
Author Note: Halo semuanya, sebelum membaca chapter ini, aku ada rekomendasi novel keren lagi nih! Ceritanya seru dan bikin penasaran. Jangan lupa mampir ya, selagi nunggu update dari aku 😆
...***...
Ting ting ting
Sound effect dari gift yang diberikan penonton adalah salah satu dari suara-suara yang terdengar di keremangan hutan. Bunyinya tak pelak merusak harmoni ringkik jangkrik yang tengah menyulam nada. Belum lagi suara gesekan dari sepatu milikku, merusak tatanan daun pinus di jalan setapak yang ku lalui. Meskipun lumayan ramai, namun kegelapan yang gulita tak ayal justru membuat hutan terasa semakin sunyi.
Aku bergidik, entah itu karena udara dingin yang semakin memeluk ataupun, karena aku tengah menahan rasa takut. Mungkin juga keduanya. I can’t really tell.
Semakin jauh langkahku masuk ke dalam hutan, uap yang mengepul dari celah bibirku juga semakin banyak dikarenakan nafasku mulai tidak beraturan akibat berjalan cepat. Lampu sorot dari kamera juga tidak terlalu membantu ketika kegelapan hutan mendominasi hingga memendekkan jarak cahayanya.
Rose di dalam layar juga sesekali berbicara mendekskripsikan situasi yang dialaminya. “Oh! Itu Max! Guys, aku berhasil keluar dari perkemahan! Lihat, pria disana itu adalah temanku dan dia yang akan mengantar kami ke Woodstock,” ujar gadis itu memberi tahu penonton.
Layar Rose memperlihatkan sebuah mobil SUV berwarna white silver dan seorang pria yang melambai dari kejauhan. Tak lama setelah itu, mereka saling berpelukan dan Max langsung menyapa para penonton.
“Hai guys, aku Max!” sapa pria dengan kemeja flanel dan rambut ikalnya. Terlihat cukup terlihat tampan dari kamera.
“Hi, handsome~” Bukan aku. Siapa lagi yang akan berani flirting diantara aku, Noah, Isaac dan Delilah? Kalian tahu jawabannya.
“Babe!” Ethan tentu saja protes.
Max yang digoda tertawa penuh hiburan. “Sorry girl, I have boyfriend,” ujarnya.
“Ouch! Eli! Kau dengar itu?” seru Ethan dan Isaac pura-pura menggoda Delilah dengan puas.
“So, do i! Ingat, yang namanya Ethan adalah pacarku,” sahut Delilah pura-pura posesif dan mereka pun tertawa.
Aku tersenyum tipis melihat pemandangan konyol itu. Ya kuakui, meskipun mereka menyebalkan dan arogan tapi mereka adalah teman yang menyenangkan untuk sama lain. Berbeda sekali dengan hidupku yang terlalu suram.
Di tengah suasana ringan, Noah tiba-tiba berbicara. “Aku sudah hampir sampai. Laporkan posisi kalian.”
“Aku sudah melihat Max dan Rose,” sahut Isaac.
“Aku melihat Isaac.” Ethan menyambung dengan nada jenaka.
Tak lama Delilah menimpali, “Aku juga sebentar lagi sampai.”
Sedangan aku …
Dimana ini?
Posisi tendaku adalah yang paling jauh diantara yang lainnya dan setelah beberapa menit berjalan aku tidak kunjung menemukan jalan keluar. Namun, kuhentikan langkah saat melihat papan petunjuk bertuliskan Parking Lot mengarah ke timur. Aku menghela nafas lega dan kembali berjalan. Tidak akan lama lagi, pikirku.
“Izzy? Dimana?” tanya Noah.
“Aku …, “ ujarku menggantungkan kalimat seiring mataku yang menyusuri hutan. Padangan ke depan masih gelap terlihat. Tidak ada tanda-tanda ada bangunan. Visiku hanya memperlihatkan pepohonan dan kedalaman hutan yang gulita. Membuat bulu kudukku bangun dengan serempak.
