The Trouble Maker'

The Trouble Maker'
Kebenaran Yang Salah


__ADS_3

Rio mengendarai motornya kencang. Hembusan napas kasar terus keluar dari mulutnya yang tertutup masker hitam. Dengan lihai ia menyalip satu persatu kendaraan di depannya. Jarak yang jauh dari sekolah ke rumahnya hanya sebentar saja ia tempuh. Ia memarkirkan motornya di garasi dengan cepat, lalu masuk terburu-buru ke dalam rumah.


"Rio sayang, cepat ganti baju! Mama masak makan siang kesukaan kamu."


Suara wanita yang menggunakan celemek shaun the sheep itu tidak rio perdulikan. Ia melangkah cepat menuju kamarnya, bahkan ia tidak menaiki tangga satu persatu, melainkan langsung dua anak tangga sekaligus. Ia membuka pintu kamar dengan keras lalu menghempaskan dirinya kasar di atas kasur.


"Kenapa jadi kayak gini," lirih Rio lemah sambil menatap langit-langit kamar dengan warna biru muda, warna kesukaannya.


Rio kembali mengingat bagaimana dia dipermalukan di depan seluruh guru dan ketua yayasan. Bukan hanya itu, rivalnya dalam menggambar pun semuanya turut hadir dan mencemooh dirinya. Sekarang, bagaimana lagi ia bisa berdiri dengan kepala tegak di hadapan teman-teman kelasnya.


"Apa mungkin nataela yang bocorin konsep gue." Rio duduk secara tiba-tiba, meremas rambutnya bingung. "Tapi, gue gak punya bukti apapun buat buktiin kalau dia dalang di balik semua ini."


Semua tuduhan rio bukan tanpa alasan. Ia masih ingat jelas dengan konseg gambar yang akan ia ikut seratakan dalam lomba. Konsep yang ia tulis di kertas hvs dan terletak begitu saja di atas meja saat ia dipanggil oleh wali kelas. Namun, saat ia kembali ia melihat mejanya kosong, lacinya pun juga sama.


Rio yang berpikir bahwa konsep tersebut yang sudah ia ingat tidak terkalu penting dan membiarkannya tanpa ingin mencari. Namun, siapa yang tahu bahwa tiba-tiba nataela muncul dari arah luar membawa secarik kertas berisikan konsep yang ia tulis. Bukan itu saja, nataela bahkan mengatah kalau ia menemukan kertas tersebut di luar sedangkan rio juga barusan dari luar tetapi tidak melihat adanya kertas yang terbang.


"Semakin gue berpikir siapa pelakunya, semakin gue gak bisa munculin muka gue ke hadapan mereka." Rio kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya tersebut. Ia menutup matanya dengan lengan yang bertengger di atasnya tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu atau makan siang seperti yang disampaikan oleh mamanya.


******


Bel berbunyi nyaring dengan suara  berkejaraan. Bel terus ditekan tanpa membiarkan ia berdiam diri barang sejenak.


"Lu bisa santuy gak, sih, mencet bel gue?" ujar ghanni marah yang melihat akbar berdiri di depannya dengan menggandeng tangan sarah.


"Pacar gue udah kepanasan."


Sarah mencubit pelan lengan akbar diikuti dengan cengiran khas alanya.


"Maaf , ya, Ghanni ganteng."


Mereka berdua masuk begitu saja sebelum ghanni mempersilahkan masuk. Duduk di sofa ruang tamu bak raja dan ratu yang kehilangan tahta.


"Dasar kambiang," omel ghanni sambil menutup pintu.


"Loh, sarah sama akbar udah datang? Yang lain mana?"


Sarah dan akbar menoleh ke arah sumber suara dengan raut wajah kaget. Ia tidak menyangka bahwa ada yang lebih dulu sampai dari pada mereka berdua.


"Yaah, kita kena tikung beb." Akbar memasang muka melas dengan menjadikan baju sarah sebagai lap mukanya.


"Jorok goblok," maki sarah sambil memukul kepala akbar gemas.


"Gatau. Mungkin masih di jalan kali mereka." Ghanni yang telah selesai menutup pintu juga ikut menghampri mereka dan dudu bersmaa.


"Sepi amat rumah lu, Ghan." Akbar mengalihkan pendangannya ke seluruh penjuru rumah satu per satu. Melihat keadaaan rumah yang nampak elegan dengan model klasik yang membuat tamu betah untuk berbincang lama atau pun sekadar menikmati teh saja.


Tak lama kemudian suara bel kembali terdengar disusul dengan masuknya Rae, Rin, Shalyan, Nisya dan Tari yang menenteng plastik warna hitam.


"Cie ... Barengan." Akbar menaik turunkan alisnya menggoda.


"Dijemput sama si rae. Dia bawa mobil," jawab tari sambil meletakkan kantong plastik di atas meja.


Sarah yang melihatnya langsung menuju kantong plastik untuk membuka isinya. "Waaaaah ... Marabaaak," pekiknya girang dengan mata membulat senang.


"Itu martabak legend. Udah mangkal sekitar 25 tahun di depan kompleks rumah gue, rasanya juga enak," jelas Tari.


