
Tidak sulit bagi Lin Zhu untuk mengetahui dimana letak keberadaan Ji Han saat ini karena jimat yang Lin Zhu berikan pada Ji Han memiliki fungsi melacak hingga dalam sekejap Lin Zhu sudah berada di…. Pasar? Lin Zhu mengira kalau kakaknya itu mungkin saja menunggunya di penginapan atau restauran, lalu kenapa kakaknya ini malah ada di pasar dan sedang dikelilingi oleh berandalan?
“Orang lemah sepertimu lebih baik jangan banyak tingkah” ejek pria berwajah sangar.
“Betul, diam saja di rumah dan berlindunglah pada ibumu” sahut rekannya.
“Dasar tidak tahu malu, kalian seorang kultivator dan telah dewasa mengapa menindas anak kecil” geram Ji Han dengan mata dipenuhi amarah yang tak terbendung, dari dulu dia sangat benci saat ada orang kuat menindas yang lemah. Bukankah kita dianugerahi kekuatan agar dapat melindungi orang yang lemah? Lantas mengapa mereka menggunakannya untuk menindas orang lemah?
Saat itu Ji Han sedang asik memilih makanan ringan untuk Lin Zhu dan tak lama para berandalan ini datang dan berbuat onar, Ji Han awalnya mengabaikan aksi mereka yang cukup menganggu untuk dilihat karena tidak ingin terlibat dalam masalah toh kini dia bukan berada di posisi yang pas untuk beraksi bak pahlawan.
Namun saat berandalan itu mulai menindas gadis kecil yang kini tengah meringkuk dipelukan Ji Han dengan kejam, Ji Han tentu saja tidak bisa diam. Keadaan gadis kecil itu saja sebelumnya sudah cukup memprihatinkan, tubuh kurus kering dan gemetar karena lapar, Ji Han sudah memperhatikan gadis kecil itu sejak memasuki pasar dan sudah berniat untuk memberikan sebagian roti dan kue yang Ia beli untuk gadis kecil itu.
Dulu saat Ia masih menjadi tuan muda keluarga Wu, dia sering kabur dan menyamar untuk pergi ke pasar dan melihat kehidupan rakyat disana. Tak jarang dia melihat penindasan disana dan dengan senang hati dia mengurus hal itu, namun sekarang dia tidak memiliki kemampuan dan hal itu sungguh membuatnya kesal karena merasa tidak berdaya bahkan untuk melindungi dirinya sendiri saja dia tidak mampu.
“Lalu kau mau apa? Orang cacat seperti kalian ini memang pantas untuk ditindas, dasar lemah!” hardik si kurus.
“Oh begitukah? Lalu orang lemah seperti kalian ini apakah boleh ku bantai?” Lin Zhu menyahut polos disertai senyum seringai yang tidak cocok disandingkan dengan wajah imutnya, sedari tadi dia sudah kesal melihat Ji Han tertindas tapi mulut para berandalan itu sungguh mampu menyaingi anjing menggonggong.
“Zhu” ucap Ji Han senang melihat kehadiran sang adik. Lin Zhu tersenyum singkat pada Ji Han dan kembali menatap jengah pada manusia tidak berguna yang berani menggangu kakaknya itu.
__ADS_1
Lin Zhu sudah menduga kalau para berandalan ini sering membuat onar di pasar karena melihat respon orang lain yang hanya mampu menutup mata atas tindakan kurang ajar mereka, kalau sudah begini hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama kekuatan para berandal yang berjumlah 5 orang itu sangat kuat hingga tidak ada yang berani mengambil tindakan dan yang kedua ada kekuatan besar yang menaungi para berandalan itu hingga berani bertindak serampangan di pasar ibukota. Ini adalah ibukota, Lin Zhu meragukan kalau pengawasan ditempat ini kurang baik.
“Cih hanya seorang anak kecil ingin membantai kami? Apa kamu pikir anak kecil sepertimu mampu melakukannya?” Pria berwajah sangar itu menatap Lin Zhu remeh karena menganggap Lin Zhu lemah, dia melihat kalau tingkat kultivasi Lin Zhu baru berada ditahap bumi tingkat 10 sedangkan tingkat kultivasi mereka sudah berada di tahap alam tingkat 10, perbedaan 1 tahap itu membuat mereka menatap Lin Zhu remeh.
“Menghadapi pembuat onar seperti kalian ini sangat mudah, hanya dengan 3 jurus saja kalian akan mendapatkan tiket langsung menuju nereka” Lin Zhu berkata seraya menatap para berandalan itu bagaikan seonggok sampah yang sungguh tidak ada gunanya.
