The Trouble Maker'

The Trouble Maker'
taken


__ADS_3

Miwari bergerak gelisah di dalam kelas. Semenjak kepergian Ghanni dan Rio, ia tidak bisa duduk dengan tenang. Perkataan Ammar untuk menemuinya di rooftop sekolah seakan terus memburunya. Mengejarnya tanpa ampun sampai-sampai ia merasakan sesak begitu dalam.


Tenang Miwari, tenang. Ammar mungkin cuma penasaran sama elu. Keep calm, lu gak boleh gegabah, gak boleh termakan sama ucapan Ammar, batin Miwari meyakinkan dirinya.


"Miwari!"


DEG!


Jantung Miwari seakan loncat dari tempatnya saat ia mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya. Untuk berbalik menatap sang pemanggil pun Miwari tidak sanggup. Jantungnya berpacu dengan kencang hanya karena mendengar suaranya saja.


"Tenang Miwari, tenang," ucap Miwari menenangkan dirinya sambil mengelus dadanya untuk tidak bergemuruh.


"Miwari! Kamu gak papa?" tanya Ammar saat berada di depan Miwari.


Miwari yang terlalu asik menenangkan dirinya tidak sadar bahwa Ammar telah berada tepat di depannya.


"Astagah!" teriak Miwari.


"Kenapa? Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ammar khawatir saat mendengar Miwari berteriak.


"Eng-ng-gak ada. Iyah, gua nggak papa," jawab Miwari gugup.


Ia terlalu kaget saat melihat Ammar tepat di depan matanya. Jantungnya tambah menggila saat melihat Ammar benar-benar tepat di depan matanya.


"Aahhh, syukurlah," ujar Ammar sambil tersenyum menatap Miwari.


"Aku tunggu di atas, Miwari. Aku harap kamu gak lari lagi." Ammar berjalan meninggalkan Miwari yang masih syok atas kemunculan Ammar yang tiba-tiba di depannya.


Miwari bahkan tidak merespon ucapan Ammar barusan. Ia sibuk berperang dengan hatinya yang mengatakan untuk duduk diam di kelas atau menghampiri Ammar yang sudah terlebih dahulu pergi.


"Lu harus berani Miwari. Lu harus pergi nemuin dia. Jangan sembunyi layaknya tikus got saat bertemu tikus elit," ucap Miwari meyakinkan dirinya.


Ia lantas beranjak dari kursinya. Kembali memasang wajah dingin tanpa senyum yang membuat semua orang berpikir bahwa selama ini ia gadis yang kejam.


Ia berjalan tegak dengan jantung yang semakin menggila. Detak jantungnya begitu keras, sehingga ia yakin bahwa setiap orang yang berlalu di sampingnya pasti mendengar suara degupannya.


Setia langkah yang ia ambil seakan membuatnya kehilangan nyawa. Topeng yang sering ia gunakan seakan bisa runtuh begitu saja saat ia berjalan. Rasa takut bercampur cemas membuatnya sesak bukan main.


"Tenang Miwari, tenang. Ini bukan diri lu," batin Miwari sambil menghirup nafas dalam-dalam.


Nafasnya tercekat saat ia tiba di depan pintu yang menghubungkan rooftop dengan lantai bawah. Rasa gugup menyerang dirinya sehingga ia berpikir untuk kembali lagi ke kelas.


CEKLEK!


Miwari terkejut melihat tiba-tiba pintu rooftop terbuka dengan menampilkan wajah Ammar di baliknya. Wajah kaget bercampur gugup membuat Miwari tambah menarik bukan main.


"Ahh, aku baru akan menyusulmu ke bawah. Aku pikir kamu gak bakalan datang," ucap Ammar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gu-gu-gua dateng, kok," balas Miwari gugup.


Ammar mundur beberapa langkah, membiarkan Miwari melewati dirinya dan segera melihat keadaan di sekitar.


"Ini ... Indah," ucap Miwari saat ia berdiri di pinggir rooftop. Menatap ke bawah di mana pemandangan sekolahnya terpampang jelas.


