
Pagi ini aku terpaksa meninggalkan ibu dan menguncinya sendirian di rumah dengan makanan dan minuman. Aku tahu tindakanku ini sangat tidak manusiawi tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak punya uang atau pun seseorang yang bisa kuandalkan untuk menjaga ibuku.
Sekarang, aku tengah berjalan dengan tegap memasuki pelataran sekolah. Pandanganku soal prinsip sudah berubah. Dulu aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlihat, namun sekarang kebalikannya. Aku ingin menjadi si minoritas tamak yang mencari perhatian si mayoritas untuk dijadikan budak.
Ironis, bagaimana kejamnya dunia bisa mengubah seseorang hanya dalam satu malam.
Setelah apa yang terjadi dengan Nena, aku luar biasa kebingungan. Tadi pagi saja aku menghabiskan waktu selama hampir 20 menit untuk melamun di depan jendela. Berpikir bagaimana aku melunasi semua hutangnya agar Lawrenceville tidak membawa ibuku.
Maka dari itu, sehabis membantu ibu untuk mandi dan membuatkannya sarapan, aku membongkar buku tabungan seperti orang gila. Namun aku hanya mendapati sekitar 400 dolar tersisa. Itu sangat jauh jumlahnya dibanding hutang yang Nena pinjam dari Lawrenceville. Ditambah dengan biaya hidup di Pittsburgh yang mahal aku yakin dengan hanya dua sampai tiga bulan saja uang itu akan lenyap tanpa sisa. Belum lagi biaya pengobatan ibu yang sejujurnya tidak sanggup kubayangkan.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk melewatkan sarapanku dan menaruhnya di dalam kulkas untuk makan malam nanti sebelum berangkat ke sekolah. Kukunyah satu potong roti bekas ibu yang tidak habis dan meneguk satu gelas penuh air mineral dengan rakus. Aku hanya perlu menahan lapar sampai sore nanti agar lebih hemat.
Disinilah aku sekarang. Jadwal kegiatan sekolah dipadatkan karena ada pengumuman yang akan dilaksanakan di akhir hari nanti. Hingga semua siswa dari tiga kelas senior dikumpulkan di aula untuk mengikuti jam Physical Education bersama.
Sekarang aku tengah berada di tengah-tengah aula dan mendengarkan Mr. Beneth menyampaikan arahan. Namun pikiran dan mataku melenceng dari pada seharusnya. Perhatianku terpaku pada kumpulan para mayoritas yang berada dua meter di depanku. Primrose dan para kurcacinya.
Aku menunggu.
Sedangkan waktuku tidak banyak. Hanya tersisa 400 dolar saja.
__ADS_1
Salah satu kurcacinya menoleh. Aku mengalihkan tatapanku saat kedua mata kami bertemu. Tentu saja aku terkejut. Itu adalah Noah Adam. Sebenarnya aku tidak yakin kalau dia ini adalah salah satu kurcaci dari Primrose. Tidak seperti kurcaci yang lain, Noah cenderung bersikap mandiri dan pemdiam. Pemuda jangkung itu yang paling kelihatan tidak bergantung pada Primrose. Dia hanya selalu sering terlihat bersama gadis itu. Aku terkadang berpikiran kalau Primrose lah yang bergantung padanya.
Dua puluh detik berlalu tapi aku masih bisa merasakan tatapannya. Aku menggigiti bibir dalamku gugup. Apa dia menyadari kalau sedari awal aku terus saja memperhatikan mereka? Dengan ragu-ragu, aku balas menatap. Kini pandangan kami bertemu dari ujung ke ujung. Matanya yang hijau berwarna Malibu itu tak pelak membuatku gugup. Dia itu tampan dan tinggi. Seperti model.
Selagi aku hanyut di Malibu milik Noah, tiba-tiba Primrose menoleh padanya sambil tertawa. Mungkin mereka tengah membicarakan sesuatu yang lucu sebelum atensi Noah mendapatiku memperhatikan mereka. Melihat perhatian Noah tidak berada dengannya, gadis itu mengikuti kemana Noah melihat.
Dan begitulah Primrose akhirnya melihatku. Aku balas menatap Primrose dan mendapatinya mengernyit sebelum kembali berbicara dengan yang lain. Noah pun ikut memutus kontak denganku.
Dalam hati aku bermanifestasi.
__ADS_1
Ayo bicara padaku dan suruh aku melakukan apapun yang sudah kau rencanakan, Rose.
...***...