
Hari kelahirannya bertepatan dengan wabah penyakit langka yang menelan banyak korban jiwa, pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan anak lainnya, tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia anak yang berbakat dan ternyata menjadi kenyataan. Kenyataan kalau putri pertama keluarga Lin terlahir sial dan berlabel sampah.
Awalnya kedua orangtuanya tidak mempermasalahkan hal itu, mereka tetap menyayangi dan memanjakannya hingga dia hidup nyaman di kediaman Lin meski menerima banyak cemoohan tapi semua itu berubah saat sang ibu melahirkan lagi. Adik-adik bahkan sepupunya terlahir dengan bakat, meninggalkan dirinya yang merupakan perwujudan dari seorang sampah tidak berguna dan sejak saat itu kehidupannya tidak pernah lagi sama. Lin Zhu kecil semakin tersisih dan terlupakan.
Lin Zhu kira penderitaannya hanya sebatas itu namun hal buruk mulai menghampirinya seiring Ia bertambah usia, dari awalnya hanya cemoohan yang dia terima kini meningkat sampai bahkan para pelayan pun berani menyakiti fisiknya hingga Lin Zhu tumbuh dengan sikap pengecut, pemalu dan penakut.
Hari-hari dilewatinya dengan pedih namun tetap Ia lalui dengan seutas senyum manis dibibir tapi sayangnya mata bulatnya yang selalu terlihat menyendu itu tidak bisa mendukung senyum manisnya agar Ia terlihat baik-baik saja. Nyatanya kehidupan seorang keturunan kultivator yang tidak memiliki bakat dalam berkultivasi lebih menyedihkan dibandingkan dengan manusia normal yang sejak awal tidak bisa berkultivasi, naasnya lagi Lin Zhu terlahir dari keluarga bangsawan yang terkenal akan kehebatan bakat kultivasinya.
__ADS_1
Kalau diperhatikan, yang bagus dalam dirinya hanya wajahnya saja. Lin Zhu sangat cantik namun kecantikannya tertutupi penampilan lusuhnya, dia juga pandai dalam pelajaran namun itu semua tidak cukup bagi keluarganya karena bagi keluarga kultivator bangsawan seperti keluarga Lin yang diutamakan adalah bakat kultivasi.
Lin Zhu selalu merasa sedih, tidak ada satu orang pun yang berada di pihaknya. Bahkan orang tua yang dulu menyayanginya sudah tidak ada lagi, orang tuanya hanya fokus pada adik-adiknya yang berbakat dalam kultivasi dan terkesan tutup mata pada keadaan dirinya. Hingga puncaknya hinaan pada dirinya terus bertambah dan sang ayah sudah tidak ingin menanggung rasa malu lagi, lalu pada akhirnya membuang dirinya ke dalam hutan kematian.
Setelah berjalan putus asa tanpa arah di dalam hutan yang selalu tampak suram itu, Lin Zhu menemukan sebuah gubuk yang sudah usang disana, terlihat menyeramkan dan sama suramnya dengan suasana hutan. Sepertinnya ada seseorang yang pernah tinggal disana, Lin Zhu yang memang tidak memiliki pilihan lain pun memutuskan untuk singgah disana.
Lama termenung, Lin Zhu mulai mengalihkan pandangannya pada keadaan sekitarnya. Gubuk ini memang sudah tua, barang-barangnya terlihat sangat usang dan kotor bahkan ada beberapa yang sudah rusak termakan usia. Matanya terus menelusuri tempat itu hingga pandangannya jatuh pada lemari yang berisi banyak buku, buku-buku itu juga terlihat sudah sangat tua dengan sampul yang tak lagi sempurna dan diantara buku-buku itu ada satu buku yang menarik perhatiannya buku dengan judul ‘Pindah Jiwa’. Buku yang ditulis dalam bahasa kuno itu mampu dimengerti oleh Lin Zhu yang memang memiliki otak yang cerdas.
__ADS_1
Setelah membaca isi dari buku tersebut Lin Zhu pun membuat sebuah keputusan, keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan memberikan kesempatan bagi ‘Jiwa’ orang yang sudah mati untuk hidup kembali menggantikan kehidupannya yang menyedihkan.
Satu yang Lin Zhu harapkan, semoga ‘Jiwa’ tersebut dapat menikmati hidup dengan tubuhnya yang bagaikan sampah ini. Tapi Lin Zhu tidak pernah tahu kalau ‘jiwa’ yang terpanggil dalam ritual itu merupakan jiwa seorang pedekar suci yang namanya selalu tertulis dalam sejarah dan menjadi legenda dalam masyarakat.
Lin Zhu
__ADS_1
The Trash Daughter of Lin Family