Angin semilir menerbangkan anak rambut miwari yang terlepas dari ikatannya. Cahaya matahari seakan membuatnya tambah menarik.


Miwari menutup matanya. Menikmati suasana rooftop sambil merentangkan tangan. Menikmati angin yang membelai lembut wajahnya, memberikan kesan menggelitik yang membuatnya mau tidak mau tersenyum.


"Cantik."


Suara Ammar menyadarkan Miwari yang terlena akan buaian angin. Ia membuka matanya, menyadari Ammar kini berada tak jauh dari dirinya. Posisi Ammar yang membelakangi matahari mau tak mau membuat Miwari menutupi wajahnya menggungunakan satu tangan guna menghalau sinar matahari.


Di depannya Ammar tersenyum sangat lebar. Menampilkan deretan gigi putih rapi yang membuatnya tambah menarik. Matahari yang berada di belakangnya membuatnya tambah menarik dengan sinar matahari yang membuat dirinya seakan bercahaya.


"Tampan," batin Miwari tanpa sadar.


Miwari membelalakkan matanya tak percaya. Ucapannya barusan ntah kenapa tidak sesuai dengan apa kata otaknya. Ia menggelengkan kepalanya.


"Bodoh, Miwari. Apa yang sedang lu pikirin?" batin Miwari sambil terus menggelengkan kepalanya.


"Hei," ucap Ammar sambil memegang kepala Miwari guna menghentikannya dari kegiatan konyolnya barusan.


"Kamu kenapa? Sakit? Kepanasan? Kalau gitu kita balik lagi ke kelas aja kalau kamu kepanasan."


Miwari tidak percaya dengan apa yang di depannya saat ini. Ammar jelas-jelas berdiri di depannya yang berjarak hanya satu jengkal saja. Ia terlalu kaget dengan apa yang Ammar lakukan sehingga responnya hanya menganga dengan mata melotot.


Tangan Ammar kini telah berpindah tempat yang semula di pipinya, kini telah berada di pundaknya.


"Miwari," panggil Ammar sambil mengguncangkan tubuh Miwari.


"Eh."


Miwari refleks mundur beberapa langkah saat ia tersadar dari kekagetannya akibat guncangan Ammar barusan.


"Miwari"


"Iyaa kenapa mar?"


"Gue ... gue suka sama lo. Lu mau ga jadi pacar gue?"

__ADS_1


Ketika miwari akan menjawab. Ammar menahan Miwari


"Ssstt." jari telunjuk ammar nempel di dekat bibir miwari


"Gue gamau denger jawaban lu. Gue sadar diri kok. Gue cowok yang suka kena masalah, bandel, sering terlambat. Gue lebih banyak minus nya daripada plus nya. Tapi, gue beneran tulus sama lu."


Ammar pun menunduk dan seketika satu tetes air matanya keluar. Dibalik sikap negatif nya pasti ada sesuatu yang disembunyikannya


"Ammar!" panggil pelan miwari. Ammar masih diam tidak menjawab


"Ammar ... jangan nunduk gitu. Lu gak ngerasa pegel, ya?" Tanya Miwari.  Ammar menggeleng


"Ammar sini liat aku!" ucap miwari sambil mengangkat kepala ammar.


"Lhoo ... kok nangis? Masa cowok tertampan dan ter keren seantero sekolah nangis sih," ucap miwari dengan senyum manis di wajahnya


"Bukan seantero sekolah tapi sejagat raya hehehe," balas Ammar terkekeh geli.


"Hahaha iya deh. nah gitu dong ketawa, jangan sedih gitu ah, gak baik apalagi nangis. Cengeng banget kamu."


"Hehehe, tadi itu kelilipan cinta kamu makanya aku sampe terharu."


"gembel kamu." Miwari lantas menatap wajah Ammar dalam-dalam. "Kamu mau tau jawaban aku ga?" Tanya miwari.


"Gamau. Ntar aku di tolak" ucap Ammar dengan muka sedih


"Belum juga aku jawab udah bilang kaya gitu" miwari tertawa


***


"Woy! Gua laper, balik lagi lah hayuu!" ajak Sarah yang belum menyentuh makanannya sedikit pun.


