
Akbar duduk manis di hadapan seluruh temannya. Ia hanya menunduk malu sambil memainkan kancing bajunya.
Setelah namanya di sebut oleh seorang senior yang berdiri di depan kelasnya, ia tak berhenti berdzikir. Bagaimana tidak, 5 orang wanita berdiri di depan kelasnya sambil berkacak pinggang dan wanita yang berada di tengah-tengah mereka ia paham betul siapa. Wanita yang ia jahili tadi pagi. Kalau bukan karena bantuan teman laki-lakinya yang berdiri sebagai tameng, mungkin sekarang ia sudah tidak berbentuk.
"Lu mau ngomong apa sekarang?" ucap Rae yang dikenal punya sikap yang bijaksana di antara yang lain.
"Gue ... Gue minta maaf sama lu semua." Akbar makin menundukkan kepalanya malu. Ia semakin terlihat menciut di hakimin oleh teman sekelasnya.
"Gue janji gak bakalan buat masalah lagi," lanjutnya masih tarus menunduk.
"Lu tau gak, sih, Bar." Suara seorang wanita yang Akbar kenal betul membuat ia mau tak mau mendongakkan kepalanya.
"Yang elu lakuin itu keren tauuuu," ucapnya dengan mata berbinar.
Desahan lelah dari mulut semua temannya membuat Akbar terkekeh geli.
"Gak cewenya, gak cowonya sama aja gilak," ucap Ghanni sambil beranjak pergi.
"Sumpah, lu kalau kayak gitu makin keliatan cantik, Sar," batin Akbar sambil terus tersenyum.
"Jangan senyum-senyum kayak gitu, geblek."
Akbar tersentak ketika kepalanya dipukul pelan oleh Mega.
"Lain kali jangan ulangi lagi! Lu tau, kan, kalau mereka itu salah satu anteknya ketua yayasan. Kalau mereka ngadu, gimana?"
Semua orang mengiyakan ucapan Mega. Mereka tidak menyadarai kalau dampak masalah yang di sebabin oleh Akbar itu mengerihkan.
"Percuma lu ngomong sama dia, Meg. Dia mah gak bakalan ngerti," ujar Ghanni yang menggendong tasnya. "Gua balik dulu."
Ia pergi keluar kelas sambil melambaikan tangan. Meninggalkan Akbar yang kembali menundukkan kepala dalam.
"Kuy pulang, beb." Ammar menggandeng tangan Miwari. Menariknya pelan sambil tertawa girang.
Satu per satu murid mulai meninggalkan sekolah, tidak terkecuali anak 1-3 A. Mega menunduk serta mendesah pelan melihat kepergian Miwari dan Ammar. Ia mulai resah dengan perasaannya.
"Lu gak mau pulang?" tanya Mega yang masih melihat Akbar terduduk diam di bangkunya.
"Ahh, iya." ia lantas berdiri sambil menggendong hitamnya. "Lu mau pulang bareng gue, Meg?"
Mega melambaikan tangan pelan. "Seharusnya yang lu tanya begituan yang tas merah, bukan gue."
Akbra tersentak, begitu pula wanita ber tas merah yang barusan disebut oleh Mega.
"Syalan si Mega. Terbongkar, kan, rahasia gue." Akbar memukul kepalanya pelan.
"Eh, Sarah!" panggilnya ketika mellihat Sarah yang akan keluar kelas.
"Mmm, iya?" Sarah berbalik dengan cengiran bingung.
"Lu mau balik bareng gue, gak?" tanya Akbar takut-takut.
Sarah tertawa renyah. Suara tawa yang membuat Akbar seketika susah bernafas. Melihat Sarah tertawa bukan hal yang tabu, mengingat Sarah adalah tipekal gadis penceria. Namun, lain halnya dengan Akbar yang melihat Sarah tertawa membuat jantungnya berdetak kuat.
"Gimana? Mau gak?" tanya Akbar lagi.
Sarah menganggu malu-malu, lalu segera berlari pelan keluar agar Akbar tidak melihat wajahnya yang mulai merah seperti tomat busuk.
"Yes!" suara teriaka Akbar memecah keheningan sekolah. Ia segera mengejar Sarah yang mulai jauh dari dirinya.
__ADS_1
"Makasih loh, Sar," ucapnya saat ia berada di samping Sarah. Berjalan bersisian dengan sesekali melemparkan senyum kepadan senior wanita yang lewat.
"Yaa ampun, Sar. Gue udah gak tahan pengen genggam tangan lu yang udah lumutan gak pernah dipegang itu."
Akbar bergelak gelisah. Antara ingin memegang atau tidak ia bingung. Ia takut hal itu buat Sarah tidak nyaman berada di dekatanya.
"Eh, Akbar," panggil Sarah yang menghadap sepenuhnya ke arah Akbar.
Akbar menahan nafas menyadari kedekatannya dengan Sarah. Ia bahkan bergerak mundur untuk memberi jarak agar ia bisa bernafas.
"Gue ngerasa yang lu lakun tadi bener-bener keren tau gaaak," ucap Sarah sambil menghadap ke depan melanjutkan jalannya kembali.
"Fyuuhh, selamat," pikir Akbar sambil mengelus dadanya pelan.
"Lu suka?" tanya Akbar yang mulai berjalan kembali menghampiri Sarah.
"Iya dong. Lu tau, kan, gimana centilnya kak sisil. Gue ntah kenapa gak suka liat dia."
