THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 8: The Beginning (Part 1)


__ADS_3

Orang-orang memanggilku Primrose Couper.


Tapi kalau boleh jujur, sebetulnya namaku hanya Primrose saja. Couper tidak cocok untukku. Dia adalah beban. Mungkin aku akan mengganti nama belakangku dengan nama yang lebih keren lain kali. Aku bisa mencari yang bermacam-macam di internet. Yang lebih estetik sekalian.


Ya, lain kali saja.


Sekarang aku harus menutupi bekas luka di sudut bibirku karena Couper senior baru saja meninjuku akibat membangkang. Geez, aku benci sekali pria tua yang sayangnya adalah ayahku itu.


Aku benar-benar tidak mengerti bagian mananya yang disebut membangkang. Hanya karena aku melakukan live streaming dan orang-orang menyawerku dengan macam-macam hadiah, ayahku murka. Pria tua itu mengumpat kasar dan menyumpahiku untuk tidak lahir di dunia sekalian kalau yang aku lakukan hanya menjual diri seperti pel*cur.


Si*lan, aku tidak menjual diri! Apalagi jadi pel*cur!


Ck, sudahlah. Seharusnya aku tahu kalau itu hanya kalimat halusnya yang menyindirku karena menyeleweng dari tradisi keluarga. Menyeleweng dari yang seharusnya seorang Couper lakukan.


Meskipun kesal, aku cukup mengerti keinginan ayah untuk menjadikanku penerusnya. Menjadikanku seorang dokter bedah di rumah sakit yang saat ini ia kelola agar kehidupanku terjamin. Memang benar, kehidupanku terjamin sampai sekarang. Semua fasilitas pun lengkap. Ayahku hanya berharap aku duduk manis di depan meja belajar dan memakan buku. Seperti para pecundang yang tidak tahu menikmati hidup.


Aku muak. Meskipun mungkin ini adalah impian semua orang, aku tidak menyukainya. Aku kesepian dan lelah karena selalu diatur seperti robot. Aku lebih senang ketika tampil di depan kamera. Aku senang saat banyak orang yang memujiku dan mengirimiku hadiah macam-macam. Aku merasa bangga ketika melihat pundi-pundi uang secara nyata masuk ke dalam rekeningku dan itu karena hasil kerja kerasku sendiri. Bukan dari ayah. Bukan dari keluarga Couper.


Sayangnya, Couper senior sama keras kepalanya sepertiku. Dia ayahku, tak heran kalau sifat kami mirip.


Singkatnya, setelah dia meninjuku, sekarang dia mengancamku.


Kanal yang sudah kukembangkan dari nol terancam dihapus oleh ayahku dan aku mungkin saja akan kehilangan semua memori yang ada. Kalian tidak tahu saja kalau seberapa besar kuasa yang ayahku miliki. Kadang aku melihatnya seperti mafia jahat alih-alih seorang dokter. Ck. Konyol sekali.


Maka dari itu aku disini sekarang. Di hadapan kamera yang menyala, aku memutuskan untuk melakukan live streaming diam-diam. Mungkin mengucapkan perpisahan sekalian karena aku tidak tahu kapan ayahku bisa menghilangkan semuanya.


Emoticon hati segera berterbangan di layar saat aku mulai menyapa. Tak lama, macam-macam gift muncul bergantian. Dengan antusias aku berterima kasih dengan menyebutkan nama mereka satu persatu. Mereka sangat suka saat aku melakukan itu.


Biasanya aku akan mereview beberapa barang keren, menggosip, bernyanyi dan membicarakan apa saja. Namun malam ini, bibirku masih memar. Jadi kuputuskan untuk bercerita tentang paranormal experience agar aku bisa memakan riasan tebal untuk menutupi luka.


Yang tentu saja pengalaman berhantu itu tidak sungguhan pernah terjadi padaku. Semua itu hanya karangan yang kubuat semenakutkan mungkin agar menarik.


Lagipula, tidak ada yang namanya hantu di dunia ini. Sama halnya seperti superhero, hantu itu hanya karakter fiksi bullsh*t yang di karang orang tua semata-mata untuk mendisiplinkan anak-anaknya.


Sayangnya inilah yang kulakukan sekarang.

__ADS_1


Aku baru saja selesai bercerita tentang paranormal experience yang kualami saat aku di satu hotel di Jepang. Penonton semakin bertambah dan gift yang diberikan semakin berlevel tinggi. Ada banyak macam-macam komentar yang mengatakan kalau aku sangat cocok membawakan tema ini. Ada pula yang berkomentar bodoh.


MrDicx: Bukannya seram, aku malah tidak fokus karena kecantikannya.


Srreghy: Dengan siapa kau ke hotel? Pacarmu ya? Apa yang kau lakukan disana?


