
Shaftsbury, vermont
00.00 A.M
Sekitar satu jam lagi menuju Woodstock
____________________________
Klik.
Klik.
Klik.
Aku membuka mata begitu mendengar suara shutter kamera dari tempat duduk di sampingku. Noah ada disana dengan sebuah kamera polaroid di tangannya. Sibuk memotret pemandangan rural dari balik kaca mobil.
Aku membetulkan posisi duduk, membuat Noah menoleh.
“Izzy? Apa aku membangunkanmu?” tanya pemuda itu sambil menyimpan kertas foto yang keluar dari kamera ke dalam tas.
Aku menggeleng, “Aku tidak tidur. Lanjutkan saja,” tuturku.
Alih-alih kembali mengambil foto, Noah meletakkan kameranya ke dalam tas ransel lalu memperhatikanku untuk sesaat dengan ekspresi ragu. Ditatap pemuda dingin itu dengan dalam tentu saja membuatku gugup.
“Yang semalam, kau yakin baik-baik saja?” tanyanya dengan suaranya rendah.
Aku menoleh, balas menatapnya sekilas.
Meskipun aku tidak yakin, tapi aku menganggukkan kepala untuk membuatnya tidak berpikir macam-macam agar percakapan ini tidak berlanjut.
“Jangan terlalu dipikirkan.” Seharusnya aku tahu kalau pemuda ini tidak bisa dibohongi. Mungkin karena melihat wajahku yang masih pasi, ia jadi tahu kalau aku hanya membual.
Seandainya aku bisa melakukannya, Noah. Akan kuhapus semua memori semalam agar bisa terlelap meski untuk sesaat. Namun kejadian itu tidak bisa hilang hanya karena aku menginginkannya.
“Terima kasih sudah menjemputku. Aku lupa tidak mengatakannya semalam,” lirihku sambil memberinya senyum canggung.
Noah tidak mengatakan apa-apa. Mungkin sebenarnya ia ingin bertanya banyak hal padaku tentang semalam. Lihat saja, pemuda ini terus-terusan membuka tutup mulutnya dengan ragu. Kalimatnya sudah di ujung lidah namun sepertinya rasa segan membuatnya urung.
Aku terkekeh kecil. Entahlah, aku tidak tahu kalau rupanya pemuda dingin ini memiliki sisi seperti ini.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” tanyaku.
Noah tidak langsung menjawab. Ia membenahi posisi duduknya hingga seluruh tubuhnya menghadap ke arahku. Seolah apa yang akan diucapkannya adalah hal yang serius. Matanya sedikit berkeliaran menatap satu-satu teman kami yang masih terlelap. Memastikan bahwa mereka masih berkeliaran di alam mimpi sebelum pemuda itu memusatkan atensinya kembali padaku.
“Kau pasti terkejut melihatku begitu,” ujarku.
Noah menurunkan pandangannya. “Aku khawatir.”
Aku mengedipkan mata bingung. Dia khawatir?
“Bola matamu … kenapa mereka bisa … bisa begitu?” tanyanya hati-hati seolah ia tidak mau membuatku kembali mengingatnya.
Aku menggeleng tidak tahu namun tetap menjawab, “Aku melihat sesuatu.”
Noah mengernyit. “Sesuatu yang dilihat penonton?”
Aku menggeleng. Tidak. Aku tidak melihat nenek-nenek itu.
“Lalu apa yang kau lihat?”
__ADS_1
Apa yang aku lihat?
Aku menggigit bibir dalamku dengan ragu. Ingatan semalam lagi-lagi terputar bak roll film yang tak beraturan.
Saat itu …
Ketika penonton melihat sesuatu di belakangku …
Aku dengan perlahan berbalik. Menyiapkan mentalku jika saja aku melihat sesuatu yang menyeramkan.
Dan ternyata …
Tidak ada apa-apa disana.
Hanya hutan yang gelap dengan kabut yang semakin turun kebawah.
