The Trouble Maker'

The Trouble Maker'
skorsing


__ADS_3

Ada saatnya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia dan meneteskan air mata


Jangan lupa vote dan komen ya~


maaf typo bertebaran~


Happy reading~


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi kembali menyapa setiap insan. Membangunkan mimpi dengan sapuan angin pelan serta sapaan matahari yang mengintip di balik tirai jendela yang sudah terbuka.


"Saraah! Bangun! Itu jam udah meledak kamunya gak bangung-bangun," teriak Mama Sarah dari bawah.


"Nggghhhh, ntar lagi maah. Masih ngantuk, kemarin abis nonton anime," jawab Sarah enteng.


"Sarah! Itu teh jam sudah pukul 7.15. MASIH MAU TIDUR KAMUU?"


"HAH? Apaaaa?," teriak Sarah dari dalam kamar.


"Mama kok gak bangunin Sarah dari tadi sih? Wadooh njeerrr, telat dah gua, telat."


Sarah lantas bangun dengan tergesa-gesa hingga tidak sadar bahwa kakinya masih tersangkut diujung selimut.


BRUUKKKK!


"Wadooowwwww."


"Sarah cepaat mandi! Gausah malah nari kamu di atas."


"Sadis bet emak gua, orang jatoh dibilang nari," omel sarah sambil memijat dengkulnya yang terlihat memar.


*******


KRIIINGGGG!


Suasana bel memecah keheningan di pagi hari. Semua yang merasa kurang beruntung berlari menghampiri gerbang dengan sepasang antek-antek di kanan kirinya.


"Paaaak," teriak seorang pemuda.


"Jangan ditutup dulu gerbangnya paak!"


Kedua antek-antek hanya memberikan senyum miring. Menandakan bahwa setelah ini mereka akan mendapat masalah.


"Anjir, kenapa juga gua harus main game kemarin malam," ucap Ammar.


BUK BRAK!


Suara benda terjatuh membuat Ammar lantas mengalihkan pandangannya. Melihat seorang pemuda yang menabrak tong sampah sebatas pinggang yang membuatnya lantas tertawa lepas.


"Bhak,WUAHAHAHAH! Tong sampah lu tabrak Bambang." Ammar terduduk memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena tertawa terlalu lepas.


"Ya ammpun, gua gak nyangka lu nabrak tong sampah. Hahahaha, Tapi tunggu dulu, muka lu kok kagak asing." Ammar melangkah mendekati sang pemuda.


"Yeuuu, ya, iyalah. Gua kan temen lu goblok," ucap Akbar sambil berdiri membersihkan bajunya yang terkena kotoran.


"Wuahahaha, astagah. Ngelawak lu pagi-pagi, Bar."


Akbar lantas melengos, berjalan mendekati gerbang meninggalkan Ammar yang masih tertawa bahagia melihat ia terjatuh tadi.


Akbar lantas mengalihkan pandanganya, melihat sekeliling, memastikan bahwa yang telat hari ini hanya dirinya dan Ammar saja.


"Yoosshh, gua ada temen ternyata."


Ammar dan Akbar lantas menoleh ke sumber suara begitu mendengar suara wanita yang khas dengan kecemprengannyya.


"Laaahh, yuriannya Tari telat juga"


"Mulut Mar, lemes amat itu mulut. Mau gua buat tegang?"


Ammar lantas mundur satu langkah sambil menutup bibirnya dengan kedua tangan.


"Kita gak bisa masuk," ucap Akbar lirih.


"Selama ada gua pasti bisa!" Ucap Ammar tegas dengan membusungkan dada bidang nya.


"Masa sih? Kok gua ga percaya ya?" Balas Sarah dengan ekspresi yang tidak meyakinkan.


