
Dang it!
Ternyata tujuan kami lebih jauh daripada yang kubayangkan. Si Crawford terus-terusan berkata ‘sebentar lagi sampai’ dengan suara pelannya itu. Entah sudah seberapa jauh kami memaksakan langkah dengan kaki yang nyaris terseok. Langit semakin terik, dan telapak kaki sudah terasa kebas. Parahnya, sejauh mata memandang, hanya ada spruce yang berjejer berhektar-hektar.
Bagian mananya yang sebentar lagi, for God sake?!
“Rose, tidakkah kita istirahat dulu? Aku lelah.” Delilah yang terseok di belakangku terdengar.
Kuhentikan langkah dan berbalik ke arahnya. “Fine. 10 menit,” ujarku dengan nafas yang tersenggal.
Aku menyerah dan duduk begitu saja di tanah.
Yang lain mengikutiku. Tubuh kami menggelepar kehabisan tenaga. Keringat bercucuran. Detik itu juga kami terlihat seperti korban bencana yang tengah mengungsi.
“Rose, penonton berkurang. Sepertinya lebih baik kita hentikan dulu dan lanjutkan ketika kalian sampai di tempat.” Max yang memantau dari tempat lain tiba-tiba melapor.
Dengan nafas tersenggal aku menjawab. “Benarkah?” tanyaku sambil mengangkat layar ponselku dengan malas. Benar saja, penonton berkurang drastis dan komentar berkata live kami membosankan. Mungkin itu karena aku tidak banyak bicara karena Noah memegang kamera. Lagipula siapa yang bisa terus berbicara sepanjang berkilo-kilo meter?
Tidak ada kecuali dia superhero.
Entahlah apa yang kukatakan. Abaikan saja. Aku sedang sekarat. Dan ingin meracau saja.
Setelah aku memberi pengumuman akan melanjutkan live setelah sampai di tempat, Noah pun mematikan kamera.
Kami pun hanya diam selama bermenit-menit. Menetralkan detak jantung dan sebanyak mungkin menghirup udara segar yang sejuk. Dari bawah sini, aku menatap langit. Lain halnya dengan jalan menuju desa, pepohonan yang kini berjajar tak beraturan di sekitar kami menyisihkan helai daun untuk matahari. Dahannya merenggang, membuat cahaya berkelap-kelip seperti bintang.
Aku menoleh ke samping. Noah bersandar pada pohon di sampingku. Matanya terpejam dengan damai.
Dan detik berikutnya aku menemukan diriku menatapnya dalam diam.
Call me a pervert or whatever.¹ Aku tahu aku tak bisa mengendalikan kedua mataku untuk menyusuri tulang yang mempondasi feature wajahnya. Mulai dari cekungan yang menyembunyikan kedua mata cantiknya. Bulu matanya yang lentik, batang hidungnya yang tinggi, bibir bawahnya yang penuh dan siftanya yang gentle …
Dang.
Kurasa, aku terlalu membiarkan diriku semakin jatuh.
Mungkin semua orang di sekolah berpikir bahwa Noah yang menjadi salah satu dari tangan kananku. Nope! Mereka salah.
__ADS_1
Pertama, aku tidak menganggap teman-temanku sebagai tangan kanan. Memangnya aku ini siapa sampai punya tangan kanan segala? Kerjaanku hanya menjadi diriku sendiri dan melakukan apa yang kuinginkan. Mungkin itulah yang melandasi mereka dengan melihatku sebagai seorang yang dominan di sekolah.
Terlebih dengan latar belakangku yang orang pikir luas biasa. Mungkin sifatku yang sedikit kasar dan kadang bersifat semena-mena membuat mereka berpikir aku ini seorang bully seperti di film-film. Tidak, aku hanya tidak pandai menyembunyikan emosiku dan tidak tahu bagaimana cara menyalurkannya. Begitulah. Kalian tahu sendiri dari mana sifat ini datang. I can't help it.²
Oke, yang kedua, Noah bukanlah seorang penjilat yang mengupayakan segala cara agar menjadi bagian dari circle-ku, tapi aku yang memaksakan diri untuk dekat dengan pemuda ini. Aku yang mengikutinya sejak dari awal dia pindah ke sekolah kami. Ya, aku mengakui itu.
Aku tidak tahu kenapa Noah pasrah-pasrah saja saat aku memaksakan diri untuk berteman dengannya yang suka kesendirian. Sedangkan aku ini haus akan atensi. Aku suka di perhatikan. Aku suka dicintai banyak orang. Aku merasa puas saat mereka merasa bangga padaku. Aku merasa bahagia ketika mereka bilang aku cantik dan pintar. Aku mendapatkan banyak cinta dari orang-orang di sekelilingku ketika keluargaku sendiri tidak bisa memberikannya.
