
"Dimana Izzy?"
Hening. Hanya nada menusuk yang dilemparkan Noah dengan menuntut itu satu-satunya yang terdengar dalam bisik.
Alisnya tebalnya bertaut, sedang sepasang biru yang teduh itu menatap Ethan dan Delilah satu-satu. Membuatku yang tak biasa melihatnya sepanik itu tentu saja tertegun heran.
Perasaan aneh yang seharusnya tidak kurasakan dalam situasi genting ini membuatku gundah.
"D-dia tadi di belakangku!" Seperti seorang pencuri, Ethan gelagapan memberi alibi yang lemah. Sesekali mencuri pandang ke arah kekasihnya untuk meminta bantuan. Namun Delilah justru memberikan tatapan yang sama padanya.
Sebuah kesepakatan yang tiba-tiba tercipta karena stigma. Ethan adalah satu-satunya lelaki disana. Seharusnya dia bisa menjaga kedua gadis itu.
"Kau mementingkan dirimu sendiri?" Isaac yang bersembunyi paling ujung bangkit dalam hentakan kasar. Hendak mengamit kerah Ethan dalam kepal. Delilah menahan dadanya drngan cekatan.
"Kau meninggalkan seorang perempuan sendiri disana di tempat gila ini dan menyelamatkan dirimu sendiri?"
Ethan tidak menjawab apa-apa. Bibirnya terbuka berniat memberi alasan, namun semua yang dikatakan Isaac adalah kebenaran. Ketakutan tak elak membuatnya menjadi pengecut. Memangnya siapa yang sempat memikirkan orang lain saat kemungkinan bahaya menangkap diri sendiri.
Dan menurutku itu bukanlah suatu yang egois.
Kenapa mereka berlebihan seperti ini?
Merasa tak ada gunanya menyalahkan pemuda itu, Isaac bangkit mendekat ke arah pintu dengan langkah berani. Sebelum langkah kelima diambil, Noah melakukan hal sama dan menyusul.
Cekal diambil di pergelangan tangan pemuda yang tengah emosi itu. Membuat langkah Isaac berhenti mendadak dengan paksaan.
Tanpa izin dan aba-aba, hatiku tersulut dengan sesuatu tak kasat mata. Panas, gundah, risau menjadi satu dalam seketika. Dengan hari yang membara, aku berdiri menyusul kedua pemuda itu. Mendapati mereka yang tengah berkomunikasi lewat tatapan dalam.
Hening. Tanpa suara.
Isaac memutus kontak lebih dulu. Membiarkan Noah yang mengambil langkah ke depan untuk mencari Izzy.
Punggungnya yang lebar kutatapi dari belakang. Punggung yang seharusnya menjadi sandaranku pergi menjauh untuk sesuatu yang lain. Meninggalkanku dalam bingung yang menyiksa.
Pikiran-pikiran tentang bagaimana Noah memperlakukanku sebelum ini kembali ke ingatan seperti roll film. Hal yang sama sedang terjadi sekarang dengan aku yang menjadi antagonis dalam cerita kini.
Dengan tak tahu malu, aku merasa kehilangan Noah seiring punggungnya yang hilang dari balik batu.
...***...
Hampir satu menit terlewati. Kamera terus menyala memperlihatkan jalanan sempit tempat dimana Noah menghilang. Menanti dua orang yang ditunggu muncul dari balik sana. Max bilang, penonton meningkat pesat. Tentu saja para b*jing*n yang sedangan menonton kami menyukai hal seperti ini. Sedangkan Noah di balik earpiece masih memanggil-manggil nama Izzy dalam bisik.
__ADS_1
Kami menunggu dengan tegang. Menunggu update apapun yang diberikan Noah dari dalam sana. Indra kami satu-satunya yang tersisa hanyalah pendengaran. Telinga terpkasa menjadi mata. Gambaran-gambaran apa yang sedang Noah lalui dijelaskan dalam suara.
Entah daun-daun kering yang diinjak, atau ranting yang patah, dan hembusan nafas Noah yang memburu.
"Izzy?"
Angin menyahut.
Keheningan menyambut.
Langkah Noah kembali dipacu. Pemuda itu hendak membuka mulut untuk memanggil nama yang sama sebelum mulutnya ditutup dalam bekap.
Bunyi gerusuk yang terdengar beberapa detik membuat kami waspada. Melihat dengan telinga memang memberikan gambaran tajam sedetail mungkin dibandingkan dengan mata. Namun, segala kemungkinan yang abu membuat spekulasi seperti apapun menjadi nyata. Suara-suara pun dikonversi dalam bentuk pikiran yang manipulatif.