"Dih, ga percayaan lu. Liat ni ye!" ucap Ammar sombong


"PAAKK!! BUKA PINTU NYA PAK! AMMAR TAMVAN MAU MASUK PAK, HELLOW EPERIBODEH!" ucap Ammar dengan kuat sambil menggoyangkan pagar sekolah.


satpam yang mendengar teriakan Ammar pun keluar dari sarangnya.


"Ngapain kalian pagi-pagi udah berisik, hah?" Ucap satpam dengan matanya yang melotot dan kumis baplang nya.


"Yaelah, sekolah lah pak masa kita mau mulunk disini" balas Sarah kesal dengan alis yang di kerutkan.


"Denger yang baik ya anak-anak. Sekolah ini tuh masuk nya jam 7, kenapa kalian malah jam setengah 8 baru datang?"


"Maklum lah ya pak namanya juga anak muda, kadang suka lupa kalo hari ini tu sekolah. jadi tolong buka ya Pak! hehe Bapak kan ganteng," jawab Akbar dengan cengiran khasnya.


"Dasar anak muda, intinya saya gak akan mau buka gerbang nya," ucap salah satu satpam dengan nada tegas.

__ADS_1


"Yeee si bapak pelit Amet dah."


Setelah menunggu hampir 10 menit mereka diam di pagar Sekolah. Tiba-tiba ada dua orang murid 1-3 A yang menghampiri mereka.


"Wooii kok lu kagak masuk?" tanya Rae dengan sedikit kebingungan


"Wahh elu, bloon atau gimana dah. Gimana kita masuk kalo pagar nya aja dikunci," jawab Akbar ketus.


"Yeee, kalem dong bambang gua kan cuma nanya. Gausah ngegas dong."


"Serah lu dah."


"Btw pak, Kenapa mereka tidak di izinkan masuk? Kasian lho mereka ketinggalan pelajaran, Bapak ga kasihan apa sama mereka,"  Rio memdekati salah satu satpam.


"Maaf ,ya, tapi ini sudah peraturan sekolah. Jadi tidak bisa dilanggar."


Raenaldy dan Rio pun berbisik


"Gue kasihan sama mereka. Gimana kalo tuh satpam kasih duid aja?" Bisik rae dengan ekspresi yang menantang.


"Boljug, tapi kita patungan yak," balad Rio tak kalan pelan. mereka berdua termasuk murid yang tergolong tajir di kelas


"Hmmm, oke."


"Ehem, pak pak. Izinin mereka masuk dong ntar saya kasih pulus 200k cash tidak cicil, kredit apalagi asuransi," ucap rae dengan ekspresi yang menggoda.


Satpam pun bingung dan berpikir pikir. "Hmm, gimana ya?"


"Terima aja pak. Cash lho pak bukan kredit,"  Rea menyodorkan uang ke arah dua satpam.


"Maaf saya tidak bisa. Saya tetap menegakkan peraturan yang berlaku di sekolah ini."


"Hilihhh bapak sok banget dah. Yaudah saya kantongin lagi deh, sayang lho duid 200 ribu."


"Maaf, saya tidak tertarik."


Rae dan rio pun berbicara kepada mereka bertiga. "Lu mending lewat belakang aja dah. Gpp manjat juga, daripada kagak masuk,"ucap Rio dengan ide brilian nya.


"Oiyaa kenapa kita ga lewat situ dari tadi," Akbar sambil menepuk jidat Ammar. "Tumben otak lu encer."


ia lantas tersenyum, membayangkan ia akan masuk dan pergi menuju kantin, menikmati ketoprak dengan es teh masih serta senyuman para senior yang menggugah selera bagaikan indomie.


"Wooiii kimaq ngapain lu nepok jidat gua?"


"Yee ga sengaja gua."


"Dah lu pada Sono dah cepet. Sebelum guru lain pada piket," ucap rae mengusir mereka


Mereka lantas berjalan menuju belakang sekolah. Berjalan mengendap-ngendap takut-takut jika mereka ketahuan.


