The Trouble Maker'

The Trouble Maker'
Rahasia Baru


__ADS_3

Tanyakan pada hatimu, apakah aku penting di hidupmu?


.


1-3 A


****


Sepasang muda mudi terus berjalan sambil terkiki girang. Raut bahagia selalu terpancar di wajah mereka berdua, bahkan setiap manusia yang mereka lewati akan merasa iri melihat kebahagiaan mereka berdua.


"Beb, ntar sore kita jalan, yuk!"


Sang gadis hanya diam sambil terus menikmati es krimnya. Ammar yang geram melihat Miwari tidak menanggapinya lantas merebut es krim yang berada dari genggaman Miwari.


"Kamu kan udah aku bilang gak boleh makan es krim pagi-pagi," omel Ammar yang melihat kebiasaan Miwari.


"Tapi, kan, kamu yang beliin aku tadi." Miwari menatap Ammar sedih, pasalnya yang memberinya es krim pagi ini adalah Ammar dan sekarang ia malah memarahi dirinya.


"Oh, iy aku lupa." Ammar tertawa pelan sambil menggaruk kepalanya kikuk.


"Yaudah, yuk kita ke kelas."


Ia menggenggam tangan Miwari, menariknya pelan sehingga mereka berlari-lari kecil agar sampai ke kelas. Semua itu tidak luput dari pandangan siswa lain, mereka yang iri hanya bisa berdoa agar hubungan Ammar dan Miwari cepat putus.


"Pagi gaiiiiisss," teriak Ammar di depan pintu kelas.


"Berisik buaya." seorang wanita melewati Ammar tanpa merasa bersalah.


"Niys, gue bukan buaya lo. Buktinya gue punya pacar."


"BODO AMAT."


Kompak. Penghuni lokal kompak berteriak bodo amat atas pembelaan Ammar barusa. Miwari yang berada di sebelah amar cuma terkikik geli melihat pacarnya dibully satu kelas.


"Kamu kok gak belain aku sih, beb?" Ammar memonyongkan bibirnya kesal.


"Makin tambah kayak buaya tau gak."


Lagi. Kata buaya diucapkan tanpa merasa bersalah oleh seorang lelaki yang baru saja masuk ke kelas.


"Eh, si Akbar belum dateng?" tanya Ghanni sambil meletakkan tasnya di atas meja.


"Lah, bukannya akbar sama lu, Gan?" Ammar yang semulanya memberengut marah malah menghampiri meja ghanni lalu menjatuhkan bokongnya di atas meja akbar yang berada di depan ghanni.


"Enggak. Gue pikir tu anak udah berangkat."


"Lah, itu akbar."


Suara shalyan membuat semua isi kelas menoleh ke arah pintu, tidak terkecuali ghanni yang semulanya ingin bermain game malah ikut menatap pintu.


"Anjer, udah ngegas ternyata," ucap Rae ikut duduk di samping Ammar dengan wajah segar.


"ternyata gak tahan juga si akbar ye." Ammar tertawa pelan, lalu beralih menatap gedgetnya dengan layar yang menampilkan wajahnya dengan miwari.


"Kali ini mau adegan tembak-tembakan di mana lagi?" Rio ikut menimpali ucapan ammar.


Semua murid ikut berkerubung di meja akbar untuk mengintrogasi siswa laki-laki yang masih tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya gatal.


"Jadi, kalian udah jadian?" tanya Shaylan tidak sabaran.


Yang ditanya hanya menampilkan cengiran bodoh sambil terus menggaruk kepala.


"Lu kutuan, Bar? Ditanya dari tadi malah gorak garuk mulu," omel Tari yang tidak sabaran melihat tingkah akbar.


"Gais!"


Suara teriakan dari arah pintu membuat mereka semua menoleh kaget.


"Astagfirullah," ucap Miwari yang merasa suara Rino membuat jantungnya loncat dari tempatnya.


"Kenapa sayang? Ada yang sakit? Kenapa?" Ammar memeriksa seluruh badan miwari sambil terus menanyakan kenapa pacaranya tersebut terlihat seperti orang sakit.


