
Langkahku pun terhenti.
Dari kejauhan, kutatapi Noah yang berlari menopang Izzy di punggungnya.
Di tempat aku berdiri, pandanganku terdistorsi seolah jarak antara aku dan keduanya memanjang seperti ditarik masa.
Seketika, semua pergerakan bergerak dengan sangat lambat di mataku.
Semakin jauh. Semakin membuatku hilang dalam lamunan yang membawa pergi semua suara. Kepalaku ribut dengan banyak ingatan yang muncul tiba-tiba. Tamparan ayahku, tinjuannya, makiannya, cemoohan keluarganya. Lalu Noah yang datang padaku seperti hujan di safana. Mendengarku, mengasihiku, memihakku.
Melindungiku.
Dan sekarang ia berpaling.
Tanpa aku tahu alasannya mengapa.
Sebelum setetes air mata jatuh, Isaac menyentak kedua pundakku dari depan dengan keras. Wajahnya yang panik dan kebingungan tepat berada di depanku. Memaki dan menamparku dengan perkataannya. Membuatku bangun tersadar dari tidur siang.
"Sadarlah! Kau mau mereka menangkapmu?!" Bentaknya sebelum ekspresinya berubah terkejut sesaat dia melihat kedua mataku.
Mungkin karena ia melihat mereka berkaca-kaca. Mungkin karena inilah kali pertama ia melihatku tak sengaja membuka diri seperti ini.
Pemuda itu menatapku dalam sebelum menoleh ke depan. Kepada teman-teman kami sudah hampir sampai. Maka tanpa menunggu persetujuan dariku, jarinya yang besar itu mencekal pergelangan tanganku lalu menariknya dalam lari.
"Ayo."
Kami berdua pun berlari dengan tangan yang saling terkait.
Aku tidak merencanakan ini tapi …
Bara di kepalaku langsung padam begitu saja.
...***...
Kami menunggu.
Dari balik tumbuhan pakis yang merimbun, kami semua mengintip. Pendengaran ditajamkan, penglihatan menyipit menyempitkan ruang. Namun yang ditunggu tidak kunjung nampak. Penduduk tidak terdengar atau terlihat dimana-mana.
"Apa aman untuk kita bergerak?" Bisik Isaac di sampingku mengisi hening.
"Max, bagaimana? Ada sesuatu yang mencurigakan?" Alih-alih menjawab, Noah kembali melempar tanya.
Max adalah satu-satunya seseorang yang tidak sengaja menjadi informan dadakan. Hanya pemuda itu yang terhubung dengan earpiece Delilah yang ada di tangan penduduk desa. Sedangkan kami terpaksa memutuskan audio yang tersambung ke Hewo dikarenakan khawatir penduduk desa akan mengetahui kami lewat earpiece. Jalan satu-satunya untuk menghubungi sahabatku itu adalah melalui ponsel.
"Sejauh ini tidak ada yang aneh. Mereka hanya petani. Kurasa mereka tidak menganggap itu mencurigakan. Apa harus ku putuskan sekarang agar kalian kembali terhubung ke Hewo?"
__ADS_1
Aku terdiam sejenak untuk berpikir. Jika earpiece Delilah diputus, maka kami tidak tahu apapun mengenai penduduk desa lagi karena harus ada yang menerima panggilan untuk menyambungkannya kembali. Mungkin itu sedikitnya membuat kami aman. Entahlah aku tidak yakin. Aku tidak bisa membuat keputusan di situasi ini.
Dari ekor mataku, aku sadar kalau Noah menoleh ke arahku meminta persetujuan. Namun aku memutuskan membuang muka sebelum berbicara pada pemuda di sampingku. "Bagaimana menurutmu Isaac?"
"Aku?" Dengan wajahnya kebingungan sahabat Noah ini menyahut sambil menunjuk dirinya sendiri. Mungkin dia bingung saat melibatkannya dalam pengambilan keputusan tiba-tiba ini.
Seandainya kau tahu Isaac, aku juga bingung kenapa aku bertanya padamu.
Aku mengangguk menjawabnya. "Ya, kau."
Kurasakan Noah menatap punggungku dari belakang.
"Uh … entahlah. Itu lebih baik menurutku."
Tanpa berpikir lebih panjang aku langsung memutuskan. "Kalau begitu putuskan saja." Isaac membulatkan matanya keheranan karena aku menyetujui pendapatnya pada detik pertama.