"Martabak sarah sayaang bukan marabak." Akbar ikut maju ke depan, mengambil satu potong martabak yang langsung meluncur ke dalam mulutnya. " Iyaaa, ini enak banget."


"Suka gue dong mau bilang apa." Sarah juga gak mau kalah, ia langsung melahap tanpa ampun mertabak di depannya. "Ini enak bangeeeet," ucap sarah dengan mulut penuh mertabak.


Mereka hanya menggelengkan kepala melihat sepasang kekasih yang entah kapan meresmikan hubungannya tersebut. Semuanya duduk di sofa, berhadapan satu sama lain. Ada duduk lesehan di bawah sambil menikmati martabak, atau tiduran di atas sofa sambil memainkan handphone.

__ADS_1


"Meg, buatin minum, yah!" ucap Ghanni.


Mega mengangguk. Lalu bergeggas pergi ke dapur dengan langkah ringan, seakan sudah paham betul di mana letak ruangan rumah ghanni.


Mereka semua melongo melihat mega pergi, tidak menyangka bahwa dari sekian banyak gadis ia memilih mega.


"Lu gak punya pembantu, Ghan?" tanya Tari bingung.


"Pembantu gue cuti."


Mereka cuma ber oh ria sambil melanjutkan aktivitas masing-masing. Tari tiba-tiba berdiri diikuti sarah. "Gue mau bantuin mega," ujarnya sambil berlalu pergi.


"Jadi gimana? Ada yang udah dapat infromasi lanjut belum?" Akbar membuka suara setelah melahap 4 potong martabak. Ia mengelap tangannya dengan tisu yang berada di depannya.


"Gue dapat." Rae maju mendekat. "Ternyata beritanya udah nyebar di sekolah. Gue tahu ini dari juna, teman gue di kelas 1-3 B," jelas Rae dengan wajah serius.


"Lalu?" Nisya yang mulanya tampak ogah-ogahan mulai meninggalkan kesenangannya dan mulai menyimak.


"Gue gatau ini benar atau enggak, gambar rio sama gambar lawannya benar-benar mirip. Hampir gak ada perbedaaan."


"Lawan? Siapa lawannya rio?" tanya shalyan.


Mereka terdiam. Bingung akan menjawab apa, pasalnya tidak ada yang tahu siapa lawan rio dalam lomba menggambar.


"Lawannya, hans." Mega muncul diiukuti Tari dan Sarah dengan membawa nampan berisikan minum.


"Bajingan itu," geram Ghanni dengan tangan mengepal.


"Tapi kita gak punya bukti buat buka kejahatan dia."


Mereka membenarkan ucapan Rin. Mereka sama sekali tidak mempunyai bukti apapun untuk membebaskan rio dari tuduhan yang membuat seseorang kehilangan harapan.


"Kita bisa pancing dia," seru Shalyan dengan semangat. "Mungkin, ini ada kaitannya sama akbar yang waktu itu menjaili kakak kelas. Mereka bukannya satu kelas?"


Mereka terdiam sesaaat. Lalu dikejutkan dengan suara aneh beserta bau menyengat.


"Anjir, siapa yang kentud ini woy?"


Shalyan menjauh dengan menutup hidungnya. Mukanya memerah karena menghirup bau yang busuk.


"Syalan emang, bau banget."


"Heheh, maap gees," Akbar tertawa lalu pergi dengan berlari. "Gan, toilet lu sebelah mana?"


Tempat tisu mendarat sempurna ke arah jidat akbar. "Lu makan apa seh anjir, bau banget kentut lu? Toilet di dekat dapur ada. Sok banget lupa ingatan lu, padahal biasanya gak nanya aja lu tau," omel Mega dengan wajah ikut memerah.


Akbar tertawa pelan, lalu berlari kencang ke arah dapur demi menuntaskan hajatnya. Mereka semua hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Akbar


"Gue bisa jadi bahan pancingan buat buktiin semuanya." Mega kembali membuka suara, namun bedanya kali ini suaranya terdengar lebih pelan.


"Gak. Gue gak bakalan pernah izinin lu dekatin dia lagi," balas Ghanni marah.


Mega melotot. "Di antara lu semua, gue yang paling bisa bongkar semuanya."


Mereka semua mengangguk. Kecuali nisya, ia seakan-akan tidak lagi berminat dengan bahan pembicaraan kali ini. Ia lebih memfokuskan diri ke handphone yang ada di genggamannya.


"Mega bener. Dia orang yang paling bisa dekatin hans sekarang. Untuk urusan keselamatan, tenang aja! Kita semua bakalan ngelindungi mega, Ghan." kemunculan akbar dari toilet membuat keyakinan mereka bertambah.


"Jadi, semuanya serahin aja ke gue. Gue bakal buktiin kalau rio gak bersalah." Mega menatap ke arah teman-temannya meminta persetujuan. Ia sudah bertekad, apapun akan ia lakukan untuk membuktikan bahwa rio tidak bersalah.


"Jadi ini diskusinya udah selesai," tanya Rin semangat.