“Anak kecil, mulutmu terlalu pedas jadi aku akan membiarkan anak buahku untuk menemanimu bermain. Mo dan Lang, kalian urus anak kecil itu” ucap si wajah sangar.
“Baik” ucap kedua orang itu.
Kedua itu berjalan congak menghampiri Lin Zhu yang sudah memasang wajah datar, mereka menatap Lin Zhu remeh. Memangnya apa yang bisa anak kecil dengan ranah kultivasi lebih redah dari mereka dapat lakukan? Pikir mereka.
Muncul sebilah pedang hitam tipis dari kehampaan, ini adalah pedang yang Lin Zhu ambil secara acak dari ruang senjata saat itu. Pedang itu sepenuhnya berwarna hitam, bilah pedangnya sangat tipis layaknya selembar kertas, bilah pedang itu lentur namun sangat kuat karena terbuat dari baja hitam. Itu adalah pedang lunak, pedang legendaris yang diciptakan kaum kurcaci dari tanah terlarang.
Arah serangan pedang lunak tidak dapat diprediksi, selama penggunanya merupakan orang yang ahli menggunakan aura pedang maka orang itu dapat mengubah arah serangan pedangnya sesuka hati karena sifat dari pedang itu yang lentur.
Saat dua orang itu maju ke depan, Lin Zhu maju selangkah dengan kecepatan kilat. Dia seakan menghilang dari pandangan mata musuhnya namun dalam sekejap mata dia telah berada dibelakang mereka. Itu adalah jurus langkah seribu bayangan kilat, kalau dilihat sekilas Lin Zhu akan disangka kalau dia dapat menggunakan teknik teleportasi yang telah lama musnah.
Lin Zhu bergerak tegas tanpa belas kasih di matanya, raut wajahnya saat bertarung menampilkan niat membunuh yang kuat. Apakah gadis itu benar-benar berusia 14 tahun?
__ADS_1
Dia menghunuskan pedangnya dengan cepat tanpa suara.
Jleb
Satu orang tumbang tanpa sempat menyeruakan rasa sakit dengan mata terbelalak sarat akan tidak rela bila dirinya mati tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi dalam waktu singkat. Itu adalah Lang, menyisakan Mo dan berandalan lain terkejut akan kecepatan Lin Zhu dan kematian Lang dalam jangka waktu singkat. Sorot marah ditunjukan Mo, dia menyorot Lin Zhu dengan tajam, mungkin berharap kalau sorot matanya itu mampu membunuh gadis yang kini tersenyum miring meremehkannya.
“Kau-“
“Banyak omong!” Lin Zhu memotong ucapan dengan datar, Lin Zhu menebaskan pedangnya hingga menimbulkan garis merah di leher Mo yang kini mengalirkan darah dengan deras, Mo berusaha menutup luka sayatan agar darahnya berhenti mengalir namun tidak bisa dan pada akhirnya dia mati karena kehabisan darah.
Melihat pembunuhan sadis itu para warga yang berada disana merasa dingin, merasa takut akan keberanian Lin Zhu melakukan pembunuhan secara terbuka. Meski yang dibunuhnya merupakan berandalan yang meresahkan warga namun ini adalah ibukota, hukum disini condong tajam kebawah longgar keatas yang mengandung implikasi bahwa hukum menjerat rakyat rendah dengan kencang sementara menjerat dengan longgar pada rakyat kalangan atas.
“Beraninya kau membunuh Mo dan Lang dihadapanku?!” raung marah si pria berwajah garang.
“Aku bahkan berani untuk membunuhmu” sahut Lin Zhu.
“Kau akan menyesal telah berurusan dengan ku, tak tahukah kamu siapa aku? Aku adalah Di Ming, adik dari Di Meng pemimpin sekte hujan darah!” ucap Di Ming, pria berwajah sangar itu menatap bengis Lin Zhu.
Sedangkan Lin Zhu, dia memandang malas berandalan yang banyak omong itu. Lantas kenapa kalau dia adalah adik dari pemimpin sekte hujan darah? Apakah Lin Zhu peduli? Tentu saja tidak! Memangnya siapa Di Meng itu? Kalau Lin Zhu mau dia bahkan bisa meruntuhkan sekte hujan darah dalam semalam, salahkan saja sifat malasnya yang membuat Ia lelah bahkan hanya untuk membayangkan bila dirinya membantai sekte sesat itu, ugh membayangkannya saja dia sudah lelah duluan, untuk saat ini Ia hanya ingin tidur. Biarkan dia tidur dengan tenang, oke?
__ADS_1
To Be Continued