Rubberduck: Wah Rose nakal ya, pacarannya sampai hotel Jepang.


Longwand: Awas videonya disebarkan di JAV!


Aku hanya tersenyum sambil mengumpat banyak-banyak dalam hati.


‘Dasar para bedebah otak s*langkangan. M*ti saja kalian!’


Ya memang.


Aku harus banyak-banyak bersabar dan melatih senyum palsuku saat menjadi seorang streamer. Inilah resikonya. Kalau di dunia nyata sudah ku kebiri mereka semua.


Aku memutuskan untuk mengabaikan komentar tidak penting dan mulai mengumumkan tentang niatku untuk hiatus. Ku jelaskan alasan yang sebenarnya pada mereka bahwa ayahku tidak setuju aku menjadi seorang streamer dan menyuruhku untuk belajar sungguh-sungguh. Komentar dibanjiri dengan emoticon menangis. Beberapa dari mereka melarang niatku dan beberapanya lagi menyemangati. Bahkan ada yang mengumpati ayahku terang-terangan.


Steav: Sayang sekali kalau kau berhenti disini. Namamu itu sudah besar. Boleh aku sarankan sesuatu?


Aku menyapa Steav dan memintanya untuk melanjutkan sarannya. Steav pun kembali menulis komentar.


Steav: Ada sebuah platform live streaming rahasia yang tidak sembarang orang masuk. Kau aman disana, ayahmu tidak akan tahu. Dan kau kan mendapat banyak uang kalau berhasil meyakinkan para eksekutif disana. Akan ku kirim link-nya lewat direct message.


Aku mengangkat sebelah alisku curiga. Steav terdengar seperti para pria mesum yang ingin macam-macam denganku lewat sebuah link. Mungkin dia tahu aku ragu, Steav kembali menulis komentar.


Steav: lolololololol kau tidak percaya?


“Tentu saja aku tidak percaya dengan akal-akalan mu itu,” ujarku dengan lantang. Namun Steav belum menyerah.


Steav: Jangan berprasangka buruk dulu. Lihat dan cek dm dariku. Aku tidak bisa menjelaskannya disini.


Rubberduck: halah paling itu link prno. Jangan mau dikibuli laki-laki, sayang**~

__ADS_1


Mrdicx: @.rubberduck kau juga sama saja LOL***


Aku menahan diri untuk tidak memutar bola matanya jengah melihat komentar tidak senonoh itu. Walaupun aku sendiri ragu kalau saja itu juga scam. Meski begitu, aku memutuskan untuk membuka kotak pesanku setelah mengakhiri live. Aku hanya akan ingin tahu apa yang akan dia sampaikan.


Steav: Hi, Prim!


https://hellinworld666.io itu linknya.


Biar kujelaskan sedikit. Platform ini namanya HEWO dan tidak sembarang orang yang tahu.


Berhubung aku adalah salah satu penggemarmu, dan menyayangkan kalau kau berhenti, jadi ... aku sarankan kau bergabung disini karena hanya orang-orang tertentu yang bisa mendaftar sebelum ikut bergabung komunitas.


Jadi aman. Ayahmu tidak akan tahu.


Prim: Kenapa platform ini bersifat rahasia? Aneh sekali. Kau yakin itu platform untuk live streaming? Berapa orang yang ada disana kalau mendaftarnya saja sesulit itu.


Steav: Jangan salah! Kau akan terkejut kalau banyak orang-orang terkenal seperti petinggi negara dan artis yang menjadi penontonmu nanti.


Dan lagi yang terpenting, peringkat streamer ditentukan oleh jumlah gift yang diberikan oleh penonton. Tidak peduli berapa orang yang menonton acaramu, asalkan gift yang kau peroleh lebih tinggi dari yang lain, maka para eksekutif akan memberiku hadiah yang tidak pernah kau kira sebelumnya.


Prim: *Lmao. Bullsh*it*. Mana ada hal seperti itu di dunia ini. Film apa yang kau tonton, huh?


Steav: Kau tidak percaya rupanya. Kalau kau tahu B.I, dia streamer disana dan pernah mendapatkan peringkat pertama karena dia membaca Vesta Hestia di tempat terkutuk. Video viral miliknya yang tersebar itu berasal dari HEWO.


Prim: *emoticon mengangkat alis* Geez. Kau semakin membual. Vesta what? Sounds like a freaking restaurant’s name to me lmao


Steav: Well, aku tidak memaksa. Kau cari tahu saja sendiri tentangnya. Nanti kau pasti akan kembali bertanya padaku.


Prim: :ppppppppppp!!!


Aku mematikan komputerku dengan perasaan kesal.


Sialan. Dia membuang-buang waktuku saja.


...***...

__ADS_1


__ADS_2