? Hal ini lah yang membuat Lin Zhu muak menjadi seorang kultivator, mentang-mentang memiliki kekuatan diatas manusia normal mereka jadi bisa berbuat seenaknya.


Bantu atau tidak ya?, pikir Lin Zhu. Saat ini Ia masih duduk dengan tenang diatas pohon, pertarungan didepannya hanya Ia anggap sebagai hiburan semata. Lin Zhu malas bertindak sebagai ‘pahlawan’ dan sejujurnya Ia tidak ingin terlibat dalam pertarungan apapun. Lin Zhu juga belum tahu apakah orang yang berada di dalam kereta itu layak di selamatkan atau tidak, pengalaman dari kehidupan sebelumnya mengajarkan Lin Zhu untuk tidak mudah mempercayai ataupun membantu seseorang. Lin Zhu takut kalau dia akan… dimanfaatkan.


Lin Zhu menatap pohon tempatnya singgah, kebetulan daunnya kecil dan memiliki ujung yang lancip. Dia memutuskan membantu dari jauh, Lin Zhu mencabut 15 helai daun sesuai dengan jumlah bandit yang masih bertahan.


Lin Zhu mengalirkan Qi nya yang berwarna hitam namun sangat murni itu pada helai-helai daun yang dipetiknya. Qi nya menjadi warna hitam setelah Ia berendam di kolam empat warna Yin padahal sebelumnya Qi yang dimiliki Lin Zhu berwarna biru yang artinya Lin Zhu lebih condong ke jurus berunsur air. Lin Zhu memadatkan Qi nya hingga daun yang awalnya rapuh dan gampang robek itu menjadi keras bagaikan baja, perlahan Ia melepaskan helai demi helai daun ditangannya hingga daun-daun itu melayang di udara. Gerakan daun itu senada dengan gerakan tangan Lin Zhu karena Lin Zhu lah yang mengendalikannya, itu adalah hal yang sulit dilakukan bila kalian tidak memiliki pemahaman mendalam tentang Qi dan energi mental namun bagi Lin Zhu hal ini sangatlah mudah, semudah Ia bernapas.


Jari jemari Lin Zhu bermain mengendalikan daun yang sudah bertransformasi menjadi senjata mematikan itu bagaikan Ia mengendalikan layang-layang, ekspresi wajahnya yang selalu acuh itu membuat Ia terkesan malas dan arogan kemudian dengan menjentikkan jarinya daun-daun itu melesat cepat tanpa disadari siapapun. Melesat cepat tanpa suara dan hawa keberadaan hingga menembus dada kiri setiap kultivator bandit yang ada disana dengan telak hingga dalam satu hela napas saja para bandit itu ambruk ditanah, mati dalam kejutan tanpa tahu siapa yang telah membunuh mereka.

__ADS_1


Itu adalah sebuah teknik tembakan tanpa suara, orang-orang yang bisa menguasai teknik ini biasanya menggunakan bola baja sebagai media senjata namun karena Lin Zhu memiliki pengetahuan mendalam tentang Qi dan energi mental hingga apapu yang dia pegang dapat berubah menjadi senjata mematikan, angin yang berhembus lembut pun akan menjadi bilah pedang panjang bila Lin Zhu sudah bertindak. Semua itu adalah kehebatan Lin Zhu di masa lampau, kehebatan yang membuat Ia mendapat julukan pendekar senjata berjalan. Kalau dipikir-pikir dulu Ia memiliki banyak julukan, hanya saja yang paling dikenal adalah Xiao Qi si pendekar suci.


Disisi lain penjaga yang tersisa bukannya merasa lega karena musuhnya musnah mereka justru semakin waspada dengan wajah pucat pasi, mereka merasa sulit melawan para bandit sedangkan tiba-tiba saja bandit itu tewas dengan luka di dada dikiri tanpa mereka ketahui apa penyebab dari luka itu.


“Ada apa paman?” seorang pemuda keluar dari kereta, dia mendadak curiga karena suasana tiba-tiba saja menjadi sunyi hingga memutuskan untuk keluar setelah mengintip kalau keadaan di luar sudah aman.