"Yeuu, buaya." nisya yang gemas memukul kepala ammar dengan buku yang ia pegang. "Miwari tuh kaget, bukan kesakitan. Bilang aja elu ngambil kesempatan."


"Kenapa dah, Rin? Buat orang kaget aja lu?"


Shalyan menatap jengan Rino, pasalnya ia sama dengan miwari. Suara rino membuat ia kehilangan akal sementara.


"Ini berita besar gais. Besar banget," ucap Rino sambil duduk di atas meja Akbar.


"Berita besar apa?" sarah yang semulanya berada di bangkunha ikut mendekat ke meja akbar sambil memasang wajah penasara.


"Gua liat si mega tadi pergi berdua dengan kak hans," Rino berkata sambil berteriak kecil seprti seorang gadis yang menonton acar oppa-oppa korea.


"Demi apa?" Tari menutup mulutnya dengan mata meloto.


Ammar melengos pelan lalu beranjak dari tempat duduk akbar. "Palingan lu salah liat, mana mungkin si mega sama hans."


"Tapi kita kemarin juga liat dia pulang sama kak hans. Ya kan, Bar?" timpal Sarah polos. Akbar yany tidak menyangka sarah akan memberi tahu apa yang ia lihat kemarin hanya melotot.


"Bar?" Shalyan menatap Akbar meminta jawaban. Akbar hanya tersenyum kikuk sambil mengangguk kecil.


Brak!


Pukulan di meja membuat mereka terjengkiit kaget. Menatap horor ke arah Ammar yang nampak kesetanan


"Brengsek," ucap Ammar sambil beranjak pergi dari kelas.

__ADS_1


"Lah, si Ammar kenapa?" tanya Rae bingung.


Mereka menatap bingung kepergian ammar. Lalu pergi ke tempat duduk masing-masing karena bel masuk telah berbunyi.


"Maaf, Ghan," lirih akbar yang melihat ghanni terdiam dengan wajah dingin.


Sedangkan di tempat lain ammar berjalan cepat menghampiri mega yang berjalan bersisian dengan hans sambil terus tertawa.


Ia terus berjalan dengan wajah marah tanpa memperdulikan saapan dari siswa lain yang ber pas-pas an dengannya. Ketika ia sudah berada dekat dengan mega, ia lantas menarik tangan mega kuat sehingga mega tersentak kaget.


"Lu apa-apaan sih, Mar?" tanya mega bingung dengan sikap ammar.


"Ikut gue!"


Ammar menarik paksa tangan mega yang kecil. Ia tidak peduli dengan teriakan mega yang meminta untuk dilepaskan.


"Jangan kasar sama cwe bro."


Hans berdiri di depan ammar dan mega, menghalau mereka agar tidak terus berjalan.


"Ini bukan urusan elu, minggir!" ucap ammar dingin. Ia berjalan terus sambil menarik tangan mega kasar.


Ia terus berjalan menaiki tangga, tujuannya kali ini adalah rooftop yang sepi pada saat pelajaran di mulai. Ia membuka pintu dengan sekali tendangan sehingga menyebabkan suara yang keras, lalu masuk sambil terus menarik keras mega.


"Ammar, lepas," teriak mega yang merasa tangganya mulai memerah akbita tarikan ammar.


Ammar melepaskan tangan mega kasar, menatap tajam ke arah mega yang memgang tangannya yang ia tarik. "Mau lu apa?" suara ammar terdengar dingin. Ia manatap tajam ke arah mega yang masih meringis menatap tangannya yang mulai terlihat lebam.


"Gue tanya mau lu apa?" suara ammar naik beberapa oktaf, menyebabkan mega terlonjak kaget lalu mundur berapa langkah.


"Seharusnya gua yang tanya itu sama lu," ucap mega sambil terus menatap tangannya.


