THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 13: D-2 (Part 1)


__ADS_3

Halaman North Oakmont Senior Highschool di malam hari ternyata cukup membuat bulu kuduk meremang tanpa dipinta.


Dari sepanjang mata memandang, bangunan sekolah yang luas, masih terlihat beberapa meter jauh di depan. Sedangkan lapangan baseball yang kosong, serta entrance yang melenggang sudah dipenuhi kabut setinggi betis orang dewasa. Awan tipis yang membawa uap air bahkan sampai menembus pagar kawat yang dipasang di sekeliling lapangan. Menyelimuti tanahnya dengan suhunya yang beku. Belum lagi pencahayaan yang minim dari tiang-tiang lampu yang dibiarkan berkedip kehilangan daya menambah suasana semakin mengintimidasi.


What a scene. Pikirku sambil menelan ludah.


Meskipun sekolahku terletak di daerah metropolitan yang padat akan penduduk, tetapi rural yang memanjang sepanjang jalan Mcknight Flyer menuju Franklin Park, tak ayal membuat jalur menuju sekolah terasa sunyi dan gelap. Bahkan di malam hari seperti sekarang, hanya dilewati beberapa kendaraan yang akan menuju atau pulang dari kota.


Kalau aku tidak salah hitung, hanya ada dua tiga kendaraan yang berpapasan dengan kami saat menuju kemari. Tak lupa juga hutan pinus yang tumbuh menjulang mengelilingi halaman belakang sekolah mengintip dari celah-celah atap, membuat sekolahku terasa jauh dari pemukiman.


Kami turun di depan gerbang. Aku membungkuk terima kasih pada supir yang sudah mengantar kami. Pria itu balas mengangguk dan kembali menjalankan mobil sampai hilang di balik belokan.


Mataku berkeliaran, biasanya, akan ada Hunch dan Ben–sekuriti penjaga yang standby di dalam ruang pos, akan tetapi kali ini pos terlihat tidak berpenghuni sama sekali. Bahkan sepertinya pintu dan jendelanya pun dikunci. Aku mengernyit memandang wajah Primrose yang terpantul cahaya ponsel. Gadis itu sibuk mengetik sesuatu. Aku kembali mengalihkan tatapanku ke lain arah. Mencari sekiranya ada seseorang yang akan menghentikan kami.


“Kenapa tidak ada sekuriti?” gumamku pelan.


Mungkin suhu yang dingin membuat resonansi udara menjadi lebih sensitif. Primrose yang tengah membuka ponselnya menyahut. “Kau pikir, kita akan izin pada Hunch untuk melakukan ini? That’s not a genius thought, Crawford.”


Benar juga.


Aku mengabaikan sindirannya dan kembali bertanya. “Lalu? Kemana mereka sekarang?”


Primrose memberiku tatapan jengah. “Tentu saja patroli! Sekarang jam satu pagi. Hunch sedang istirahat dan Ben sedang ada di Killington. Memantau keamanan disana kurasa.”


Entah darimana gadis streamer ini tahu tentang jadwal ini itu dan semuanya. Aku memilih untuk tidak bertanya.


“Hunch akan kembali ke pos pukul tiga. Kita hanya punya dua jam untuk melakukan siaran. Sebelum dia kembali, kita harus sudah keluar dari sini. Ayo masuk. Anak-anak sudah menunggu disana,” jelas Primrose sambil memasukan ponselnya kedalam saku jeans.


Aku tidak berkata apapun lagi dan memilih mengikuti Rose yang berjalan masuk membelah kabut.


...***...

__ADS_1


Benar saja.


Ruang siaran sudah tidak terkunci begitu kami sampai disana. Ruangannya masih gelap, namun suara bisik-bisik obrolan terdengar samar dari luar.


Rose membuka pintu. Ke-empat orang menoleh secara bersamaan begitu kami masuk.


“Kalian lama sekali.” Aku tidak tahu siapa yang berbicara karena penglihatanku terbatas, tapi dari suaranya aku tahu itu adalah Isaac Petterson.


Rose menekan lampu senter dan mengarahkannya pada Isaac yang seketika mengangkat tangan protes saat penglihatannya dibutakan cahaya. “Kau berisik sekali Petterson, lagipula tidak ada yang mengajakmu. Kenapa kau kemari, huh?” sahut Rose sambil berjalan masuk kedalam ruang broadcasting. Kami semua mengikutinya.