“Tuan muda, kenapa anda keluar? Lebih baik anda tetap diam didalam karena situasi belum aman” ucap salah seorang penjaga yang merupakan ketua dari pasukan penjaga yang bertugas untuk mengawal pemuda dihadapannya itu ke tempat pengasingan.


“Bukankah kalau aku mati pekerjaan kalian akan lebih mudah? Harusnya kalian langsung lari saat para bandit itu datang” pemuda itu berucap dengan tenang namun sangat menusuk, penjaga yang tersisa hanya menundukkan kepalanya tanpa berani berucap.


“Kau kira aku bodoh? Aku hanya kehilangan bakat kultivasiku, otak ku tidak ikut hilang hingga membuatku menjadi bodoh. Hanya orang yang bodoh saja yang tidak akan menyadari apa yang sebenarnya terjadi, sejak kapan klan Wu kekurangan pengawal hingga pengawal yang dikirimkan untuk mengantarku ke tempat pengasingan hanya 15 orang dengan ranah kekuatan paling tinggi hanya tahap ksatria langit?” suara pemuda itu yang awalnya tenang berubah marah.

__ADS_1


Dia adalah Wu Ji Han, genius nomor satu klan Wu yang sangat disegani bahkan oleh para bangsawan. Terlahir dari klan besar dan menjadi anak dari pemimpin klan membuatnya sangat dihargai dan di elukan hingga Ia kehilangan bakat kultivasinya karena skema penyerang yang dirancang oleh orang-orang yang iri dengan bakatnya. Ia diserang oleh 5 orang kultivator liar yang sudah berada di tahap Jendral saat sedang sendirian, terluka begitu parah dan dantiannya dihancurkan bukankah itu adalah sebuah keajaiban kalau Ia masih bertahan hidup?


Dia yakin ada orang yang menjadi dalang dalam penyerangan itu karena kabar mengenai dirinya yang sudah tidak bisa berkultivasi menyebar luas dengan cepat, dia yang awalnya selalu dipuja kini dihina bagaikan seeonggok sampah. Ayahnya yang semula sangat menyayanginya kini bahkan tega mengasingkan atau bahasa kasarnya membuang dirinya karena malu dengan gunjingan orang sekitarnya.


Wu Ji Han tidak mengerti, Ia hanya kehilangan bakat kultivasinya. Dia tidak kehilangan statusnya sebagai anak dari seorang ketua klan hingga Ia kecewa saat dirinya dibuang, Ji Han bahkan tidak memperdulikan cemoohan dirinya namun saat keluarganya sendiri bahkan mampu untuk membuangnya, rasa kecewa itu berubah menjadi rasa marah. Detik dimana kereta yang mengantarnya pergi keluar dari gerbang klan Wu, di detik itu pula Ia menganggap kalau keluarganya sudah mati dan dia bukan lagi seorang ‘Wu’.


Ji Han muak dengan orang-orang yang menganggap bakat kultivasi itu penting, dia tidak mengerti mengapa ada orang yang iri dengan bakatnya hingga berbuat jahat padahal Ji Han selalu memperlakukan seseorang dengan baik.


Meski sering dipuja, Ji Han bukanlah anak yang tinggi hati. Dia selalu menjadi tuan muda kesayangan karena sifatnya yang lembut dan rendah hati, dia tidak pernah memperlakukan orang lain dengan buruk hanya karena statusnya. Bahkan pelayan pun Ia perlakukan sama, jadi Ji Han ingin tahu apa sebenarnnya kesalahan yang telah Ia buat hingga Ia pantas menerima perlakuan hina seperti ini?


Apakah karena Ia dilahirkan dengan bakat diatas rata-rata? Kalau memang seperti itu kan bukan salahnya, Ia tidak pernah minta untuk dilahirkan dengan bakat itu. Kalau bisa memilih mungkin Ia lebih memilih untuk dilahirkan sebagai anak petani yang walaupun hidup sederhana tapi setidaknya Ia tidak perlu hidup dalam persaingan.

__ADS_1


“Rupanya ada anak terbuang lainnya, apakah hal ini sekarang menjadi populer dikalangan bangsawan?” gumam Lin Zhu saat mendengarkan perkataan pemuda yang Ia tebak memiliki usia lebih tua darinya itu.


To Be Continued


__ADS_2