
Kali ini bukan hanya kelas senior yang berkumpul di aula. Kelas junior ikut dikumpulkan hingga ruangan yang luas ini sekarang menjadi lebih penuh dibanding sebelumnya.
Primrose memintaku bertemu setelah perkumpulan di aula ini selesai. Yang tentu saja aku iyakan tanpa babibu lebih banyak. Aku terdesak secara finansial dan aku yakin Primrose adalah jalan satu-satunya yang paling cepat. Moutube dan Primrose adalah perpaduan yang sempurna untuk masalah ini.
“Advance Placement Test akan dilaksanakan lebih awal di bulan depan dan aku harap kalian belajar lebih giat karena setelah ini, dua bulan lagi kita akan mengadakan glamping di Killington dalam rangka—” bla bla. Semua siswa meledak dalam antusias. Namun ucapan Mr. Beneth tidak membangunkan apa-apa dalam diriku karena yang kupikirkan saat ini adalah ibu, uang dan apa yang akhir-akhir terjadi padaku.
Seorang nenek aneh yang terus saja muncul lalu menghilang, mimpi buruk itu dan terakhir kejadian di vending machine …
Apa itu semua halusinasiku?
Apa aku ini sedang stress maka dari itu bayangan macam-macam terus saja hinggap dipikiranku?
Atau apa?
Tidak tidak tidak, Izzy!
Aku menampar wajahku pelan agar konsentrasiku kembali. Akan aku putuskan kalau yang terjadi kemarin-kemarin adalah efek dari rasa stress semata. Ya, semua yang kulihat adalah karena aku banyak tekanan. Aku harus fokus! Bangun, Izzy!
“Baiklah cukup sampai disini. Semuanya bubar, hati-hati di jalan dan langsung pulang ke rumah!”
__ADS_1
Dengan komando dari Mr. Beneth, seluruh siswa keluar bergantian dari aula. Hanya aku, Primrose dan Delilah yang pergi ke arah gedung belakang.
Kini Primrose duduk di hadapanku dengan ekspresinya yang serius. Sedang Delilah berdiri di belakang dan bersikap seperti penjaga pintu. Aku menanti kalimatnya dengan penuh harap.
Dan benar saja.
“Aku ingin menawarimu bisnis.”
Sesuai dengan prediksiku.
Aku yang mendadak terkenal ini akan menguntungkannya jika aku muncul dalam live streaming-nya. Mungkin Rose akan menyuruhku mengklarifikasi kejadian itu agar kanalnya ramai.
Aku akan bernegosiasi meminta banyak padanya. Jika ini berhasil, maka lambat laun hutangku pada Lawrenceville akan lunas dalam waktu cepat.
Tapi ternyata dugaanku kali ini salah.
“Kau tau Vesta Hestia, kan?”
Jantungku tersentak.
__ADS_1
Aku melarikan pandanganku kemanapun asal bukan pada sepasang mata milik Rose. Dengan gerakan patah-patah aku menggeleng.
“Jangan bohong. Aku tahu kampung halamanmu ada di Woodstock. Tempat dimana Vesta Hestia berada.”
Aku diam saja. Keringat dingin tiba-tiba saja mengalir dari punggungku. Melihat aku yang pasif, Rose menarik rambutku ke belakang dengan pelan hingga aku menengadah lebih dekat ke arahnya.
“Woodstock hanya berjarak satu jam lebih dari Killington. Saat glamping, kita akan lakukan live streaming disana dan bacakan Vesta Hestia. Tiga puluh persen penghasilannya untukmu. Bagaimana?”
Vesta Hestia dikenal sebagai kutukan. Tahun lalu ada kasus orang mati di sana yang belum terselesaikan sampai sekarang. Menurut informasi dari internet, kini lokasi tempat itu dihapus dari peta tanpa adanya penjelasan. Sudah jelas sesuatu yang ada disana yang menyebabkan semuanya. Sebuah sejarah masa lalu yang belum terselesaikan.
Aku sudah bilang kalau gadis itu adalah satu-satunya jalan yang paling cepat untuk aku mendapatkan uang dan kini Primrose akan membawaku kesana. Ini adalah sebuah tawaran win-win. Kanal Primrose akan naik dan aku akan menggagalkan Lawrenceville membawa ibuku.
Ada dua jalan yang harus kupilih.
Menerima tawaran Primrose atau menolaknya.
Apapun itu, dua-duanya akan membawaku ke dalam jurang yang sama.
...***...
__ADS_1