Seharusnya jika ada parking lot disebelah timur seperti yang ditunjukkan papan jalan, mungkin setidaknya aku bisa melihat cahaya dari lampu lot atau mungkin dari Rose. Tapi tidak. Aku merasa sudah masuk jauh kedalam hutan.
F**ck. Perasaanku tidak enak.
Aku memutuskan untuk kembali ke jalan setapak yang kulalui sebelumnya untuk melihat papan jalan. Mungkin saja aku salah lihat arah kan? Dan ternyata …
Papan itu tidak ada ditempatnya.
Aku mengernyit bingung dan menoleh ke sekitar. Tidak ada. Papan itu tidak ada dimana-mana.
“Izzy, apa ada masalah?” kudengar Isaac bertanya. Aku tidak segera menjawab dan masih menganalisa jalan. Seingatku, aku belum berjalan terlalu jauh dari papan petunjuk arah itu lalu, kenapa benda itu tiba-tiba menghilang?
“Uh … teman-teman, aku sudah mengikuti jalan setapak sesuai petunjuk jalan. Tapi kurasa … aku tidak tahu dimana aku sekarang,” ucapku sambil menatap penuh sesal ke kamera. Delilah, Ethan dan Rose terlihat berdecak kesal dari layar. Sekarang bagian komentar dipenuhi dengan emoticon tawa.
“I knew it! Sudah kuduga, dia akan merepotkan kita.” Delilah tidak segan-segan mengeluh.
“Izzy, bisa kau share lokasimu? Biar kujemput.” Isaac tiba-tiba menawarkan diri. Dari layar kamera milik pemuda itu, terlihat Rose, Ethan, Delilah dan Max. Rupanya semuanya sudah hampir sampai di parkiran. Noah tidak terlihat dimana-mana. Itu artinya tinggal aku dan Noah yang belum sampai.
__ADS_1
“B-baikla–”
“Tidak usah, biar aku saja agar lebih cepat.” Noah tiba-tiba menyanggah tanpa menunggu persetujuan Isaac. Dari layar kamera milik Noah, ia terlihat berputar arah dan kembali ke dalam hutan.
Lima orang di layar streaming terlihat mematung tidak tahu harus bereaksi apa mendengar Noah menawarkan diri. Termasuk aku yang langsung mengarahkan tatapanku pada layar kamera milik Primrose. Gadis itu mengeratkan kedua rahangnya erat dan membuang muka lalu mengarahkan kameranya ke arah lain.
“Izzy, kirimkan lokasimu padaku,” sambung Noah. Aku hanya menjawab, “Oke,” dengan suara kecil–merasa canggung.
Setelah mengirimkan lokasiku pada Noah, aku duduk di bawah salah satu pohon pinus. Menunggu pemuda itu datang dalam diam sambil mengarahkan kamera ke sekeliling tempat aku beristirahat. Primrose mulai lagi berbicara kepada para penonton dan aku tidak begitu mendengarkannya.
“Holly ***** apa itu?!” Delilah yang tiba-tiba berteriak mengejutkanku.
“Sh**! Crawford! Crawford! Coba arahkan kameramu lurus!” kini Ethan ikut-ikutan panik.
“Ada apa?” tanyaku tertular panik tak mengindahkan perintah Ethan.
Aku mengambil layar ponselku yang kuletakkan di tanah untuk melihat komentar dan ternyata komentar tengah menggila sedangkan gift bertebaran dengan sangat cepat.
Brandon: WTF! Kalian melihatnya juga?
Frenchfries: itu benar-benar jelas! Its crazy!
Jojolee: Kalaupun ini settingan, kalian berhasil membuatku kaget!
Grunch: kalian liat juga kan?!! Ada nenek-nenek di balik pohon!
Crunchy: Ada nenek-nenek!
Xeemsmile: Nenek-nenek!