"Waah anjeer. Temboknya tinggi bet woy, mana bisa gua naiknya," ucap Sarah berbisik.


"Laah, iya yak. Gimana yak?" Ammar sama bingungnya dengan Sarah.


" Gini ajah, lu naik ke pundaknya Ammar, terus gua liatin sekeliling." Akbar menatap sekitar, melebarkan tangan seakan membuat tameng untuk mereka bertiga.


"Kok gua njeer?" teriak Ammar jengkel.


"Sssttt, diem goblok. Udah lakuin ajah cepet! Emang lu mau di sini terus."


"Iye iyee. Tapi Sar, copot dulu sepatu lu ye! Kotor ntar baju gue."


Ammar pun lantas membungkuk, membiarkan Sarah naik ke atas punggungnya.


"Anjiir anak orang berat banget njeerrr. Makan apa sih lu?" Akbar menahan tawanya agar tidak meledak sedangkan Ammar mati-matian menahan sesak menjadi pacuan Sarah.


"Diem gubluk, ntar kita ketahuan!" ucap Sarah sambil naik ke atas tembok.


Sarah dengan cekatan lantas meloncat dari atas tembok searaya berteriak, " Aman woy, cepetan masuk!"


Mereka berdua lantas dengan mudah meanjat tanpa merasa takut. Naik dengan sekali dorongan serta turun hanya dengan bekal kaki yang kuat.


"Aman, ya?"


Tiba-tiba mereka bertiga di kagetkan oleh dua orang guru magang yang sedang piket yang bernama Andrey dan Windy.


"Eeehh Sensei, ngapain Sensei ada di sini hehehe?" tanya Ammar basa basi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ngapain kalian malah manjat-manjat tembok sekolah? Kalian kan bisa masuk lewat gerbang!" Ucap Windy Sensei dengan ekspresi marah.


"Kami tidak di izinkan masuk lewat pintu gerbang jadinya lewat pintu kemana saja," ucap Akbar sembarangan.


"Dan kamu." menunjuk Sarah dengan ekspresi tak terbaca. "Cewek kok malah ikut-ikutan mereka manjat tembok? Ke mana rasa malu kamu." ceplos Andrey Sensei.


"Yaa, kalo saya cewek. Emang nya kenapa? Gaboleh? Saya juga punya hak dong!"


"Kamu berani melawan saya?"


"Bapak guru baru, ya? Kok udah sok- sok an?"


"Kamu!" Ucap Andrey Sensei yang hampir saja mau bermain tangan ke seorang siswi namun ditahan oleh seorang siswa.


"Eehh, Bapak kok main tangan sama cewek? Saya bisa laporin bapak loh ke yayasan," ucap Ammar dengan mengancam.

__ADS_1


"Laporin saja. Karena kami tidak salah. Karena guru itu tergantung murid itu sendiri, dan saya akan laporkan kalian karena sudah melanggar peraturan," ucap Windy Sensei menyela begitu saja bagaikan petir.


"Menurut buku tatang sutarman, jika ingin di hargai maka kamu harus menghargai orang lain terlebih dahulu," ucap bijak sang Akbar.


"Karena Sensei-Sensei ini tidak menghargai kami, maka maaf-maaf ni ye, kami juga tidak mau menghargai Sensei. Seharusnya kan bisa berbicara baik-baik bukannya malah di gas bagaikan motor rossi!" ucap Ammar sok bijak dengan muka yang songong.


"Untuk kalian, selesai bel pelajaran kedua kalian masuk ke ruangan BK!" Andrey Sensei lantas pergi meninggalkan mereka dengan senyuman miring.


"wadowww gimana ini gan?" tanya sarah dengan tangan yang terkulai lemas.


"udah tenang aja, kan ada Amora yang tamvan nan manis mwehehehe."


"yeee pd bat lu marr, uda ah yuk ke kelas."