Akbar tertawa dalam hati. Ia berpikir secara tidak langsung Sarah menyuarakan kecemburuannya terhadap kak sisil. Senior yang ia tahu sering memperhatikan murid lelaki di kelasnya, salah satunya dirinya sendiri.
"Motor lu yang mana?"
Suara Sarah kembali membuat Akbar tersentak. Ia melihat parkiran yang mulai sepi.
"Tuuuh, yang warna merah. Sama kayak tas lu," tunjuknya sambil tersenyum manis.
Sarah kembali terkikik geli lalu maju menghampiri motor Akbar yang keliatan keren menurut Sarah.
"Loh, helmnya kok dua, Bar?" tanya Sarah penasaran.
"Yaiya dong, dua. Lu lupa kalau gue tadi pagi berangkat sama si Gahnni," ucapnya sambil memberikan helm biru ke pada Saran.
Sarah menggeleng pelan. Akbar yang melihat tingkah manja Sarah barusan mengacak rambut Sarah pelan lalu mengambil alih helm yang dipegang Sarah.
Ia mulai memasangkan helm di kepala Sarah sambil terus menahan nafas, jantungnya berdetak gak karuan. Sama seperti Akbar, Sarah pun menahan nafas ketika jarak ia dan Akbar hanya beberapa centi saja.
"Ya ampun, jantung gue diskoan," pekik Sarah dalam hati.
Ceklek!
"Oke, selesai. Sekarang tuan putri silahkan naik," ucap Akbar mempersilahkan.
Sarah kembali terkikik geli melihat perlakuak Akbar. Ia rasa sampai rumah sakit jantung akibat jantungnya yang selalu berdetak kencang.
Sarah naik ke atas motor Akbar, menyamankan duduknya lalu memegang jaket Akbar yang ntah kapan ia pakai.
"Peluk dong!" ucap Akbar sambil terkikik.
Akbat melihat wajah sarah yang memerah dari kaca sepionnya. Ia sengaja menggoda Sarah. Wajah seperti itu malahan membuat Sarah semakin terlihat cantik.
Ia mulai menjalankan motornya keluar dari parkiran. Memacu pelan motor kesayangannya agar berlama-lama di jalan bersama Sarah.
"Eh, bukannya itu Mega?" ucapan Sarah membuat Akbar menoleh ke kiri dan ke kanan mencari di mana orang yang dibicarakn oleh Sarah.
"Mana, sih, Sar?" tanya Akbar yang tak kunjung melihat Mega.
"Ituu, yang nyalip kita barusan," ujar Sarah pelan. "Motor ketiga dari kita."
Akbar memacu motornya agak cepat. Ingin melihat apa yang dibicarakan oleh Sarah barusan.
__ADS_1
"Tapi, Mega sama siapa? Bukannya Rio udah pulang dari tadi?"
Akbar tidak menyahut. Ia ingin memastikan sama siapa Mega pulang sebenarnya. Ia tidak ingin kecurigaannya selama ini terjadi.
"Terus, Bar! Maju dikit." Sarah memberi arahan agar Akbar mendekati Mega namun tetap jaga jarak agar tidak ketahuan.
"Kak Hans," ucap mereka berbarengan saat melihat lelaki yang mereka maksud tertawa menghadap ke belakang, lebih tepatnya ke arah Mega.
"Gua gak nyangka Mega dekat sama ikonnya sekolah," ucap Sarah setelah sekian lama terdiam.
Akbar tidak menyahut, ia masih terus berperang dengan pikirannya. Hingga tepukan ringan membuat ia terjingkat kaget.
"Lu tau rumah gue?"
Akbar tersenyum ringan. "Tau dong," jawabnya bangga.
"Cih, stalker aja bangga." Sarah berdecih pelan sambil menyembunyikan senyumannya.
Akbar memacu motornya pelan ketika melihat pagar biru dengan rumah yang bercat se nada.
"Kita sampai," ucap Akbar sambil mematikan motornya.
Sarah kemudian turun dari motor dan membuka helmnya. Menyerahkan helm biru kepada Akbar sambil tersenyum manis. "Makasih, ya."
Akbar mengangguk pelan, lalu memanggil Sarah yang berjalan menjauh.
"Kalau kita jadian, lu mau, gak?" tanya Akbar sambil memperhatikan Sarah lekat-lekat.
Sarah mematung di tempat. Tangannya yang ingin membuka gerbang menggantung di udara sambil memperhatikan Akbar dengan raut wajah yang tak terbaca.
"Akbar ...."
"Aku gak butuh jawaban sekarang. Kamu boleh kasih aku jawaban kapan pun."
Akbat tersenyum kikuk, lalu kembali menghidupkan motornya seraya berkata, "Besok aku jemput! Dandan yang cantik princess," ucapnya sambil berlalu pergi.
"Akhhhh, mimpi apa gue semalam," pekik Sarah girang setelah kepergian Akbar.
Sedangkan Akbar memacu motornya kencang, risau dengan pikiran yang mulai membuai gila.
"Selama ini yang gue takutin ternyata bener. Kenapa lu bisa se bodoh ini, Meg," batin Akbar sambil terus memacu motornya kencang.
.
.
.
Hai hai haaaaiii
Trouble maker balik lagi nih
Authornya kali ini cuma sendirian😢 abang gila lagi sibuk kerja, gak sempat nulis katanya. Jadi, cuma mimin imut aja yang nulis (kangen nulis bareng)
So, jangan lupa votmen nya semuaaa. Mwaaahhh😗
Ketjup manjah
Megabite
__ADS_1