Chloeee: Itu kepala nenek-nenek!
Deg!
Aku menurunkan kameraku terburu. Nenek-nenek, mereka bilang?
Aku mematung. Merasakan rasa takut yang tiba-tiba membatasi pergerakanku seketika. Pikiranku mulai berpikir macam-macam. Apakah … apakah itu nenek-nenek yang sama yang selalu muncul di hadapanku? Dan kini, semua orang melihatnya.
Itu artinya … dia benar-benar ada.
Jantungku tersentak memikirkan fakta itu.
Aku tetap diam meskipun suara Rose dan Isaac memanggil-manggil namaku dari seberang sana. Keterkejutan membungkam semua indraku.
Tiriring!
...Radolphy memberikan 10 topi cowboy...
...Seanwhite memberikan 8 topi cowboy...
...Twothird memberikan 11 topi cowboy...
Coolguy: WOW! eksekutif datang!
Wondergurl: Gila! Tiga eksekutif sekaligus?!
Xylemth: ????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Brandon: WOAH banjir gift!!!
Suara sound effect seolah membangunkanku. Dengan perlahan aku kembali mengangkat ponsel.
Layar streaming memperlihatkan wajah close up pasi milik Rose, Delilah, Ethan dan Isaac yang tengah memperlihatkan layar kamera milikku yang masih menghadap ke tanah. Sedangkan layar milik Noah bergoyang memperlihatkan pepohonan yang terdistorsi laju lari.
Dengan keberanian yang tinggal tersisa lima persen, aku kembali mengangkat kamera yang kini ku arahkan ke wajahku.
“Demi Tuhan, kau tidak lihat sesuatu disana, Crawford?” Ethan bertanya. Ekspresi konyol yang biasanya ia perlihatkan kini berubah serius.
__ADS_1
“Ada nenek-nenek tepat di depanmu! Di balik pohon! Kau tidak lihat?” Panik Delilah.
Aku menggeleng tanpa mencoba untuk melihat ke satu pohon pinus besar di depanku.
“Jangan dilihat!” seru Noah.
Namun Primrose yang sedari tadi diam menyanggah perintah Noah dengan nada dingin. “Izzy, coba kau periksa.”
“Rose! Tidak Izzy, jangan dengarkan di–”
“Inilah tujuan kita melakukan live stream bukan? Menangkap hantu. Do it,” titah Rose dengan nada bicara yang datar–memotong kalimat Noah dengan telak.
Xylemth: DO IT!
Crazyrich: Rose has the point! Do it!
Primlovers: Do it! Do it! Do it!
Grahambell: Do it, you coward!
Seanlove: Do it, now!!!
Aku kalah.
Dengan jantung yang semakin bertalu aku mencoba bangkit perlahan. Layar kamera 6 memperlihatkan wajahku yang pucat pasi.
Kedua kakiku melangkah ragu-ragu mendekati pohon itu.
Aku mendekat.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Dan ternyata …
Tidak ada apa-apa disana.
“Dang! Ini aneh! Aku yakin seseorang tadi mengintip dari balik pohon itu!” ujar Ethan.
“Ya aku juga melihatnya.”
“Izzy, lebih baik kau pergi dari sana dan tetap arahkah kamera ke wajahmu.” ujar Isaac.
Aku mengangguk dan melangkah maju—mencoba menjauh dari pohon itu sebelum teriakkan Delilah membuat langkahku berhenti.
“F**ck!"
“Izzy!”
Craich: di belakangmu!!!!
Brandon: di belakangmu!!!
Xylemth: *****!! Lari! Dia ada di belakangmu!!!
Ponselku terjatuh. Suara gift yang terus dikirimkan penonton terdengar beruntut dari sana.
Aku merasakan hawa panas merambati di punggungku dengan perlahan.
Dia ...
Ada disana.
Tepat di belakangku.
Dan begitu aku menoleh …
__ADS_1
...***...