__ADS_1


Mereka mengangguk. Mulai menunduk memeriksa handphone masing-masing. Rin berdiri. "Gue mau main game, di mana alatnya, Ghan?"


"Si akbar tau di mana biasanya dia ngedem," jawab Ghanni.


Akbar, Rae dan Rin berdiri cepat, lalu berlari ke lantai atas ke kamar ghanni. Lalu diikuti sarah yang berdiri, tetapi tidak ikut ke atas. "Ges, gue laper."


"Gimana kalau kita masak?" tawar mega dengan senyuman khasnya.


Mereka bersorak gembira, lalu berbondong-bondong ke dapur dengan menyisakan nisya dan ghanni. Ghanni berdiri, menghampiri nisya dengan mempersempit jarak antara mereka. Nisya yang melihat itu memilih beranjak, namun kembali duduk ketika tangan ghanni menahannya agar ia tidak pergi.


Ghanni menempelkan kepalanya di pundah nisya pelan. "please, biarin kita kayak gini sebentar aja, Nisy!"


Nisya tidak menjawab. Ia memilih diam dengan degupan jantung yang menggila. "Yang lu mau sebenarnya siapa, Ghan. Gue atau mega, jangan buat gue jadi pelarian lu doang," batin nisya pilu.


Nafas ghanni terdengar teratur di telinga Nisya. Ia melirik dari ujung matanya, melihat ghanni yang memang seprti orang yang sedang menanggung beban berat. Matanya terpejam indah dengan bulu mata lentik, siapa pun yang melihat bulu mata ghanni akan merasa iri


"Kenapa dari jarak se dekat ini gue ngerasa ghanni mirip sama mega," batin nisya mula berteriak keras. Ia lalu menggelengkan kepala pelan, tidak ingin mengganggu ghanni yang mulai tertidur nyenyak. Ia juga nyaman dengan posisinya sekarang, ia bahkan tak ingin beranjak.


Perlahan, ia sandarkan pundaknya ke sofa sambil memegang kepala ghanni agar tidak terganggu. Ia mulai memejamkan matanya. Mengikuti ghanni yang sudah masuk ke alam mimpi dengan menepelkan kepalanya di atas kepala ghanni.


Ia tidak tahu rahasia apa yang ghanni sembunyikan darinya. Ia bahkan tidak bisa menebak apa isi pikiran ghanni saat ini. Benar-benar membuat pusing.


Dan mereka semua bahkan tidak ada yang tahu, bagaimana cara untuk membuktikan kebenaran. Mereka sama resahnya, tetapi di tutupi dengan wajah polos serta senyum lebar.


Siapa yang tahu, jika waktu yang mereka tunggu bahkan bergulir dengan cepat. Hari di mana mereka mulai menjalankan rencana untuk membuktikan kebenaran yang memang harus ditegakkan.


"Untung hari ini kita free. Jadi, semuanya sesuai rencana. Ghanni shalyan di posisi depan, sedangkan Rae tari di posisi belakang yang lain di dalam kelas," jelas Mega dengan sungguh-sungguh.


"Lu yakin gak nyelakain diri lu sendiri, kan?" Mega melihat kepanikan di wajah Ghanni. Ia hanya menggeleng pelan sambil tersenyum manis.


Ghanni menghela napas panjang, lalu berdiri dan mulai bergerak. "Semoga aja yang lu bilang bener," lirihnya sambil menjauh.


Mega juga mulai beranjak, diikuti shalyan dan rae di belakang. Ia berjalan lurus dengan wajah tegang. Sebelum mencapai pintu, ia melihat sepesang kekasih yang beberapa hari ini selalu ia hindari. Bahkan badannya pun seakan khianat dengan hatinya yang terus ingin melihatnya.


Ia berjalan tanpa ingin menoleh atau pun menyapa sepasang kekasih tersebut. Berjalan terus sampai akhirny merasa kalah dengan hati yang masih tak sanggup melepas.


"Kenapa?" tanya Ghanni pelan.


Mega menggeleng pelan, kembali jalan beriringan dengan ghanni. Ia terkejut ketika tangan besar ghanni melingkupi telapak tangannya yang kecil. "Jangan biarin orang berpikir yang enggak-enggak, Bang," ucap Mega pelan sambil melepaskan pegangan tangan ghanni.


Semua itu tidak terlepas dari pandangan dua makhluk di belakang mereka. Berbagai asumsi terus meneror shalyan dan rae, pertanyaan ingin mereka utarakan, tetapi mereka takut dan enggan. Memilih diam sambil terus berjalan.


"Meg, lu udah hubungi si hans buat ketemuan, kan?" tanya Shalyan.


Mega mengangguk sekilas. "Gue bilang mau ketemu di gudang belakang, di sana tempatnya sepi."


Mereka semua kembali terdiam, berjalan dengan hati resah akan kan berjalan lancar rencana kali ini. Melangkah dengan kaki berat mempertaruhkan nama kelas dengan hanya bermodalkan keyakinan.


.


.


.


Hai hai haaaiii


Welkambek gaisssss😉


Jangan lupa vomentnya, ya!


Ketjup ketjup

__ADS_1


Megabite


__ADS_2