"Apa yang lu dapat setelah ngelakuin ini sama gue?" suara mega berubah menjadi datar. Tidak ada kemarahan di sana, tidak ada nada sedih di sana. Datar. Dan itu juga membuat aura di atas semakin mengerihkan.


"Seharusnya lu tau batesan lu apa," ujar ammar sambil membuang pandangan ke arah samping, tidak ingin menatap mega yang tampak semakin kurus akhir-akhir ini.


"Lu bilang batasan." mega terkekeh pelan.


Ammar menatap mega tak percaya. Suara tawanya barusan membuat ammar menatap mega takut. Ia terligat begitu mengerihkan dengan tawa seperti itu.


Ammar menelan ludah keluh saat melihat mega mendekat dengan senyuman miring. Ia berdiri mematung ketika mega berada tepat di depannya lalu melayangkan satu tamparan keras di pipinya.


"Itu untuk kelakuan elu yang buat tangan gua lebam."


Ammar memegang wajahnya yang ia pikir berubah menjadi merah. Ia melihat kilatan kemarahan di mata mega. Raut wajahnya yang berubah-ubah membuat ammar bergidik ngeri, tadi ia terlihat seprti orang sedih, lalu berubah menjadi datar dan sekarang ia terlihat mengerihkan.


"Apa hak lu ngelarang gue dekat sama orang lain?"


Ammar kembali mendongak, menatap wajah mega yang mulai memerah akibat panas pagi.


"Jangan mendekat!" mega mundur beberapa langkah. "Seharusnua gue yang nanya itu sama elu. Apa hak lu buat kayak gini sama gue?" teriak Mega marah.


"Maafin gue, Meg," lirih Ammar.


"Salah kalau gue suka sama orang lain selain elu, Mar?"


Deg!


Ammat melotot kaget atas ucapan mega barusan. Ia tidak percaya bahwa selama ini mega memendam perasaaan suka pada dirinya. Perkenalan di awal sekolah yang membuat ia dan mega menjadi dekat sampai sekarng membuatnya berpikir bahwa kedektaannya selama ini hanya sebatas teman.


"Gue emang bodoh suka sama lu, Mar. Gue harus nahan hati gue biar gak cemburu tiap kali lu curhat tentang miwari sebelum jadian. Gue harus siap mental ketika elu bilang kalau lu mau nembak miwari. Gue tersiksa mar, gua sakit," aku mega sambil terisak pelan.


"Meg ...."


"tolong jangan medekat." mega kembali mundur beberapa langkah. " Dan sekarang saat gue coba buat ngelupain elu, lu malah ngelakuin ini smaa gue." ia menggeleng pelan sbip terus menangis.


"Meg, gue ngelakuin ini karena sayang sama lu. Gua gak ma ...."


"sayang kata lu?" ucap mega memotong ucapan ammar sambil berdecih pelan.


"Gue bingung, sebenernya lu itu serius apa enggak sih sama miwari?"


Ammar mendekat, memegang bahu mega menekkannya pelan. "Meg, dengerin dulu penjelasan gue. Gue itu murni sayang sam elu dan rasa yang gua hanya sebatas sahabat. Sedangkan miwari gue bener-bener sayang sama dia, gue cinta, rasa buat miliki dia seutuhnya buat gue ingin terus sama dia."


Mega menghempaskan tangan ammar yang memegang pundaknya. Ia memilih memandang pintu rooftop yang ntah kenapa menjadi begitu enak di lihat dari pada wajah ammar.


"Dan bukan hak elu juga ngelarang gue dekat sama siapapun."


"Meg," teriak Ammar frustasi. "Hans bajingan, dia bajingan dan elu masih terus dekat sama dia." ia kembali memegang pundak mega dan menguncangkan pundaknya kuat.


"Terus lu pikir lu juga baik? Lu sama bajingannya sama dia tau gak!" suara mega ikut naik beberapa oktaf.


"Meg, please. Gue gak mau debat sama elu."


Mega menghepaskan tangan ammar kasar, mendorong dadanya kuat sehingga ammar terpaksa mundur beberapa langkah.


"pergi! Gue gamau liat muka lu."