Ethan menekan saklar dan seketika cahaya remang-remang memenuhi retina.


“Dimana ada Noah, aku harus ikut,” sahut Isaac yang rupanya berniat menyambung percakapan tadi dengan nada jenaka sambil mengalungkan lengannya di bahu Noah. Sedangkan kurcaci Primrose paling dingin itu hanya bisa pasrah.


Mendengar itu, Ethan mengompori.


“Kalian berkencan kan? Mengakulah!” celetuknya sambil tertawa dengan Delilah.


Sejenak ruangan broadcasting sedikit berisik seolah kami lupa bahwa ruangan ini belum disenyapkan. Namun tiba-tiba rangkulan Isaac terlepas saat Noah menghampiriku.


Derap langkahnya terdengar gusar saat ia menghampiriku dan kini berdiri menjulang di depanku. Tinggi tubuh kami yang kontras membuat kepalaku mendongak. Aku berkedip bingung menatap sepasang Malibu milik Noah yang menyala menatapku dengan pandangan tajam.


Ini adalah kali pertamanya pemuda super dingin itu memulai interaksi denganku. Tentunya ini menjadi waktu yang sangat tiba-tiba untuk Noah memulai percakapan. Aku bahkan bisa merasakan suasana yang menghening dan semua orang menatap kami dalam kebingungan secara bergantian.


“Izzy. Biar aku tanya sekali lagi,” ucapnya dengan nada tegas.


Aku diam menunggunya kembali berbicara. “Sekalinya kau mulai disini, kau tidak akan bisa berhenti. Mereka akan terus mengejarmu dan menuntutmu. Ini adalah kesempatanmu untuk mundur sebelum kami memperkenalkanmu di live streaming. Kau yakin akan melanjutkannya?”


Suara Noah yang mengatakan kalimat panjang dalam satu kali nafas adalah satu-satunya yang terdengar di dalam ruangan.


Hening.

__ADS_1


Mungkin ini juga kali pertama bagi mereka melihat Noah berbicara panjang lebar denganku. Hingga detik demi detik terlewat pun, tak ada satupun dari mereka yang menghentikan sunyi. Aku menelan ludah dan balas menatap matanya sedikit lebih lama. Mencari jawaban kenapa Noah tiba-tiba bersikap seperti ini.


Pada akhirnya aku mengangguk. “Ya.”


Noah tidak bereaksi apa-apa. Pemuda yang sama tingginya dengan Isaac itu, tidak juga menjauh dan tidak juga mengatakan sesuatu. Dia masih menatap bola mataku bergantian seolah ada sesuatu yang berusaha ia sampaikan melalui tatapannya. Namun aku bukanlah seorang pakar mikro ekspresi yang bisa membawa gerak tubuh seseorang.


Tak!


Suara yang tombol yang ditekan terdengar memecah keheningan. Kami menoleh secara bersamaan ke arah mixing console yang terletak di paling depan sebuah kaca yang memisahkan ruang broadcast dengan ruang kontrol. Primrose berdiri disana sambil menatap kami. Sedangkan jarinya baru saja mengatur volume audio, mengedapkan suara agar tidak terdengar dari luar.


Mata tajam Primrose memaku pada sepasang Malibu milik Noah. Sejenak mereka berbicara melalui tatapan. Aku merasakan canggung yang tiba-tiba saja menguar dari kedua tubuh mereka.


“Sepuluh menit lagi kita mulai. Persiapkan diri kalian,” ujar Primrose pada akhirnya memutus tatapan mereka. Membuat kecanggungan berakhir.


Ethan dan Deliliah terbatuk gugup dan aku menyibukkan diri dengan peralatanku.


Noah perlahan mendekati Rose dan tak lama mereka sibuk mengatur kamera dan ***** bengek yang dibutuhkan untuk live dalam diam.


Sedang Isaac …


Dia berdiri di belakangku. 


Walaupun aku tidak bisa melihatnya, aku bisa merasakan tatapannya pada punggungku di belakang sana. 


...***...



CC\= Campus Couple


__ADS_1


__ADS_2