"Lu mau liat siaran live kagak?" tanya Ghanni yang berada tidak jauh dari depan Sarah.


Nisa memutar mata malas. Bingung dengan sikap teman satu kelasnya yang menurut dia aneh bin ajaib.


"Tadi gak mau elu bungkus, beb," ucap Akbar.


" Yeu, goblok. Orang mau nonton siaran live mana kepikiran mau bungkus-bungkus makanan," Jawab Rae enteng.


Mentari yang berada tidak jauh dari Rae pun berbalik, menatap tajam Rae seraya berkata, "Udah berani sekarang, ya, Rae? Dulu ae lu diem-diem bae."


Rae menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil manampilkan wajah dengan senyum tengil.


"Aelah, ngedramu mulu perasaaan. Buruan woy! Ntar doramanya keburu selesai," teriak Mega yang sudah jauh di depan.


"Weh! Ini beneran mereka berdua di rooftop?" tanya shalyan bingung. " pintunya ae ketutup."


"Laahh, kok iya? Jangan-jangan si Ghanni salah denger inih," tambah Sarah dengan wajah kesal. Pasalnya, demi melihat dorama ia meninggalkan ketoprak dengan bumbu kacang yang memanjakan lidah.


"Emang harus, ya, pintu rooftop kebuka itu tandanya ada orang." Rino mengangkat sebelah alis sambil berkacak pinggang.


"Naahh, betul tuhhhh! Kan gak banget ada dorama pintunya ke buka," ucap Mega.


Mega yang penasaran lantas maju ke depan. Membelah kerumunan manusia dengan tingkat penasaran tinggi. Ia lalu menunduk, mengintip dari celah pintu yang sudah lapuk di makan serangga. Lubang yang hanya berdiameter kecil, tapi sangat membantu keadaan saat ini.


"Gimana, Ga? Kelihatan kagak?" tanya Shalyan penasaran.


"Sabar elah, Yan. Tanda-tanda bucin masih belum nampak ini," jawab Mega sambil mengibaskan tangan ke belakang.


Nisa yang kesal melihat tingkah kedua temannya pun mau tak mu menjadi gemas sendiri. Ia pun maju mendekati Mega seraya berkata, " Gunanya pintu buat apa, coeg?"


Mereka semua menatap Nisa horor. Pasalnya, jika pintu di buka, mereka semua akan ketahuan jika sedang mengintip.


"Tenaaang! Bukanya dikit aja kan, gpp." Nisa membuka perlahan pintu rooftop. Memberikan celah sedikit untuk mereka mengintip.


"Naahh, gud ea! Kayak gini kan kita busa ngeliat secara live." Akbar pun ikut maju berdiri di belakang Nisa.


Nisa yang merasa temannya semua mendekat lantas bergeser sedikit, memberikan celah kepada temannya untuk melihat keadaan di depan sana.


Mereka semua bertumpuk layaknya pakaian basah. Mega yang jongkok tepat di bawah Akbar, Nisa berada diatas Akbar dengan posisi menyamping, menempel dekat dinding, disusul diatasnya Ghanni, Sarah, Rae, Mentari lalu dibelakang ada Shalyan, Rino dan Rio.


"Woy! Kasih gua nafas napa. Sesak gua anjiir," ujar Akbar dengan suara tertahan.


"Ini udah jadian belum, sih?" tanya Rio.


"SSHHUUTTT!"


Ucap mereka semua kompak. Pemandangan di depan mereka saat ini jauh lebih menarik dari pada ocehan Rio.


"Yaa,aku nebak aja. Kamu kan pasti ga suka cowok yang suka berbuat onar kaya aku" Jawab Ammar lesu.


"Hahaha ... hei, ammar setiap orang juga berhak mendapatkan apa yang di inginkannya. Dan Setiap orang juga pasti akan merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi." Miwari tersenyum lembut


"Hmmm?"


"Aku tau kok kamu itu sebenarnya baik. Mungkin karena ada sesuatu membuat kamu jadi seperti ini," jelas Miwari dengan mata berbinar.


"ma-maaf."