"Kita harus menghemat baterai untuk melanjutkan live, anyway. Lagipula kita kesini bukan untuk memata-matai mereka," sambungku.
Noah terdiam beberapa saat seolah tengah berpikir sebelum memberi komando pada Max untuk memutuskan koneksi earpiece Delilah dari Hewo.
"Done," lapor Max semenit kemudian.
Setelah itu pun kami kembali melanjutkan perjalanan. Live dihentikan untuk sementara. Izzy mengarahkan kami untuk terus berada di jalur ini agar lebih aman.
Seperti halnya tanah menuju jembatan, bagian ini dipenuhi tumbuhan basah yang mati. Membuat tekstur tanah seperti tanah gambut. Sedikit kesulitan memang karena kaki kami tenggelam dalam lumpur cair, tapi dengan adanya air yang menggenang di sekeliling, membuat sedikitnya memberi kemudahan untuk melangkah.
Apa mungkin …
Mungkinkah saja Izzy memahami apa yang sedang terjadi?
Maksudku perasaanku pada Noah?
Ya.
Itu mungkin saja. Lihat bagaimana dia kini tak begitu merespon pemuda itu dan beralih mengobrol dengan Isaac sepanjang perjalanan.
Aku meloloskan satu tawa jengah.
Kurang ajar sekali sebenarnya dia ini.
Sudah manis sepah dibuang. Benar begitu kan peribahasa nya?
Dia membuang Noah setelah rasa peduli yang diberikannya untuk pemuda yang lain.
Poor Noah.
__ADS_1
Tapi anehnya aku merasa puas.
"Crawford." Suara Ethan membelah keheningan.
Gadis itu menoleh. "Ya?"
"Sebenarnya apa yang dilakukan mereka dengan mengoleksi …" Kalimatnya digantung dalam kengerian. Namun anehnya kami tahu apa yang akan diucapkan kekasih Delilah itu.
Gadis itu menggeleng tak yakin. "Ini kali pertama untukku juga melihatnya."
"Jadi sebelumnya mereka tidak melakukan hal aneh seperti itu?"
Kali ini Izzy terdiam lebih lama. Wajahnya berpaling. Menyembunyikan ekspresi atas respon yang dilemparkan padanya. "Aku tidak tinggal begitu lama jadi aku tidak tahu," jawabnya kemudian.
Ethan berdecak tidak puas. "Apa kalian juga tidak merasa aneh? Tidak ada orang normal yang menggantung kepala kerbau sebanyak itu. Hiii!" Pemuda itu bergidik ngeri.
"Lupakan saja. Mungkin itu tradisi." Isaac ikut menyahut.
"Yang benar saja! Tradisi macam apa itu? Kalian tahu, aku pernah dengar kalau kepala kerbau itu biasa digunakan untuk persembahan kepala iblis. Pasti desa ini ada apa-apanya!" Aku memutar bola mataku jengah mendengar omong kosong dari mulut Ethan.
"Babe, diamlah. Don't jinx it! Kepalaku pusing mendengarmu."
Thank's Eli. Aku hampir saja meledak karena Ethan cerewet sekali. Akhirnya pemuda itu cemberut dan kami kembali berjalan dalam keheningan.
Matahari sudah berada di atas kepala membuat kami berkeringat begitu banyak meskipun rimbun menutupi hampir seluruh cahaya.
Izzy tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kenapa? Kakimu sakit?" tanya Isaac dengan was-was. Membuat kami ikut menoleh.
Gadis itu tidak menjawab dan malah berjalan tertatih ke arah semak sambil menyipitkan matanya.
Dengan telapak tangannya yang tel*nj*ang, rimbun disibak beberapa kali hingga dedaunan melipir menciptakan jarak pandang
Dan apa yang ada di hadapan kami sekarang membuat bulu kudukku merinding tanpa rencana.
Sebuah bangunan besar yang terlihat sudah rapuh mengintip dari balik rimbun yang tersibak.
Dengan ekspresi yang tegang, Izzy menatapku tepat di mata.
"Kita sudah sampai."
...***...
Author Note: Halo semuanya, aku bawain rekomen novel-novel keren yang bagus lagi nih. Dijamin beda deh dari yang lain! Jangan lupa mampir yah selagi nunggu update dari aku 😉
__ADS_1