THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 23: It's Begin


__ADS_3

Jantungku terhimpit oleh rasa panik. Dari earpiece yang menggantung di telinga kami masing-masing, terdengar percakapan Max dan penduduk yang terus menanyainya banyak hal.


Mulai dari kemana tujuan Max sebenarnya, dengan siapa dia berkendara atau hal-hal lainnya yang kurasa sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Entah bagaimana Max bisa menanggapi itu dengan tenang. Sedangkan celurit yang mengkilat mengincarnya dari jarak yang sangat dekat. Memborong semua nafas dan atensiku dalam sesak yang menyiksa.


Aku sangat ketakutan.


Mungkin Isaac menyadari aku yang berdiri mematung di belakangnya nyaris tidak bernafas, pemuda itu ikut menoleh dan mengikuti arah pandangku. Seketika tubuhnya menegang dengan tangan yang sontak memegang pergelangan tanganku dengan erat.


“Guys.” Pemuda itu terkesiap saat mendapati apa yang kulihat.


Mendengar bisikan Isaac, keempat orang yang berjalan paling depan menyadari kami berhenti tiba-tiba. Dengan keheranan, mereka memutar tubuhnya dengan serentak. Dengan begitu, apa yang dilihat kami sampai di penglihatan mereka.


Kini Sebuah celurit dikeluarkan dengan perlahan. Seolah siap untuk ditebas.


Tangan yang memegang celurit itu terangkat tinggi-tinggi. Sedangkan Rose dibelakangku memberontak dari Noah–ingin berlari menyusul.


“Max–” sebelum teriakan Rose mengudara, Noah membekap mulut gadis itu dalam gerak cepat.


Namun terlambat.


Salah satu penduduk yang memegang celurit itu mendengarnya. Dengan awas pria itu menoleh menatap sekeliling sungai–waspada. Menurunkan benda itu. Sontak kami bersembunyi menunduk semakin dalam ke tanah berlumpur.


“Kau dengar itu?” tanya salah satu dari mereka terdengar dari earpiece.


“Apa?”

__ADS_1


“Aku mendengar sesuatu,” si pembawa celurit terdengar waspada.


“Mungkin gagak,” timpal yang satunya. “Yasudah, sebaiknya kau hati-hati. Disini jalanannya sepi, sebaiknya suruh montir itu datang lebih cepat.”


Kami semua yang ada di bawah jembatan saling menoleh keheranan. Apa kami tidak salah dengar? Isaac yang paling tinggi diantara kami mengintip dengan perlahan menyembulkan kepalanya dari batas tanah yang menjorok.


“Apa yang terjadi?” Dengan suara yang sarat akan rasa panik, Rose bertanya tak sabaran.


Isaac memanjangkan leher guna melihat lebih jelas. “Tidak terjadi apa-apa. Celurit itu … “


Pemuda yang paling tinggi di antara kami itu kembali merunduk. Menatap kami satu-satu dengan tatapan datar sebelum menghembuskan nafas lega, “Mereka menyabit tanaman rambat di atas mobil.”


Mendengar kalimat penuh kelegaan dilontarkan Isaac membuat semua rasa takut dan khawatir terhembus begitu saja dari dalam pikiran kami. Ethan dan Delilah mengumpat habis-habisan. Sedangkan aku …


Aku hanya diam saja. Entahlah, di satu sisi aku memang merasa lega bahwasanya apa yang kami pikirkan tentang penduduk desa itu tidak seperti benar. Tapi ada sesuatu nun jauh dibawah hati dan pikiranku, tumbuh seperti benih. Jauh terkubur dengan usahaku untuk berpikiran sepositif mungkin soal tempat yang akan kita kunjungi. Sesuatu yang membuatku tidak diberikan lega sepenuhnya.


“Geez.” Rose mendesis. Melepaskan sedikit tawa karena sudah berpikir berlebihan. Kemudian layar kamera diangkat. Membaca komentar yang dipenuhi umpatan-umpatan karena merasa tertipu. Meski begitu penonton yang masuk bertambah semakin banyak. Gift pun semakin menggila.


“You good, Rose?” suara Max terdengar dengan nada jenaka. Ketika kami mencoba untuk memeriksa, rupanya kedua pria itu sudah tidak ada disana.


“Kukira mereka akan melakukan sesuatu padamu,” kekeh gadis itu seperti merasa bodoh. Max menimpalinya dengan tertawa.


“Mereka menertawai kalian. Terutama kau, Rose. Mereka bilang kau nyaris menangis. Sayang sekali padaku, ya?” Max menggoda dengan main-main. Mendengar godaan itu, Rose memutar bola matanya jengah meskipun pemuda yang jadi sasaran kerlingan itu tidak melihatnya.


“Shut up. Jangan sampai mati begitu aku sampai disini,” ketus gadis itu sambil berdiri siap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Dari dalam mobil, Max semakin merasa terhibur. “I love you too, Bish” timpalnya tak bosan melemparkan godaan.


Setelah suasananya ringan yang menghangatkan hati itu, kami memutuskan untuk berjalan di bawah jembatan menghindari penduduk desa melihat. Dengan tertatih, langkah demi langkah kami susuri dengan harapan tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi kami.


Begitu kami berenam sudah ada di area seberang, Max melambai dari depan mobil. Menyemangati kami dengan antusias. “Hati-hati.”


Rose mengacungkan ibu jarinya, “Kau juga, Max. Tunggu kami.”


“I’ll be here.”


Dengan kalimat terakhir dari Max, kami pun berbalik menghadap hutan yang ditumbuhi pohon yang berdiri menjulang dengan berani. Aku tidak tahu jenisnya, terlihat sedikit mirip dengan pinus akan tetapi daun-daun mereka yang menjarum, cukup terlihat seperti spruce atau birch.


Rose menghela nafas.


“Let's go.”


Dengan komando dari Rose …


Petualangan pun dimulai.


...***...


Author Note: Halo semuanya, aku ada rekomen novel romance yang bikin baper nih. Ceritanya seru dan alurnya bikin greget bgt >///<


Jangan lupa buat mampir yaa, selagi nunggu aku update~ 🥰

__ADS_1



__ADS_2