Sebelum tiba-tiba aku melihat siluet seseorang dari kejauhan. Seorang pemuda dengan perawakan yang mirip dengan Noah. Orang itu hanya berdiri mematung disana. Aku nyaris menangis saat melihatnya. Perasaan lega membuatku dadaku membuncah tenang memikirkan fakta bahwa akhirnya aku tidak sendirian. Maka dari itu aku menghampirinya.
Namun begitu jarakku dengan siluet itu tinggal beberapa langkah lagi …
Ternyata …
Dia bukan Noah.
“Aku melihat ibuku,” ujarku menjelaskan apa yang kulihat disana saat itu. Membuat Noah semakin mengernyit.
“Ibumu?”
Aku mengangguk sebelum kembali bercerita.
Malam itu, aku merasa seperti ada dalam batas kesadaran antara sadar tidak sadar mendapati wanita kesayanganku itu tiba-tiba berhadapan denganku. Di dalam hutan. Beratus-ratus kilometer dari tempat tinggal dokter Couper. Ibuku tidak mungkin ada disini. Pikirku saat itu.
“Ibu?”
—bukannya malah memanggilnya dengan penuh haru. Tubuh ibu di hadapanku terlihat lebih sehat, lebih berisi dan bugar. Kulit pucat miliknya tidak ada lagi di sana. Sepasang iris cantik yang biasanya menatapku kosong kini lebih bernyawa.
Dan dia tersenyum padaku.
Airmataku jatuh dengan sendirinya. Aku menangis di tempat. Perasaanku sedih karena aku melupakan kapan aku melihat ibu tersenyum seperti saat ini. Mungkin setelah kepergian Harper dan itu tujuh tahun yang lalu.
Aku rindu.
Aku mendengar suara Isaac, Rose, Ethan dan Delilah memanggilku panik dari layar namun kesadaranku seolah lenyap begitu saja. Aku terus melangkah maju mendekati ibu yang melebarkan kedua lengannya menawarkanku pelukan.
Aku sebentar lagi sampai di dalam dekapannya sebelum tubuhku disentak dengan keras dari depan. Aku merasa seperti nyawa dan kesadaranku dilemparkan dengan tanpa perasaan dari suatu tempat. Tubuhku limbung dan seseorang mencoba menegakkannya.
Begitu aku membuka mata …
Wajah panik Noah yang menyebut namaku berulang kali adalah apa yang pertama kali aku lihat. Kedua tangannya berada di kedua pipiku. Ia mengguncangku sesekali berharap kesadaranku kembali.
“Izzy! Izzy! Sadarlah!”
Suara ting ting ting dari gift terdengar di pendengaranku membuatku tersadar dan langsung merasakan kedua bola mataku berputar 180 derajat kembali ke semula. Aku memberontak menjauh dari Noah. Dengan perasaan takut dan kalut, mataku menyisir sekitar hutan seperti kehilangan arah.
Sosok itu …
Tidak ada dimana-mana.
Tanpa menunggu lagi aku menyesuaikan diri dari keterkejutan, Noah menarikku dengan cepat untuk segera pergi dari sana. Sepanjang jalan hutan tidak segelap sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berbeda.
__ADS_1
Noah diam sepanjang perjalanan dan sesampaikan di parking lot, Rose sudah menghentikan live streamingnya sambil menunggu kami dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Aku terlalu letih untuk berpikir macam-macam.
Begitu aku sampai disana, Ethan, Delilah dan Isaac menatap kami berdua dengan raut wajah tegang. Sedangkan Primrose, gadis itu dengan ekspresi dingin menghampiri kami. Ia menatapku tepat di mata.
“Crawford, aku menghargai semua usahamu tapi lain kali jangan bertindak terlalu jauh tanpa aba-aba dariku,” tekan gadis itu dengan ketus sambil masuk ke dalam mobil tanpa melihat ke arah Noah.