Terlebih setelah kedatangan Noah di sekolah kami. Pemuda tampan itu mencuri perhatianku di kali pertama aku melihatnya. Bukan karena dia tampan. Ya, itu termasuk memang. Tidak bisa dipungkiri. Tapi ada hal lain yang membuatku jatuh.
Yaitu saat aku tengah berbincang dengan teman priaku di tribun aula. Aku duduk paling atas, sedangkan teman-temanku mendengarku dari bangku bawah. Lalu entah datang dari mana, Noah tiba-tiba menjatuhkan jaketnya ke atas pangkuanku dan berkata. “Tadi kau menabrakku kan? Ada noda lipstick disana. Jadi, tolong tanggung jawab.”
Dan pemuda itu berlalu begitu saja. Tentu saja aku mengernyit karena merasa tidak menabrak siapapun. Begitu aku memeriksa jaketnya, tidak ada apapun disana. Merasa kesal, aku pun mengejarnya dan berniat mengembalikan jaket, namun Noah berkata lagi. “Rokmu terlalu pendek. Pakai saja dulu. Kembalikan padaku besok.”
Kan?!
AAAK!
*****! Aku selalu merona tiap mengingat itu.
I dont care if you call me a skãnk.³
Hanya untuk Noah tentu saja.
Terlebih pemuda dingin ini tidak pernah menolak ketika aku meminta bantuan. Aku jadi bergantung padanya. Aku menceritakan apapun. Soal keluargaku, soal kehidupanku, soal apapun yang terjadi padaku. Dan pemuda ini hanya akan mendengarkan dengan baik dan memberi saran. Terkadang memberiku elusan di rambut untuk menenangkan.
Heish. Melihatnya begitu, siapa yang tidak akan percaya diri kalau mungkin saja Noah punya perasaan padaku? Lihat saja perlakukannya yang selalu melindungiku meksipun aku cukup mampu untuk melindungi diriku sendiri.
Tapi ternyata aku terlalu berbesar kepala.
Noah hanya selalu bersikap baik pada semua orang.
Ketika melihatnya bersikap peduli pada Izzy, aku tentu saja merasa kecewa pada harapanku sendiri. Aku kecewa pada Noah yang lebih peduli pada si culun itu dibanding dengan perasaanku. Walaupun hatiku ini sama sekali bukan tanggung jawabnya.
Kupikir aku sudah gila karena tidak tahu apapun tentangnya meskipun aku sudah membuka diri. Keluarganya, kehidupannya, tempat tinggalnya. Noah … terlalu menutup diri. Kadang aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat aku mengatakan akan membawa Izzy ke Woodstock. Kenapa Noah tiba-tiba memperhatikannya diam-diam seolah ada yang disembunyikan. Padahal selama ini pemuda itu tidak pernah peduli atau bahkan menyinggungnya.
Kenapa aku merasa bahwa ada sesuatu antara Noah dan Izzy. Tapi si culun itu tidak mengetahui apapun soal ini. Hanya Noah. Pemuda yang kusukai itu lagi-lagi bersikap misterius.
__ADS_1
Mungkin aku terlalu tenggelam dalam pikiranku sampai-sampai aku tidak sadar kalau Noah sudah membuka mata dan kini menatapku.
Aku gelagapan dan mengalihkan tatapan dengan gugup.
Sebelum Noah bertanya apa-apa, Isaac menghampiri Noah dan meminta pemuda itu untuk mengikutinya. Tanpa berbicara lagi keduanya berjalan dan berhenti cukup jauh dari tempat kami beristirahat.
Melihat terlihat terlibat pembicaraan yang serius. Sesekali melirik ke arah kami memastikan. Kalau dipikir-pikir …
Noah dan Isaac.
Keduanya datang bersamaan saat pindah ke sekolah kami. Mereka berasal dari satu sekolah yang sama. Dan …
Mereka tiba-tiba saja mendekati Izzy begitu aku memberitahu mereka tentang rencanaku ke Woodstock.
Kedua pemuda itu menoleh kearah yang sama secara bersamaan. Aku mengikuti arah pandang mereka dan itu adalah …
Izzy Crawford. Yang sedang menatap ke sekeliling hutan dengan polos.
Disadari atau tidak, kurasa …
Ada sesuatu yang terjadi antara mereka bertiga.
...***...
Translation:
Bilang aja aku cab*l atau apapun terserah.
Aku gak bisa ngapa-ngapain.
Aku gak peduli kalo kalian manggil aku murahan.
...***...
__ADS_1
Author Note: Hai semuanya, aku ada rekomendasi novel keren dan bikin baper lho! Alurnya juga seru abis! Jangan lupa mampir ya selagi nunggu update dari aku~