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok. Ntar aku bantu kamu ya."


"Makasih Miwari. Aku baru denger lho, seorang miwari ngomong panjang lebar kaya gini hehehe," ucap Ammar sambil terkekeh geli.


Mereka berdua tersenyum gembira. Wajah sumringah tampak jelas tercetak di muka mereka berdua. Mereka tidak sadar, bahwa ada makhluk lain selain mereka di rooftoop. Sembunyi di balik pintu dengan wajah-wajah penasaran.


"Iisshh! Jadiannya kapan sih?" tanya Mentari gemas.


"Diem elah! Nanti kita ketahuan," balas Rio.


Mereka semua lantas memfokuskan kembali pandangan kepada Miwari dan Ammar yang belum menandakan bahwa mereka sudah sah menjadi pasangan.


"Mulai lagi deh diem nya. Jadi gimana?" Tanya ammar


"Gimana apanya?" balas Miwari sambil menautkan kedua alisnya.


"Ituuuu, jawaban dari pernyataan aku tadi."


"Iya aku mau," ucap Miwari dengan nada pelan.


"Hahh apaa? Aku gak dengar."


"iya, aku mau ammarr," ucap Miwari dengan menaikan volume suaranya satu oktaf


Ammar yang gemas dengan tingkah Miwari pun mulai menggodanya. Dengan pura-pura bodoh ala-ala bucin dengan kadar mecin 100 persen.


"Hahhh apaaaa? Aku ga denger beneran."


Miwar mendengkus kesal, pasalnya ia merasa seperti dipermainkan. "Bodoamat."


"Hehehe, gitu aja ngambek. Ntar cantik nya hilang lho."


"Hmmm."


"Lagian juga, suaranya kecil amat." Ammar tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang terbaris rapi.


"Makasih ya udah mau nerima aku. Yaa, meskipun aku terbilang bukan cowok yang romantis. Aku janji aku bakal merubah sikap aku menjadi lebih baik lagi buat  kamu," ucap Ammar dengan serius.


"Bukan buat aku tapi buat diri kamu sendiri."


"Iya-iya buat diri aku sendiri," ucapnya sambil tersenyum dan miwari pun membalas senyuman nya.


Ammar pun mempersempit jaraknya dengan Miwari. Sedikit namun pasti, keduanya mulai tidak lagi dipisahkan oleh jarak.


"udah jadian woy?"


"lah cuma gitu doang?"


"Diihh, apaaan. Gada romantis-romantisnya."


"Ini adegan sun gada?"


DUGG!


"WADAWWW! PANTAT GUA"


Kegaduhan dari balik pintu membuat kegiatan Ammar berhenti. Miwari yang sama kagetnya dengan Ammar pun menoleh ke arah suara kegaduhan itu berasal.


Perlahan, mereka berdua mendekat ke arah pintu, memastikan kegaduhan apa yang sedang terjadi. Apa dan siapa.


KREEEKK!!


Ammar yang terlanjur penasaran, menarik kuat pintu rooftop agar terbuka.


BRAAAKK!!!


"Wadaaw wooy! Siapa ini yang buka pintunya?"


Ammar dan Miwari terkejut bukan main saat melihat pemandangan di depan mata mereka. Rakyat 1-3 A sedang berada di depan mereka berdua.


Mereka semua terjatuh ke arah depan akibat tarikan pintu yang dilakukan oleh Ammar barusan, dengan posisi mega paling bawah, disusul Akbar, Nisaa dan yang lainnya.


"Wooyy! Gua gak bisa napaas," ucap Mega lirih.


"Yang paling atas! Cepetan berdiri keeek," teriak Akbar tak kalah kesal. "Gua mau mati nih, woy."


"Kalian semua ngapain?" tanya Miwari bingung.


DEG!


"Habis lah kitaaa," batin Ghanni pilu.


Jangan lupa untuk vote dan komen ya 😌😘


Doain author semoga nilai UN dan Ujikom nya memuaskan dan lulus masuk UI aowkwkkw :3


#AuthorMarMeg


2019/03/07

__ADS_1


__ADS_2