Mereka berjalan menuju kelas dengan wajah tertekuk. Perasaan takut bercampur cemas memburu mereka.


"ohayou minna," ucap sarah dengan lemas sesampainya di kelas.


"ohayou sarah," balas mereka secara bersama sama.


" Kenapa beb? Kok lemes? Kurang servis kaah?" tanya Tari sambil cekikikan.


"Lah pagi-pagi kok udah yurian?" kata Mega sedikit tertawa.


"Gw disuruh ke ruang BK tarr."


Tari yang kaget lantas berdiri sambil menggebrak meja.


Bruk!!!


"Wanjeerr, kaget gua," ucap Nisa latah.


"Eheheh, maap Nis maap. Kok bisa sih, Sar?"


"Gw telat, trus ga dibolehin masuk, jadi gw, Ammar sama a


Akbar manjat tembok. Eh ketahuan sama guru baru, gatau deh namanya siapa. Yaudah diomelin trus disuruh ke ruang BK nanti," ucapnya sambil terduduk lemas memikirkan bagaimana nasibnya kelak.


"Yaudah sar jangan takut ntar gw temenin kok!"


"Beneran beb? Aaaaa makasih jadi makin sayang deh." Sarah lantas memeluk Tari, tertawa satu sama lain.


"Yuri!" Ucap murid sekelas bersama sama.


"Bodoamat yang penting makan gw ga terganggu," kata Sarah sedikit mengejek.


" Ehhh, btw sensei kita kemana?"


"You know lah Saar, sensei kita kan baperan. Liat anak muridnya ga ada yang merhatiin dianya ngambek, marah-marah gak jelas. Apalagi tau kalo yang ngumpul tugas cuma dia biji, tambah ngamuk dia," ucap Mega enteng sambil memasukkan jajan ciki ke dalam mulutnya.


TRIIINGG!!!


Bel tanda istirahat berbunyi. Keributan mulai terdengar di segala penjuru. Suara riuh mulai terdengar. Tidak terkecuali anak 1-3 A.


"Tari, kagak ikut ke kantin?" tanya Mega.


"Kagak. Lu pade duluan aja, ntar kita nyusul," ucap Tari.


Mereka pun pergi menuju kantin, sedangkan Ammar, Akbar, Sarah dan Tari pergi menuju ruang Bk.


"Woy, gua takut sumpah," ucap Sarah sambil mengelap peluh yang mulai membanjiri seluruh tubuhnya, membuat sebagian pakaiannya mulai basah oleh keringat.


"Gpp, tenang ajah. Santai Sar! Bernafas!" ucap Tari menenangkan.


Mereka lantas melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di depan ruangan Bk.


RUANGAN BK


MS. YANI


" Mar, ketuk Mar!"


Baru saja tangan Ammar mengetuk pintu tiba-tiba suara dari dalam mengagetkan mereka, membuat jantung mereka berpacu lebih cepat.


"Tidak usah mengetuk. Masuk saja! Kedatangan kalian sudah di tunggu sedari tadi," ucap seseorang dari dalam dengan nada tegas dan tajam.


GLEEGG!


"Mati kita woy," bisik Ammar dengan keringat peluh yang becucuran dipelipis nya.


#TBC~


Maaf ya kita telat update 😂ya biasalah sibuk hihihi sedih. Kita nambah author lagi lho untuk melanjutkan cerita ini😌yang pasti dari kelas 1-3 A uwuwu. Sebenernya kita itu mempunyai bakat yang terpendam gais. Tidak semua bakat kita untuk di pamerkan karena you know lah, banyak orang yang memandang kita sebelah mata,hmm. Biarkan sadja. Kita balas mereka dengan ke suksesan yaa..😜 jangan balas dengan hal yang negatif lho ya, gaboleh.


#Author Amr,Mega, Sarah


Sutradara Amr :v


Editor Mega


Ty


2019/01/13 01:25

__ADS_1


__ADS_2