"Gue bakalan pergi, tapi please jauhin hans," pinta ammar.


Mega membuang wajahnya,menyembunyikan air matanya yang akan keluar lebih deras lagi.


"Lu berhak bahagia, Meg. Bukan sama gue apalagi si hans, lu pantes dapat yang lebih baik dari kita berdua."


Ammar mulai mundur beberapa langkah tanap mengalihkan pandamgannya dari mega. "Gue pikir selama ini lu beneran suka sa rio, tapi nyatanya gue salah. Jangan tutup mata lu karena gue, Meg."


Ammar berbalik meninggalkan mega yang mulai meluruh ke lantai. Ammar bahkan tidak menoleh sedikit pun ketika mendengar tangisan pilu mega. Ia tetap berjalan menuju tempat di mana ia bisa berpikir tenang, setidaknya ia butuh menjernihkan pikirannya.

__ADS_1


****


"Ammar pergi ke mana?" tanya tari yang duduk di sebelah sarah.


Sarah hanya mengendikkan bahu sambil melirik ke arah miwari.


"Lu pikir ammar sama si mega ke mana?" tari kembali bersuara sambil menompang wajahnya di atas meja.


Sarah melirik tari sebentar, lalu kembali fokus dengan game di handponya. "Gua pikir bakalan ada masalah besar, ke mananya ammar sama mega masih jadi teka-teki. Gak ada yang tau gimana isi kepala mereka berdua, bahkan miwari yang kita tau kalau dia pacarnya si ammar.


Tari mengangguk kecil mengiyakan, "Gua gak bisa bayangin kalau jadi miwari. Pasti dia sekarang lagi sedih," ucap tari pilu sambil melirik miwari yang sedari tadi terus menunduk


Rio yang sedari tadi mendengarkan obrolan temannnya membuat ia berpikir apa sebenarnya penyebab ammar marah.


"Kenapa hari ini banyak sekali bangku kosong?"


Seorang guru wanita dengan rambut bob serta kacamata besarnya melihat sekeliling dengan seksama. Ia heran menatap kelas yang ntah kenapa hari ini negitu sepi, padahal rekor kelas yang ia masuki sekarang adalah kelas paling heboh.


"Ahhh, mega lagi di uks, sensei," jawab shalyan asal untuk menyelamatkan mega dari absensi kelas.


"Ammar di mana? Sensei hari ini tidak nampak dia?"


"Aahh, kalau ammar ...." miwari menjeda ucapannya. Ia berpikir jawaban apa yang pantas untuk menjawab pertanyaan grunya tersebut.


"Ammar ke wc, sakit perut katanya,"  jawab ghanni spontan tanpa melihat wajah cemas miwari atau wajah penasaran sensei nadya.


"Oke, hari ini buka bunpo halaman 25, kita akan membahas bagaimana sejarah jepang."


Sensei nadya terus menjelaskan pelajaran yang membuat beberapa murid ngantuk, namun itu tidak mempengaruhi salah satu murid yang mempunyai wajah hitam manis dengan satu lensung pipi.


Rio terus menatap bangku mega yang kosong. Biasanya, setiap pagi ia akan mendengar ocehan mega tentang bagaimana usaha dia dalam menulis, namun pagi ini ia hanya menelah ludah gelisah. Ketidak hadiran mega di kelas nyatanya mempengaruhi suasana hatinya.


Rio beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan pelan dengan tangan masuk ke kantong. Ia tahu ke mana untuk menghilanglan rasa gelisahnya


"Sensei, izin ke wc," ujarnya saat melewati sensei nadya.


Sensei nadya berdehem pelan lalu meneruskan kembali penjelasannyaa tentang sejarah jepang.


Rio berjalan dengan cepat. Tujuannya bukan untuk ke wc, itu hanya alibinya saja untuk bisa keluar dari kelas. Ia berjalan menuju kantin, lalu berdiri di depan stan minuman. Mengambil dua botol minuman kopi dingin kesukaan seseorang yang ia tahu sekarang sangat membutuhkan itu. Ia lalu membayar cepat dua minuman tersebut dan pergi ke arah berlawanan dengan kelasnya.