Aku yang masih belum sadar, tidak merespon apa-apa. Setelah apa yang terjadi di live, Rose masih berpikir bahwa hantu itu tidak ada dan apa yang terjadi padaku adalah bualan semata.
Max yang sedari tadi menjadi penonton hanya mengangkat lengannya canggung ke arahku dan Noah, memperkenalkan dirinya pada kami seadanya lalu ikut masuk kedalam mobil.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Isaac.
“Biarkan dia istirahat dulu.” Itu Noah yang menjawab. Isaac tidak berkata apa-apa lagi dan memberi kami jalan untuk masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana bisa Rose menganggap ini settingan? Sudah jelas-jelas kita melihat nenek-nenek itu di balik pohon bersamaan, ya kan Babe?” Aku mendengar Ethan protes dengan suara yang pelan dari belakangku.
Delilah menyikutnya sehingga Ethan mengaduh. “Diamlah. Dia sedang cemburu,” tegur Delilah. Dan detik berikutnya kami tidak berbicara apa-apa lagi. Max pun mulai menyalakan mesin mobil dan menit berikutnya kami sudah berangkat.
Lalu disinilah kami sekarang, dengan hanya Noah dan aku yang terjaga. Max menyetir dalam diam sambil sesekali menguap. Sedangkan yang lain tengah terlelap.
Noah di hadapanku menatapku lekat-lekat selama aku menjelaskan. Pemuda itu tengah bergelut dalam pikirannya.
“Izzy–” Kalimatnya ditelan dalam keraguan. Bibirnya terbuka, lalu tertutup.
Sebelum Noah menemukan keberanian untuk mengutarakan apa yang akan dia sampaikan, aku mendahuluinya.
“Noah, boleh aku bertanya?”
Pemuda itu diam sejenak sebelum mengangguk.
Aku menelan ludah, merasa ragu. “Kenapa kau tiba-tiba bersikap baik padaku?”
Padahal sebelumnya kau tidak pernah melihat atau bahkan menyapaku. Aku menyambung dalam hati.
Kurcaci Primrose ini– ah tidak, kurasa aku harus berhenti menyebut mereka kurcaci Rose. Hubungan kelima orang ini terlalu lekat untuk sekedar menjadi kaki tangan. Noah, pemuda yang dingin ini mengalihkan tatapannya dan kembali merubah posisi duduknya menjadi ke posisi semula.
“Apa kau tahu sesuatu?”
Aku juga tidak tahu apa yang aku maksud dengan sesuatu. Aku hanya merasa Noah menyimpan hal yang berhubungan soal aku dan vesta hestia ini.
Noah hanya diam saja. Lagi-lagi terlihat ragu untuk membicarakan sesuatu di ujung lidahnya. Sebelum pertahanannya turun, Isaac di sebelahku terbangun.
“Hey, kalian. Masih ada satu jam perjalanan menuju destinasi, kusarankan lebih baik kalian tidur untuk menghemat energi,” tukas Isaac dari tempatnya tanpa menghadap ke arah kami.
Noah menoleh ke arah Isaac di samping kiriku sekilas sebelum menghela nafas. “Isaac benar. Kita butuh istirahat. Tidurlah Izzy,” titah pemuda itu sambil mengulas senyum tipis.
Aku tidak punya pilihan selain menurut dan mencoba tidak berpikir terlalu banyak.
Kupaksakan mataku untuk tertutup dan mencoba jatuh dalam lelap. Mungkin karena aku kelelahan, kantuk pun tak lama datang menggodaku.
Dalam kesadaran yang perlahan hilang …
Aku merasakan seseorang menutupi tubuhku dengan selimut.
...***...
Author Note: Hallo semuanya, bagi yang suka cerita horor, aku saranin kalian baca novel di bawah ini yaaa~ ceritanya seru banget bikin pengen baca terus. Selagi nunggu update dari aku, jangan lupa mampir ya~ 🥰
__ADS_1