Dan aku tidak bisa mengontrolnya.
Suara Noah dijeda dengan bekap. Pikiranku menggambarkan penduduk desa menutup mulutnya paksa. Gerusukan yang terdengar seperti sebuah pertarungan singkat. Pemuda itu dibisukan dengan paksa sedang langkah kaki yang diseret mulai terdengar setelah itu.
Noah tertangkap.
Aku bangkit dengan panik mendekati pintu jalan berniat menyusul. Entahlah apa yang kulakukan saat ini. Pikiranku tidak bisa berpikir panjang saat mengetahui kemungkinan Noah tertangkap. Tidak hanya aku, Delilah, Ethan dan Isaac saling menatap dengan tegang.
Sebelum langkah pertama kuambil, tubuh Noah muncul tiba-tiba dari dalam sana–menabrak tubuhku dalam peluk tak disengaja. Izzy di belakangnya menyusul dengan kaki terpincang-pincang dalam diam.
"Shhh!" Telunjuk diletakkan Noah di atas bibir. Menyuruh kami semua untuk tidak bersuara.
Dengan wajah yang semakin pucat, Izzy menunjuk earpiece yang menggantung di telinganya lalu menunjuk Delilah dan jalanan sempit yang baru saja dia lalui.
Tanpa mendengarnya berbicara, kami semua tahu artinya.
Dengan panik, Delilah meraba telinganya yang kosong. Earpiece miliknya tidak ada disana.
"Mereka menemukannya." Izzy membuka mulut tanpa suara.
Aku tersentak. Kalau mereka menemukan earpiece dengan microphone kami, maka kemungkinan besar mereka bisa mendengar percakapan kami.
Jantungku berdebar. Dengan jemari yang kembali mendingin, aku mengeluarkan ponselku dan mengetik sesuatu di kolom pengumuman. Memberi tahu Max situasi yang terjadi saat ini.
"Holly sh***" umpat Max dalam bisik sebelum audio sengaja diputuskan seketika.
"Mereka tidak bisa mengoperasikannya. Setidaknya itu membuat kita aman." Gadis cupu itu menjelaskan dalam nafas yang terengah.
__ADS_1
"Tidak sebelum mereka mencari tahu," Noah menyambung. "Kita harus segera pergi dari sini."
Dan kali ini aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin Noah tahu kalau perkataannya membuatku kecewa, kini dia menatapku memohon.
Hatiku bedenyut dengan cara yang tidak menyenangkan. Sebelum aku berbicara apa-apa, Izzy menyahut dalam cicit. "Tidak bisa."
Kami semua menatapnya secara bersamaan. Menunggunya kembali berbicara. "Kenapa?" tanya Noah.
Izzy menatapku lalu menatap Isaac bergantian. Tentu saja aku tahu mengapa dia bilang begitu. Begitu pula dengan Isaac.
Aku dan Izzy …
Kami itu sama.
Dituntut kehidupan melalui jalan yang serupa.
"M-mereka masih ada disana. Kita tidak bisa melewati jalan yang sama untuk kembali dan pasti akan kembali kemari. Kita harus segera pergi dari sini."
Kalimatnya dibuktikan dengan Max yang tiba-tiba mengirim pesan.
Maxim:
Aku terhubung dengan earpiece Delilah. Mereka akan kembali bersama yang lain! Cepat pergi dari sana!
Dengan itu, aku menatap mereka dengan panik dan segera melarikan pandanganku ke tempat yang bisa membuat mereka kehilangan jejak kami.
Tanpa berpikir apa-apa, aku menunjuk bagian depan hutan yang cukup rimbun. Berjarak mungkin sepuluh meter dari tempat kami. Tentu saja itu patut dicoba.
"Kesana!" Bisikku melempar komando.
Kami pun berlari dalam sunyi. Kamera masih menyala. Sedangkan komentar dan gift semakin membanjiri layar.
Dalam pelarian kami, kepala kerbau menggantung tepat di atas. Dengan mati-matian aku melarikan pandangan ke depan jalan. Fokus pada si rimbun yang menjadi tujuan utama kami untuk saat ini.
Sebelum atensiku dicuri oleh Noah yang menggendong Izzy di punggungnya.
Langkahku pun terhenti.
...***...
Author Note: Halo semuanya, aku ada rekomendasi novel juga lho! Greget dan bikin baper. Jangan lupa mampir dan dukung ya selagi nunggu update dari aku 🥰
__ADS_1