Rio menaiki satu per satu tangga yang akan membawanya ke atas atap sekolah. Tempat di mana seorang gadis yang ia kenal sering menghabiskan waktu luangnya di sana. Ia membuka perlahan pintu atap, lalu menoleh ke arah samping di mana terdapat beberapa bangku usang di dekat pohon yang tumbuh liar dengan seorang gadis yang nampak tidur dengan menyatukan semua bangku.


Ia berjalan pelan. Tidak ingin membangunkan putri tidur yang nampak sangat lelap. Angin kencang menerbangkan rambut sang gadis yang mulai tidak terikat rapih. Ia lalu berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan sang gadis, lalu menpelkan minuman dingin ke pipi sang gadis.


"Astaga."


Rio tersenyum melihat mega yang tersentak kaget sambil terbangun cepat. "Putri tidur kita udah bangun."


Mega hanya menatap heran rio, lalu berdehem sebentar untuk menghilangkan kegugupannya.


"Kenapa lu ada di sini?" tanya mega pelan sambil menurunkan kakinya dari atas bangku.


Rio berdiri, lalu duduk di samping mega yang nampak memperbaiki rambutnya yang berantakan. Ia menyodorkan minuman yang tadi ditempelkannya di pipi mega.


"Thanks."


Rio menganggu. "Gue bosen aja di kelas. Kalau gak ada lu, kelas kita gak rame. Kayak kuburan."


Mega hanya berdecih pelan sambil membuka tutup minumannya payah. "Iihh, ini gimana, sih, bukanya?" Mega terus memutar tutup botol yang ntah kenapa susah di buka.


Rio yang gemas mengambil alih botol dari pegangan Mega. " Ini yang buat gue selalu khawatir kalau lu jauh dari gue," ucap Rio sambil membuka tutup botolnya.


Ajaib. Mega yang mencoba berulang kali membukanya tidak bisa sedangkan rio hanya dengan sekali percobaan langsung terbuka.


"Ekheem." mega berdehem pelan. "Hubungannya tutup botol sama gue yang jauh dari elu apa?" tanya mega sebelum menengguk cepat minumannya.


"Simpel aja. Banyak hal yang gak bisa lu lakuin dan itu butuh bantuan orang lain, contohnya buka tutup botol barusan. Gue gak suka lu minta bantuan laki-laki lain selain gue."


Mega tersentak. Terbatuk keras sambil memukul dadanya keras lalu melirik sini ke arah rio. "Maksud lu apa?"


Rio tersenyum manis. Menatap mega dengan senyuman yang terus terpatri di wajahnya. "Jauhi, Hans! Dia gak baik buat elu," ujar rio sambil menyelipkan rambut mega yang keluar dari ikatannya.


"Lu berhak dapat yang lebih baik dari dia, Meg. Hans bajingan dan itu bukan lagi rahasia di sekolah ini."


Rio berdiri dari tempat duduknya. Menatap mega yang juga menatapnya sayu. "Seenggaknya kalau lu gak bisa dapatin ammar atau nerima gue, tolong cari yang lebih baik dari kita," ucapnya sambil berjalan menjauhi mega.


"Lu tau apa yang terbaik buat elu, Meg. Kebahagiaan lu, itu kebahagiaan gue juga. Jangan pernah nyakitin diri lu sendiri, lu juga berhak bahagia."


Rio terus berjalan keluar dari rooftop. Melangkah pelan menapakin undakan tangga satu persatu. Terus berjalan dengan wajah datar dan tangan yang terus berada di kedua saku celananya.


"Seengaknya, cari yang terbaik agar  gue bener-bener rela ngelepas elu sama yang lain, Meg.


.


.


.


.


Setelah lama hibernasi, akhirnya kambek jug:v


Jangan lupa vomentnya, gaiiis!


Ketjup-ketjup


Megabite

__ADS_1


__ADS_2